
Tanpa Nabila dan ibu Ros sadari, ternyata Kasiar menyaksikan tangisan pilu kakaknya. Kaisar berkaca-kaca melihat kakaknya terlihat sangat rapuh.
"Sakit melihatmu menangis seperti itu, Mba," gumam Kaisar, airmatanya jatuh menyentuh pipinya.
Kaisar memilih meninggalkan kedua wanita beda usia itu. Dia menuju teras depan, disana ada pak Wahyu dan Raksa yang sedang bermain robot.
Sementara itu di dalam kamar, Nabila merasa lega setelah melepaskan semua beban yang dipikul nya.
"Maaf ya, Bu. Nabila cengeng ya?" tanya Nabila dengan mata bengkak efek terlalu lama menangis.
"Anak ibu tidak cengeng, menangis hal wajar jika seseorang merasakan kekecewaan yang luar biasa," ujar ibu Ros lembut seraya membelai wajah sembab anaknya.
"Nabila janji, setelah ini Nabila tidak akan lagi menangis. Bu," ujar Nabila tersenyum tipis.
"Tidak pa-pa, Nak. InsyAllah dibalik semua masalah yang menimpamu akan ada pelangi setelahnya. Jadi, jangan pernah putus berdoa," nasihat ibu Ros.
Nabila mengangguk tersenyum, "Iya, Bu. Aamiin, InsyaAllah Nabila akan terus berdoa terutama untuk kebahagiaan Ibu dan Raksa," ujar Nabila merebahkan kepalanya dipangkuan Ibunya.
"Ibu akan bahagia jika anak-anak Ibu bahagia." Ibu Ros membelai kepala anaknya.
"Semoga kelak Kaisar akan menemukan pasangan yang betul-betul tulus menerimanya, Bu."
"Aamiin... Kamu juga Nak. Ibu doakan anak-anak Ibu menemukan pasangan yang bisa menerima kalian dengan tulus."
"Nabila rasanya trauma untuk menikah, Bu."
"Jangan seperti itu, Nak. Tidak semua laki-laki seperti Samudra, sebelumnya kamu diuji dengan suami seperti Samudra, Tapi kedepannya Ibu yakin akan ada pria yang tulus menyayangimu dan Raksa."
"Iya, Bu. Tapi untuk saat ini, Nabila ingin fokus mengurus Raksa dulu, Bu."
"Iya, itu sudah kewajiban orangtua membesarkan anaknya. Sudah bersedihnya, sekarang ayo bantu Ibu bawa koper ini kedepan agar besok tinggal dimasukkan ke dalam mobil," ucap Ibu Ros menunjuk koper miliknya.
Nabila mengangkat kepalanya, lalu mengarahkan pandangannya mengikuti telunjuk ibunya.
"Biar Nabila yang bawa, Bu. Cuma 1 koper sama 1 tas ajak?" tanya Nabila.
"Iya itu aja. Tapi tasnya biar ibu yang bawa, itu sangat berat," sahut ibu Ros.
"Nggak akan berat, Bu." Nabila berjalan menghampiri koper dan tas. Nabila mengangkat tas tersebut ditaruhnya diatas koper, "Nih, taruh disini aja, Bu. Jadi lebih mudah dibawanya," ujar Nabila seraya menarik pegangan koper.
Nabila meletakkan koper ibunya di dekat pintu utama, lalu masu ke kamar Raksa lalu keluar dengan membawa koper Raksa yang ukuran sedang serta tas mainannya.
"Mba, lagi ngapain?" tanya Kaisar.
"Mba lagi pindah-pindahin koper untuk besok, jadi gampang ngangkatnya," jawab Nabila.
"Ya ampun, Mba. Kan bisa panggil Isar, biar Isar yang ngurusin ini koper."
"Selagi mba bisa kerjakan kenapa harus merepotkan kamu." Nabila tersenyum.
Kaisar mendengus, "Mba terlalu mandiri," ucap Kaisar kesal.
__ADS_1
"Bukannya jadi wanita mandiri itu yang disuka laki-laki?"
"Nggak semua, Mba."
"Yaa maaf, Mba kira semua begitu," jawab Nabila cengengesan.
"Yaudahlah. Isar mau kekamar dulu, mau ngambil koper biar digabungkan sama yang lainnya," ujar Kaisar berlalu menuju kamarnya.
Tiba hari dimana Nabila akan memboyong keluarganya ke Jakarta. Nabila sibuk memeriksa kondisi rumah ibunya sebelum benar-benar ditinggalkan.
"Sudah dicek semuanya, Mba?" tanya Kaisar.
"Iya sudah. Nanti seminggu sekali akan ada orang yang datang membersihkan, jadi aman," jawab Nabila.
"Mba bayar orang untuk bersihin rumah?"
"Iya, itu mba lakukan supaya sewaktu-waktu kita pulang kesini rumah tetap dalam keadaan bersih."
Kaisar mangangguk-anggukan kepala tanda mengerti, "Ayo, Mba. Mobil jemputan sudah datang," ajak Kaisar.
