
"Seharusnya dia ikhlaskan rumahnya kita tempati, bukan malah mem3nj4rakan kita,"sahut Caca belum juga menyadari kesalahannya.
"Kamu memang bebal, Ca. Jelaslah dia melakukan itu, siapa yang mau rumahnya ditempati secara cuma-cuma? Bukan cuma rumah tapi uangnya juga kita pakai untuk bersenang dengan cara men1punya,"ujar Cici.
"Sudah, kalian diamlah. Jangan menambah masalah,"ucap papa mereka menengahi.
"Pokoknya setelah keluar dari sini, aku mau ke Jakarta menuntut dia,"ucap Caca menggebu-gebu.
"Pergilah kalau kamu mampu, Ca,"sahut papanya pasrah.
"Cici tidak akan pergi sendiri, mama juga akan pergi,"sahut Sari.
"Terserah kalian, jangan bilang Cici tidak mengingatkan jika suatu saat kalian akan mendapat masalah yang lebih dari ini, jangan libatkan Cici,"ucap Cici mengalah.
***
Nabila tiba dirumahnya dengan Raksa yang berada dalam gendongannya yang terus merengek menanyakan papa Wahyu. Sedangkan Clara kembali kerumahnya.
"Assalamualaikum,"salam Nabila.
"Waalaikumssalam, Kalian sudah pulang? Mana yang lain?"tanya ibu Ros melongo melihat ke belakang Nabila.
"Clara pulang kerumahnya, Bu,"jawab Nabila.
"Loh, kok pulang? Nggak makan malam disini aja?"
"Clara pulang mandi dulu, Bu. Rumahnya juga nggak jauh, Bu,"jawab Nabila terkekeh.
"Hahaha, Ibu lupa kalau kita sama Clara tetangga,"sahut ibu Ros tertawa.
"Mungkin faktor U, Bu. Jadi udah mulai agak pelupa,"canda Nabila.
"Mungkin juga ya, Nak? Aduh... Padahal ibu masih merasa muda loh,"balas ibu Ros bercanda.
"Hahaha, ingat Ibu udah punya cucu,"ucap Nabila terkekeh.
"Nenek? Nenek Aksa tantik, Bu,"celoteh Raksa.
"Nenek cantik, Nak? MasyaAllah, bahagianya dipuji cucu sendiri,"sahut ibu Ros menggelitiki perut Raksa.
"Hahaha... Ampun Nenek, pelut Aksa geli,"ucap Raksa cekikikan.
"Nenej gemes sana Raksa, udah mulai pintar muji Nenek ya, Nak? MasyaAllah,"ucap ibu Ros.
"Raksa? Siapa yang ajarin Raksa kata cantik, Nak?"tanya Nabila lembut.
"Uncle Icar,"jawab Raksa.
"Ya ampun, Kaisar. Kamu mengajarkan anakku cara menggoda wanita, tapi kamu sampai sekarang masih jomblo,"gumam Nabila.
"Nak? Wahyu nggak jadi tidur disini malam ini?"
"Jadi, Bu. Tapi pak Wahyu katanya mau bantu-bantu Kaisar dulu disana,"jawab Nabila.
"Astaga, Nak. Kenapa kamu biarin nak Wahyu ikut kerja? Nak Wahyu pasti tidak terbiasa kerja berat seperti itu, Nak."
"Nabila udah larang, Bu. Tapi pak Wahyu kekeh mau bantuin Kaisar jadi aku pasrah aja, Bu. Toh ini kemauan pak Wahyu sendiri."
"Ibu? Mau main sama papa,"rengek Raksa.
__ADS_1
"Iya, Nak. Sabar ya? Papa lagi bantu uncle Icar."
"Bu? Nabila mau ke kamar dulu, mau mandi. Aku nitip Raksa dulu ya?"
"Iya, kamu ke kamar aja. Biar ibu yang jaga Raksa."
Nabila kembali ke kamarnya, sebelum ke tujuan awal, Nabila lebih dulu memeriksa yang ema1l yang masuk dari kantor.
"Hmm... Ada tugas tambahan dari pak bos. Semoga proyek selanjutnya gol, biar bisa dapat bonus lebih banyak lagi,"gumam Nabila tersenyum.
***
"Isar, kamu istirahat aja dulu, biar saya lanjutkan kerjaan kamu."
"Tapi, Pak..."
"Udah, sana duduk nyantai. Oh iya, btw jangan panggil pak, saya merasa sangat tua. Panggil mas aja."
Kaisar melongo mendengar kemauan pria didepannya itu, "Baik, Pak. Eh maaf, Mas."
"Nah itu baru tepat, Sar." Wahyu terkekeh.
Wahyu mengambil alih kerjaan Kaisar. Sedangkan Kaisar duduk santai menikmati cemilan buatan ibunya yang tadi dibawa oleh Nabila.
"Cemilan buatan ibu memang nggak pernah gagal,"gumam Kaisar memuji cemilan yang dimakannya, "Pak Ahmad, sini istirahat dulu. Dari tadi belum ada istirahat loh,"ajaknya.
