Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Calon ayah


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Nabila sampai dirumah, "Assalamualaikum..." salamnya.


"Sshhtt... Waalaikumssalam,"ucap ibu Ros pelan yang sedang berdiri diambang pintu ruang tengah dan ruang tamu.


"Kenapa, Bu?"tanya Nabila heran.


"Itu nak Wahyu sama Raksa lagi tidur di depan tv."


"Apa? Tidur, Bu? Pak Wahyu tidur diatas karpet? Kenapa nggak disuruh tidur dikamar tamu, Bu?"


Ibu Ros mengangguk, "Ibu tadi dibelakang lagi bikin kue untuk teman ngeteh, pas ibu keluar ternyata mereka sudah tidur."


"Aduuh, Bu. Aku jadi nggak enak sama Pak Wahyu,"ucap Nabila khawatir.


"Udah, jangan khawatir begitu. Ini kemauan nak Wahyu."


Nabila berjalan lesu, ingin melihat anaknya dan bosnya yang sedang tidur.


"Ya ampun, mereka tidur berpelukan,"gumam Nabila.


"Mereka seperti anak dan ayah,"gumam ibu Ros disamping Nabila.


Nabila cepat menoleh pada ibunya, "Ibu ngomong apa sih! Nggak enak kalau didengar sama orang lain, apalagi kalau sampai pak Wahyu dengar."


"Ibu cuma kasian sama Raksa, Nak. Ibu lihat-lihat dia butuh sosok ayah yang mendampinginya."


"Ada kaisar yang selalu mendampinginya, Bu."


"Tidak selamanya Kaisar akan selalu berada disamping Raksa. Ada saatnya Kaisar menikah dan tinggal berpisah dari kita. Kamu juga harus memikirkan pendamping hidup, kamu masih muda, Nak."


"Nabila belum kepikiran kesana, Bu. Lagipula Nabila masih menjalani masa idah."


Ibu Ros sadar jika anaknya saat ini belum bisa dekat dengan pria manapun, karna masih dalam masa idah.


"Kamu sebaiknya ke kamar bersih-bersih. Sebentar lagi magrib."


"Iya, Bu."


Clara yang pulang dari kantor tidak langsung pulang kerumahnya, melainkan pulang kerumah Nabila. Dia langsung masuk karna melihat pintu depan terbuka lebar.


"Assalamualaikum, Bu,"salam Clara melihat ibu Ros berdiri membelakanginya.


"Waalaikumssalam... Eh, Nak? Kamu sudah pulang,"sapa ibu Ros.


"Hehehe iya, Bu. Mbak Nabila udah pulang?"


"Iya, Mbakmu lagi dikamar, baru pulang juga dari rumah yang disana."


Clara mengangguk, "Kaisar tumben tidur jam segini, Bu? Bajunya juga nggak biasanya pake kemeja,"ucap Clara yang mengira Wahyu itu Kaisar yang sedang memeluk Raksa.


"Itu bukan Kaisar, Nak."


Clara bingung, "Kalau bukan Kaisar, terus itu siapa?"


"Itu nak Wahyu,"jawab Ros cuek.


Clara terperangah, "Ha?? Pak Wahyu bos aku, Bu?"tanya Clara tak percaya.


"Iya. Kamu duduk dulu, ibu mau buatkan kamu teh,"pinta ibu Ros.

__ADS_1


Clara mengangguk dan masih menatap tak percaya pada pemandangan yang didepannya.


"Bentar lagi mbak Nabila otw jadi istri bos besar, hehehe,"gumam Clara terkekeh.


Suara langkah kaki dari arah tangga membuyarkan fokus Clara, "Mbak?" Clara menyapa Nabila.


"Hy, Ra. Udah lama?"


"Baru, Mbak."


"Gimana kerjaan dikantor? Lancar?"


"Berjalan seperti biasanya, Mbak. Cuma kurang seru kalau nggak ada Mbak Nabila."


"Apa hubungannya dengan saya, Ra?"


"Nggak ada yang bisa diajak ngerumpi, Mbak."


"Sejak kapan saya ngajak kamu ngerumpi, Ra."


"Hehehe, nggak pernah sih, Mbak. Tapi agak lain aja rasanya kalau nggak negliat Mbak dikantor."


"Besok saya udah masuk kantor lagi, kali ini kamu yang akan bosan melihat saya,"sahut Nabila bercanda.


"Nggak akan bosan, Mbak. Setelah ini nggak akan ambil cuti lagi kan, Mbak?"


"InysaAllah... Lagian semua urusan pribadi juga sudah selesai."


"Ohia, gimana sidang perceraian Mbak Nabila dan ayahnya Raksa?"


"Alhamdulillah, lancar. Sekarang saya menyandang status baru,"sahut Nabila pelan.


