Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Selesai


__ADS_3

Hari kedua Nabila berada di Pontianak dan hari kedua akan menghadiri sidang dengan k4sus yang berbeda. Nabila saat ini sudah berada diruang sidang, pikirannya meleset, ternyata Samudra menghadiri sidang putusan.


"Pak, bagaimana jika mas Sam menolak perceraian ini? Saya tidak mau jika harus rujuk dengannya,"bisik Nabila pada pengacaranya.


"Mbak Nabila tenang aja, kita punya bukti kuat jadi dia akan bisa berkutit jika kita mengeluarkan semuanya,"balas Gerri dengan pelan.


Nabila mengangguk pelan, "Semoga saja semua berakhir hari ini, dan saya bisa segera kembali ke Jakarta,"gumam Nabila.


Persidangan dimulai, Nabila kembali menjadi saksi dan menjelaskan semua permasalahan yang menimpanya.


"Tidak, Yang Mulia. Saya tidak pernah melakukan itu, saya suami yang setia,"teriak Samudra lantang mendengar kesaksian Nabila.


Nabila yang mendengar itu hanya bisa tersenyum sinis, "Cih... Setia katanya? Setiap tikungan ada, gitu?"gumam Nabila tetap santai.


"Tenang! Anda belum saatnya berbicara." Hakim melihat ke Nabila, "Apa Anda memiliki bukti tentang tuduhan yang baru Anda katakan?"


"Iya, Yang Mulia. Saya punya buktinya, bukan cuma satu, tapi banyak,"jawab Nabila mantap.


-Flashback-


Nabila pulang dari kantor dengan menggunakan motornya. Saat motornya berhenti di lampu merah, dia melirik kiri kanannya dan tanpa sengaja melihat seseorang yang sangat dikenalnya.


"Mas Sam? Mau kemana dia? Siapa wanita itu?"gumam Nabila.


Saat lampu hijau, Nabila mengikuti suaminya yang sedang berboncengan mesra dengan wanita.


"Awas kalau kamu berani macem-macem, Mas. Aki tidak akan mengampuni mu,"gumam Nabila memfokuskan pandangannya pada motor suaminy.


"Rumah siapa ini? Apa ini rumah wanita itu?"gumam Nabila saat melihat Samudra menghentikan motornya didepan sebuah rumah sederhana.


Nabila terburu-buru memarkirkan motornya ketika melihat Samudra ikut masuk ke dalam rumah itu, "Aku harus mengikuti mas Sam,"gumam Nabila jalan pelan menginj4kkan kakinya diteras rumah tersebut. Samar-samar dia mendengar suara percakapan dari dalam.


"Sayang, Ibu dan Bapak mana?"


"Lagi kerumah kerabat, Mas. Ayo kita masuk, kita udah lam loh nggak itu,"ujar wanita dengan nada menggoda.

__ADS_1


Nabila mencoba mengintip lewat jendela, Matanya terbel4lak saat melihat apa yang dilakukan suaminya, "Astgafirullah, Mas... Apa yang kamu lakukan?"gumam Nabila memb3kap mulutnya.


"Sayang kita ke kamar yuk!"ajak wanita itu.


Samudra tidak menjawab, tapi langsung mengangkat tub*h wanita itu ke dalam pelukannya.


"Aku kangen kamu, Sayang. Aku candu banget, Sayang. Sudah lama aku tidak melakukannya,"ucap Samudra.


"Bohong kamu, Mas. Kamu bohong, pasti setiap malam kamu melakukan itu sama istrimu itu."


"Tidak, Sayang. Saya bosan dengan dia, dia sudah tidak menarik lagi."


"Tega kamu, mas. Tega kamu menghianati aku-" gumam Nabila terhenti saat samar-samar mendengar suara d3s4h*n dari dalam rumah.


"Tidak! Kamu tidak boleh menangisi laki-laki seperti dia, Nabila,"gumam Nabila menghapus jejak air matanya, "Aku harus mengumpulkan bukti sebanyak mungkin,"ujarnya Lalu mengambil handphone dari dalam tasnya.


Nabila merekam semua aktifitas yang dilakukan suaminya dengan wanita lain. Merasa sudah cukup, Nabila mengakhiri rekamannya dan berjalan meninggalkan rumah tersebut.


"Kamu bosan sama aku, mas? Baiklah, mulai sekarang aku tidak lagi melayanimu. Aku akan menerima tawaran kerja dari kantor pusat. Aku akan menjauh dari kamu, mas,"gumam Nabila.


-Flashback off-


"Kamu tidak bisa mengelak, Mas,"sahut Nabila sinis.


