Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Deal


__ADS_3

Kaisar jalan santai mengelilingi kompleks perumahan menengah ke bawah. Kaisar mencari rumah yang dekat dengan tempat tinggal ibu-ibu yang akan bekerja dengan kakaknya.


"Ini dia rumahnya, semoga harganya cocok dengan mbak Nabila," gumam Kaisar kemudian mencatat nomor telfon yang terpajang didepan rumah yang dilihatnya.


Tuut tuut


{Hallo, assalmualaikum, Sar.}


^^^{Waalaikumssalam, mbak. Sibuk nggak?}^^^


{Nggak begitu sibuk. Kenapa?}


^^^{Ini mbak, Isar nemu rumah yang dijual.}^^^


{Lokasinya dimana, Sar?}


^^^{Di tengah-tengah, mbak. Antara rumah kantor sama rumah warga.}^^^


{Jadi semacam perumahan ya, Sar?}


^^^{Iya, Mbak. Tempatnya sangat strategis kok.}^^^


{Coba kamu kirim fotonya, mbak mau lihat.}


^^^{Bentar, mbak.}^^^


Kaisar mengambil gambar rumah yang dimaksudnya lalu mengirimkan melalui aplikasi berlogo W.


^^^{Udah Kaisar kirim, mbak.}^^^


{Mbak liat dulu, kamu tetap disana.}


^^^{Iya, mbak.}^^^


^^^{Gimana, mbak?}^^^


{Coba kamu telfon aja pemiliknya, Sar. Kamu liat dulu dalamnya, terus kamu tanya harganya,} pinta Nabila.


^^^{Baik, mbak. Kaisar akan langsung menghubungi nomornya.}^^^


{Yasudah. Mbak tutup dulu, assalamualaikum.}


^^^{Waalaikumssalam.}^^^


Setelah panggilan terputus, Kaisar memilih mencari tempat berteduh dari teriknya sinar matahari.


"Ke pos satpam aja deh, sekalian nanya-nanya sama satpamnya," gumam Kaisar seraya menuju pos satpam, "Permisi, Pak," sapanya.


"Iya, Mas. Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya mau numpang istirahat sebentar, Pak. Boleh."


"Boleh, Mas. Silahkan duduk."


"Makasih, Pak."


"Mas ini darimana? Dan mau kemana?"


"Saya tadi abis jalan cari rumah yang dijual, Pak."


"Kebetulan, Pak. Di perumahan ini ada rumah yang dijual."


"Iya, Pak. Tadi saya habis dari sana, nomor pemiliknya juga sudah saya catat," sahut Kaisar tersenyum.


"Ooo syukurlah, Mas. Mas bisa hubungi sekarang sambil nunggu disini, siapatau pemiliknya ada waktu berkunjung kesini.}


"Iya, Pak. Ini akan saya hubungi.}


Kaisar mencari nomor yang sudah di save tadi.


{Iya, Hallo. Assalamualaikum,} salam seseorang saat panggilan telfon terhubung.


^^^{Hallo, waalaikumssalam.}^^^


{Maaf, ini siapa ya?}


^^^{Saya Kaisar, Pak. Saya menghubungi bapak ingin menanyakan tentang rumah yang ingin dijual,} jawab Kaisar ramah.^^^

__ADS_1


{Oo, iya memang betul rumah saya sedang dijual. Jadi gimana, mas?}


^^^{Saya sedang mencari rumah, bapak. Tapi sebelum itu saya ingin melihat dulu kondisi di dalamnya seperti apa! Apa bisa?}^^^


{Bisa, Mas. Kapan mas ingin melihatnya?} tanya sipemilik rumah dengan antusias.


^^^{Kalau sekarang bisa, pak? Kebetulan ini saya masib ada di perumahan.}^^^


{Baiklah, Mas. Saya akan segera kesana.}


^^^{Kalau begitu, saya tunggu bapak di pos satpam.}^^^


"Baik, Mas. Saya akan segera meluncur, Assalamualaikum.}


^^^{Waalaikumssalam.}^^^


Kaisar memasukkan hpnya ke dalam saku celananya.


"Bagaiman, Mas?" tanya pak Satpam.


"Alhamdulillah pemiliknya segera meluncur kemari, Pak." jawab Kaisar ramah.


"Alhamdulillah, semoga Masnya jodoh dengan rumah itu."


"Aamiin..."


Kaisar dan pak Satpam berbincang-bincang seraya menunggu kedatangan sipemilik rumah. 20 menit kemudian datang pria seumuran ibu Ros.


"Assalamualaikum, dengan Mas Kaisar?" tanya pria tersebut.


"Waalaikumssalam. Iya, Pak. Saya Kaisar. Bapak?"


"Saya Herman, pemilik rumah yang tadi Mas Kaisar hubungi."


Kaisar menatap pak satpam bertanya melalui pandangan.


"Iya betul, Mas Kaisar. Pak Herman ini pemilim rumah yang Mas maksud," sahut pak Satpam.


"Ohia, Pak," ucap Kaisar tersenyum.


"Mari, kita kerumah, Mas. Mas Kasiar bisa melihatnya langsung," ajak Herman.