"Aamiin..."


"Hmm..."gumam Wahyu menggeliat menarik perhatian Nabila dan Clara.


"Mbak? Kenapa pak Wahyu bisa tidur disini?"tanya Clara berbisik.


"Tadi saya ketemu pak Wahyu di bandara, jadi saya ikut mobilnya katanya juga sekalian mau main sama Raksa."


"Ooh gitu... Tapi Raksa bisa langsung nempel gitu sama pak Wahyu."


"Saya juga heran, Ra. Tapi yasudah lah, lagian pak Wahyu juga nggak akan mungkin macam-macam sama Raksa."


"Kayaknya pak Wahyu mulai merindukan bermain dengan anak kecil,"ucap Clara terkekeh.


"Kalau itu saya nggak tahu ya, Ra. Bisa ya, bisa juga tidak."


"Iih... Mbak, masa' nggak ngerti maksud saya sih!"


"Emang maksud kamu apaan?"tanya Nabila cuek.


"Udahlah, belum waktunya Mbak mengerti maksud saya."


"Dasar kamu ya... Kamu kenapa nggak ganti baju dulu baru kesini?"


"Saya males, Mbak. Oleh-oleh dari Pontianak mana, Mbak?"


"Nggak ada,"jawab Nabila cuek.

__ADS_1


"Masa' nggak ada sih? Saya kok nggak percaya ya..." Mata Clara memicing menatap Nabila.


"Ha ha ha... Santai aja natapnya, ada oleh-olehnya, tapi nanti setelah kamu selesai ganti baju,"ujar Nabila.


Sementara Wahyu yang merasa terusik dengan suara percakapan Nabila dan Clara, dengan pelan mulai membuka matanya menyesuaikan cahaya ruangan.


"Astaga, saya ketiduran... Jam berapa sekarang?"gumam Wahyu celingukan.


"Eh Pak Wahyu udah bangun? Pasti terusik sama suara emas saya. Maaf ya, Pak,"ujar Clara tidak enak hati.


"Clara, kamu ada disini juga?"


"He he he... Iya, Pak. Pak Wahyu tidur lagi aja, Pak. Saya tidak akan berisik lagi,"ujar Clara.


"Nggak, ini sudah petang. Sebaiknya saya pulang sekarang,"ujar Wahyu bangkit dari duduknya.


"Nak Wahyu sudah bangun?"timpal ibu Ros dari arah dapur.


"Iya, Bu. Saya mau pamit pulang."


"Jangan pulang dulu, Nak. Kita makan malam bersama, baru setelah itu Nak wahyu boleh pulang."


"Tapi, Bu. Saya takut merepotkan."


"Tidak merepotkan sama sekali. Kalau mau bersih-bersih dikamar Kaisar aja, pakai baju Kaisar juga boleh,"ujar ibu Ros, "Nabila antar Nak Wahyu ke kamar Kaisar, siapkan juga bajunya,"pinta ibu Ros.


"Iya, Bu,"jawab Nabila, "Mari, Pak. Saya antar ke kamar," ujar Nabila.


Wahyu mengikuti langkah Nabila yang akan mengantarkannya ke kamar Kaisar.


"Maaf, Pak. Bisa tunggu disini sebentar? Saya mau nyiapin baju dulu untuk Bapak,"ujar Nabila pelan.


"Iya. Saya akan menunggu disini."


Nabila membuka pintu kamar lebar-lebar, lalu menuju lemari pakaian Kaisar, mencari baju dan celana yang belum dipakai dan cocok dibadan Wahyu.


"Bajunya sudah saya siapkan di atas ranjang, Pak,"ujar Nabila keluar dari kamar.


"Iya, terima kasih ya..."


Nabila mengangguk, "Iya, Pak. Silahkan masuk,"ujarnya bergeser dari pintu.


Nabila kembali keruang tv, ternyata Kaisar sudah pulang.


"Kamu udah pulang, Sar? Catnya cukup?"


"Iya, Mbak. Baru aja Isar sampai. InsyaAllah kata pak Ahmad catnya cukup untuk semua ruangan. Tadi baru cat lapisan pertama, besok lanjut lapisan kedua. Katanya besok pake mesin khusus cat, supaya cepat selesainya."


"Pak Ahmad punya mesinnya?"


"Mau minjam punya temannya, Mbak. Nanti biar kita kasi uang buat yang punya mesin."


"Iya kamu benar, Sar. Uang yang mbak kirim kemarin masih ada?"


"Masih ada, Mbak."


"Yasudah, nanti mbak transfer lagi."


"Iya, Mbak. Eh pak Wahyu mana?"

__ADS_1


"Pak Wahyu mandi di kamar kamu,"jawab Nabila.


__ADS_2