
Sementara itu Samudra menatap anaknya yang tidur terlelap diatas kasur dalam kamarnya.
"Kamu harus menghasilkan untuk ayahmu ini Raksa," gumam Samudra.
Seperti inilah aslinya Samudra, dia tidak tulus menyayangi istri dan anaknya. Selama ini dia berpura-pura baik di hadapan istri dan keluarga istrinya. Samudra adalah lelaki bajingan yang akan menghalalkan segala cara demi uang. Tapi kali ini dia seperti kehabisan akal untuk bisa mendapatkan uang istrinya karna dia yakin istrinya memiliki tabungan yang sangat banyak.
"Gue nanya ke mama aja kali ya? siapa tau mama punya ide," gumam Samudra segera menghubungi mamanya.
{Hallo, ma.}
{Iya hallo, mana uangnya?}
{Belum dapatma, Sam nelfon mama buat nanya siapatau mama punya ide, Sam nggak tahu harus ngapain lagi supaya dapat uangnya Nabila, yang 20jt kemarinkan sudah habis buat pesta.}
Iya uang yang diberikan oleh Nabila sebesar 20 jt sebenarnya Samudra tidak dipakai untuk menambah modal melainkan untuk pesta ulangtahun mamanya.
{Mama nggak mau tau Sam, mama butuh uang saat ini.} desak mama Samudra.
{Iya Sam tahu ma, tapi mau dapat uang dari mana? Mama kan tahu sendiri gaji Sam dicafe berapa dan juga itu sudah sebagian Sam kasi ke mama loh,} ucap Samudra.
Samudra hanya sebagai manager di cafe yang diakuinya sebagai miliknya pada istri dan keluarga istrinya karna pemilik cafe berada diluar kota. Samudra berbohong mengatakan dia pemilik cafe itu agar Nabila mau menikah dengannya dan Samudra memanfaatkan Nabila, selama kurang lebih 4 tahun mereka menikah Nabila lah yang lebih banyak mengeluarkan uang dari membeli rumah, kebutuhan harian sampai membeli motor yang dipakai Samudra. Samudra memberi nafkah pada Nabila 1 jt sebulan dengan alasan pendapatan cafe tidak seberapa karna baru merintis.
{Mama punya ide, Raksa ada sama kamu kan?}
{Iya ma, ini Raksa lagi tidur.}
{Bagus, kamu tunggu disitu.}
Samudra menunggu dirumah seperti apa yang dikatakan mamanya.
***
Sementara itu Nabila yang baru tiba dirumah karna terjebak tiba-tiba merasa sesak nafas. Perasaannya mendadak tidak karuan.
"Astagfirullah, ada apa ini?" gumam Nabila meringis.
Clara yang kebetulan belum masuk kedalam rumahnya melihat Nabila yang seperti menahan sakit dengan cepat mendekat.
"Astagfirullah, Mba Nabila kenapa?" tanya Clara panik.
"Ss-shesak," jawab Nabila putus-putus.
"Kunci.. Kunci rumah mana, Mbak?" tanya Clara berniat mengambilkan air minum untuk Nabila.
Nabila sudah tidak sanggup berbicara. Membuat Clara makin panik.
__ADS_1
"Tolooong... Tolooong," teriak Clara berharap ada yang mendengarnya dikomplek perumahan yang cukup sepi penghuninya.
Harapan Clara terkabul ada sebuah mobil berhenti didepan rumah Nabila. Melihat itu Clara berlari dan meminta pertolongan.
"Tolong...hiks..hiks tolong," ucap Clara mulai menangis.
Seseorang keluar dari dalam mobil yang ternyata bosnya dikantor.
"Ada apa Clara?" tanya Galaksi
"Pak Gala... Pak tolong mba Nabila sesak nafas," ucap Clara kembali berlari ke Nabila yang sudah terlihat sangat pucat.
"Ya Allah, mba Nabila kenapa? Hiks hiks." Clara bingung apa yang harus dilakukan.
"Pak, tolong..." ucap Clara memohon kepada Galaksi dan seorang pria yang umurnya sekitar 40 tahun yang sudah berdiri didekatnya dan Clara mengenali pria yang datang bersama Galaksi, dia bos Clara sebelumnya, Wahyu Pramudya.
"Pak wahyu tolong," ucap Clara memohon.
Tanpa bicara pak Wahyu segera mengangkat tubuh Nabila dan membawanya menuju mobilnya.
