Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Ulah Wahyu


__ADS_3

Assalamaulaikum..."salam Wahyu.


"Waalaikumssalam. Darimana aja?"


"Nanti mas akan jawab, tapi ini mau bawa Raksa ke kamar dulu. Kasihan tidurnya nanti nggak nyaman kelamaan digendong."


"Mbak ini, suami dan anak baru datang bukannya ditanya mau minum apa, malah nanya yang lain,"ledek Clara.


"Tck... Mbak itu khawatir sama suami dan anak, Ra. Mereka tadi diluar sampai malam begini, ditelfon nggak diangkat loh."


"Buatkan minum suamimu, Nak. Bawa ke kamar,"titah ibu Ros mem3cah perdebatan tak bermutu anak-anaknya.


"Iya, Bu."


Setelah membuat kopi dan menaruh beberapa cemilan diatas piring, Nabila membawanya menuju kamar.


-Cklek-


"Kemana mas Wahyu?"gumam Nabila celingukan kesegala penjuru kamar.


Meski tidak melihat keberadaan sang suami, Nabila tetap masuk kamar. Di atas ranjang cuma ada Raksa yang sudah lelap dalam tidurnya.


"Mas Wahyu dikamar mandi ternyata,"gumam Nabila menebak karna mendengar suara guyuran air. Sambil menunggu suaminya yang selesai mandi, Nabila mendekati anaknya.


"Wajah anak ibu terlihat berseri begini. Kamu bahagia ya Nak habis jalan seharian sama papa?"monolog Nabila memandangi wajah anaknya.


-Cklek-


"Sayang?"panggil Wahyu.


"Iya saya, Mas. Kenapa?"tanya Nabila cuek kemudian beranjak dari duduknya dan mendekati lemari. "Ini bajunya."


"Makasih, Sayang,"ucap Wahyu dibalas anggukan oleh Nabila.


Wahyu memakai pakaiannya didepan Nabila tanpa ada rasa malu dan canggung sedikitpun. Sedangkan Nabila ia memalingkan wajah karna malu sendiri karna melihat sang suami hanya menggunakan handuk sebatas pinggang.


"Sayang, sini duduk disamping aku,"ujar Wahyu pada sang istri.


Sedikit ragu Nabila mendekat dan mendudukkan b0k0ngnya disamping sang suami. Ada rasa senang menyeruak dihati Nabila ketika melihat suaminya meminum kopi buatannya.


"Enak kopinya, Mas?"tanya Nabila berbinar.


"Enak! Mas yakin semua yang kamu masak pasti akan sangat enak rasanya. Tapi besok mas mau minum teh buatan kamu lagi dong."


"Iya, Mas. Besok aku buatkan teh untuk menemani sarapan kamu"


"Iya, Sayang."


Lama Nabila diam, jiwa ibu-ibu yang siap mengomeli anak dan suaminya mulai terlihat lagi. "Darimana aja kalian seharian ini, Mas? Keluar kok sampai lupa waktu gitu. Ketemu sama siapa aja Kalian diluar sana? Terus itu handphone kamu mana? Ditelfon kok nggak dijawab-jawab."


Wahyu terpaku memandang istrinya yang berbicara tanpa henti. "Satu-satu tanyanya, Sayang. Mas bingung mau jawab yang mana dulu,"ucap Wahyu terkekeh.


Nabila menatap kesal pada suaminya. "Tck... Jawab yang mana aja dulu, pokoknya aku menunggu jawaban dari setiap pertanyaanku."


"Oke mas akan jawab. Yang pertama mas ke rumah Galaksi ambil bebeberapa pakaian dan berkas. Kedua mas pergi ke kantor urusan agama..."

__ADS_1


"Mau ngapain kamu disana, Mas?"tanya Nabila penuh selidik.


"Mas ngurus buku nikah kita."


"Kamu ngurus buku nikah kok nggak bilang-bilang sama aku?"


"Kamu nggak ikut juga nggak apa-apa, Sayang. Sebelum berangkat kerja, kamu yang menyiapkan sendiri berkas kamu kan?"


"Iya sih. Tapi yasudahlah, udah selesai juga kan urusannya? Terus setelah itu kalian kemana?"


"Mas ajak Raksa main di mall, sebelum ke playground mas nggak sengaja ketemu sama..."


"Sama siapa, Mas? Cewek yaa?"tanya Nabila tanpa sadar sedang cemburu.


"Iya cewek. Masih muda juga,"goda Wahyu.


Belum sempat Nabila membalas godaan suaminya, ia mendengar suara Clara berteriak heboh.


"Itu Clara kenapa, Mas?"


Wahyu mengendikkan bahunya. "Mana mas tahu, Sayang. Mas dari tadi duduk didekat kamu loh."


Nabila mendelik. "Kenapa mas Wahyu suka sekali panggil sayang ke aku. Aku kan masih malu kalau harus dipanggil sayang. Mau dilarang nanti malah salah paham, tapi udahlah biarin aja toh udah jadi suamiku juga," monolog Nabila dalam hati.


