
"Eh... Nggak ada, Sar,"jawab Nabila kaget.
"Mbak mau ikut ke rumah nggak?"
"Rumah mana, Sar?"tanya Nabila ngelag.
"Rumah yang akan dijadikan tempat produksi,"jawab Kaisar.
"Ooh itu... Boleh deh, Sar. Kapan suami ibu Salma mulai kerja?"
"Katanya sih sore ini, Mbak."
"Yaudah, bagus itu. Kita kesana sekarang aja,"sahut Nabila.
"Terus itu Pak Wahyu gimana, Mbak?"
"Oo iya, bentar ya, Sar,"sahut Nabila lalu mendekati Raksa dan Wahyu, "Mmm... Pak Wahyu, maaf. Saya tinggal keluar nggak apa-apa?"tanya Nabila pelan.
"Kamu mau kemana?"
"Mau ke rumah yang mau dijadikan tempat produksi, Pak."
"Kamu buat usaha sendiri?"
"Iya, Pak. Usaha kecil-kecilan,"jawab Nabila.
"Kamu buat usaha apa?"tanya Wahyu mulai tertarik.
Nabila menoleh kebelakang, meminta pendapat Kaisar. Kaisar mengangguk seraya duduk di sofa.
"Buat baju, Pak. Mau buat brand sendiri,"jawab Nabila pelan.
"Ohia? Bagus itu! Berarti kamu bekerja sama dengan desainer?"
"Tidak, Pak. Saya sendiri yang mendesainnya,"jawab Nabila cepat.
"Kamu memasarkannya lewat apa?"
"Untuk sementara saya mau memasarkan melalui online aja dulu, Pak. Saya juga akan mencoba menawarkan pada toko-toko yang ingin menyuplai barang dari kami,"jawab Nabila.
Wahyu mengangguk, "Ide bagus itu. Kapan kamu meresmikan brand kamu?"
"InsyaAllah minggu depan jika semua berjalan sesuai yang direncanakan. Kami mau mengadakan barangnya dulu baru mempromosikan lewat online dan menawarkan ke toko atau butik."
"Ada yang bisa saya bantu? Jika ada, dengan senang hati saya akan mengerjakannya,"sahut Wahyu semangat.
"Terima kasih atas tawarannya, Pak. Semua sudah siap, tinggal di cet aja ruangannya dan dipasang kedap suara di kamar depan." Nabila merasa tidak enak jika benar bosnya akan turun tangan membantunya.
"Baiklah, tapi jika suatu saat kamu butuh bantuan, segera hubungi saya,"sahut Wahyu mengalah.
"Iya, Pak. Apa Pak Wahyu masih mau bermain dengan Raksa?"
"Iya! Kalian pergilah. Saya masih mau disini bermain bersama Raksa. Iya 'kan, Nak?" Wahyu menggelitik perut Raksa yang membuatnya tertawa geli.
"Ha ha ha... Ampun, Pa. Aksa, geli pelutja,"ucap Raksa terkikik geli.
"Kalau begitu saya tinggal ya, Pak. Maaf,"pamit Nabila yang sebenarnya tidak enak meninggalkan tamunya.
"Iya, pergilah,"sahut Wahyu santai.
__ADS_1
Kaisar tersenyum melihat pemandangan yang terjadi di depannya. Terlihat seperti keluarga cemarah.
Kaisar berdiri dari duduknya, "Mbak? Kaisar aja yang pergi deh, Mbak disini aja,"ucapnya.
"Eh... Mbak ikut, Sar. Ayo kita berangkat sekarang."
Nabila dan Kaisar meninggalkan Wahyu yang bermain dengan Raksa yang terlihat begitu bahagia.
***
"Mbak? Istri pak Wahyu kemana?"
"Yang pernah mbak dengar sih istri pak Wahyu udah lama meninggal, sejak pak Galaksi masih kecil."
"Terus sampai sekarang belum menikah? Udah berapa tahun tuh pak Wahyu menduda?"
"Mana mbak tahu, Sar. Hitung aja sendiri, mbak nggak mau ambil pusing,"sahut Nabila cuek.
"Emang umur pak Galaksi berapa sekarang, Mbak?"
"Mungkin dua tahun dibawa kamu."
"Masih banget dong, Mbak? Hebat, dia masih sangat muda sudah bisa menghandle perusahaan besar dengan sangat baik."
"Mungkin sedari kecil dia sudah di ajarkan cara memimpin perusahaan dengan baik."
"Mbak benar, tapi Kaisar salut loh, Mbak. Diusia mudanya bisa dipercaya sama ayahnya dan para pemegang saham untuk memimpin perusahaan besar."