"Gala, buka pintunya," titah pak Wahyu keanaknya.
"Iya, Pa," jawab Galaksi melakukan perintah papanya.
"Gala, ayo cepat masuk," titah pak Wahyu geram melihat anaknya lambat bergerak.
"Ayo kamu juga masuk," ajak Galaksi pada Clara yang dibalas anggukan.
Galaksi mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-ratanya, untungnya jalan tidak macet jadi mereka bisa dengan cepat tiba dirumahsakit.
"Suster... Suster... Tolong," teriak pak Wahyu yang mengendong Nabila yang kesadarannya sudah mulai menipis.
Beberapa suster datang mendorong brangkar dan segera pak wahyu membaringkan Nabila ke brangkar. Mereka mengikuti Nabila yang akan dibawa keruang IGD.
Clara mondar-mandir didepan ruang IGD seraya memeluk tas Nabila yang tadi sempat diambilnya karna terjatuh dilantai saat Nabila mulai sesak nafas.
"Semoga mba Nabila baik-baik saja."
"Apa dia memang sering seperti ini?" tanya pak Wahyu.
Clara terdiam dan menatap kearah pak Wahyu.
"Nggak, Pak. Baru kali ini mba Nabila seperti ini," jawab Clara sedih.
"Tapi apa memang dia memilih riwayat penyakit?" tanya pak Wahyu semakin penasaran.
__ADS_1
"Saya kurang tau, Pak. Mba Nabila juga tidak pernah bercerita masalah kesehatan," jawab Clara.
Pak Wahyu tidak lagi bertanya hanya menjawab dengan anggukan kepala. Sedangkan Galaksi sedang memikirkan kejadian ini sebuah awal mula pertanda baik untuknya.
"Sepertinya tidak sesulit yang saya pikirkan," batin Galaksi.
"Hmm, Pak Wahyu dan Pak Galaksi terimakasih atas bantuannya. Kalau bukan karna kalian saya nggak tahu nasib mba Nabila akan seperti apa," ucap rasa terimakasih Clara.
"Sama-sama Clara, kebetulan tadi saya lewat ingin memeriksa kondisi rumah diujung kompleks tapi mendengar ada yang meminta tolong jadi kami berhenti," sahut Pak Wahyu.
Galaksi lebih banyak diam karna menurutnya semua sudah terwakilkan oleh papanya.
Dokter keluar dari ruang IGD.
"Bagaimana keadaan kakak saya dok?" tanya Clara tidak sabar.
"Alhamdulillah pasien sudah baik-baik saja, tapi pasien masih harus di bantu selang pernapasan jadi untuk sementara pasien akan dirawat." Dokter menjelaskan kondisi Nabila.
"Baiklah, Dokter. Lakukan yang terbaik untuk kakak saya," ucap Clara.
"Tentu kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien kami, kalau begitu sebaiknya diurus kebagian adminitrasi untuk ruang perawatannya agar pasien bisa segera dipindahkan dan beristrihat dengan baik."
"Iya, Dok. Saya akan segera kesana," jawab Clara cepat.
"Kalau begitu saya permisi," pamit dokter lalu berlalu meninggalkan keluarga pasiennya yang masih ditempat.
"Mmm.. Pak saya boleh minta tolong?" tanya Clara ragu.
"Katakan ada apa Clara?" tanya pak Wahyu.
"Saya boleh titip mba Nabila beberapa menit saja? Saya mau ke bagian administrasi untuk ruang perawatan mba Nabila," ucap Clara.
"Kamu masuklah temui Nabila, biar saya yang urus kebagian administrasi," jawab pak Wahyu.
"Tapi, Pak..." Belum selesai Clara berbicara pak Wahyu tiba-tiba memotongnya.
"Sudah, ini juga sebagai tanggung jawab saya karna dia bekerja diperusahaan saya," ucap pak Wahyu.
"Baiklah, terimakasih... saya permisi mau menemui mba Nabila." melihat bosnya mengangguk Clara berlalu masuk kedalam ruang IGD.
Mata Clara mulai berkaca-kaca saat melihat Nabila yang tertidur dengan selang oksigen dihidungnya, selang infus ditangannya dan beberapa alat lainnya yang terpasang dibadan Nabila yang Clara sendiri tidak tau apa fungsinya.
"Mba Nabila?" panggil Clara lirih.
Clara tidak dapat berkata-kata yang dilakukannya saat ini hanya menatap Nabila dengan pandangan sedih.
__ADS_1