Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Laporan


__ADS_3

"Mas beneran nggak keberatan uang ini aku gunakan untuk kebutuhan rumah dan keluarga ku, Mas?"


"Kamu ini ngomong apa sih, Sayang? Keluarga kamu sudah pasti keluarga mas juga, jadi mas sama sekali nggak keberatan kalau kamu mau gunakan untuk kebutuhan rumah dan lain-lainnya."


"Makasih ya, Mas. Padahal kita menikah baru beberapa hari, tapi kenapa nafkah yang kamu berikan banyak sekali!"


"Nggak apa-apa, Sayang. Karna sejak mas mengucapkan ijab kabul dipernikaham kita, mulai dari situ kamu berhak mendapat nafkah dari mas."


Nabila sudah bisa mulai tersenyum kembali. Ia sadar meski menghindar seperti apapun, suaminya itu pasti akan bersikeras memberikan nafkah.


Meski begitu, Nabila bersyukur karna bersuamikan Wahyu yang bisa menghargai istrinya.


"Makasih ya, Mas. Kamu sudah menjalankan tugas sebagai seorang suami dengan sangat baik, sedangkan aku belum memberikan hak yang seharusnya kamu dapatkan sejak pertama kali kita sah menjadi suami istri."


Wahyu tersenyum. "Kamu sudah menjadi istri yang baik, Sayang. Hubungan suami istri tidak melulu tentang itu, tapi banyak yang jauh lebih penting dari itu."


Nabila menatap dalam iris mata suaminya. Menurut Nabila, mata yang teduh enak ditatap lama-lama.


"Mas akan menunggu waktu itu tiba sampai kamu betul-betul siap! Mas tidak akan memaksa kehendak mas pada kamu, Sayang,"ucap Wahyu lembut sembari mengusap pipi istrinya.


-Tok tok tok-


"Siapa?"tanya Nabila.


"Saya, Bu. Saya membawa berkas laporan,"jawab seseorang dari luar.


Nabila beralih menatap suaminya. "Gimana ini, Mas? Kalau ada yang liat Mas didalam ruangan aku sepagi ini, pasti mereka akan curiga,"ucap Nabila panik.


"Kamu tenang dulu. Mas akan masuk ke to1let, jadi kamu jangan khawatir, oke!"


Nabila mengangguk pelan. Kemudian tanpa membuang waktu, Wahyu segera melangkahkan kakinya menuju to1let.


Nabila menatap suaminya dengan prasaan yang tidak menentu.


"Apa Ibu Nabila baik-baik saja?"tanya seseorang dari luar.


"Eh iya. Silahkan masuk!"titah Nabila sembari kembali duduk dikursinya.


-Cklek-


"Ibu baik-baik aja?"


"Iya, saya baik-baik saja. Berkasnya kamu taruh di meja aja,"titah Nabila.


"Baik, Bu,"jawab karyawan, lalu meletakkan map diatas meja kerja Nabila, "Saya permisi mau melanjutkan kerja, Bu,"pamitnya sopan.


"Iya, silahkan."


Setelah memastikan sudah tidak ada lagi karyawan, Nabila menutup pintu dan menguncinya.


-Tok tok tok-


"Mas? Kamu boleh keluar sekarang,"ucap Nabila.

__ADS_1


"Bentar, Sayang. Lagi buang haj4t,"balas Wahyu dari dalam.


Mendengar jawaban suaminya, Nabila kembali ke meja kerjanya untuk memerikaa laporan yang akan di tanda tangani pimpinan perusahaan.


"Mas balik keruangan ya, Sayang!"pamit Wahyu begitu keluar dari to1let.


Mendongakkan kepala melihat suaminya. "Iya, Mas,"jawab Nabila tersenyum.


-Cup-


Wahyu meng3cup mesra kening istrinya, setelah itu berjalan meninggalkan ruangan sang istri.


***


Sore hari, karyawan berbondong meninggalkan area kantor. Berbeda dengan rombongan Nabila yang masih setia berada di parkiran, mereka tidak ingin berdesak-desakkan keluar.


-Tok tok tok-


Pintu kaca jendela mobil bagian tempat duduk Nabila diketuk dari luar.


"Kenapa, Mas?"tanya Nabila sembari melirik kiri kanan untuk memastikan situasi.


"Kamu pulang sama mas hari ini. Bukan kah kamu mau melaporkan kejadian kemarin?"


Nabila men3puk keningnya. "Astagfirullah, Mas. Aku hampir lupa masalah ini. Yaudah, aku ikut kamu, Mas."


"Mbak mau kemana? Melaporkan masalah apa?"tanya Clara sebelum Nabila keluar dari mobil.


"Nanti mbak jelasin dirumah! Kalian langsung pulang aja, jangan kemana-mana setelah ini,"ucap Nabila.


-Bukkk-


"Aduh... Kamu kenapa sih, Ra? Kamu mau jadi tukang puk*l?"


"Kamu kenapa nggak nanya sama mbak Nabila masalah apa yang dihadapinya?"tanya Clara berteriak.