"Mas Kaisar ini, kalau saya kebanyakan istirahat kapan selesainya kerjaan ini,"sahut Ahmad terkekeh melanjutkan menyemprot chat ke tembok.
"Ini keringnya bisa sampai berapa hari, Pak Ahmad?"tanya Wahyu.
"Bisa sehari sampai dua hari baru benar-benar kering, Pak,"jawab Ahmad.
"Kalau catnya cuma dua lapis nggak lama, Pak. Apalagi lapisan pertama udah kering, jadi tinggal lapisan yang kedua."
"Apa malam ini bisa selesai semua pengecatannya?"
"InsyaAllah bisa, Pak. Ini tinggal yang didalam kamar belum di double catnya."
"Yang dibelakang udah?"
"Udah tadi pagi, Pak. Saya mulai dari belakang, pengecatan cepat selesai karna pakai mesin dan juga dibantu sama Mas Kaisar."
"Saya mau lanjut yang di kamar aja kalau gitu ya, Pak Ahmad?"
"Boleh, Pak. Sebentar lagi saya angkat mesin ke dalam kamar."
"Kamar yang depan atau yang kedua dulu, Pak?"
"Yang kedua aja, Pak. Karna yang didepan nggak di cat. Mau langsung dipasang kedap suara aja katanya."
"Oo, gitu..."
Wahyu masuk ke dalam kamar seraya membawa alat t3mpur pengaplikasian cat yang disiapkan Kaisar. Kaisar juga dengan ceoat menyusul Wahyi dengan membawa alat yang pernah dipakai Ahmad sebelum ada mesin cat.
"Ayo kita kerjakan bersama, Mas,"ucap Kaisar.
Menjelang magrib, cat yang sudah dicampur juga sudah habis. Mereka bergantian membersihkan diri di dalam kamar mandi yang sudah kering catnya.
Mereka shalat berjamaah ditempat yang disiapkan Kaisar khusus untuk beribadah. Setelah shalat mereka mengaji swraya menunggu waktu shalat isya.
__ADS_1
"Kita makan dulu sebelum lanjut, Mas, Pak,"ajak Kaisar setelah membereskan alat shalatnya.
"Iya, Sar. Mari, Pak Ahmad."
Mereka makan dalam diam, pertengahan makan ponsel Kaisar berbunyi.
"Mas dan Pak Ahmad silahkan dilanjut makannya, saya mau jawab panggilan dsri orang rumah dulu."
Kaisar menggeser tombol hijau dan mengarah ponselnya ketelinganya.
^^^{Assalamualaikum, mbak?}^^^
{Waalaikumssalam, Sar. Kalian sudah makan malam?}
^^^{Ini lagi makan, mbak.}^^^
{Yaudah, mbak pikir kalian masih kerja. Kalau kerjaan tidak bisa selesai malam ini, distop aja dulu, besok baru dilanjut lagi.}
^^^{Siap, mbak. Ini tinggal sedikit lagi, Mbak. Sisa yang dikamar kedua.}^^^
{Yasudah. Pulangnya kalian hati-hati, jangan terlalu malam.}
^^^{Mbak nggak perlu khawatir. Isar pulang sama mas Wahyu.}^^^
{Mas Wahyu? Siapa, Sar?}
^^^{Mas Wahyu pemilik perusahaan tempat mbak kerja.}^^^
{Jangan lancang, Sar. Dia tetap bos mbak, jangan panggil seperti itu,} ujar Nabila gusar.
^^^{Mas Wahyu sendiri yang minta dipanggil seperti itu, mbak. Kasiar ikut kamuannya aja kok.}^^^
{Terserah kamu lah, Sar. Kamu habisin makanan kamu. Mbak tutup dulu, assalamualaikum.}
^^^{Waalaikumssalam.}^^^
Kaisar kembali menyantap makan malamnya uang sempat tertunda itu.
"Siapa, Sar?"tanya Wahyu.
"Mbak Nabila, Mas."
"Ada apa? Apa ada hal penting?"
"Tidak, Mas. Mbak Nabila cuma mengingatkan untuk makan malam,"jawab Kaisar santai.
"Oo... Mbak mu sayang kamu, dia tidak mau kamu telat makan,"ucap Wahyu.
"Mbak Nabila memang seperti itu, Mas. Kadang cerewet,"sahut Kaisar terkekeh.
"Namanya juga cewek, Sar. Pasti cerewet, apalagi sama orang-orang yang disayangnya."
"Maaf, Mas, Pak. Saya mau lanjut kerja dulu,"ucap Ahmad setelah menyelesaikan makannya.
"Iya, Pak Ahmad. Silahkan, sebentar lagi kami menyusul,"jawab Wahyu.
"Saya permisi,"pamit Ahmad.
"Ayo, Sar. Kita selesaikan kerjaan kita. Dengan kerjasama pekerjaan akan cepet selesai,"ajak Wahyu.
__ADS_1
"Bentar, Mas. Saya bereskan ini dulu,"sahut Kaisar memasukkan sampah bekas makan ke dalam plastik hitam dan diletakkan di depan pintu utama.