
"Rileks, Uncle,"goda Galaksi.
"Diam, Gala. Uncle nggak bisa ngontrol perasaan gugup,"sahut Kaisar kesal.
Galaksi terbahak-bahak melihat reaksi unclenya.
"Hahaha... Uncle lucu juga kalau gugup gini. Liat, bahkan Uncle berkeringat,"ujar Galaksi.
"Gala, jangan goda Uncle mu seperti itu,"tegur Wahyu lembut.
"Kenapa malah nongkrong didepan pintu begini?"tanya Nabila yang keluar dengan menggandeng tangan Raksa.
"Uncle yang ngajak nongkrong disini, Ma,"sahut Galaksi terkekeh.
"Enak aja nih bocah,"sewot Kaisar.
"Sar, kamu sudah memibta restu pada ibu?"tanya Nabila serius.
"Lah, bukannya ibu udah merestui? Makanya kita disini sekarang kan?"tanya Kaisar bingung.
"Iya memang ibu sudah merestui, tapi apa salahnya jika sekali lagi meminta restu sebelum berangkat? Meminta doa ibu untuk kelancaran acara ini."
"Mbakmu benar, Sar. Minta doa restu ibu sebelum kita berangkat,"sahut Wahyu.
Kaisar membenarkan ucapan kakak dan kakak iparnya.
"Ibu mana, Mbak?"
"Ibu tadi pamit mau ke kamar mandi, Katanya mau p1pis,"jawab Nabila.
Cukup lama Kaisar memohon doa restu sang ibu. Ibu Ros menitikkan air mata melihat anaknya yang bersungguh meminta doa restunya.
Ibu Ros dan Kaisar keluar dengan mata dan hidung yang memerah, meski baru pada tahap lamaran. Namun, rasa harus tetap menyelimuti hati ibu Ros yang akan melepas anak bujangnya untuk mempersunting anak gadis orang.
"Ayo kita berangkat, keluarga Clara pasti sudah menunggu,"ajak ibu Ros cepat, ia tidak ingin ditanya apapun.
Karena jarak antara rumah tempat mereka menginap dan rumah orang Clara hanya terpisah oleh 1 rumah, mereka jadi tidak kerepotan dengan menyewa mobil.
Tapi karena keluarga Kaisar hanya keluarga inti yang hadir, maka beberapa tetangga diminta untuk ikut rombongan Kaisar sekaligus membawa seserahan.
Rombongan telah tiba di kediaman orang tua Clara, Kaisar semakin gugup ketika melewati pintu utama.
Hal yang sama juga dirasakan oleh Clara, mendengar kedatangan Kaisar ia juga semakin gugup.
"Tarik nafas, Ra. Jangan tegang gitu,"ujar sepupu Clara.
Keluarga Kaisar disambut dengan sangat baik oleh keluarga Clara.
Sebelum masuk ke tujuan utama, kedua keluarga berbincang santai untuk mengakrabkan keluarga.
Dilain tempat, menjelang tengah hari Caca baru bangun dari tidurnya karena kelelahan mel4y4ni pelanggannya sepanjang malam.
Caca menggeliat, ia meraba-raba tempat tidur disampingnya. Namun, kosong.
"Kemana om Bagas?"gumam Caca celingukan mencari pelanggannya.
Turun dari ranjang tanpa merasa risih dengan penampilannya yang tanpa sehelai kain pun, Caca berjalan menuju kamar mandi untuk mencari om Bagas.
"Apa om Bagas sudah pergi?"gumam Caca ketika melihat kamar mandi kosong.
"Sudahlah, yang penting uang masuk ke rekening aku,"gumam Caca cuek.
Caca melangkah kembali mendekati ranjang dan duduk dipinggiran ranjang samping nakas.
__ADS_1
Diatas nakas ada selembar kertas kecil ditimpa dengan gelas kaca berisi air.
"Apa ini?"
*Aku pamit, nanti kita akan bertemu lagi.*
Caca membaca isi surat yang dibuat oleh Bagas.
"Apaan om Bagas ini, kan bisa pamit lewat chat aja,"kekeh Caca sembari m3r3mas kertas dan membu4ngnya ke tempat samp*h.
Dreet
Dreet
"Mana hp ku?"tanya Caca celingukan mencari ponselnya yang berbunyi nyaring tanda ada panggilan masuk.
Setelah beberapa menit mencari, akhirnya ia menemukan ponselnya yang ikut terbungk*s oleh selimut.
"Mama?"gumam Caca melihat nama si pemanggil.
{Iya hallo, Ma.}
{Kamu dimana, Ra? Ini sudah siang, kamu kenapa belum kembali?}
{Masih ditempat yang sama, ma. Aku baru bangun, bentar lagi aku balik. Tolong pesan makanan ya, ma. Aku laper,}jawab Caca.
{Yaudah, mama pesankan sekarang.}
{Hmm!}
Panggilan telfon berakhir.
Karena perutnya sudah berbunyi minta diisi, Caca bergegas memakai bajunya yang berserakan dimana-mana, bahkan bajunya kusut.
***
Proses lamaran Kaisar dan Clara berjalan dengan lancar. Kedua keluarga sepakat pernikahan akan diselenggarakan sebulan kemudian.
Akad nikah akan diadakan di rumah Clara yang ada di Jakarta. Untuk resepsi, hanya akan ada satu kali resepsi yang akan diadakan. Hotel Pramudya Group yang akan menjadi tempat resepsinya.
