Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Sedikit lagi


__ADS_3

Beberapa hari kemudian semua kembali normal, Clara sudah sembuh dari demamnya, Nabila dan keluarganya kembali beraktifitas seperti biasa di rumahnya.


"Mbak, tadi Kaisar ke toko, semuanya sudah selesai. Besok kita bisa mulai membersihkan dan menata barang-barang,"ujar Kaisar duduk di sofa.


"Oh iya, Sar? Kebetulan besok merah tanggal,"ujar Nabila semangat.


"Iya, Mbak. Katanya ibu-ibu yang ikut kerja dengan Mbak mau membantu membersihkan besok, Mbak."


"Kamu kasi tau mereka, Sar?"


"Mereka bertanya kapan bisa mulai kerja, jadi Isar jawab aja mau membersihkan dan menata tempatnya dulu,"jawab Kaisar santai.


"Oh... Nggak apa-apa deh, semakin banyak yang bantu semakin cepat juga selesainya."


"Makanya aku setuju aja, Mbak,"celetuk Kaisar.


"Dasar kamu ya, cari kesempatan dalam kesempit4n."


"Nggak apa-apa lah, Mbak. Namanya lagi butuh tenaga lebih, dan kebetulan ada peluang jadi iyain aja lah."


"Oh ya... Kamu udah nemu yang mau kerja jadi ART?"


"Udah, Mbak. Tadi sih katanya malam ini mau ke rumah buat ketemu sama Mbak dan ibu."


"Jam berapa?"


"Mana Isar tahu, Mbak. Cuma bilangnya malam ini."


"Kita tunggu aja lah kalau gitu. Mungkin bentar lagi nyampe."


Ting tong


"Mungkin itu orangnumya, Mbak."


"Yasudah, Mbak keluar mau lihat dulu."


"Aku ikut, Mbak!"


Kaisar mengikuti langkah kaki kakaknya menuju pintu depan.


Cklek


"Maaf, Ibu cari siapa ya?"tanya Nabila ramah.


"Saya kesini mau ketemu tuan rumahnya, Mbak. Saya mau melamar kerja jadi ART."


Nabila menoleh ke arah belakang dimana Kaisar berdiri, dan memberi isyarat kepada adiknya. Kaisar mengangguk memberi jawab pada kakaknya.


"Ayo silahkan masuk, Bu,"ujar Nabila membuka lebar-lebar pintu.


"Iya terima kasih, Bu."


"Nama Ibu siapa?"


"Nama saya Minah, Bu."


"Baiklah Ibu Minah, perkenalkan saya Nabila dan ini adik saya. Di rumah ini ada empat orang, ada ibu dan anak saya juga."


"Iya, Bu Nabila."


"Jadi gimana, Bu? Tadi ibu bilang mau kerja disini jadi ART?"


"Iya, Bu. Saya lagi butuh kerjaan untuk memenuhi kebutuhan harian dan sekolah anak-anak, Bu."


"Ada Ibu ada berapa orang?"


"3 orang, Bu. Semuanya perempuan, masih sekolah di SD."

__ADS_1


"Maaf, suami Ibu kemana?"


"Suami saya pergi sama wanita berduit, Bu."


"Sabar ya, Bu. Doakan semoga suami Ibu sadar."


"Saya sudah tidak berharap lagi pada suami saya, Bu. Yang penting saat ini anak-anak saya bisa makan dan sekolah, itu aja."


"Baiklah. Ibu siap kerja disini?"


"Saya siap, Bu!"


"Ibu Minah mau di gaji berapa perbulannya?"


"Berapa aja yang Ibu berikan, akan saya terima, Bu."


"Bagaimana kalau 2 jt?"


"MasyaAllah 2 juta sudah sangat banyak, Bu. Terima kasih, Bu,"ujar Minah terharu.


"Iya sama-sama, Bu. Saya hanya berharap Ibu Minah jujur dan amanah dalam bekerja, jangan pernah kecewakan kami,"ujar Nabila tegas.


"InsyaAllah, Bu. Saya akan amanah bekerja disini. Tapi, Bu... Apa saya bisa tidak tinggal disini?"


"Rumah Ibu Minah di mana?"


"Di komplek sebelah, Bu."


"Ibu Minah tetangga dengan ibu Samsia, ibu Salma dan ibu Tuti?"tanya Kaisar yang sedari tadi diam.


"Iya, Mas. Saya tetangga dengan mereka."


"Baiklah! Besok Ibu Minah bisa mulai kerja, bisa?"tanya Nabila.


"Bisa, Bu."


"Baiklah! Silahkan minum dan makan cemilannya, Bu. Maaf cuma ada minuman kemasan,"ucap Nabila.


***


Pagi menyapa, seperti yang direncanakan sebelumnya, Nabila dan Kaisar ke pasar terdekat membeli alat kebersihan untuk di rumah baru.


"Sar, kamu ambil pel-an yang langsung sama embernya satu aja,"pinta Nabila.


"Siap, Mbak."


Dengan membawa alat kebersihan yang di beli di pasar, Kaisar melajukan sepeda listriknya menuju rumah toko kakaknya.


"Mbak? Sepertinya pasukan ibu-ibu sudah datang,"ujar Kaisar.


"Mereka masih muda-muda ya, Sar?"