"Kenapa melamun?"tanya Wahyu.


"Eh... Aku nggak melamun, Mas,"elak Nabila, kemudian beranjak dari duduknya, "Aku mau kebawa, mau liat apa yang terjadi sampai membuat Clara berteriak seperti itu."


"Mas ikut kamu."


"Apa ini? Kamu yang beli, Sar?"tanya Nabila ketika sudah sampai ditumpukan barang yang baru datang.


"Bukan, Mbak. Manalah aku punya duit sebanyak itu untuk beli-beli barang besar dan banyak begini."


Sementara Wahyu yang berdiri dibelakang Nabila menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"kalau bukan kamu, lalu siapa?"


"Mmm... Nabila,"panggil Wahyu ragu.


"Apa, Mas?"


"Sebenarnya, Mas yang beli..."


"Oh... Jadi kamu Mas yang beli barang-barang ini? Kamu beli apa aja ini?"tanya Nabila melot0t.


"Itu dua playground mini untuk dua tempat."


"Apa? Jadi dua kardus besar ini plauground? Kamu mau buat taman kanak-kanak?"tanya Nabila terkejut.


Kekesalan Nabila berada dipuncak tertinggi pada suaminya, sedangkan Kaisar, Clara, dan ibu Ros menahan tawa melihat Nabila yang siap mengonel sepanjang malam.


"Seru juga tuh kalu buat taman kanak-kanak disini, komplek jadi ramai kalau pagi,"celetuk Clara menahan tawa.


"Diam, Clara! Mbak belum selesai bicara,"ucap Nabila kesal.

__ADS_1


Bukannya marah, Clara malah tertawa.


"Shut... Diam, Ra. Nanti kamu kena b4c0t sama Mbak Nabila,"bisik Kaisar.


"Okeoke, aku diam,"sahut Clara.


"Mas beli untuk Raksa, bukan untuk umum, apalagi mau buat taman kanak-kanak."


"Raksa cuma sendiri, Mas. Kenapa harus sebanyak ini maianannya? Galaksi mau ikut main juga dengan adiknya?"


"Nggak gitu juga. Yang satu itu untuk dibawa ke kantor, mulai besok aku udah kembali bekerja di kantor."


"Lalu apa hubungannya dengan Kamu yang kembali bekerja di kantor dengan mainan Raksa?"


"Itu supaya kalau Raksa ingin ikut ke kantor ada tempat bermainnya. Jadi, kita tidak perlu khawatir lagi Raksa akan bosan dikantor."


"Pak Wahyu lucu, seperti dimarahi sama mamanya,"bisik Clara pada Kaisar.


"Seru liat ginian, kapan lagi liat bos besar diomeli sama istrinya,"balas Kaisar berbisik.


"Jangan diliatin, kalian bantu ibu didapur siapin makan malam,"ucap ibu Ros sambil men4rik telingan Kaisar dan Clara.


"Aduaduh... Ibu... Sakit telinga aku, Bu,"keluh Clara.


"Aduh... Ampun, Bu. Lepasin telinga Isar. Isar janji bantuin Ibu didapur,"ucap Kaisar.


"Sekarang juga ayo ke dapur,"titah ibu Ros melepaskan tangannya dari telinga Kaisar dan Clara.


Mereka bertiga pergi ke dapur meninggalkan sepasang pengantin baru yang berdebat karna permainan anak-anak.


"Terus yang satu untuk dirumah, gitu? Jadi kalau Raksa setiap hari ikut ke kantor, siapa yang akan memainkan semua ini, Mas?"


Wahyu menggaruk tengkuknya. Ia juga mulai bingung akan diapakan semua belanjaannya itu.


"Saya tidak mau tahu, Mas. Ini semua harus dikembalikan ke tokonya."


"Nggak bisa dikembalikan lagi, Sayang. Gimana kalau dibawa ke panti asuhan aja?"usul Wahyu.


Nabila diam sejenak memikirkan usul suaminya itu. "Boleh, Mas. Cari panti asuhan yang fasilitas bermain untuk anak-anak kurang."


"Iya, Sayang. Besok mas akan suruh orang cari-cari panti asuhan yang kamu inginkan."


"Lain kali jangan belanja berlebihan seperti ini, Mas. Kalau mau menyiapkan mainan untuk Raksa dikantor, cukup beberapa aja."


"Yaudah, mas minta maaf. Lain kali tidak akan lagi."


"Yaudah, Mas. Ini udah terlanjut dibeli juga."


"Kalau gitu, kamu pilih mainan yang cocok disimpan dikantor untuk Raksa."


Nabila mengangguk, kemudian meneliti satu persatu mainan yang ada didepan matanya.


"Bawa yang kuda poni kecil ini, robot-robotan, lego dan mobil-mobilan remot 1 aja, Mas."


"Yaudah, mas pisah ya. Besok mas bawa sekalian kalau ke kantor."

__ADS_1


"Iya, Mas."


__ADS_2