"Jadi Pak Wahyu ini bos Clara di kantor?"tanya papa Clara.
Walau agak sungkan dan tidak hati membahas jabatan di acara keluarga, Wahyu tetap menghargai pertanyaan yang dilontarkan oleh calon besannya.
"Iya, Pak,"jawab Wahyu sungkan.
"Nggak nyangka ya, ternyata Clara malah menikah dengan adik ipar bosnya sendiri,"sahut papa Clara terkekeh.
Wahyu pun ikut terkekeh. "Namanya jodohnya, Pak. Nggak ada yang tahu,"timpal Wahyu.
"Iya benar banget, Pak Wahyu."
"Ayo silahka nikmati jamuannya,"timpal mama Clara ramah.
"Iya, Bu,"sahut Nabila dan ibu Ros.
"Gayanya terlalu kaku, Uncle,"ucap Galaksi menggoda Kaisarnya yang terlihat kaku saat berfoto.
Kaisar mencebik, ia sungguh sangat gugup ketika berfose dengan kekasihnya didepan keluarga.
Fotographer mengarahkan beberapa gaya pada Clara dan Kaisar. Foto itu juga akan dijadikan sebagai foto preweed dan akan dipajang saat resepsi nanti. Mungkin juga akan dipasang diundangan.
Banyak godaan dan ledekan yang didapat ileh pasangan calon pengantin itu. Para sepupu Clara tidak hentinya menggoda Clara dan Kaisar.
__ADS_1
Para orang tua hanya terkekeh melihat tingkah anak muda yang saling l3mpar candaan.
***
"Kak?"panggil Cici.
"Ada apa, Dek?"
"Hari ini kan kita semua sengaja ngambil cuti untuk istirahat, tapi kalau sepanjang hari hanya dirumah aja. Ya bosan juga,"ucap Cici manja.
"Terus kamu mau kemana, Dek?"
Wajah Cici menjadi sumringah. "Gimana kalau kita jalan-jalan ke taman aja, Kak? Sekali-kali kita liburan, meski liburannya cuma sekitaran taman aja,"ujar Cici terkekeh.
Samudra memandang wajah adiknya, sebenarnya ada rasa rindu juga pada adik bungsunya yang pergi tanpa pamit. Tapi, Samudra berusaha menutupinya agar adik dan papanya tidak khawatir.
"Yaudah, kamu siap-siap gih. Sekalian ajak papa,"titah Samudra.
Samudra menatap adiknya yang memasuki rumah untuk mencari sang papa.
PoV Samudra
Aku sungguh menyesal telah menyia-nyiakan istri sebaik Nabila. Namun, kini penyesalan tiada gunanya, aku telah kehilangan istri dan anakku.
Bagaimana kehidupan mereka setelah berpisah denganku? Tapi aku sangat yakin, Nabila bisa mencukupi Raksa dengan gajinya. Meski sederhana, setidaknya anakku bisa tumbuh dengan sehat.
Entah apa yang aku pikirkan sehingga menuruti perintah mama untuk menikahi Nabila agar bisa memoroti uangnya.
Awal rencana semua berjalan lancar, namun benar kata pepatah lama, Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan terjatuh juga.
Dan itulah yang aku rasakan saat ini. Bahkan karena kehidupan uang tidak stabil, mama dan adik bungsu pergi meninggalkan rumah.
Sampai detik ini aku masih bertanya-tanya, kemana mereka? Dapat uang darimana mereka sehingga nekat meninggalkan rumah?
Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benakku. Namun, urung aku keluarkan, karena tidak ingin adikku dan papa kepikiran.
Meski papa mengatakan untuk tidak mengkhawatirkan mama dan Caca, tapi tetap saja hati ini sangat risau memikirkan keadaan mereka.
"Haa!"
Aku tersentak merasakan tepukan lumayan keras dipundakku dan suara melengking milik Cici.
"Astagfirullah, Dek? Kamu mau buat kakak jantungan?"
"Yee... Lagian Kakak ngapain dari tadi melamuun aja,"sahut Cici terkekeh.
Kutelisik penampilan yang mampu membuat hatiku terenyuh. Adikku begitu cantik mengenakan hijab, ya ini pertama kalinya Cici mengenalan hijan. Ia sungguh sangat cantik.
"Kamu cantik, Dek,"pujiki tersenyum sembari mengusap kepalanya uang tertutup oleh jilbab berwarna abu-abu muda.
Bisa kulihat dengan jelas, wajah adikku memerah seperti tomat. Mungkin ia malu.
"Makasih, Kak,"ujar Cici malu-malu, "Apa Cici sungguh cocok dengan hijab ini, Kak?"lanjit Cici bertanua dengan pandangan berbinar penuh harap.
"MasyaAllah, kamu sangat cantik, Dek,"pujiku, "Iya kan, Pa?"tanyaku pada papa yang berdiri tepat dibelakang Cici.
"Sangat cantik, Nak." Papa ikut memuji Cici dengan penuh rasa haru
"Mulai saat ini, Cici ingin belajar menutup aurat, Pa, Kak. Doakan Cici, semoga tetap istiqomah."
"Aamiin, papa akan selalu mendoakan kebaikan untuk anak-anak papa."
"Aamiin, tentu kakak akan doakan, Dek."
__ADS_1