
Sebelum Nabila mencapai pintu utama, tangannya ditarik seseorang dari belakang, membuatnya mau tak mau harus menghentikan langkahnya.
"Tunggulah disini, saya akan pastikan keadaan didalam," ucap Pak Wahyu menatap mata Nabila.
"I-iya, Pak," jawab Nabila salah tingkah ditatap oleh Pak Wahyu.
"Kaisar, ayo kita kedalam!" ajaknya pada Kaisar.
Tanpa menjawab, Kaisar segera mengikuti langkah kaki Pak Wahyu yang menuju ruangan Raksa berada.
Semakin dekat mereka, semakin terdengar nyaring suara tangisan Raksa. Suasana tampak sepi, entah kemana penghuni rumah ini.
"Tega sekali mereka meninggalkan anak kecil yang sedang menangis."
Tiba-tiba dari arah belakang datang dua perempuan yang sepertinya kembar berteriak.
"Siapa, kalian?" tanya mereka serempak.
"Tidak perlu tau siapa kami," jawab Pak Wahyu lalu menoleh pada Kaisar. "Cepat bawa Raksa keluar dari sini," pintah pak Wahyu.
Tanpa berlama-lama lagi, Kaisar berlari cepat masuk kedalam kamar dan menggendong Raksa.
"Pak, saya keluar dulu," ucap Kaisar cepat, dibalas anggukan oleh pak Wahyu.
"Heii, mau dibawa kemana keponakan aku?" tanya perempuan berbaju pink.
"Caca, kamu panggil mama papa cepetan. Aku mau ngejar yang membawa Raksa."
"Iya, Cici. Lo, cepetan ikutin dia," sahut wanita yang dipanggil Caca itu.
Sikembar membagi tugas. Tapi, sepertinya usaha mereka akan gagal karna ternyata orangtua Caca dan Cici dikamar dalam keadaan terikat.
Sebelum berangkat dari rumah Nabila, pak Wahyu memerintahkan anak buahnya yang lain mengikuti mereka. Dan mereka menjalankan tugas mereka dengam baik, dengan cara mengikat orangtua Caca dan Cici didalam kamar.
"Jangan coba-coba kalian kabur dan bawa keponakan saya. Jika kalian berani, saya akan laporin kalian kepolisi dengan tuduhan penculikan anak," pekik Cici seraya ikut berlari mengejar Kaisar.
Kaisar terus berlari menggendong Raksa yang sudah mulai diam, mungkin Raksa nyaman berada dalam pelukan om nya.
Kaisar sampai ditempat dimana Nabila dan Ibu Ros menunggu. Nabila langsung memeluk anaknya dengan kencang, bahkan tangisnya pecah.
"Raksa, anak Ibu," ucap Nabila memeluk Raksa.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Terimakasih Engkau telah mengembalikan cucuku dalam keadaan sehat tanpa kurang apapun," ucap Syukur ibu Ros.
"Siapa kalian?" tanya Cici.
Nabila yang mendengar suara Cici lanhsung menghentikan tangisnya dan menatap tajam pada Cici.
Nabila menyerahkan Raksa pada Ibu Ros.
__ADS_1
"Bu, tolong gendong Raksa dulu. Nabila mau membereskan orang-orang tidak tau diri," ucap Nabila tidak mengalihkan tatapannya dari Cici.
Cici yang ditatap seperti itu, nyalinya ciut.
"Ma-mau apa, lo?" tanya Cici gugup saat melihat Nabila mendekat.
"Kamu bertanya siapa saya? Seharusnya saya yang nanya itu ke kamu. Siapa kamu? Kenapa anak saya ada disini? Dan kenapa kamu ada dirumah saya?" tanya Nabila beruntun.
"Anak? Ja-jadi ka-kamu istrinya kak Samudra?" bukannya menjawab, Cici malah kembali bertanya.
"Ooh, jadi kamu adiknya mas Sam?" tanya Nabila sinis.
"I-iya, saya adiknya mas Sam," jawab Cici semakin gugup.
"Dimana orangtua mu?" tanya Nabila.
"A-ada didalam. Tapi kalian tidak boleh masuk kerumah kami." meski dalam keadaan gugup, Cici berusaha terlihat biasa saja.
"Saya tidak perlu persetujuan darimu untuk masuk kedalam rumah saya sendiri," ucap Nabila berlalu masuk kedalam rumah melewati Cici.
"Heii, apa maksud kamu? Ini rumah mas Sam yang beli pake uangnya, kamu tidak ada hak," ucap Cici mengejar Nabila.
"Pak Wahyu, dimana mereka?" tanya Nabila saat melihat Pak Wahyu masih berada dalam rumah.
"Mereka ada didalam kamar. Mari, ikuti saya."
Dari jauh Nabila samar-samar bisa mendengar suara teriakan dari dalam kamar.
"Mereka ada didalam sana, diikat oleh anak buah saya," ucap pak Wahyu saat berhenti tepat depan sebuah kamar yang pintunya tertutup rapat.
Nabila ingat kamar didepannya adalah kamar utama yang rencana akan dia tempati.
"Silahkan masuk," ucap pak Wahyu mempersilahkan masuk Nabila.
