
Dilain tempat, setelah bebas dari penj4r4. Samudra dan keluarganya kembali ke rumah lama mereka, rumah sederhana yang ditinggal begitu saja.
"Loh ini Pak Samad dan keluarga kan?"sapa tetangga ketika melihat keluarga Samudra berdiri didepan rumah.
"Eh iya, Pak,"jawab Samad, yang ternyata Samad nama aslinya.
"Darimana aja, Pak? Kenapa baru kembali ke kampung ini?"
Samad merasa kikuk dengan pertanyaan tetangga.
"Mama, diam disitu! Jangan bicara apapun,"cegah Samudra tegas ketika melihat pergerakan mamanya.
Sari mendengus kesal. "Nggak asyik kamu, Sam."
Samudra mengabaikan perkataan mamanya yang terlihat sangat kesal karna dilarang untuk menjawab pertanyaan si tetangga.
"Kami habis merantau, Pak. Karna sudah lelah di rantauan, akhirnya kami memilih pulang kampung aja,"jawab Samad yang tentu semua kebohongam belaka.
"Baiklah, Pak Samad. Kalau begitu saya permisi, udah malam ini."
"Iya silahkan, Pak."
Tetangga mereka berlalu menuju rumahnya yang tidak jauh dari rumah orang tua Samudra.
Setelah kepergian tetangga mereka, kini mereka kembali menatap bangunan sederhana yang warna catnya sudah mulai pudar dimakan waktu.
"Untung Mama belum jual rumah ini,"gumam Sari.
"Kalau sudah dijual terpaksa kita tidur dibawa kolong jemb4tan, rumah ini juga masih ada sampai sekarang karna Papa yang menyembunyikan sertifikatnya, kalau kamu yang pegang pasti rumah ini sudah bukan milik kita lagi,"timpal suami Sari kesal.
"Papa apa-apaan sih, masa' tega biarin anak istri ikut tidur dikolong jemb4tan. Kalau Papa mau, Papa aja sana yang tidur dikolong jemba4tan,"sahut Sari.
"Tuh kan Mama mulai lagi,"gerutu Cici.
"Harus tidur dikamar yang sempit lahi deh,"gerutu Caca.
"Udah syukur masih ada tempat tinggal, Ca,"tegur Cici.
"Mana kuncinya, Pa? Kaki mama udah pegel dari tadi jalan kaki, lalu sekarang berdiri lama didepan rumah."
"Sebentar, papa ambil dulu kuncinya,"ucap suami Sari, kemudian melangkahkan kaki ke rumah pak RT.
"Dimana papa menyimpan kunci rumah?"tanya Sari pada anak-anaknya.
"Mana kita tahu, Ma,"sahut Caca.
"Kamu ini ngejawab aja, Ca,"omel Sari.
"Yee... Mama kan bertanya, ia Caca jawab dong. Caca kan anak baik."
Tidak lama kemudian, Papanya Samudra kembali dengan membawa kunci rumah ditangannya.
"Papa taruh kunci rumah sama pak rt? Kenapa nggak Papa aja yang simpan?"tanya Sari pada suaminya.
"Kalau papa yang simpan kunci ini, saya yakin Mama akan mencoba berbagai cara untuk bisa menemukan kunci ini dan menjualnya."
__ADS_1
Sari mendengus kesal. "Mau dijual juga percuma, nggak ada yang mau beli rumah yang sertifikatnya aja tidak tahu dimana keberadaannya."
"Masuk, Ma. Tadi ngomel-ngomel kakinya pegal. Giliran pintu terbuka malah nggak mau masuk,"ucap Cici, lalu melangkah melewati mamanya berdiri didepan pintu.
"Dasar kur4ng 4jar kamu sekarang, Ci. Main lewatin gitu aja, seharusnya mama duluan yang masuk."
"Nungguin Mama kelamaan, kaki Cici juga udah pegel tau nggak sih, Ma."
"Kalian bisa tidak... Sehari aja nggak berdebat masalah hal sepeleh begini,"tegur Samudra yang sudah jengah dengan perdebatan yang terjadi dikeluarganya.
"Maaf, kak,"ucap Cici.
"Jangan diulangi lagi, Ci. Lain kali jika Mama seperti itu, jangan ditanggepin,"ucap Samudra lembut pada adiknya.
"Iya, Kak. Sekali lagi Cici minta maaf."
"Sudah, tidak pa-pa. Sebaiknya sekarang kita istirahat, malam sudah sangat larut."
"Tapi Caca laper, Kak."
"Untuk malam ini ditahan dulu ya, Dek. Kakak tidak punya uang untuk beli makan."
"Perut apa kamu ini, Ca. Tadi diwarung kamu makan paling banyak, sekarang udah laper aja,"sahut Sari mengomel.
"Jangan dengarkan Mama. Kalian ke kamar aja istirahat, kalau kotor dibersihkan bagian tempat tidurnya aja dulu."
