Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Kesal


__ADS_3

"Ada, Sayang. Tolong kamu dorong rak buku yang itu,"pinta Wahyu sambil menunjuk rak buku.


Sedikit rasa ragu Nabila melangkahkan kakinya menuju rak yang ditunjuk sang suami. Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat rak buku tersebut bergeser dengan begitu mudah.


"Mas, ini?"


"Iya itu kamar, Sayang."


"Apa Raksa akan ditidurkan di kamar ini?"


"Iye, Sayang. Kamarnya nyaman kok. Ada acnya, jadi nggak perlu khawatir kepanasan."


"Aku bukan khawatir soal itu, Mas. Kalau Raksa tidur disini, terus gimana jika Raksa bangun, sementara kita masih ada diruang rapat?"


Wahyu tampak memikirkan perkataan istrinya. "Gimana kalau kamu nggak usah ikut meeting?"


"Yaa nggak bisa gitu dong, Mas. Aku hsrus tetap ada disana saay meeting berlangsung."


Wahyu terdiam memikirkan solusi untuk hal yang mereka hadapi. Senyum lebar terbit dari bib1r Wahyu.


"Mas punya solusinya."


"Apa, Mas?"tanya Nabila memicingkan mata.


"Aku yakin kamu akan setuju dengan ide mas yang ini,"ucap Wahyu percaya diri.


"Terus apa idenya, Mas?"


"Bentar, Sayang. Mas pindahin dulu Raksa ke kamar." Bukannya menjawab, Wahyu malah semakin membuat istrinya penasaran.


Nabila menjadi kesal, karna sudah beberapa kali pertanyaannya belum mendapar jawaban sedikitpun.


Tapi meskipun sedikit kesal, Nabila tetap mengikuti langkah kaki suaminya yang memasuki kamar.


"Tunggu, Mas. Siapa akan menjaga Raksa disini? Sudah kubilang nggak usah bawa Raksa ke kantor. Karna kamu nggak akan selalu berada dalam ruangan, tapi kamu terlalu keras kepala,"omel Nabila.


"Kamu tunggu disini aja dulu, Sayang. Mas mau menelfon seseorang,"ucap Wahyu, kemudian berlalu keluar kamar.


Wahyu belum menyadari rasa kesal istrinya itu. Ia tidak melihat wajah Nabila yang masam.


Nabila samar-samar mendengar suara suaminya sedang berbicara melalui telfon dengan seseorang yang ia tahu siapa.


Tidak berselang lama, terdengar suara perempuan tengah mengobrol dengan Wahyu.


"Sayang, ayo kita ke ruang meeting. Semua orang pasti sudah menunggu kita,"ajak Wahyu yang memasuki kamar bersama Clara.


"Clara? Tumben kamu sampai dilantai ini? Ada apa?" Nabila mengabaikan ajakan suaminya.

__ADS_1


"Eh iya, Mbak. Ini karna Pak Bos yang manggil aku kesini, katanya aku disuruh santai dulu sejenak sambil jagain Raksa yang lagi tidur,"kelakar Clara.


Nabila mengangguk paham maksud suaminya tadi. Tapi rasa kesalnya tetap masih ada dalam hatinya.


"Makasih ya, Ra. Kalau gitu mbak ke ruang meeting dulu,"ucap Nabila, kemudian berlalu begitu saja tanpa melirik ke arah suamnya.


Clara melongo melihat Nabila yang pergi begitu saja. "Mbak Nabila kenapa, Pak Bos?"


Wahyu menggeleng seraya mengusap tengkuknya.


"Kalian lagi marahan atau gimana?"tanya Clara memicingkan mata.


"Nggak ada, Ra. Kami baik-baik aja, kamu masuk aja ke kamar. Saya mau menyusul Nabila ke ruang meeting."


Clara menatap kepergian Wahyu dengan rasa lucu yang menggelitik dihatinya. "Lucu juga cara mbak Nabila marah sama pak Wahyu,"gumamnya cekikikan.


Sementara Nabila, karna masih kesal dengan suaminya. Ia sama sekali tidak menatap sang suami, padahal mereka berada diruangan yang sama dan duduk bersebelahan.


Wahyu yang belum menyadari kesalahannya yang telah mengabaikan setiap pertanyaan yang dilontarkan sang istri tidak tenang selama meeting dan acara penyambutannya berlangsung.


"Selamat datang kembali di kantor, Pak Wahyu,"ucap salah satu dewan direksi.


"Terima kasih, Pak. Semoga perusahaan kita semakin berjaya setelah saya kembali memimpin."


"Kami percaya kemampuan, Pak Wahyu. Jika Pak Galaksi saja yang masih cukup muda bisa membuat perusahaan semakin maju, pasti pabriknya jauh lebih berkualitas,"seloroh salah sati dewan direksi.


Semua orang terkekeh mendengar candaan salah satu dari mereka.