"Nggak usah teriak-teriak, Ra. Aku nggak perlu nanya itu semua, kamu nggak denger tadi mbak Nabila bilang apa?"


"Apa?"


"Nanti dijelasin di rumah!"


Clara mendengus, lalu menatap lurus kedepan dengan santai. "Yaudah, kalau gitu kita pulang sekarang!"


"Astagfirullah,"gumam Kaisar.


Tanpa basa-basi lagi, Kaisar melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Perjalanan pulang dengan suasana hening, Kaisar mulai gusar.


"Kamu masih ngambek?"tanya Kaisar pelan.


"Siapa juga yang ngambek,"sahut Clara cuek.


Kaisar menggaruk kepalanya. "Terus kalau nggak ngambek, ngapain dari semalam kita diam-diaman begini?"

__ADS_1


"Iih... Kamu memang nggak peka ya, Sar! Nggak ada romantis-romantisnya sama sekali!"


"Aku kan sebelumnya nggak pernah pacaran, makanya aku nggak tahu gimana cara ngelakuin hal romantis."


Clara menghela nafas panjang. "Oke! Sekarang jelaskan cewek yang dimaksud oleh pak Wahyu!"


"Ya ampun... Kamu percaya aja sama bualan mas Wahyu. Mas Wahyu cuma ngerjain kita, supaya kita berantem seperti ini,"ucap Kaisar frustasi.


"Kamu yakin pak Wahyu ngerjain kita? Terus alasannya apa?"


Kaisar dengan cepat menoleh ke arah kekasihnya. "Tunggu dulu! Kalau mas Wahyu ngerjain kita dengan cara mendatangkan nama orang ketiga, itu artinya mas Wahyu tahu kalau kita punya hubungan?"tebak Kaisar.


Spontan mata Clara membulat sempurna karna baru menyadari hal tersebut. "Jadi gimana ini, Sar?"tanya Clara panik.


"Ya mau gimana lagi, ngapain juga kita sembunyikan hubungan kita,"sahut Kaisar santai.


"Tapi aku belum siap, Sar. Kamu juga menunggu sampai acara mbak Nabila selesai kan?"


Kaisar mengangguk pelan seraya menghela nafas panjang. "Gini aja deh, untuk sementara waktu kita diam aja. Aku yakin mas Wahyu tidak akan ember sama orang rumah,"ucap Kaisar.


***


Sementara itu, Nabila dan Wahyu tiba di depan kantor polisi. Kedatangam mereka bertepatan dengan datangnya orang yang akan mereka masukkan dalam daftar laporan.


"Kalian berani juga melaporkan kasus ini!"ucap Kusi sin1s.


"Kenapa tidak? Saya tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan disini Amda yang terlalu berani datang kesini,"sahut Nabila santai.


"Jangan diladeni, Sayang. Nanti makin ngelunjak orang ini,"bisik Wahyu.


"Ayo kitw kedalam, Mas,"ajak Nabila melenggang masuk meninggalkan Kusi yang misu-misu tidak jelas didepan kantor polisi.


Ketika laporan Nabila akan dicatat dan diproses, tiba-tiba Kusi datang mengacaukan semuanya.


"Tidak bisa, Pak. Saya seharusnya yang melaporkan wanita ini, dia yang sudah mencuri desain saya,"ucap Kusi mendelik.


Nabila belum melakukan protes ataupun perlawanan, ia ingin lihat sampai dimana keberanian Kusi memberi keterangan palsu.


Dengan percaya diri Kusi duduk di kursi samping Nabila.


"Saya ingin melaporkan Wanita atas kasus pencurian desain pakaian dan juga atas kekerasan fisik yang dilakukan terhadap saya kemarin,"ucap Kusi dengan pongahnya.


Polisi menjadi bingung laporan siapa yang akan diterimanya.


"Bapak tidak perlu bingung, jika memang istri saya melakukan hal seperti yang dituduhkan, maka kami meminta bukti! Dan juga atas keker4san fisik yang dikatakan, silahkan dicek dulu, Pak!"ucap Wahyu tegas.


Tampak pak polisi mengangguk setuju. "Baiklah, jika memang Ibu mau melakukan itu, sebelum saya menerima laporan tersebut, saya meminta bukti sebagai penguat! Bagaimana Bu, apa ada buktinya?"


Kusi mulai kalang kabut, ia memang tak memiliki bukto apapun. Dengan modal nekat dia ke kantor polisi untuk melapor tanpa persiapan apapun.


"Sepertinya Ibu ini tidak punya bukti. Jadi, maaf kami pihak kepolisian tidak bisa menerima laporan tanpa ada bukti."


"Bagaimana dengan laporan saya, Pak? Saya punya bukti kuat!"tanya Nabila.

__ADS_1


"Boleh saya lihat buktinya, Bu?"


"Boleh, Pak,"jawab Nabila sambil membuka rekaman cctv di ponselnya, "Ini buktinya, Pak. Silahkan dilihat sendiri!"ucap Nabila tegas.


__ADS_2