
Kaisar menangkap posisi kekasih hatinya. Tapi, ia melihat ada keanehan dai tatapan kekasihnya itu.
"Clara seperti sedang menahan amarah,"gumam Kaisar.
"Bu, aku mau ketemu sama teman kantor dulu. Ibu nggak apa-apa aku tinggal sendiri?"
"Pergi aja, Nak. Lagian ibu nggak sendiri, segini banyaknya orang diruangan ini malah kamu bilang sendiri,"ucap ibu Ros bercanda dengan anaknya.
"Hehehe... Ibu, bisa aja deh,"sahut Kaisar terkekeh.
Kaisar menghampiri kekasih hatinya. Sementara itu di atas pelaminan, Raksa duduk di kursi yang seharusnya neneknya yang menduduki. Namun, ibu Ros ingin menyaksikan penampilan anaknya dari depan pelaminan.
"Mama, tantik,"puji Raksa berbinar. / (Mama, cantik.)
"Mama siapa dulu dong?"sahut Galaksi.
"Mamanya Aksa,"seru Raksa.
"Bukan Mamanya kak Gala?"tanya Galaksi.
"Iya Mama Kak Gala juga,"jawab Raksa terkekeh.
Sebagai pasangan pengantin yang sedang duduk dipelaminan, Nabila dan Wahyu akan berdiri jika ada tamu undangan yang ingin mengucapkan selamat.
Seperti saat ini, tamu undangan sudah berbaris memanjang kebelakang untuk menanti giliran mengucapakn selamat pafa pasangan pengantin baru.
"Selamat ya, Pak Wahyu dan Ibu Nabila. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah."
"Aamiin... Terima kasih,"jawab Nabila dan Wahyu bersamaan.
Waktu berlalu begitu cepat, menjelang magrib semua tamu undangan sudah pulang dan tersisa keluarga yang masih menikmati sisa-sisa kemeriahan pesta sehari itu.
Nabila memang sebelumnya meminta pada Wahyu agar acara jangan sampai malam, karna kasihan dengan Raksa jika acara sampai malam, jam tidurnya akan terganggu.
"Aku mau balik ke kamar untuk bersih-bersih, sebentar lagi adzan magrib,"pamit Kaisar setelah diam beberapa saat.
Wahyu sudah menyiapkan beberapa kamar untuk keluarganya di hotel tempatnya mengadakan acara resepsi pernikahan.
"Iya sebaiknya kita semua balik ke kamar,"sahut Wahyu.
"Raksa malam ini tidur sama aku dan ibu ya, Mbak! Nggak ada penolakan,"ucap Clara cepat.
Nabila menghela nafas panjang, ia sadar akan posisinya yang sudah menjadi istri dan ia tidak bisa abai dengan kebutuhan suaminya.
"Iya boleh, Ra. Mbak titip Raksa ya!"
"Siap, Mbak. Tenang aja, Raksa aman sama aku."
"Mbak percaya kok."
"Ma, Pa, aku juga pamit ke kamar bareng Uncle,"pamit Galaksi.
"Iya, kamu juga pasti lelah seharian menerima tamu. Istirahatlah, jangan lupakan kewajiban,"ucap Nabila.
Setelah menikah dengan Wahyu, sikap Nabila semakin dewasa dan bijak dalam menanggapi sesuatu hal.
"Siap, Ma,"sahut Galaksi.
__ADS_1
"Ibu juga ikut sama kalian, ibu capek kelamaan duduk,"ucap ibu Ros sembari bangkit dari duduknya.
"Ayo, Bu,"ajak Clara.
"Iya! Kita semua sepertinya mrmang harus segera beristirahat,"ucap ibu Ros mulai melangkahkan kakinya.
"Ayo, Sayang. Kita juga balik ke kamar,"ajak Wahyu pada Nabila.
"Iya, Mas."
Awalnya Nabila tidak merasa apapun, nakun ketika memasuki kamar pengantinnya ia baru mulai merasa gugup.
"Aduh... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Kira-kira mas Wahyu meminta haknya nggak ya malam ini?"monolog Nabila dalam hati, sambil melepas aksesoris yang ada di kepalanya.
"Aku mandi duluan ya, Sayang,"ucap Wahyu.
"Iya, Mas. Aku mau lepasin aksesoris ini dulu,"sahut Nabila.
"Mau mas bantuin?"
"Nggak perlu, Mas. Ini sebentar lagi selesai, kok. Kamu mandi aja, setelah ini aku siapin pakaian buat, Mas."
"Yaudah, aku mandi dulu ya."
Setelah selesai melepaskan aksesoris dikepalanya, Nabila berdiri untuk mengganti pakaiannya.
Cklek
"Bajunya aku taruh di atas ranjang, Mas,"ucap Nabila begitu melihat suaminya keluar dari kamar mandi.
"Iya. Makasih ya, Sayang. Kamu mandinya jangan lama-lama, kita shalat berjamaah."
"Iya, Mas."
"Apa boleh malam ini mas minta hak?"tanya Wahyu lembut.
Nabila semakin gugup dibuatnya. "Bo-boleh, Mas,"jawab Nabila gugup.
