Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Kembali bekerja?


__ADS_3

-POV Wahyu-


Ketika tanganku memeluk Nabila dari arah belakang, dapat kurasakan jantungnya berdetak begitu kencang.


Aku hanya menanggapinya dengan senyuman dan mulai memejamkan mata seraya memeluknya.


Menjelang subuh aku terbangun, pemandangan pertama kali kulihat saat membuka mata yaitu wajah ayu istriku.


"Nabila, bangun... Waktunya shalat subuh,"bisikku.


Ingin rasanya aku memanggil Nabila dengan panggilan sayang. Tapi aku takut Nabila akan marah, jadi aku akan menahannya.


Kupandangi wajah Nabila yang tampak begitu cantik meskipun dalam keadaan tidur seperti ini.


Kutus*k-t*suk pipinya menggunakan jari telunjukku, tapi dia belum juga bangun.


"Sayang, bangun..."bisikku.


Akhirnya panggilan sayang meluncur keluar dari bibirku untuk Nabila.


"Hmm..."gumamnya.


"Bangun yuk! Kita shalat subuh jamaah,"ajakku mengajaknya yang masih memejamkan matanya.


"Lima menit lagi, Mas. Mataku susah dibuka ini,"gumamnya.


"Oke mas tunggu sampai lima menit, kalau nggak bangun mas gendong ke kamar mandi."


Sejak mengenal Nabila, aku mulai lupa kalau umurku dan Nabila beda cukup banyak. Tapi aku bersyukur, Nabila tidak mempermasalahkan umurku.


-Tok tok tok-


"Siapa yang mengetuk pintu dijam segini?"gumam ku.


"Papa?"


Panggil seseorang dari luar yang kuyakini itu suara anak bujangku.


"Sebentar,"jawabku.


Ku tutupi rambut Nabila dengan selimut agar Galaksi tidak bisa melihatnya.


-Cklek-


"Loh, Raksa bangun, Nak?"


"Iya, Pa. Raksa cari ibu,"jawab Galaksi dengan suara parau.


Wahyu terkekeh. "Katanya bisa mengatasi Raksa kalai cuma kayak gini,"ledek Wahyu.


"Gimana bisa diatasi, Raksa nyari Ibu. Mana bisa aku membuat dia lupa Ibu,"sahut Galaksi


"Yasudah, sini Raksa papa yang gendong. Kamu balik ke kamar lagi, tapi jangan lanjut tidur. Sebentar lagi adzan subuh."


"Iyaiya, Pa."


"Yaudah, sana."


Setelah kulihat Galaksi menuruni anak tangga, aku kembali menutup pintu kamar. Tanpa kusadari ternyata Raksa tidur dalam gendonganku.


"Tidur lagi rupanya,"gumamku, lalu membaringkannya disamping istriku.


"Hmm... Udah adzan subuh, Mas?"tanya Nabila yang memaksa matanya terbuka.

__ADS_1


"Belum, Sayang,"jawabku.


Kulihat pipinya bersemu merah ketika kupanggil dengan kata sayang.


"Raksa sejak kapan pindah kesini, Mas?"tanyanya mengalihkan perhatianku.


"Baru aja. Tadi Galaksi yang anter, katanya cari Ibu."


Nabila mengangguk. "Raksa memang kadang gitu, Mas. Nyariin kalau dirasa aku nggak ada didekatnya."


"Namanya juga anak-anak, pasti suka nemp3l ke Ibunya."


"Iya, Mas."


"Udah adzan, kamu wudhu dulu. Kita shalat jamaah disini."


Nabila mengangguk, lalu beranjak dari duduknya.


Kami shalat berjamaah dikamar dengan aku yang menjadi imannya. Setelah selesai menunaikan kewajiban dua rakaat, aku memimpin istriku untuk tadarusan bersama.


"Hari ini cukup sampai disini aja, Sayang,"ucapku menhentikan kegiatan kami, karna ada kegiatan lain yang menanti.


"Kenapa, Mas?"


Sepertinya Nabila tidak keberatan jika kupanggil sayang, karna dia tidak protes sama sekali. Seperti ada bunga-bunga bermekaran dihatiku saat tahu Nabila mulai terbiasa dengan keberadaanku didekatnya.


"Kamu harus ke kantor hari ini kan?"


"Iya, Mas. Tapi ini masih jam berapa."


"Ini memang masih terlalu pagi, tapi jika masih ada waktu kamu bisa lanjutkan istirahat sebentar."


"Tidak, Mas. Aku tidak terbiasa tidur setrlah shalat subuh. Aku mau kebawa aja, mau buat sarapan."


Untuk kesekian kalinya kulihat wajah istriku bersemu merah karna malu. Tapi aku suka melihatnya malu-malu seperti itu, menurutku itu sangat menggemaskan.


"Tidur aja lagi, Mas. Nggak apa-apa aku tinggal kebawa?"


"Iya nggak pa-pa, mas mau tidur meluk Raksa."


"Yaudah kalau gitu. Berdiri dulu, Mas, aku mau beresin sejadahnya."


Aku berdiri dari dudukku yang memang masih diatas sejadah. Kupandangi istriku yang sibuk membereskan alat shalat dan Al-quran ke tempat semula.