"Mungkin umurnya sekitar 30an keataslah, Mbak."


"Itu anak mereka?"tanya Nabila ketika melihat anak-anak bermain depan rumah.


"Iya, Mbak."


Tiba di depan rumah, Kaisar menghentikan laju sepedanya dan membantu kakaknya menurunkan barang belanjaan.


"Assalamualaikum,"salam Nabila dan Kaisar.


"Ibu-Ibu udah lama?"tanya Kaisar.


"Waalaikumssalam... Belum lama juga, Mas Kaisar,"jawab Bu Tuti.


"Maaf, membuat Ibu-Ibu menunggu,"sahut Nabila.

__ADS_1


"Eh tidak apa-apa, Mbak,"ujar Salma.


"Perkenalkan ini Mbak Nabila, kakak saya. Mbak Nabila ini pemilik usaha yang akan didirikan,"ujar Kaisar memperkenalkan kakaknya.


"Oh... Jadi ini kakaknya Mas Kaisar? MasyaAllah cantik ternyata ya,"puji Tuti.


"Iya, Bu. Saya Nabila kakaknya Kaisar, salam kenal semuanya,"sahut Nabila tersenyum ramah.


"Salam kenal, Mbak. Kami mau mengucapkan terima kasih, berkat Mbak Nabila kami bisa membantu perekonimian keluarga,"ujar Samsiah.


"Iya sama-sama, Bu. Mari silahkan masuk, maaf ya masih berantakan,"ucap Nabila membuka pintu rumah.


"Iya, Mbak. Tujuan kita kesini kan memang untuk bersih-bersih,"sahut Salma.


Nabila tersenyum, "Assalamualaikum,"salamnya diikuti oleh semua orang.


"Kita mulai dari mana ini?"tanya Tuti celingukan.


"Sabar Ibu-Ibu, kita ngemil dulu sebelum beraksi. Mbak Nabila sudah nyiaoin semuanya,"sahut Kaisar membela kumpulan ibu-ibu.


"Mbak Nabila dan Mas Kaisar pake segala repot-repot, kita nggak ngemil juga bisa langsung kerja,"ucap Salma.


"Isi tenaga dulu, Bu. Supaya lebih semangat lagi kerjanya,"balas Kaisar terkekeh.


"Ayo ayo, Bu-Ibu. Anak-anaknga juga di ajak!"ujar Nabila.


Yang dilakukan pertama kali yaitu menyapu dan mengepel lantai yang kotor dan berdebu, setelahnya memindahkan barang-barang ke bagian yang sudah bersih.


"Mbak? Ini mesinnya di sebelah sini aja?"tanya Kaisar menyentuh mesin jahit.


"Kebelakang dikit, Sar. Supaya di depannya spasenya lebih luas buat gunting kain."


"Oke, Mbak!"


"Ini m4nekinnya taruh dimana, Mbak?"tanya Tuti.


Menatap seluruh ruangan melihat posisi yang pas untuk m4nekin, "Disini aja, Bu,"ucap Nabila seraya mendekat ke arah tembok sebelah kanan dekat pintu.


"Siap, Bu."


Mesin jahit berjejer dua baris kebelekang dengan dua baris kesamping. Gulungan kain disusun di pojok ruangan di tembok dekat pintu ada rak berukuran sedang dijadikan tempat menyimpanan kotak berisi gunt1ng. Meteran, mistar dan lain-lainnya untuk membuat pola baju pada kain.


Setelah ruang mesin jahit tertata tapi, giliran ruangan kedua yang dikhususkan untuk ruang bermain anak-anak.


"Mari Mas, biar saya bantu angkat kotaknya,"ucap Samsiah membantu Kaisar mengangkat kotak seluncuran yang belum di rakit.


"Makasih ya, Bu."


"Sebaiknya ini dirakit dulu sebelum masukin barang lainnya, Mas,"usul Samsiah.


"Iya, Ibu Samsiah bener. Saya mau rakit ini dulu, Ibu bisa bantu kerjakan yang lainnya aja!"


"Kalau begitu saya tinggal dulu ya, Mas. Saya mau ke dapur menata barang-barang,"pamit Samsiah.


"Silahkan, Bu."


Sementara itu Nabila sedang menata ruangan bagian depan yang terhubung dengan ruang keluarga.


"Posisi sofanya gini aja, Mbak?"tanya Salma.


Mengamati letak sofa bad yang berada diruang depan, "Iya, Bu. Begini aja, tinggal kita letakkan meja depannya."


Beberapa jam berlalu, semua barang hampir tertata rapi, karpet sudah terpasang di tempat yang tepat. Nabila menyiapkan makan siang mereka melalui g0food.


"Kita istirahat dulu, ini sudah waktunya shalat, setelah itu kita makan siang!"pinta Nabila.


"Iya, Mbak,"jawab ibu-ibu kompak.

__ADS_1


Semua duduk selonjoran di atas karpet yang ukurannya lumayan lebar, menghilang sejenak rasa lelah. Nabila tersenyum menatap seluruh ruangan yang sudah tertata tapi dengan barang-barang.


"Bismillah, semoga usaha ini bisa berjalan dengan baik. Tinggal sedikit lagi waktu yang dibutuhkan untuk peresmian dan memulai produksi barang,"ucap Nabila dalam hati.


__ADS_2