Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Dari Galaksi


__ADS_3

"Ajak suamimu ke kamar untuk istirahat, Nak,"ucap ibu Ros.


"Iya, Bu,"jawab Nabila pelan, lalu menundukkan pandangannya.


"Cie cie, Mbak Nabila malu-malu kucing..."goda Clara.


Semua tamu undangan dan rombongan yang mengantar Wahyu sudah pulang karna waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.


Galaksi masih betah berada dirumah istri baru papanya. Ia senang bermain dengan adik tirinya yang usianya sangat jauh dibawahnya.


"Jangan goda Mbakmu, Ra,"tegur ibu Ros membuat Clara terkekeh.


"Mbak Nabila lucu kalau lagi malu-malu, Bu,"sahut Clara.


"Sudah jangan dilanjutkan lagi. Nabila balik ke kamar."


"I-iya, Bu,"jawab Nabila gugup. "Mas Wahyu ke kamar istirahat,"ajak Nabila kaku.


Wahyu tersenyum mendapati reaksi Nabila yang menurutnya lucu.


"Iya ayo,"sahut Wahyu.


"Shuit shuit... Kayaknya otw unboxing nih,"goda Clara.


"Clara diam! Anak gadis kok ngomongnya gitu,"tegur ibu Ros greget.


"Hehehe... Maaf, Bu."


"Sudah sana pulang mandi, sebentar lagi waktu adzan magrib berkumandang,"titah ibu Ros.


"Ya ampun... Kok Ibu tega sih ngusir aku,"ucap Clara cemberut.


"Ibu nggak ngusir, tapi meminta kamu untuk bersih-bersih baru balik ke sini lagi."


"Oh gitu... Yaudah, Clara pulang dulu, shalatnya disini aja. Tungguin Clara ya, Bu."


"Iya sana cepetan."


"Siap, Komandan,"sahut Clara kemudian memberi hormat.


Ibu Ros menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nak Galaksi nginap disini kan?"


"Liat nanti aja, Nek,"jawab Galaksi.


"Nginap aja, Gala. Kita tidur bareng malam ini,"sahut Kaisar yang sudah mulai biasa memanggil nama bosnya diluar kantor.


"Kalau saya nginap, saya mau tidur sama Raksa aja deh,"ucap Galaksi mulai lengk3t dengan Raksa, begitupun anak Nabila yang mulai dekat dengan kakak tirinya.


"Iya deh, mentang-mentang sekarang punya adek jadi nggak mau pisah tidurnya,"ledek Kaisar.


"Hahaha... Ini moment yang sudah dari lama saya nantikan, tapi baru sekarang terealisasikan,"sahut Galaksi tertawa.


"Jadi mau manggil mbak Nabila dengan sebutan apa nih?"goda Kaisar.


"Manggil ibu lah, sama seperti Raksa manggil ibu,"jawab Galaksi.


"Kenapa bukan mama aja? Biar lebih serasi mama dan papa."


"Kalau saya panggil mama, kasihan Raksa nanti bingung kenapa ibunya punya dua panggilan,"jawab Galaksi terkekeh.


"Kita bisa ajarkan pada Raksa untuk mulai sekarang panggil mama aja,"sahut Kaisar.


"Saya ikut dengan Raksa aja, kalau sudah mulai panggil mama, saya jug akan manggil mama."

__ADS_1


"Nah, jadi mulai sekarang Raksa harus diajarin tuh,"sahut Kaisar.


"Hentikan obrolan kalian, dengar tuh dimesjid sudah mengumandankan adzan. Kaisar, ajak Nak Galaksi ke kamar kamu."


"Siap yang mulia,"ujar Kaisar.


Ibu Ros mengabaikan candaan Kaisar. "Raksa, ayo kita ke kamar, Nak."


***


Sementara itu, di kamar Nabila. Beberapa menit setelah memasuki kamar, Nabila tidak mengeluarkan suara karna merasa gugup.


"Mana handuknya?"tanya Wahyu berinisiatif untuk mencairkan suasana.


"Astagfirullah... Nabila ambil dulu, Mas,"jawab Nabila terkesiap.


Wahyu tersenyum melihat Nabila yang begitu menggemaskan jika salah tingkah.


"I-ini handuknya, Mas,"ucap Nabila menyerahkan handuk berwarna putih.


"Makasih ya, kalau gitu mas mandi duluan, nggak apa-apa?"


"Mas mandi duluan aja. Sa-saya mau lepas aksesoris du-lu,"jawab Nabila gugup.


Wahyu mengangguk. "Butuh bantuan?"


Nabila menjadi tegang ditanya seperti itu oleh suaminya. "Ti-tidak perlu, Mas."


"Yaudah, mas mandi dulu. Kita harus segera mandi, sebentar lagi adzan magrib. Kita shalat berjamaah."


"I-iya, Mas."


Wahyu segera masuk kamar mandi, sedangkan Nabila dengan rasa gugup, ia berjalan menuju meja riasnya dan segera melepas beberapa aksesoris yang dipakenya.