"Entahlah. Mbak nggak tahu banyak tentang pak Galaksi. Kamu tahu sendiri, Mbak baru beberapa bulan kerja diperusahaan. Kamu kenapa jadi k3po begini, Sar?"
"Bukan k3po, Mbak. Cuma pengen tabu aja. Kita stop dulu membahas tentang pak Galaksi, kita masuk dulu. Liat itu suami ibu Salma udah nunggu,"ucap Kaisar berjalan cepat.
"Mbak, kenalin... Ini Pak Ahmad, suami ibu Salma."
"Salam kenal, Pak Ahmad. Saya Nabila, kakaknya Kaisar,"sapa Nabila sekaligus memperkenalkan dirinya.
"Saya Ahmad, Mbak,"sahut Ahmad sopan.
"Mbak Nabila ini yang punya rumah dan usaha nantinya, Pak."
Nabila hanya tersenyum menanggapi perkataan adiknya, "Buka pintu, Sar,"pinta Nabila.
"Eh... Iya siap, Mbak."
Cklek
"Silahkan masuk, Pak,"ucap Nabila.
"Iya, Mbak."
"Pak Ahmad, saya mau nanya sesuatu boleh?"tanya Kaisar.
"Iya, Mas Kaisar. Ada apa?"
"Apa Pak Ahmad bisa memasang untuk kedap suara ruangan?"
"Kalau itu saya nggak bisa, Mas. Saya cuma kuli biasa."
"Oo gitu... Maaf ya, Pak,"ucap Kaisar tidak enak hati.
__ADS_1
"Atau begini Pak Ahmad, mungkin Pak Ahmad punya teman atau kenalan yang bisa pasang kedap suara. Kalau ada bisa minta nomornya biar saya hubungi,"sahut Nabila.
"Kalau teman ada, Mbak. Tapi saya nggak punya nomornya, nanti saya carikan nomornya ya, Mbak."
"Kalau bisa secepatnya ya, Pak. Karna saya mau minggu depan semua sudah beres."
"Iya, Mbak. Malam ini saya akan kerumahnya."
"Yasudah, sebaiknya kerjanya dimulai sekarang aja, Pak,"sahut Kaisar.
Kaisar membantu Ahmad untuk mengecat tembok. Nabila memeriksa semua furniture dan kebutuhan lainnya yang dibeli Kaisar.
"Kaisar menyiapkan semua dengan lengkap. Sampai meja makan dan alat-alat masak aja disiapin semua,"gumam Nabila.
"Raknya juga bagus, estetik kalau kata anak jaman sekarang mah,"gumam Nabila terkekeh.
"Nanti bagusnya buat wallpaper dinding yang estetik deh supaya saat live untuk promosi barang kelihatan lebih menarik perhatian orang."
"Mbak? Kalau mau pulang duluan, pulang aja, Mbak. Aku masih mau disini nemenin Pak Ahmad."
"Iya bentar, Sar. Mbak lagi nunggu pesenan."
"Mbak pesan apa?"
"Cemilan dan minuman."
"Ooh..."
"Hmm."
"Permisi... Pesanan atas nama Ibu Nabila Maharani?"ucap goj3k didepan pintu yang terbuka lebar.
"Iya, Mas. Itu pesanan saya,"sahut Nabila.
"Ini, Mbak." g0j3k menyerahkan paperbag pada Nabila.
"Ooh ia, Pak. Ini uangnya, 230rb kan?"
"Iya, Mbak."
"Oke pas ya, Mas. Terima kasih sudah mau mengantar sampai kesini. Ini ada sedikit rejeki untuk Masnya dan keluarga,"ucap Nabila memberikan selembar uang merah pada mas g0j3k.
"MasyaAllah, terima kasih, Mbak. Semoga rejeki Mbak mengalir terus." Mas g0j3k terharu mendalat rejeki yang tak terduga.
"Aamiin... Makasih, Mas."
Nabila membuka paperbag dan mnegeluarkan kotak brownis dan minuman cup berukuran besar. Nabila taruh diatas meja yang ada di ruang depan.
"Kaisar, ajak Pak Ahmad istirahat minum dan ngemil dulu. Mbak mau pulang dulu,"ucap Nabila.
"Iya, Mbak. Mbak hati-hati di jalan."
"Iya, kamu juga. Sebelum magrib kerjaannya dihentikan aja. Dilanjut besok juga aja."
"Iya siap, Mbak."
"Mbak pulang dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam,"jawab Kaisar dan Ahmad bersamaan.
__ADS_1
Nabila keluar rumah, meninggalkan Kaisar dan Ahmad yang masih sibuk mengecat tembok ruang depan. Warna untuk ruang depan Nabila memilih warna putih karna menurut putih akan membuat ruangan terlihat lebih luas.