Kaisar mengikuti langkah kaki Herman yang menuju rumah yang akan dilihatnya sebelum memutuskan untuk membelinya.


Cklek


"Silahkan masuk, Mas!"


Kaisar hanya tersenyum dan ikut masuj ke dalam rumah.


"Rumahnya ada 2 kamar, Mas. Beginilah keadaannya tidak begitu luas, tapi InsyaAllah nyamn untuk ditinggali."


"Maaf, kalau boleh tau... Kenapa Pak Herman menjual rumah ini?"


"Saya akan pindah dari kota ini, Mas. Karna anak saya juga ikut. takut rumahnya malah rusak karna tidak ada yang menempati, jadi mending dijual aja."


"Kira-kira memasang harga berapa untuk penjualan rumahnya?"


"Saya pasang harga 150jt, tapi masih bisa di nego kok, Mas," sahut Herman cepat.


Ting!


Pesan masuk di hp Kaisar.


Kaisar mengambil hpny dala kantong celana kemudian membuka pesan tersebut.


"Dari mbak Nabila!" gumam Kaisar.


Isi pesan :


[Gimana, Sar? Kamu sudah ketemu dengan pemilik rumahnya?]


^^^[Sudah, mbak. Ini Kaisar lagi sama pak Herman liat-liat rumahnya. Rumahnya bagus, mbak. Tidak terlalu besar tidak juga kecil, pas untuk dijadikan gudang dan tempat produksi,] balas Kaisar.^^^


[Dijuala dengan harga berapa, Sar?]


^^^[150jt, Mbak. Masih bisa di nego juga.]^^^

__ADS_1


[Kamu tawar 125jt, kalo mau. Ambil aja.]


^^^[Baik, mbak. Kaisar tanya dulu.]^^^


Kaisar melihat ke arah Herman lalu tersenyum, "Sepertinya saya tertarik dengan rumah ini, Pak," ucap Kaisar celingukan.


Herman bersemangat mendengar ucapan Kaisar.


"Alhamdulillah... Gimana, Mas?"


"Kalau saya beli dengan harga 125jt, gimana, Pak?"


"Boleh, Mas. Itu sudah sangat tinggi," jawab Herman antusias.


"Jadi deal ya, Pak?"


"Deal, Mas."


"Saya akan bayar dp nya dulu, setelah semua berkasnya selesak baru saya akan melunasinya."


"Iya, Mas. Saya akan mengurusnya sesegara mungkin."


"Kalau begitu saya minta nom0r r3keningnya, Pak Herman."


"Ooh ia, Mas. Saya kirimkan melalui pesan," jawab Herman.


Ting!


Pesan masuk.


Kaisar melihat nama si pengirim ternyata pria yang ada didepannya itu, "Sudah masuk, Pak. Ditunggu sebentar ya, Pak?"


"Iya, Mas."


Kaisar meneruskan pesan yang dikirim oleh Herman pada kakaknya.


^^^[Mbak, ini no. Rek nya pak Herman, dia setuju dengan harga 125jt. Kita bayar dp nya dulu.]^^^


[Oke, mbak transfer sekarang.]


Kaisar menunggu beberapa saat.


Ting!


[Ini bukti transfernya, kamu bisa kasih buktinya pada pak Herman.]


^^^[Oke, mbak.]^^^


"Pak? Kakak saya sudah mentransfer uangnya, dan ini buktinya, pak Herman juga bisa cek di m-bank*ng," ucap Kaisar seraya menunjukkan bukti yang dikirim Nabila.


"Sebentar, Mas. Saya lihat dulu." Herman membuka m-bank*ngnya, "Oh ia, sudah masuk, Mas. Pengirim atas Nabila Maharani?"


"Iya, Pak. Itu nama kakak saya," jawab Kaisar.


"Baiklah, Mas. Pulang dari sini saya akan segera mengurus surat-suratnya."


"Iya, Pak. Saya berharap bisa selesai secepatnya."


"Iya, Mas. Saya akan usahakan."


"Baiklah, Pak. Kalau begitu saya pulang dulu, Pak. Karna saya masih ada urusan lain setelah ini," Pamit Kaisar.


"Iya, Mas. Silahkan."


Kaisar meninggalkan rumah yang sebentar lagi akan menjadi milik kakaknya.


***


Di kantor tempat Nabila kerja. Nabila sedikit santai, maka dari itu dia bisa menyempatkan waktu untuk membalas pesan Kaisar.


"Alhamdulillah, urusan rumah dan tukang jahitnya sudah beres. Semoga semua berjalan lancar," gumam Nabila.


"Karna iseng di waktu luang ternyata bisa dijadikan usaha hasilnya, heheh..." gumam Nabila terkekeh.


"Clara kemana ya? Tumben jam segini belum masuk keruangan saya," gumam Nabila melirik jam.


Nabila berdiri, "Aku susul aja keruangannya, sesekali aku yang kesana." gumanya tersenyum.

__ADS_1


Nabila jalan dengan santai menuju lift khusus petinggi perusahaan. Dia juga mensapat akses untuk menggunakan lift itu karna jabatan sebagai sekretaris CEO.


__ADS_2