"Bagaimana ini? Masa' ke kamar mandi dengan pakaian lengkap gini?"gumamnya ketika selesai berganti pakaian dengan gamis dan khimarnya.


-Cklek-


"Kamu sudah mandi?"tanya Wahyu pada Nabila.


"Be-belum, Mas."


"Ooh... Yaudah, kamu segeralah mandi."


"I-iya, Mas."


Nabila meninggalkan plastik berisi kebaya dan jas di atas sofa.


"Mana baju aku, Nabila?"tanya Wahyu sebelum Nabila menutup pintu kamsr mandi.


"Astagfirullah... Saya lupa, Mas."


Setelah mengucapkan itu, Nabila berlari kecil menuju lemarinya. Ia memang sudah menyiapkan beberapa lembar baju dan celana untuk Wahyu.


"Ini pakaiannya, Mas."


"Makasih ya, Sayang."


Pertama kali dipanggil sayang oleh Wahyu, Nabila makin gugup dibuatnya. Ia hanya mengangguk sebagai balasan dari ucapan terima kasih sang suami.


Suara adzan berkemundang menggema di komplek perumahan tempat Nabila tinggal. Nabila menggelar dua sejadah untuknya dan suaminya.


"Kita shalat magrib dulu, setelah itu kita shalat dua rakaat."

__ADS_1


"Iya, Mas."


Air mata Nabila menetes mendengar lantunan ayat suci Al-qur'an yang dibacakan Wahyu dalam shalatnya. Nabila sungguh terharu mendapat iman yang begitu paham agama seperti Wahyu, meski tidak sedalam ustads pemahamannya.


Begitu khusyu'nya sepasang pengantin baru berdoa kepada sang pencipta.


"Mas masih mau dikamar istirahat?"


"Kamu mau kemana?"


"Mau kebawa bantu-bantu ibu nyiapin makan malam."


"Mas ikut kebawa."


"Iya, Mas."


Nabila mulai terbiasa dengan kehadiran suaminya. Ia sudah gugup lagi seperti pertama kali masuk kamar berdua.


"Iya deh tahu pengantin baru, lama banget keluar kamarnya,"ledek Clara ketika melihat Nabila dan Wahyu menuruni anak tangga.


"Apaan sih, Ra. Negatif aja pikiranmu itu,"sahut Nabila sewot.


"Yee Mbak Nabila tuh yang negatif. Orang Clara nggak bilang yang aneh-aneh kok,"ejek Clara.


Nabila tidak lagi mengubris omongan Clara. "Kita makan malam disini aja, Bu?"


"Iya, Nak. Makanan juga masih ada disini. Jadi sekalian aja nanti diberesinnya."


"Selamat malam Papa, Ibu,"sapa Galaksi yang baru keluar dari kamar Kaisar.


"Malam juga, Pak Galaksi,"balas Nabila.


"Hahaha... Kok anak tiri dipanggil pak sama ibu tiri sih." Tawa Clara p3cah mendengar balasan Nabila.


Nabila menatap kesal pada Clara. "Rasain nih,"ucapnya, kemudian men1mpuk Clara dengan bantal sofa yang dipegang Raksa.


"Aduh... Mbak Nabila melakukan kdrt sama aku,"ujar Clara bercanda.


"Sembarangan kdrt,"sahut Nabila sewot.


"Ibu, jangan panggil saya seformal itu... Sekarang saya anak Ibu, jadi panggil nama saja."


Nabila menghela nafas. "Galaksi?"


"Begitu jauh lebih baik, Bu,"sahut Galaksi tersenyum.


"Apa yang kamu pegang itu, Nak?"tanya Wahyu pada anaknya.


"Ini hadiah untuk Ibu, Pa."


"Kalau gitu kamu serahkan sekarang, Nak."


"Iya, Pa. Ibu... Ini hadiah dari Galaksi untuk Ibu sebagai ucapan terima kasih karna sudah sudi menerima Papa,"ucap Galaksi pelan namun bermakna.


Nabila menatap mata suaminya meminta pendapat. Setelah melihat sang suami mengangguk, barulah Nabila menerima hadiah dari Galaksi.


"Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot, Nak."


Panggilan anak keluar dari mulut Nabila membuat Galaksi terharu karna untuk pertama kalinya ia merasa mempunyai seorang ibu yang menyayanginya.


"Tidak repot, Bu. Ini tidak sebanding dengan keputusan Ibu yang menerima Papa yang seorang duda anak satu yang sudah dewasa."


"Terima kasih karna sudah mau menerima saya dan keluarga saya, Nak,"balas Nabila ikut terharu.

__ADS_1


"Hiks... Kenapa anak dan Ibu tiri ini sweet banget sih,"ucap Clara sesegukan.


"Kenapa kamu menangis, Ra?"tanya Kaisar yang baru keluar dari kamarnya.


__ADS_2