"Iya, ayo."
Nabila dan Kaisar keluar rumah. Nabila mengunci rapat pintu rumahnya. Merasa semua aman Nabila ikut masuk kedalam mobil.
"Sudah?" tanya pak Wahyu saat Nabila sudag duduk disamping ibunya.
"Bismillah, selamat tinggal Pontianak. Mungkin akan memerlukan waktu yang sangat untuk kembali kesini lagi," ucap batin Nabila.
Mobil yang ditumpangi rombongan Nabila perlahan meninggalkan pekarangan rumah ibu Ros. Mereka rencana akan makan siang dibandara.
Tiba dibandara, Kaisar dan pak Wahyu menurunkan koper-koper dan lainnya dari mobil.
"Sudah semua, Sar?" tanya Nabila.
"Sudah, Mba."
"Ayo kita kedalam, kita makan dulu. Kasian Raksa pasti sudah lapar," ajak pak Wahyu.
"Laksa lapalll," celoteh Raksa.
"Aduadu... Anak ibu laper ya, Nak? Ayo kita makan," tanya Nabila pada anaknya.
Raksa didudukkan di stroller nya didorong oleh ibunya. Koper dan barang lainnya disusun diatas trolly. Karna jadwal keberangkatan masih sekitar sejam lagi, pak Wahyu menitipkan trollynya dibagian keamanan. Lalu rombongan menuju restoran. Mereka makan siang dengan hikmat.
Sejam berlalu, kini mereka sudah duduk dikursi pesawat. Pesawat sudah lepas landas.
"Ayah... Maafkan ibu karna meninggalkan rumah kita, ibu lakukan ini semua demi kebahagiaan anak-anak kita, Yah," ujar batin ibu Ros.
Seseorang menepuk pundak ibu Ros, "Ibu kenapa?" tanya Kaisar khawatir.
__ADS_1
Ibu Ros tersenyum, "Ibu nggak ap-pa, Nak."
"Jika Ibu merasa kurang sehat, sebaiknya Ibu istrahat. Nanti saat sampai Isar bangunin Ibu," sahut Kaisar.
"Ibu tidak apa-apa. Ibu cuma takut, kan baru pertama kali ibu naik pesawat," jawab ibu Ros bergurau.
"Pejamkan mata, Bu. Lalu genggam tangan Kaisar," ucap Kaisar lembut, "Isar akan selalu ada untuk Ibu, mba Nabila dan Raksa," lanjutnya.
Ibu Ros mengikuti kata anaknya. Memejamkan mata dan menggenggam tangannya. Perasaab nyaman dirasakan ibu Ros.
"Yah, kita berhasil mendidik anak-anak kita," ucap batin ibu Ros tersenyum.
Sedangkan Nabila memposisikan Raksa agar duduknya nyaman selama penerbangan.
"Raksa, duduknya nyaman?" tanya Nabila lembut.
"Iya, Bu," jawab Raksa.
Nabila tersenyum, "Anak sholeh," ucap Nabila mengusap-usap kepala anaknya.
Pesawat mendarat dengan mulus di bandara Jakarta. Semua penumpang bergantian turun, termasuk rombongan Nabila.
Mereka sekarang sedang menunggu jemputan yang belum juga datang.
"Jemputannya belum tiba, mungkin terjebak macet," ucap pak Wahyu.
"Iya, Pak," jawab Nabila.
"Sebaiknya kita duduk dulu, pasti akan sangat melelahkan menunggu sambil berdiri begini, hehehe..." usul Kaisar dengan sedikit gurauan.
"Iya, Kaisar benar. Kita duduj disebelah sana," sahut pak Wahyu seraya menunjuk kursi kosong.
Sekitar 30 menit seorang gadis periang yang sangat dikenal Nabila datang dengan terburu-buru.
"Hallo... Assalamualaikum semuanya," salam Clara dengan ceria.
"Waalaikumssalam..." jawab mereka serempak.
"Maaf, saya datang terlambat," sesal Clara.
"Nggak masalah, Clara. Kita maklum, kau juga punya tanggung jawab dikantor yang lebih penting," sahut pak Wahyu cepat.
"Sekali lagi saya minta maaf... Kalau begitu, mari, mobil ada disebelah sana," ucap Clara menunjuk mobil yang dibawanya.
"Makasih ya, Clara. Udah sempetin waktu jemput kita," ucap Nabila tersenyum.
Clara tersenyum sumringah melihat Nabila, "Mba Nabila santai aja, Clara senang jemput Mba, tau nggak," ucap Clara terkekeh.
"Ayo, itu yang lain sudah jalan kita masih diam disini," ajak Nabila terkekeh karna mereka ditinggal rombongan.
"Iya, Mba. Sini biar saya yang dorong anak comel ini," ucap Clara lalu mengambil alih pegangan stroller Raksa.
__ADS_1
"Aduuuh... Jadi nggak enak, udah dijemput, barang-barang ada yang bawain, sekarang Raksa juga ada yang momong," ucap Nabila terkekeh.