
"Pak Wahyu, terimakasih sudah mengantarkan saya dan maaf Pak Wahyu jadi melihat kejadi ini," ucap Nabila penuh sesal.
"Tidak masalah, Nabila. Hal ini seperti ini sering terjadi dalam sebuah hubungan rumah tangga," sahut Pak Wahyu.
"Mba, Isar menemukan hp mas Sam!" ucap Kaisar saat menemukan hp Samudra di saku celananya.
"Kamu buka dan periksa isinya Kaisar," pinta Nabila.
"Baik, Mba."
Nabila diam menatap dalam adik laki-lakinya. Mata Nabila terlihat sangat sembab karna terus menangis memikirkan sang anak.
"Ketemu, Mba!" seru Kaisar saat menemukan apa yang mereka cari.
"Apa yang kamu temukan?" tanya Nabila cepat.
"Panggilan terakhir mas Sam dengan nama kontak mama," jawab Kaisar.
Nabila menoleh kearah suaminya.
"Jadi orangtuamu ikut andil atas penculikkan anakku, mas?" tanya Nabila geram.
"Apa mau mu dan orangtuamu itu, mas?" pekik Nabila.
"Nak, sabar. Jangan pakai emosi, ingat kondisi kamu," ucap Ibu Ros menenangkan.
Sedangkan Samudra yang ditanya hanya bisa menunduk.
"Nabila sudah nggak bisa sabar Bu," sahut Nabila.
"Maaf, apa sebaiknya kita kerumah orangtua suami Mba Nabila? Bisa saja mereke menyembunyikan anak Mba Nabila disana," usul Pak Wahyu.
"Iya bener kata Pak Wahyu, Mba," sahut Kaisar membenarkan.
"Iya, kalian benar. Sebaiknya kita kesana sekarang!" ucap Nabila dengan tidak sabar.
"Tunggu sebentar, Mba Nabila," ucap Pak Wahyu menahan pergerakan Nabila.
"Kenapa, Pak?" tanya Nabila.
"Saya tadi menghubungi kerabat yang ada dekat sini untuk minjam mobilnya. Jadi, kita berangkat menggunakan mobil itu," jawab Pak Wahyu hati-hati.
"Sebenarnya Pak Wahyu nggk perlu repot-repot karna disini ada 3 motor yang bisa kita pakai, tapi karna Pak Wahyu bilang seperti ini maka saya menghargai usaha Pak Wahyu. Terimakasih Pak," jawab Nabila pasrah.
"Kalian, duduklah duduklah dulu. Ibu kebelakang ambilin minum," ucap Ibu Ros berlalu kebelakang tanpa ingin mendengar penolakan.
Ibu Ros datang dengan nampan ditangannya yang berisi 4 gelas teh hangat.
"Silahkan diminum, Pak Wahyu," ucap Ibu Ros setelah meletakkan cangkir teh didepan Pka Wahyu.
Mereka minum teh dalam diam.
"Siapa yang akan menjaga Samudra, nak?" tanya Ibu Ros pada Nabila.
"Biar Kaisar yang jaga, Bu," ucap Kaisar.
"Tidak. Kamu tetap ikut, Kaisar," sanggah Pak Wahyu.
"Lalu, siapa yang akan menjaga Dia Pak?" tanya Kaisar seraya melirik ke Samudra.
"Kalian tenang saja. Saya juga meminta orang kepercayaan saya untuk menjaganya selama kita pergi," jawab Pak Wahyu.
"Kami jadi banyak merepotkan, Pak Wahyu. Terimakasih ya, Pak!" ucap Ibu Ros.
"Iya, Bu. Sama-sama. Saya juga melakukan ini agar Nabila bisa kembali bekerja, karna pekerjaannya dikantor sangat banyak," ucap Pak Wahyu.
__ADS_1
"Apapun alasannya, pak. Pak Wahyu sudah sangat membantu kami," ucap Ibu Ros tersenyum.
Suara mesin mobil terdengar berhenti didepan rumah kontrakan Nabila.
"Sepertinya yang kita tunggu sudah datang," ucap Pak Wahyu berjalan keluar rumah.
"Assalamualaikum, Pak Bos," salam seorang priab berbadan besar saat melihat Pak Wahyu .
"Waalaikumssalam," jawab Pak Wahyu.
"Maaf... Pak Bos, ini kunci mobilnya," ucap pria itu menyerahkan kunci mobil.
"Kalian ikut saya kesalam," titah Pak Wahyu.
"Siap, Pak Bos" jawab pria itu serentak dengan temannya.
"Nabila," panggil Pak Wahyu.
"Iya, Pak?"
"Perkenalkan. Ini Bagas dan Bagus, mereka yang akan menjaga suamimu," ucap Pak Wahyu.
"Mmm... Iya, Pak," jawab Nabila.
"Pak Bagas dan Pak Bagus, silahkan duduk. Ibu siapkan minuman dan cemilan untuk kalian," ucap Ibu Ros.
"Iya, Bu. Terimakasih," sahut Bagas.
"Mari, Pak. Silahkan!" ucap Nabila seraya pindah kedekat Kaisar yang sudah berdiri dekat pintu utama.
Setelah semua siap, mereka berangkat dengan harapan kepergian mereka membuahkan hasil.
"Nak, Ibu datang untuk menjemput kamu. Ibu susah tidak sabar ketemu kamu, sayang," ucap batin Nabila yang penuh harap.
"Iya tentu, Pak," jawab Nabila.
