
"Apa yang kau lakukan pada anakku?" pekik mama Samudra.
"Slow mama mertua, mas Sam suami saya, jadi tidak mungkin saya akan menyakitinya. Dia saat ini sedang bersenang-senang," sahut Nabila.
"Permisi. Kami dari kepolisian mendapat telfon dari keluarga Ibu Nabila," ucap seorang polisi.
"Oh iya, Pak. Saya yang meminta adik saya melapor,"
"Anda siapa?"
"Saya Nabila Maharani. Anak saya yang diculik oleh mereka," ucap Nabila seraya menatap tajam pada keluarga Samudra.
"Tidak, dia bohong, Pak Polisi. Kami tidak menculiknya, dia cucu saya," bantah mama Samudra.
"Bagaimana, Ibu Nabila?"
"Bawa mereka, Pak. Saya tidak mengenal mereka. Karna setau saya, suami saya anak yatimpiatu saat menikah dengan saya," jawab Nabila.
"Anda memiliki bukti tentang kasus ini?"
"Saya punya buktinya," sahut Pak Wahyu.
Nabila menatap pak Wahyu dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Ini hp wanita tua itu, Pak. Bapak bisa memeriksanya, karna saat tadi saya buka, saya berhasil menemukan bukti terkait masalah ini," ujar pak Wahyu seraya menyerahkan hp pada polisi.
"Baiklah, Pak. Terimakasih atas bantuannya mengamankan barang bukti ini,"
"Sudah kewajiban saya, Pak."
"Saya juga ingin melaporkan kasus penipuan, Pak," ujar Nabila.
Keluarga Samudra ketar ketir melihat kedatangan polisi.
"Ma, bagaimana ini? Caca nggak mau dip3njar4," bisik Caca pada mamanya.
"Diam, Ca. Mama juga nggak mau," jawab mama Samudra berbisik.
"Pa, kenapa Papa diam aja? Bujuk polisi itu untuk tidak menerima laporan perempuan s1al4n itu," bisik Cici.
"Jaga mulutmu, Ci. Papa bisa apa? Mereka menemukan bukti chat Mamamu dengan orang bayarannya, jadi Kita hanya bisa menerima nasib," jawab papa Samudra kesal.
"Iiishh, lagian itu chat kenapa nggak dihapus sih, Ma?" tanya Cici berbisik.
"Mana Mama tau akan terbongkar secepat ini," bisik mama Samudra.
"Diamlah, Sari. Ini juga salahmu, membawa anak itu kerumah kita,"
"Enak aja Papa nyalain aku, ini juga ide Cici dan Caca,"
"Lah, kok kita yang disalahin sih?" sanggah Cici.
"Tau nih, Mama. Nggak jelas banget tau," sahut Caca.
"Kan Mama sendiri yang rencanain penculikan itu, lalu kita minta tebusan 300jt," ungkap Cici tanpa sadar.
Tanpa mereka sadari, ternyata perdebatan mereka menjadi pusat perhatian. Dan percakapan mereka dapat didengar oleh semua orang yang ada dalam ruangan.
"Dengarlah baik-baik, Pak. Mereka membuat pengakuan tanpa dipaksa," ucap Nabila tersenyum sinis.
Sadar menjadi perhatian semua orang, mereka menjadi gugup.
"Silahkan bawa mereka, Pak," ucap Nabila.
__ADS_1
Beberapa polisi maju untuk membawa keluarga Samudra.
"Tidak... Jangan tangkap saya, saya tidak saja," pekik Caca memberontak.
"Kalian bisa melakukan pembelajaan dikantor polisi," ujar polisi yang memegang tangan Caca.
"Saya tidak terima diperlakukan seperti penj4h4t, saya akan kembali membalas semua perbuatanmu," pekik Sari pada Nabila.
Nabila bergeming melihat keluarga suaminya digiring menuju mobil polisi.
"Seandainya kalian tidak mencul1k anakku dan tidak menipuku sedemikian rupa, kalian pasti akan tetap hidup damai sampai saat ini," kata hati Nabila.
Nabila dan pak Wahyu menyusul mereka keluar dari rumah tersebut.
"Nak?" Ibu Ros memegang pundak anaknya.
Nabila menoleh, "Ibu? Apa yang Nabila lakukan ini benar?" tanya Nabila.
"Kamu melakukan hal yang benar, Nak. Siapapun itu, jika melakukan tindak kr1miN4l harus tetap mendapat hukuman. Ini juga sebagai efek jera untuk mereka," ucap Ibu Ros menenangkan Nabila.
"Pak, apa bisa kalian bisa ikut kami kerumah sebelum kembali kekantor?" tanya Kaisar pada komandan polisi.
"Ada apa, Pak?" tanya pakpol.
"Mmm... Begini, Pak. Dirumah masih ada satu anggota keluarga mereka yang sedang kami kurung," jawab Kaisar.
"Baiklah. Mari kita berangkat sekarang, saya akan mengikut kalian dari belakang,"
"Terimakasih, Pak." ucap Kaisar, lalu menoleh ke Nabila, "Mba? Mba nggak apa-apa kalau mas Sam ikut keluarganya?" tanya Kaisar pelan.
Nabila tersenyum, "Tidak, Isar. Lakukan saja, Mba tidak merasa keberatan sama sekali," jawab Nabila.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang," ucap Kaisar.
