
"Alhamdulillah... Akhirnya sampai juga," ucap syukur Nabila saat mobil yang ditumpanginya dan keluarga berhenti tepat depan rumah kantor.
"Ini rumahnya, Nak?" tanya ibu Ros menatap kagum pada bangunan dua tingkat didepannya.
"Iya benar, Bu. Kita akan tinggal disini," jawab Nabila tersenyum.
Mereka turun dari mobil dan Kaisar menurunkan barang-barang dibantu pak Wahyu.
"Mmm... Saya pampit, mau langsung pulang," pamit pak Wahyu.
"Loh, Pak Wahyu nggak mau masuk duu istirahat?" tanya ibu Ros.
"Ngga, Bu. Biar langsung istirahat dirumah aja, anak saya juga pasti sudah menunggu," tolak pak Wahyu sopan.
"Yasudah kalau gitu, terimakasih ya, Pak. Lain kali ajak anaknya main kesini," ucap ibu Ros.
"Iya, Bu. Jika ada waktu luang InsyaAllah saya akan sempatkan mampir," jawab pak Wahyu sopan, "Kalau begitu saya pamit, Assalamualaikum..." salam pak Wahyu.
"Waalaikumssalam..." jawab mereka serempak.
Pak Wahyu masuk kedalam mobilnya dan meninggalkan kompleks perumahan.
"Ayo masuk, Bu, Kaisar," ajak Nabila, "Clara... Ayo masuk," ajak Nabila pada Clara yang terlihat melamun.
"Eh... Iya, Mbak Nabila," jawab Clara.
Ibu Ros dan Clara mengikuti langkah kaki Nabila yang menuju ruang tv seraya menggendong Raksa. Sedangkan Kaisar membawa satu persatu koper masuk kedalam rumah.
"MasyaAllah... Rumahnya sangat nyaman, Mbak," puji Kaisar yang sudah ikut bergabung diruang tv.
"Alhamdulillah... Kantor memberikan fasilitas terbaik untuk karyawannya," sahut Nabila tersenyum.
"Luar biasa kantor tempat Mbak Nabila kerja, sangat memperhatikan kenyamanan karyawannya," ucap Kaisar.
"Alhamdulillah, Dek. Tidak hentinya Mbak bersyukur diterima diperusahaan yang sekarang."
"Apa kantor Mbak kerja ada buka lowongan kerja?" tanya Kaisar.
"Mbak nggak tahu, Sar." jawab Nabila, "Coba tanya Clara!" pinta Nabila memberi kode adiknya untuk bertanya langsung pada orangnya.
Kaisar yang mengerti maksud dari kode kakaknya, "Mmm... Mbak Clara perusahaan buka lowongan kerja nggak?" tanya Kaisar pelan.
"Untuk saat ini belum ada, Mas," jawab Nabila.
"Ya ampun... Kalian ini! Kalian seumuran, nggak usah formal panggil Mbak dan Mas!"
"Seriusan kami seumuran, Mbak?" tanya Kaisar tak percaya.
"Mbak jangan bercanda deh," sahut Clara.
"Loh loh, kok main ker0y0k kalian? Kalian kan berada di tempat yang sama, di ruangan yang sama, dan bahkan kalian berhadapan loh. Jadi, kalian ngobrol langsung ya? Mbak mau antar Ibu ke kamarnya dan membereskan pakaian Raksa," ucap Nabila lalu berdiri dari duduknya.
"Ayo, Bu. Nabila antar Ibu ke kamar untuk istirahat," ajak Nabila pada ibu Ros.
"Iya, Nak. Ibu juga rasanya sudah lelah pengen cepat-cepat ketemu masur," jawab ibu Ros terkekeh.
Nabila tidak menghiraukan dua orang di ruang tv yang saling tatap dengan perasaan kikuk.
Kaisar menggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal, "Kita seumuran ya?" tanya Kaisar salah tingkah.
"Eh, saya nggak tau," jawab Clara kikuk.
"Mmm.... Kamu umur berapa sekarang?"
"Saya jalan 23 tahun," jawab Clara.
"Ooh berarti benar kata mbak Nabila kalau kita seumuran," kata Kaisar tersenyum.
"Oh ya? Jadi kita nggak usah pake embel-embel mas dan mbak ya?" sahut Clara.
__ADS_1
"Iya, panggil pake nama aja."
"Oh ia, ide bagus. Salam kenal, saya Clara," ucap Clara seraya mengulurkan tangannya kedepan.
"Salam kenal juga, saya Kaisar," balas Kaisar menyambut uluran tangan Clara. Mereka bersalaman.
"Oke... Semoga kamu kerasan tinggal di Jakarta Kaisar," kata Clara tersenyum.
"Kalau tinggal dirumah sebagus ini, siapa yang nggak akan betah," kata Kaisar terkekeh.
"Btw, kamu sebelumnya udah pernah kerja?" tanya Clara basa basi.
"Sebenarnya saya sampai saat ini masih kerja. Tapi kerjaan saya itu lewat hp aja, jadi mau cari kerja yang lain pun nggak masalah."
"Kamu sepertinya sangat tekun mengumpulkan pundi-pundi rupiah," ucap Clara terkekeh.
"Hahaha... Ia, sebagai laki-laki tang bertanggung jawab harus rajin-rajin cari uang."
"Rajin buat calon istri ya?"