"Tidak! Itu bukan saya, kamu boleh menf1tnah saya tentang pen1pu4n, Nabila. Tapi, jangan f1tnah saya dengan lebih keji seperti ini,"ujar Samudra emosi, "Kamu yang pergi ke Jakarta meninggalkan aku, Nabila."


"Maaf, Yang Mulia. Saya tidak menf1tnah, itu semua asli. Bahkan saya sendiri yang menemukan bukti itu, saya ada ditempat saat dia melakukan itu, Yang Mulia. Bisa dicek hasilnya editan atau real,"ujar Nabila tegas.


"Nabila? ka-kamu?" Samudra gugup.


"Kenapa, Mas? Masih mau mengelak? Baiklah saya akan menjelaskan kapan dan dimana saya menyaksikannya,"ujar Nabila, kemudia beralih menatap hakim, "Maaf, Yang Mulia. Apa bisa saya menjelaskan semuanya disini?"


"Iya, silahkan!"


"Baik, terimakasih, Yang Mulia." Nabila kembail menatap Samudra, "Pertama kali saya mengetahui kelakuan suami saya, saat itu saya pulang dari kantor diperjalanan saya melihat suami saya berboncengan mesra dengan seorang wanita. Saya berinisiatif mengikutinya bahkan saya mendengar ketika suami saya berkata mulai bosan pada saya pada wanita yang ada dalam g3ndongannya."

__ADS_1


Nabila memberi jeda seraya menarik nafas panjang, "Untuk itu saya memutuskan menerima pekerjaan yang di Jakarta, saya ingin menenangkan pikiran. Menerima tawana kerja di Jakarta juga bukan semata-mata hanya ingin menenangkan diri, Yang Mulia. Tapi, itu juga karna paksaan dari suami saya,"ujar Nabila tenang.


"Kur4ng 4jar kamu, Nabila. Saya menyuruh kerja di Jakarta agar bisa mengirimkan uang saya dan keluarga saya, tapi selama dua bulan kamu kerja disana kamu mengabaikan aku,"bantah Samudra.


"Yang Mulia bisa dengar sendiri pengakuan dari suami saya, saya dijadikan istri olehnya hanya untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya, sedangkan dia sebagai suami memberi nafkah untuk anak dan istrinya 1 jt perbulan, belum lagi jika dia mibta dengan alasan motor masuk bengkel, omset cafe menurun..."


"1 jt itu terlalu banyak kamu dan anakmu,"ujar Samudra menahan geram.


Nabila tersenyum sinis mendengar perkataan suaminya, "Kena kamu, Mas. Kau mengg4li kubur4nmu sendiri,"gumam Nabila yang kembali duduk dibangkunya.


Gery sebagai pengacara tersenyum lebar karna menurutnya timnya lagi yang akan menenangkan sidang tersebut.


Ketukan palu dari hakim begitu merdu ditelinga Nabila, "Alhamdulillah, selesai. Semuanya selesai sampai disini, Mas,"gumam Nabila tersenyum.


Sedangkan Samudra menunduk pasrah, malu dan tak berdaya menerima keputusan hakim, "Hancur semuanya, tidak ada lagi foya-foya dengan wanitaku... Liat saja Nabila suatu saat aku akan kembali dan mengambil apa yang sudah kamu rampas,"ucap Samudra dalam hatinya.


Samudra bukannya menyesali perbuatannya, malah dia memupuk dend4m dalam hatinya pada Nabila.


"Selamat, Mbak Nabila. Sekarang Mbak Nabila bisa bernafas lega,"ucap Gery.


"Terimakasih, Pak. Ini juga berkat bantuan, Pak Gery,"jawab Nabila tersenyum.


"Sama-sama, Mbak. Ini akte perceraian, Mbak Nabila. Disimpan baik-baik,"ucap Gery menyerahakan map berisi akte perceraian Nabila dan Samudra, "Selamat juga hak asuh untuk Raksa, sepenuhnya jatuh ditangan, Mbak Nabila."


"Terimakasih, Pak. Hak asuh Raksa yang sangat penting bagi saya, Pak. Sekarang saya bisa tenang,"jawab Nabila.


"Mari kita tinggalkan tempat ini,"ujar Gery.


"Iya, Pak."


"Kapan Mbak Nabila balik ke Jakarta?"


"Dari sini saya langsung ke bandara, Pak. Saya sudah memesan tiket,"jawab Nabila.


"Ooh, baiklah. Semoga Mbak Nabila selamat sampai tujuan, salam untuk keluarga."

__ADS_1


"Iya, Pak. Akan saya sampaikan."


Nabila masuk ke dalam taksi yang sudah menunggunya.


__ADS_2