Wahyu menatap seluruh ruangan, ia tidak melihat keberadaan istrinya yang tadi masih berdiri dikumpulan wanita.


"Mm... Maaf, Semuanya. Saya rasa harus pamit sekarang. Saya masih ada kerjaan yang menunggu diruangan,"pamit Wahyu.


"Silahkan, Pak. Kami juga sudah harus pergi sekarang."


Wahyu dan yang lainnya berpisah didepan ruang meeting. Ia berjalan cepat menuju ruangannya.


"Sayang?"panggil Wahyu ketika memasuki ruangan. Namun, ruangan nampak kosong tak berpenghuni.


Ia segera masuk ke kamar tempat anaknya tidur. "Loh, kok kosong? Raksa kemana?"gumam Wahyu.


Tidak kehabisan akal, ia menghubungi Clara untuk menanyakan keberadaan anak dan istrinya.


^^^{Kamu dimana?}tanya Wahyu begitu sambungan telfon terhubung.^^^


{Saya sudah kembali keruangan saya, pak.}


^^^{Anak dan istri saya mana? Kenapa mereka tidak ada diruangan saya?}^^^

__ADS_1


{Mbak Nabila membawa Raksa ke ruangannya, pak.}


Tanpa mengatakan apapun lagi, Wahyu segere mamutus panggilan telfon. Ia melangkah dengan cepat keruangan istrinya yang tidak jauh dari ruangannya.


Wahyu berusaha membuka pintu ruangan Nabila, namun tidak bisa karna terkunci dari dalam.


"Nabila?"panggil Wahyu, namun tak ada jawaban dari dalam, "Raksa? Ini papa, Nak,"panggilnya pada sang anak.


"Kemana mereka? Kenapa tidak ada jawaban dari dalam? Bahkan suara Raksa juga nggak ada,"gumam Wahyu.


Wahyu mengambil ponsel dari saku jasnya dan mencoba menghubungi sang istri.


"Ayo dong diangkat,"gumam Wahyu, ia menyugar rambutnya kebelakang.


Karna terlalu fokus dengan ponselnya ia tidak menyadari jika ada yang mendekat ke arahnya.


"Papa?"panggil Galaksi sambil men3puk pelan pundak papanya yang membuat Wahyu terlonjak kaget.


"Astagfirullah..."ucap Wahyu.


Galaksi terkekeh. "Papa kenapa? Ngapain berdiri didepan ruangan ibu?"


"Untung kamu datang, coba kamu panggil ibu dan adikmu didalam. Dari tadi papa panggil tapi nggak ada respon."


Kening Galaksi mengernyit heran. "Apa yang terjadi, Pa?"


Sementara itu, Nabila yang berada dalam ruangannya menjadi bingung pada dirinya sendiri yang mendadak muda kesal dan marah.


"Aku kenapa sih? Lancang sekali aku kesal sama mas Wahyu yang baru beberapa hari menjadi suamiku,"gumam Nabila.


Nabila duduk disamping anaknya yang masih terlelap dalam tidurnya. Ia tadi memindahkan Raksa dalam keadaan tidur, makanya ketika Wahyu memanggil Raksa tak ada jawaban.


"Lagian mas Wahyu udah dibilangin dari kemarin, nggak usah bawa Raksa. Kan jadi merepotkan orang yang lagi banyak pekerjaan,"gerutu Nabila, kemudiam beranjak menuju meja kerjanya setelah memastikan kenyamanan anaknya.


Nabila menyamping dulu rasa kesalnya pada sang suami. Ia punya pekerjaan yang jauh lebih penting daripada memupuk rasa kesal dijam kerja.


Sedangkan didepan ruangannya. Suaminya kini tengah di wawancari oleh Galaksi.


"Papa marahan sama, ibu?"


"Nggak, Nak. Papa nggak tahu dimana letak salah papa sampai ibu kamu ngambek nggak mau ngajak papa ngobrol dan lebih parahnya nggak mau natap papa,"ucap Wahyu mendrama.


"Mungkin Papa ada kesalahan yang tanpa disadari. Coba deh diingat-ingat dulu, Pa."


Wahyu memutar memorinya mulai sang istri masuk ruangan sampai ia memanggil Clara untuk menjaga Raksa yang sedang tidur. Ia juga menjelasn runtutan peristiwa yang terjadi diruangannya sebelum meeting.


"Mungkin ibu marah karna Papa cuek dengan pertanyaan ibu, Pa. Papa mengabaikan beberapa pertanyaan ibu. Itu yang membuat kesal ibu,"tebak Galaksi.

__ADS_1


"Tapi masa' cuma karna papa mengabaikan pertanyaan sampai ibumu kesal begitu?"


"Papa ini terlalu lama menduda, jadi mulai kurang peka sama perasaan wanita,"ledek Galaksi.


__ADS_2