"Bismillah, ayo kita berangkat," ucap Pak Wahyu.
Nabila menjadi petunjuk arah tujuan mereka. Mereka tiba didepan sebuah rumah tingkat dua. Mereka dapat melihat rumah didepannha meraka dalam keadaan sepi. Tapi, ada sebuah mobil yang bisa mereka tebak itu mobil yang menculik Raksa.
"Mobil itu! mobil yang menculik Raksa," ucap Nabila seraya menunjuk mobil yang terparkir depan rumah yang menjadi target mereka.
Kaisar melongo melihat rumah yang ada didepannya.
"Jadi ini, rumah yang Mba Nabila bayar, tapi malah ditipu oleh mas Sam?" tanya Kaisar.
"Iya, ini rumah yang Mba beli dengan uang tabungam Mba selama beberapa tahun kerja dari sebelum Mba menikah dengan mas Sam dan juga uang penjualan dari warisan yang bapak berikan dulu," jawab Nabila dengan mata mengembun.
"Tega sekali Samudra melakukan ini semua ke kamu, nak" ucap Ibu Ros yang tak habis pikir dengan kelakuan menantunya.
"Nabila juga tidak menyangka kalau mas Sam akan menipuku sedemikian rupa agar kehidupan keluarganya terjamin, Bu!" ucap Nabila lirih.
"Eh, itu ada orang yang keluar dari rumah," ucap Kaisar yang tiba-tiba mengejutkan Ibunya dan Kakaknya.
Mata mereka menyipit untuk memastikan seseorang yang dilihat Kaisar.
Seorang laki-laki seumuran Samudra keluar dari dalam rumah yang sedang diintai. Dia tidak sadar akan hal itu.
"Laki-laki itu juga ada dalam video rekaman," ucap Nabila dengan mata melotot.
"Ayo, kita masuk dan selamatkan Raksa," ucap Kaisar menggebu-gebu.
"Sebelum bertindak, kita harus memikirkan resiko yang akan terjadi. Dan juga kita harus memastika ada berapa orang yang ada didalam sana," ucap Pak Wahyu dengan kalem.
"Iya, Pak Wahyu benar, nak. Kita tidak bisa masuk begitu saja," sahut Ibu Ros.
__ADS_1
"Ada lagi yang keluar," ucap Nabila menatap lurus kedepan.
"Ada berapa banyak orang yang dalam rumah itu?" tanya Kaisar.
"Mana Mba tahu!" sahut Nabila
"Kamu lihat pakai ini, Kaisar," ucap Pak Wahyu menyerahkan sebuah teropong ketangan Kaisar.
"Astaga... Pak Wahyu punya teropong, kenapa tidak dikeluarin dari tadi?" tanya Kaisar melongo.
"Kamu tidak minta, jadi saya tidak keluarin," jawab Pak Wahyu terkekeh.
"Terserah Pak Wahyu sajalah," ucap Kaisar lalu mencoba mengintai melalui teropong.
"Kaisar, cepetan liatnya," ucap Nabila tidak sabar.
"Sabar, Mba. Ini lagi liatin disetiap sudut," jawab Kaisar.
"Satu, dua, tiga dan..." Kaisar menghitung jumlah orang yang dilihat.
"Ada empat orang didalam sana," ucap Kaisar.
"Ciri-ciri orangnya?" tanya Pak Wahyu.
"Satu wanita seumuran Ibu, dua perempuan kembar seumuran Kaisar dan yang terakhir pria seumuran Ibu," jawab Kaisar.
"Siapa mereka?" tanya Ibu Ros.
"Mungkin itu keluarga mas Sam, Bu," sahut Nabila.
"Oh, jadi mereka ada didalam. Ayo kita masuk, Ibu ingin bej3k-bej3k mereka sekarang juga," ucap Ibu Ros geram.
"Ibu, tenang. Sebentar lagi kita akan masuk," ucap Nabila.
"Kaisar, apa kamu melihat Raksa?" tanya Nabila.
"Sebentar, Mba. Ini Isar masih keliling," ucap Kaisar yang masih mengintai menggunakan teropong.
Lama mereka menunggu. Tapi, Kaisar belum juga mengatakan sesuatu. Itu membuag Nabila kesal dan khawatir.
"Kaisar," panggil Nabila.
"Sabar, Mba."
"Mba, khawatir dengan keadaan Raksa, Isar," ucap Nabila lirih.
"Raksa ada dikamar depan, Mba," ucap Kaisar.
Nabila merebut teropong yang ada ditangannya adiknya. "Mana, sini. Mba mau lihat langsung," ucap Nabila.
Nabila fokus mengarahkan teropong kearah kamar depan yang dimaksud Kaisar. Nabila masih hafal posisi setiap ruangan dirumah itu, karna Nabila pernah keliling rumah itu.
"Anakku!" ucap Nabila lirih saat melihat anaknya.
Air mata Nabila berjatuhan saat melihat anaknya sedang menangis seorang diri dalam kamar.
Karna tidak tahan, Nabila segera keluar mobil dan berlari kencang menuju rumah yang ada Raksa didalamnya.
Pak Wahyu, Kaisar dan Ibu Ros terkejut dengan pergerakan Nabila yang tiba-tiba.
"Nabila!" pekik Pak Wahyu dan Ibu Ros.
"Mba!" pekik Kaisar.
Tanpa mengatakan apapun lagi. Mereka menyusul Nabila yang sudah hampir sampai depan pintu.
__ADS_1