"Haii, Mama mertua, Papa mertua, dan Adik ipar. Akhirnya kita bertemu," sapa Nabila.
"Jadi kamu yang ngelakuin ini?" tanya mama Samudra.
"Iya Mama mertua, saya yang melakukan ini. Kalian telah mengusik anak saya, jadi saya tidak bisa mentolerir itu."
"Raksa cucu saya, jadi saya berhak membawanya kerumah kami," pekik mama Samudra.
"Waw waw, rumah kami? Apa saya tidak salah dengar? Sejak kapan kalian membeli rumah ini?" tanya Nabila sinis.
"Tidak perlu kamu tau, sejak kapan kami membeli rumah ini. Tapi yang jelas ini rumah kami dan saya akan melaporkan kalian semua kepolisi karna berani mengganggu ketenangan keluarga saya," pekik mama Samudra.
"Silahkan lapor ke polisi, kita lihat laporan yang akam diterimah dan diproses. Tapi sebelum itu kalian harus tau sertifikat rumah ini atas nama saya, jadi kalian tidak akan mendapatkan apa-apa," ucap Nabila tersenyum sinis.
"Beraninya kamu mengubah nama sertifikar rumah kami menjadi namamu. Rumah ini, kak Samudra yang membelinya," bentak Cici pada Nabila.
__ADS_1
"Tentu saja saya berani. Sejak kapan mas Samudra bisa membeli rumah mewah ini? nafkah untuk istri dan anaknya saja cuma 1 jt sebulan," ucap Nabila.
"Itu urusanmu dengan kak Samudra, tapi ini rumah kami," sahut Caca.
"Kalian ternyata tidak tau malu. Kalian mau hidup enak tapi tidak mau usaha, hanya mengandalkan yang simpananku saja kalian bisa berfoya-foya," ucap Nabila.
"Jangan sembarang bicara kamu," bentak papa Samudra.
"Saya tidak sembarangan bicara Papa mertua. Bukannya baru-baru ini kalian mengadakan pesta ulangtahun yang mewah untuk Mama mertua dengan uang 20 jt dari hasil menipu saya?"
"Uang itu juga uang anak saya, jadi saya berhak menggunakannya," sahut mama Samudra.
"Tidak ada uang anak kalian dalam tabungan saya. Apa yang bisa ditabung dengan uang 1 jt perbulan?" tanya Nabila sinis.
"Kaisar hubungi polisi dan pengacara atas kasus penculikan dan penipuan," pintah Nabila pada Kaisar.
"Iya, Mba."
"Kamu tidak akan bisa melaporkan kami kepolisi. Raksa cucuku, jadi polisi tidak akan percaya," ucap mama Samudra percaya diri.
"Oh ya? Sayangnya, sepertinya kalian akan tidur salam jeruji besi setelah ini. Saya memiliki bukti saat penculiak Raksa terjadi dan tentang penipuan yang kalian lakukan. Dan juga penipuan bukan hanya tentang harta benda, tapi kalian memalsukan kem4t1an kalian," ucap Nabila.
"Sebentar lagi polisi, Mba," ucap Kaisar.
"Terimakasih, dek. Sebaiknya, kamu keluar susulin ibu. Kasian ibu sendirian jaga Raksa' ucap Nabila lembut.
"Tapi, Mba. Isar takut terjadi sesuatu sama Mba Nabila," ucap Kaisar tidak mau meninggalnya kakaknya.
"Kamu tenang aja Kaisar, ada saya dan anak buah saya yang menemani kakak kamu," sahut pak Wahyu.
"Sudah, sana keluar," pintah Nabila.
"Baiklah, Mba. Pak Wahyu, tolong jaga Kakaks saya?"
"Iya. Jika polisi sudah datang suruh langsung masuk aja," pintah Pak Wahyu.
"Iya," jawab Kaisar singkat, lalu meninggalkan ruangan.
"Lepasin kami. Lihat saja, jika Samudra datang dia akan memberikanmu pelajaran," ucap mama Samudra berteriak.
"Ssshhtt. Jangan berteriak, kasian kan pita suara Mama mertua nanti rusak," ucap Nabila pelan.
"Jangan kurang ajar kamu sama mama saya," bentak Cici.
"Ooo ayolah, Adik ipar. Jangan ikutan berteriak seperti ini, kalian sekarang tetap diam dan dengarkan perkataan saya karna mas Samudra yang kalian harapkan akan membantu kalian tidak akan pernah datang, ucap Nabila.
"Dimana kak Samudra? Apa yang kau lakukan pada kakakku?" pekik Cici.
"Soal mas Sam? Kalian akan berkumpul bersama ditempat dan ruangan yang sama, kalian jangan khawatir. Tapi, untuk saat ini kalian tidak bisa bertemu dulu."
__ADS_1
Pak Wahyu disana hanya memperhatikan Nabila yang bisa tegas pada keluarga suaminya. Pak Wahyu kagum pada sosok Nabila, wanita tangguh, pekerja keras, dan juga ibu yang baik bagi anaknya.
Pak Wahyu sengaka diam, karna menurutnya itu bukan ranahnya. Pak Wahyu hanya membantu mengamankan, tidak lebih.