"Iy, Kak,"jawab Cici dan Caca.
Si kembar masuk kedalam kamar lama mereka, betapa terkejutnya mereka ketika melihat kondisi kamar yang berantakan.
Cici kesal dengan pekikan Caca. "Tck, jangan lebay kamu. Jelas seperti inilah keadaannya, udah berapa tahun lamanya tidak ada yang menempati rumah ini,"ucap Cici.
"Tikus..."pekik Caca melihat tikus keluar dari kasur yang sudah terlihat usang.
Caca melompat-melomoat didepan pintu kamarnya, sedangkan tikus yang dilihatnya kembali kedalam kasur karna takut dengan suara teriakan Caca.
"Tikus, tolong... Kakak, Papa..."teriak Caca.
"Mana? Mana tikusnya?"tanya papa mereka yang menyusul dengan tergopoh-gopoh karna teriakan Caca.
"Dikasur, Pa. Tikusnya masuk lagi ke dalam kasur, Pa,"jawab Caca mulai menangis.
"Oalah, ini kasurnya udah jadi sarang tikus, udah nggak bisa di pake lagi ini,"ucap Samad.
"Jadi malam ini Caca dimana dong, Pa?"
"Tidur di depan aja dulu. Didepan lebih lega ruangannya dibanding kamar kalian yang berantakan ini,"jawab Samad.
Cici menghela nafas panjang. "Terpaksa malam ini kita tidur di karpet lagi,"ucapnya pelan.
"Sabar ya, Dek,"ucap Samudra sambil merangkul pundak adiknya.
Cici mengangguk pasrah. "Iya, Kak."
"Pergi, pergi kalian. Jangan dekati saya! Dasar nak4l merusak barang-barang saya."
__ADS_1
Samar-samar mereka mendemgar suara sari seperti sedang memarahi seseorang, tapi siapa? Itu yang ada dipikiran suami dan anak-anak Sari.
"Mama marah sama siapa?"tanya Cici.
"Nggak tahu, Ci. Kita lihat ke kamar mama aja,"ajak Samudra.
Karna rasa penasaran yang tinggi setelah mendengar suara Sari, mereka melangkahkan kaki menuju kamar Sari yang pintunya tertutup rapat.
-Tok tok tok-
"Siapa?"
"Ini papa, Ma. Kamu sama siapa didalam?"tanya Samad.
"Papa... Tolong mama, Pa. Mama terjebak didalam kamar,"teriak Sari.
Semua berdecak kesal dengan kelakuan absurd Sari. Pake terjebak didalam kamar ini, begitulah jika masuk ruangan tanpa mengucap salam.
"Terjebak bagaimana sih, Ma?"tanya Samad.
"Udah deh, jangan banyak nanya dulu. Keluarin dulu mama dari sini... Hus hus, sana jangan mendekat,"teriak Sari.
"Kayaknya mama dis3rang tikus deh, Pa,"tebak Cici.
"Loh? Iyaiya, bisa jadi itu, Nak." Samad segera membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya semua orang melihat kondisi Sari yang berantakan.
"Mama kenapa?"tanya Samudra.
"Jangan tanya dulu, tikus ini meny3rang mama dan mengigit baju mama, Sam,"jawab Sari yang sedang menutup matanya.
"Tikus apa sih, Ma?"tanya Cici.
"Mata kamu buta, Ci. Didekat kaki mama banyak tikus-tikus kecil,"bentak Sari.
"Mama buka mata deh. Penampilan Mama sekacau ini cuma karna tikus yang bisa kabur kapan aja jika melihat ada orang,"ucap Cici santai.
"Beneran udah nggak ada tikusnya?"
"Beneran, Ma. Mama fikir kita semua bisa masuk kesini dengan santai jika masih melihat ada tikus?"jawab Cici.
Sedangkan Caca tidak mengeluarkan suara sedikitpun karna merasa was-was berada dikamar orang tuanya. Ia bersembunyi dibalik punggung papanya.
Perlahan Sari membuka matanya ingin membuktikan apa yang dikatakan anaknya.
"Syukurlah... Huu, dasar tikus kur4ng 4j4r, mengigit baju orang dengan sembarang,"omel Sari.
"Bagaimana bisa tikus menggigit baju, Mama?"tanya Samudra.
"Mama masuk kamar langsung merebahkan bada dikasur, eh baru mau memejamkan mata, mama dengar suara tikus. Pas mama lihat itu tikus udah ada yang gigit baju mama. Lihat ini bekas gigitannya."
Memang terlihat ada beberapa sobekan dibagian ujung baju Sari.
"Lagian Mama main tidur aja, nggak lihat kondisi dulu,"sahut Cici.
"Rumah ini udah jadi sarang tikus, Ma,"cicit Caca.
__ADS_1