"Terimakasih Ya Allah, dalam waktu singkat aku bisa kembali bertemu dengan anakku," ucap Nabila dalam hatinya.
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk mereka sampai dirumah kontrakan Nabila.
"Silahkan masuk, Pak. Dia ada didalam," ajak Kaisar sopan.
Nabila lebih duli masuk kedalam untuk menemui suaminya dan disusul yang lainnya.
"Sayang, kamu pulang?" tanya Samudra.
"Iya, aku pulang. Dan aku sudah kuambil semua milikku yang sudah kalian ambil paksa dariku," jawab Nabila dingin.
"Apa maksudmu, Sayang? Lalu dimana keluarga kita tinggal?" tanya Samudra.
Nabila.mengernyitkan keningnya, "Keluarga kita? Mereka hanya keluargamu mas, bukan keluargaku," jawab Nabila.
"Mereka mertua dan ipar mu, Nabila. Kenapa kamu berkata seperti itu?"
"Kenapa disaat seperti ini saya tiba-tiba menjadi keluarga mereka? Dimana mereka selama ini?" tanya Nabila.
Samudra menunduk, tak bisa lagi menjawab Nabila. Dia tidak sadar jika dibelakang Nabila ada dua orang berseragam polisi yang siap menjemputnya.
"Bawa Dia, Pak," pinta Nabila.
Mendengar Nabila berkata seperti itu, Samudra mengangkat kepalanya. Betapa kagetnya dia saat mengetahui dirinya akan dip3nj4r4.
"Sayang, kamu tidak seriuskan?" tanya Samudra panik.
"Kaisar, urus semuanya. Mba mau bawa Raksa kekamarnya," ujar Nabila.
__ADS_1
"Iya, Mba," jawab Kaisar.
"Sayang, jangan pergi dulu. Mas mohon lepasin Mas, Sayang," teriak Samudra.
"Ayo, silahkan ikut kami," ucap seorang polisi melepaskan 1kat4n Samudra lalu menggantinya dengan b0rg*l dikedua pergelangan tangannya.
Samudra terus berteriak memanggil nama istrinya. Tapi tidak ada yang mengubrisnya sama sekali.
Suasana rumah menjadi lebih tenang setelah kepergian Samudra. Pak Wahyu duduk bersama Kaisar diteras depan.
"Pak Wahyu, terimakasih atas semua bantuannya untuk keluarga kami," ucap Kaisar sungkan.
"Tidak masalah, Kaisar. Kita memang harus saling tolong menolong," jawab Pak Wahyu bijak.
"Sekali lagi terimakasih, Pak."
"Iya. Maaf sebelumnya, apa benar suami Nabila mengaku anak yatimpiatu?" tanya Pak Wahyu penasaran.
"Benar, Pak," jawab Kaisar.
"Kaisar?" panggil Nabila dari dalam.
"Iya, Mba. Isar diluar," jawab Kaisar.
Nabila berjalan menuju teras.
"Kalian disini rupanya, ayo kita makan siang dulu," ajak Nabila.
Mereka menikmati makan siang dengan hikmat. Sampai makanan habis, tak ada yang memulai pembicaraa.
"Mba, apa yang akan Mba lakukan dengan rumah itu?" tanya Kaisar.
"Mungkin mba akan memjual saja rumah itu," jawab Nabila.
"Kenapa dijual, Nak" tanya Ibu Ros.
"Nabila tidak ingin ada masalah lagi, Bu."
"Mba Nabila benar, Bu. Mending rumahnya dijual," sahut Kaisar.
"Tapi... Itu hasil kerjamu selama ini, Nak," ucap Ibu Ros.
"Ibu tenang aja. Setelah rumah itu laku, uang hasil penjualannya akan Nabila belikan rumah di Jakarta, Bu," jawab Nabila tersenyum.
"Bukannya kamu mendapat rumah perusahaan? Apa akan selamanya kamu tinggal disana, Nak?" tanya Ibu Ros.
"Rumah itu hanya bisa Nabila tempati saat masih kerja diperusahaan Pak Wahyu, Bu. Kita tidak tau kedepannya akan seperti apa, Nabila membeli rumah juga sebagai aset, Bu."
"Sudah, Ibu tenang saja. Mba Nabila tau apa yang akan dilakulannya, Bu. Cukup doakan anak Ibu," ucap Kaisar seraya merangkul ibunya.
"Ibu, apa Ibu tidak keberakatn jika Nabila ajak Ibu untuk tinggal di Jakarta?" tanya Nabila pelan.
"Ibu takut ikut ke Jakarta, takut merepotkan kamu. Kaisar juga pasti akan sendiri disini," jawab Ibu.
"Kalau Ibu ke Jakarta, tentu Kaisar akan ikut, Bu. Sekalian cari-cari kerjaan disana," ucap Kaisar.
"Iya, Bu. Isar benar. Sebaiknya kita semua pindah ke Jakarta, saya tidak ingin saat mereka keluar dari p3nj4r4 akan melampiaskan d3ndam mereka pada Ibu," ucap Nabila.
Ibu Ros tampak berpikir. Nabila dan Kaisar menatap Ibunya dengan pandangan penuh harap.
"Pak Wahyu, maaf... Apa saya bisa minta tolong sekali lagi?" tanya Nabila ragu-ragu.
__ADS_1
"Minta tolong apa, Nabila? Selagi saya mampu, akan saya usahakan," jawab Pak Wahyu.