Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Menangislah


__ADS_3

Penjualan rumah dan balik nama sudah selesai. Mereka menyelesaikan dirumah yang sudah memiliki tuan barunya.


Setelah menyelesaikan semuanya dan uang pelunasan juga sudah diterima, dia ingin membicarakan soal perceraiannya.


"Mmm.. Pak Geri, maaf. Saya ingin memakai jasa Pak Geri untuk mengurus perceraian saya dan suami saya" ucap Nabila hati hati.


Semua orang terkejut mendengar keputusan Nabila.


"Perceraian? Kamu mau menceraikan suamimu. Nak?" tanya Ibu Ros.


"Iya. Bu. Nabila tidak bisa lagi hidup bersama mas Sam yang sudah sangat banyak berbohong dan menipuku," jawab Nabila.


"Tapi, apa alasan itu bisa dijadikan sebagai persyaratan pengajuan perceraian, Nak?" tanya Ibu Ros.


"Mas Sam tidak hanya menipu dan membohongki tentang uang dan keluarganya, Bu. Tapi juga mas Sam suka bermain perempuan," jawab Nabila berhasil mengejutkan Ibu Ros dan Kaisar.


"Jangan sembarang bicara, Nabila," sentak Ibu Ros.


"Nabila tidak sembarang bicara, Bu. Nabila punya buktinya, dan perempuan itu satu tempat kerja dengan mas Sam, Bu," ungkap Nabila.


"Maaf, apa Mba Nabila punya buktinya?" tanya pak Geri.


"Punya, Pak Geri. Saya punya banyak bukti tentang semua yamg dilakukan suami saya. Maka dari itu saya mantap untuk mengurus perceraian ini," jawab Nabila mantap.


"Baiklah. Jika Mba Nabila memiliki buktinya, maka saya siap mendampingi Mba Nabila sampai akhir," ucap pak Geri menerima kasus Nabila.


"Terimakasih, Pak Geri. Saya mau secepatnya diurus, karna sebentar lagi saya akan kembali ke Jakarta," ucap Nabila.


"InsyaAllah... Akan segera saya urus. Mba Nabila siapkan bukti-buktinya hari ini, besok akan saya ajukan dipengadilan," ucap pak Geri.


"Maaf, Pak Geri. Apa bisa saat sidang perceraian saya tidak hadir?" tanya Nabila.


"Bisa saja, Mba Nabila. Karna kita punya bukti yang sangat kuat. Dan juga sekarang suami Mba Nabila sedang dipenjara, jadi itu akan lebih memudahkan semuanya," jawab pak Geri.


"Alhamdulillah kalau begitu, Pak. Karna rencana besok atau lusa saya akan berangkat ke Jakarta karna pekerjaan saya sudah tidak bisa ditunda lagi," ucap Nabila.


"Nak, apa tidak terlalu cepat kamu balik ke Jakarta. Lalu Raksa bagaimana? Dia sekarang sudah tidak mau lepas dari kamu," ucap ibu Ros.


"Ibu, Kaisar dan Raksa akan ikut Nabila. Kita akan tinggal disana bersama, sesuai pembicaraan kita sebelumnya," ucap Nabila.


"Baiklah, Nak. Ibu ikut kemana anak-anak ibu akan pergi," ucap ibu Ros pasrah.


"Pak Wahyu, apa tidak masalah jika saya membawa keluarga saya tinggal dirumah fasilitas kantor? Tapi jika tidak boleh, saya akan membeli rumah saja," tanya Nabila.

__ADS_1


"Rumah fasilitas dari kantor selama masih bekerja dikantor, tidak masalah membawa keluarga untun tinggal bersama dirumah itu, Nabila," jawab pak Wahyu.


"Terimakasih, Pak, Pak Wahyu sudah sangat banyak membantu saya dari awal sampai hari ini," ucap terimakasih Nabila.


"Iya. Nabila. Saya ikhlas membantumu, kita sesama harus saling tolong menolong," ucap pak Wahyu.


Nabila mengangguk tersenyum, "Pak Geri, buktinya akan saya kirim lewat ema*l saja, bisa?" tanya Nabila.


"Bisa, Mba. Malah melalui ema*l lebih aman," jawab pak Geri.


Segera Nabila mengirim semua bukti yang didapatnya. "Sudah dikirim, Pak," ucap Nabila.


"Iya, saya akan mempelajarinya," sahut pak Geri.


"Terimakasih, Pak Geri. Kalau begitu saya dan yang lain pamit dulu, pak," pamit Nabila.