Istriku begitu lincah dan gesit membereskan semuanya. Seketika kamar menjadi rapi karna istriku sekalian membereskan yang berantakan di atas sofa dan meja.


"Kenapa menatapku seperti itu, Mas?"tanyanya pelan ketika ia sadar jika aku perhatikan sejak tadi.


Aku menggeleng. "Mas kagum sama kamu."


Istriku itu menunduk malu seraya merapikan ramburt kebelakang telinga. Rambut yang sangat indah menurut, rambut yang sepertinya belum pernah tersentuh oleh bahan kimia, warnanya hitam dan lebat.


"Kagum, Mas? Tidak ada yang spesial yang bisa dikagumi dariku, Mas."


"Mas kamu dengan semua ada dalam dirimu, kamu spesial dihati dan pandanganku. Jadi, jangan pernah merasa rendah diri,"ucapku pelan sambil merapatkan badan kearah istriku.


Sangat terlihat jelas dimataku, istriku ternyata masih merasa gugup. "Jangan gugup, mas tidak akan macam-macam jika kamu belum memberi ijin untuk itu. Tapi, ijinkan mas berdekatan dengan kami seperti ini."


"Ma-Maaf, Mas. Bukan maksudku untuk tidak memberikan hak kamu, tapi a-aku bu-butuh waktu."


Aku tersenyum menanggapinya. "Mas akan tunggu sampai kamu siap, Sayang. Jangan khawatirkan apapun lagi."


"Makasih, Mas."

__ADS_1


"Tidak! Jangan katakan itu. Menjaga dan memastikan kenyamanmu sudah menjadi tugasku, Sayang."


Aku terpaku ketika merasa tangan mungil istriku memelukku erat. Aku tidak mungki menyianyiakan kesempatan, ku balas pelukan istriku dengan lembut.


"Ma-maaf, Mas. A-aku spontan meluk kamu,"ucapnya malu.


"Tidak masalah, Sayang. Tidak akan ada yang marah jika berpelukan."


"Kamu sebaiknya tidur lagi, Mas. Aku kebawa dulu,"ucapnya kemudian berlalu begitu saja tanpa mendengar jawabanku.


"Menggemaskan sekali,"gumamku terkekeh.


Aku naik keranjang dan merebahkan badanku disamping anakku. Kupandangi wajahnya yang ternyata sangat mirip dengan ibunya.


***


Jam 7 pagi, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Nabila melayaniku dengan begitu baik, dari menyiapkan pakaian ganti sampai mengisi nasi beserta lauknya di atas piringku.


"Ini makannya, Mas. Selamat makan,"ucapnya sambil menaruh piring tepat didepanku.


Kemudian istriku itu beralih ke piring Galaksi bergantian dengan Raksa. Dia begitu telaten mengurus makan anak-anak kami, aku makin salut padanya yang tidak membeda-bedakan antara anak kandungnya dan anak tiri.


"Selamat makan, Nak Gala."


"Makasih, Bu,"balas anak sulungku Galaksi.


Nabila mengangguk seraya tersenyum. "Ini makan Raksa. Di makan sendiri ya, Nak?"


"Ciap, Ibu,"jawab anak keduaku.


Sunggu pemandangan dipagi hari yang menyenangkan hati. Semoga selamanya keluargaku aku seperti ini.


"Kamu ke kantor hari ini, Nak?"tanyaku disela makanku.


Galaksi mengangguk. "Iya, Pa. Tapi cuma sebentar, karna jam 10 Gala ada jadwal kuliah."


"Apa kamu tidak lelah dengan kegiatan mu, Nak?"


"Sebenarnya lelah, Pa. Tapi gimana lagi Papa bilang ingin istirahat untuk sementara didunia kerja."


"Gimana kalau sekarang Papa menggantikan kamu sampai kuliahmu selesai?"


Kulihat matanya berbinar mendengar ucapan yang kulontarkan.


"Papa serius?"


Sebenarnya aku selalu merasa kasihan dengan kesibukan anakku kesana kemari mengurus urusan kantor dan kuliah, bahkan pernah kudengar dia mengeluh ketika berada dalam kamarnya.


"Papa serius, Nak. Papa tidak tega melihat kamu setiap pulang pasti selalu lesuh,"jawabku.


"Kalau begitu kapan Papa mau balik ke kantor?"tanyanya semangat.


"Kalau besok bagaimana, Nak?"


"Besok? Oke! Deal ya, Pa?"


"Oke kita deal! Disaksikan oleh semua orang yang ada disini."


"Yes! Akhirnya aku bisa nongkrong lagi sama teman-teman kuliah,"ucap Galaksi bersorak.


"Papa bebaskan kamu dari pekerjaan kantor, tapi tetap batasi pergaulanmu. Jangan sampai kamu terjerumus ke hal-hal yang akan merugilan dirimu sendiri."


"Iya, Pa. Aku akan selalu ingat nasihat, Papa."

__ADS_1


"Sudah jangan ngobrol lagi. Tidak baik bicara didepan makanan,"tegur istriku.


__ADS_2