"Saya belum kepikiran sampai kesana. Untuk saat ini saya mau ngumpulin uang buat ibu bisa berangkat haji."
"Hebat kamu, Kaisar. Masih sangat muda, tapi punya pikiran buat berangkatin orangtua bertamu ke rumah Allah," sahut Clara tersenyum.
"Itu semua nggak ada apa-apanya dengan perjuangan dan pengorbanan ibu untuk saya dan mbak Nabila."
"Saya salut sama, Kamu. Kalau ada lowongan entar saya infoin ke Kamu deh."
"Khhmmm..." Nabila berdehem.
"Eh Mbak Nabila udah balik. Ibu tidur, Mbak?" tanya Kaisar.
"Mana pernah ibu tidur jam segini, Sar. Ibu lagi mandi," jawab Nabila lalu ikut duduk di sofa.
Kaisar mengangguk, "Mbak! Isar lapar nih, ada yang bisa dimakan di dapur nggak?"
"Memakan waktu berapa menit tuh makanan sampai disini?" tanya Kaisar tak sabar.
"Paling 30 menit," jawab Nabila cuek.
"Apa? Kenapa lama, Mbak? Sama aja kalau kita yang masak sendiri," protes Kaisar.
"Gimana lagi, mau masak sendiri nggak sempat. Ini sebentar lagi juga makan malam."
"Iadeh, Isar mau ke kamar dulu. Mau mandi." Kaisar berlalu meninggalkan Nabila dan Clara
"Clar, nggak mandi?" tanya Nabila.
"Iya, Mbak. Ini saya juga mau balik kerumah."
"Disini aja," cegah Nabila.
"Jangan deh, Mbak. Saya nggak bawa baju soalnya."
"Bisa pakai baju saya."
"Nggak usah, Mbak. Rumah saya kita sebelahan Mbak," sahut Clara cengengesan.
"Oke, oke... Udah sana, buruan bebersih."
***
Makanan sudah tersaji di atas meja makan. Kaisar makan lebih dulu karna sudag merasa sangat kelaparan.
"Bu? Kenapa makanannya cuma diliatin? Ibu nggak suka lauknya?" tanya Nabila penuh perhatian.
"Tidak, Nak. Ibu cuma liatin lauk yang dimakan adikmu, bisa sampe selahap itu dia makan," jawab ibu Ros.
"Hahaha... Dia kelaparan, Bu," sahut Nabila tertawa.
__ADS_1
"Seperti seharian ini nggak pernah makan kamu, Isar."
"Udah biarin aja, Bu," kata Nabila, "Clara! Ayo makan, ngapain bengong," ucap Nabila.
"Eh... Iya, Mbak."
***
Hari pertama Nabila kembali bekerja setelah beberapa hari cuti. Nabila sudah berada diruangannya berhadapan dengan tumpukan map yang menunggu dikerjakan.
"Oke, back to the laptop," kata Nabila seraya membuka laptopnya.
Nabila disibukkan dengan laporan yang akan segera ditanda tangani oleh bosnya, Galaksi. Sebelum jam makan siang tiba, sebagaian sudah selesai diperiksanya.
Tok tok tok
Nabila menoleh ke arah pintu yang di ketuk, "Masuk," pintanya.
Cklek
"Ibu Nabila! Bagaimana dengan laporannya? Pak Galaksi meminta diantarkan sekarang," ucap Ikhsan.
"Iya, Pak. Ini baru saja saya akan mengantar keruangan pak Galaksi," sahut Nabila sopan.
"Baiklah, sampai bertemu diruangan pak Galaksi," ucap Ikhsan.
"Iya, Pak." jawab Nabila menunduk sopan.
Pak Ikhsan berbalik dan meninggalkan ruangan Nabila. Nabila juga segera membereskan laporan yang akan dibawanya.
Nabila jalan dengan anggun menuju ruang bigbos nya.
Tok tok tok
"Masuk." titah dari dalam ruangan.
Pintu ruangan terbuka dari dalam. Terlihat Ikhsan yang membukanya.
"Silahkan masuk, Ibu Nabila."
"Terimakasih, Pak Ikhsan," sahut Nabila sungkan.
Nabila melangkahkan kaki jenjangnga menuju meja Galaksi.
"Maaf, Pak. Ini laporannya," ucap Nabila meletakkan map ysng dibawanya.
"Kenapa cuma segini laporan yang Anda bawa, Ibu Nabila?" tanya Galaksi dingin.
"Maaf, Pak. Sebagian laporannya masih harus saya periksa," jawab Nabila santai.
"Baiklah, saya ingin laporannya besok pagi sudah ada di meja saya," titah Galaksi.
"Iya, Pak," jawab Nabila menunduk sopan.
"Silahkan, keluar." Galaksi mempersilahkan Nabila keluar dari ruangannya.
"Permisi, Pak." pamit Nabila.
Nabila kembali keruangannya, karna sebentar lagi jam makan siang. Nabila membuka hpnya dan membuka aplikasi g0fo*d.
"Untuk Raksa ayam goreng krispy, untuk ibu?" guman Nabila masih mencari makanan yang cocok dilidah ibunya.
Setelah menemukannya Nabila segera memesan, 2 porsi paket komplit ayam goreng krispy dan 1 porsi ayam bakar madu komplit.
Cklek
Pintu tiba-tiba terbuka dari luar membuat Nabila terkejut.
"Astagfirullah..." guman Nabila.
__ADS_1