Wahyu terkekekh lucu melihat kegugupan istrinya. "Kenapa gugup seperti ini, Sayang? Kamu belum siap melayani mas?"
Nabila mendongak dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak, Mas. Aku siap, aku cuma malu karna sudah tidak per4w*n lagi,"ucap Nabila.
"Mas tidak mempermasalahkan itu, Sayang. Lagian mas sudah tau resiko menikahi seorang janda beranak satu, ya pastinya sudah tidak p3r4w*n lagi. Tapi, mas nggak masalah, mas kan juga sudah tidak perj4k*."
Nabila menunduk menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah. Ia sangat malu dengan keadaan yang sekarang.
"Apakah boleh?"tanya Wahyu kembali.
Nabila mengangguk pelan, dengan tetap menundukkan kepalanya.
Senyum terbit dibibir Wahyu. "Kita shalat dua rakaat dulu,"ajak Wahyu.
Setelah menunaikan shalat dua rakaat, mereka duduk saling berhadapan. Wahyu menatap lekat pada istrinya yang menunduk malu.
"Meski selama sebulan ini mas sudah melihat kamu tanpa hijab, hari ini mas tetap akan izin untuk membuka penutup kepala kamu. Apa boleh mas buka?"
"Bismillah... Boleh, Mas. Hari ini aku siap menjadi istri seutuhnya untuk kamu,"jawab Nabila mantap.
__ADS_1
Dengan gerakan pelan, Wahyu membuka mukena istrinya. Rambut panjang Nabila tergerai dibalik mukenanya.
"MasyaAllah... Sunggu indah ciptaanmu ini,"puji Wahyu tak berkedip.
Memejamkan mata, Wahyu menc1um kening istrinya sembari membacakan doa.
Dan beberapa saat kemudian terjadilah yang memang seharusnya terjadi pada suami istri. Wahyu menuntaskan dahaganya selama berpuasa berapa tahun lamanya.
Pert3mpuran mereka dalam mengejar surga untuk pasangan suami istri berlangsung selama kurang lebih satu jam. Mereka berhenti ketika adzan isya di mesjid terdengar menggema dipenjuru kota.
Cup cup cup
"Terima kasih atas pelay4nan kamu, Sayang,"ucap Wahyu mengecup wajah Nabila.
Nabila tersenyum. "Ini sudah kewajiban aku, Mas. Dan alhamdulillah kalau kamu merasa puas dengan pelay4n4n aku,"sahut Nabila.
"Mas sangat puas, Sayang. Setelah kita shalay Isya dan makan malam, kita lanjutkan kegiatan kita ini,"ucap Wahyu menggoda istrinya sambil mengedipkan mata.
Mata Nabila terbelal4k. "Kamu nggak capek, Mas?"tanya Nabila merasa tak percaya.
"No, Sayang! Untuk yang satu ini, sepertinya mas sudah mulai ketagihan,"jawab Wahyu.
"Ya ampun, Mas. Aku aja masih capek loh,"ucap Nabila lesuh.
"Kamu tenang aja, Sayang. Setelah ini kita istirahat dulu, nanti mas yang akan bekerja, kamu tinggal menikmatinya aja,"ucap Wahyu.
Nabila melongo. "Minggir, Mas. Aku mau mandi, lalu shalat,"ucap Nabila, lalu beranjak dari ranjang dengan memegang erat selimut yang melilit dibadannya.
"Tunggu, Sayang. Kita mandi bersama, gimana?"
"Yakin cuma mandi aja, Mas?"tanya Nabila memicingkan matanya.
"Janji, Sayang. Mas juga ingat waktu kok, hehehe,"ucap Wahyu terkekeh.
Nabila menghela nafas panjang, mengalah dengan keinginan suaminya. "Yaudah, tapi janji nggak ada gerakan tambahan ya!"
"Iya, Sayang. Mas janji, tapi nanti pegang-pegang dikit nggak apa-apa dong?"ucap Wahyu mengedipkan mata.
Memasang wajah garang, Nabila berkacak pinggang melupakan selimut yang melilit dibadannya.
"Waw, pemandangan yang indah,"puji Wahyu dengan mata berbinar.
"Apa tadi kamu bilang, Mas? Nggak ada ya! Nggak ada gerakan tambahan, termasuk pegang-pegang. Kita fokus mandi aja."
"Tapi kalau kayak gini, kayaknya aku nggak bisa kalau cuma liatin aja deh, Sayang,"ucap Wahyu dengan suara seperti tengah menahan sesuatu.
"Apa maksud kamu, Mas?"tanya Nabila bingung.
"Tub*h kamu sungguh sangat indah, Sayang."
"A-apa yang kamu lakukan, Mas?"tanya Nabila memundurkan langkahnya ketika melihat suaminya melangkah maju.
"Kamu sudah berani menggoda mas, Sayang."
"Si-siapa ya-yang menggoda kamu, Mas?"
"Kamu, Sayang. Kamu sengaja melepas selimut itu kan?"
__ADS_1
Mata Nabila terbelalak. "A-apa?"pekik Nabila, kemudian menunduk, "Aakh... Mas, putar badan kamu, jangan lihat aku,"titah Nabila dengan berteriak.