Mereka meninggalkan pak Geri dirumah yang baru dibelinya. Tiba dirumah ibu Ros, Nabila membantu ibunya mengepak pakaiannya kedalam koper yang akan dibawa Ibu Ros dan juga pakaian Raksa. Sedangkan Kaisar mengepak sendiri pakaiannya.


Tanpa sepengetahuan Nabila, ternyata pak Wahyu sudah memesan tiket untuk 5 orang. saat tau Nabila ingin memesan tiket langsung dihentikan oleh pak Wahyu.


"Nabila, Galaksi sudah memesankan tiket untuk 5 orang. jadwalnya besok siang," ucap pak Wahyu cepat.


"Haaa? Kok bisa, Pak? Ini akan tidak masuk tanggungan perusahaan," jawab Nabila.


Nabila pasrah menerimanya, "Baiklah, Pak," jawab Nabila.


"Iya. Kalau begitu saya tinggal dulu, saya mau menemani Kaisar mengepak barangnya," pamit pak Wahyu.


"Iya. Pak. Silahkan,"


Nabila juga kembali kekamar ibunya.


"Bu, belum selesai?" tanya Nabila.


"Belum, Nak. Ini tinggal beberap lembar lagi yang mau dimasukin ke koper," jawab ibu Ros masih menata pakaiannya.


"Sini, Nabila bantu biar cepat selesai."


"Barang Raksa udah siap semua?" tanya ibu Ros.


"Udah, Bu. Mainannya juga ada sebagian Nabila bawa, sisanya mau Nabila bawa ke panti asuhan aja," ucap Nabila.


"Iya itu sangat tepat, karna jika ditinggal juga akan rusak sendirinya. Lagian belum tentu juga kapan kita balik kesinikan?"

__ADS_1


"Iya, Bu. Nabila rasa menetap di Jakarta hal yang tepat," jawab Nabila menatap kosong dinding kamar ibunya.


"Kalau itu membuat nyaman, lakukanlah. Ibu akan selalu mendukung setiap keputusan yang kamu ambil," ucap ibu Ros tersenyum.


"Iya, Bu. Semoga Ibu juga kerasan tinggal disana," ucap Nabila penuh harap.


"Aamiin... Oh ia, kamu sudah pesan tiketnya?" tanya ibu Ros.


"Nabila nggak jadi pesan, Bu," jawab Nabila.


"Loh? Kenapa? Apa keberangkatan kita ditunda sampai lusa aja?" tanya ibu Ros.


"Nggak, Bu. Besok kita tetap berangkat."


"Lalu tiketnya bagaimana?" tanya ibu Ros.


"Sebenarnya tadi Nabila udah mau pesan tiketnya, Bu. Tapi, pak Wahyu melarang, katanya udah dipesanin tiket sama anaknya," jawab Nabila.


"Untuk kita juga, Nak?" tanya ibu Ros.


"Iya, Bu. 5 tiket langsung dibeli,"


"Ya ampun... Baik banget pak Wahyu dan anaknya," ucap ibu Ros.


"Nabila nggak enak, Bu. Kita sudah terlalu sering merepotkan pak Wahyu," ucap Nabila sendu.


"Itu sudah rejekimu, Nak. Jangan pernah menolak rejeki yang datang padamu, Nak," nasihat ibu Ros.


"Iya, Bu. Nabila juga bersyukur, dibalik masalah yang menimpa, ada saja orang baik yang datang menolong," sahut Nabila.


"Jika kita ikhlas menjalani semuanya, InysaAllah akan ada saja yang baik menghampiri," ucap ibu Ros.


"Setelah ini, Nabila akan menyandang status janda. Apa Ibu tidak malu punya anak janda?" tanya Nabila dengan mata berkaca-kaca.


"Kamu ngomong apa, Nak. Ibu tidak pernah merasa malu punya anak janda. Jika dengan berpisah bisa membuat anak ibu bahagia, itu sudah cukup buat ibu, Nak," ucap ibu Ros bijak.


Nabila memeluk ibunya dan menangis did4da sang ibu. Nabila menumpahkan segala kesedihannya yang sudah beberapa hari ditahannya didepan semua orang.


"Menangislah, Nak. Jika itu bisa membuat perasaanmu menjadi lega," ucap ibu Ros yang ikut meneteskan airmatanya.


"Ibu... Maafkan Nabila. Nabila gagal menjaga keutuhan rumahtangga Nabila, Huuu... Huuu."


"Kamu harus sabar, Nak. Menangislah, setelah ini tidak ada lagi tangisan seperti ini," ucap ibu Ros dan membiarkan anaknya tetap menangis melepaskan segala beban yang dipikulnya selama beberapa hari.

__ADS_1


__ADS_2