Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Otw lamaran


__ADS_3

Cklek


"Ca, katanya teman mama hari ini ada yang mau bayar mahal,"ucap Sari begitu pintu terbuka.


Wajah Caca tampak murung, ia menjadi sedikit ragu setelah berfikir semalaman.


"Kamu kenapa jadi murung begitu?"tanya Sari, lalu mendekati Caca yang duduk di pinggiran ranjang.


"Aku jadi ragu, Ma. Aku takut ketahuan, aku juga nggak tahu bagaimana cara mel4yani pria yang jelas pengalamannya sangat jauh,"ucap Caca lirih.


"Astaga, Ca. Kamu memikirkan bagaimana cara melay4ni pelanggan? Kalau itu mah nggak usah dipikirin, jalani dan ikuti apa keinginan dan permintaan pelanggan. Namanya juga baru terjun, ya pasti nggak langsung ngerti lah,"ucap Sari jengah.


Caca menari nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.


"Oke, berapa harga yang sanggup dibayar oleh pelanggan pertama aku?"


"Rp50 jt, Ca,"jawab Sari berbinar.


Mata Caca membulat, matanya tampak berbinar mendengar uang Rp50jt.


"Banyak banget, Ma. Itu hanya untuk satu orang?"


"Iya, Ca. Bayangkan jika sudah ada banyak yang butuh jasa kamu, pasti uang kamu akan sangat banyak ditabungan. Kita bisa shoping-shoping lagi,"ucap Sari semangat.


"Yaudah deh, Ma. Terima aja pelanggannya,"jawab Caca.


Keesokannya, setelah yang lain berangkat untuk mencari rejeki yang halal. Berbeda Caca yang mulai bersiap-siap untuk berangkat mel4yani pelanggan pertamanya disalah satu hotel yang ada di Pontianak.


"Ma, aku berangkat dulu ya,"pamit Caca pada mamanya yang sedang bersantai menonton tv.


Sari menoleh, ia menatap anaknya dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Kenapa liat aku kayak gitu, Ma?"tanya Caca heran, ia ikut melihat penampilannya.


"Kamu yakin mau ketemu klien dengan pakaian tertutup seperti itu?"tanya Sari mendelik.


Caca berdecak. "Ck! Ya nggak lah, Ma. Aku bawa baju yang cocok untuk pekerjaan aku, tapi nanti aja aku ganti di rumah teman. Kalau langsung pakai baju kerja nanti tetangga malah curiga,"jawab Caca.


Sari tersenyum. "Bagus juga ide kami, meskipun profesi kamu mel4yani pria hidung belang, kamu harus tetap menjaga kehormatan keluarga kita."


"Nah, itu Mama paham. Udah dulu deh, aku mau berangkat."


"Iya, kamu hati-hati dalam bekerja. Ingat pakai pengaman dalam bekerja,"ucap Sari mengingatkan.


"Tenang aja, Ma. Aku udah bawa obat yang Mama kasi semalam,"sahut Caca santai.


"Bagus, jangan sampai kamu kebobolan. Bisa bahaya kita jika sampai itu terjadi."


"Iya, Ma. Aku akan berhati-hati."


-Flasback off-

__ADS_1


"Ca, kamu ini dari tadi ditanyain malah melamun nggak jelas,"tegur Sari memberenggut.


Caca tersentak ketika merasakan sentuhan dipundaknya.


"Mama tadi mau nanya apaan?"tanya Caca.


Sari mendelik. "Nggak jadi, mama udah lupa juga tadi mau nanya apa,"jawab Sari kesal.


Caca bangkit dari duduknya. "Yaudah kalau gitu. Aku mau keluar dulu cari makan, Mama mau sekalian ikut?"


"Nggak, kamu bawain aja mama ke kamar. Mama males keluar,"jawab Sari merebahkan badannya dikasur hotel.


***


"Waah, rumahnya nyaman banget ini, Mbak,"puji Clara menatap kagum rumah dan seisinya.


"Alhamdulillah, Ra. Semoga anak-anak betah tinggal disini,"sahut Nabila.


"Ayo masuk, jangan cuma berdiri mematung aja."


"Iyaiya, Mbak."


"MasyaAllah, rumahnya nyaman, Nak. Semuanya juga udah lengkap juga."


"Alhamdulillah, Bu. Tinggal isi yang kecil-kecil aja seperti alat-alat masak, makan dan mandi,"sahut Nabila.


"Jadi gimana sama rumah konveksinya, Mbak? Kan dari sini lumayan jauh tuh untuk kesana,"tanya Kaisar.


"Nanti mbak tetap akan pantau dari jarak jauh, dua bulan sekali juga mbak berkunjung, sekalian cek bahan,"jawab Nabila.


"Aku ikut, Mbak,"ucap Clara menyusul Nabila.


Clara lagi-lagi dibuat terpanah dengan furnitur yang ada di dapur rumah Nabila.


"MasyaAllah, aku suka banget sama tampilan dapurnya, Mbak. Aku shalawatin dulu aja deh, semoga nanti bisa punya yang kayak gini,"ucap Clara terkekeh.


"Aamiin... Mbak doakan kamu juga segera menikah dan punya rumah seperti yang kamu impikan."


"Aamiin... Nanti kalau udah nikah, aku nggak apa-apa tinggal dirumah yang ada aja dulu, pelan-pelan nabung untuk rumah impian."


"Ra, tolong ini cemilannya dibawa keluar ya,"pinta Nabila mengangkat nampan berisi gelas minuman.


"Siap, Mbak."


Nabila dan Clara melangkah mendekat sembari membawa minuman dan cemilan. Mereka samar-samar bisa mendengar apa yang menjadi perbincangan hangat keluarga mereka yang sedang berkumpul.


"Jadi kapan rencana untuk syukuran rumah barunya?"tanya ibu Ros.


"InsyaAllah hari minggu selanjutnya, Bu. Jika hari kantor kan nggak bisa, kita juga nggak bisa selalu izin nggak masuk kantor karena urusan pribadi,"jawab Wahyu.


Ibu Ros semakin salut pada menantunya itu, meski ia bos dan sebagai pemilik perusahaan Pamudya Group tidak membuat Wahyu berbuat sesuka hatinya.

__ADS_1


"Iya, Nak. Sebaiknya memang seperti itu,"sahut ibu Ros.


"Lagi bahas apaan nih?"tanya Nabila sembari menyajikan minuman diatas meja.


"Lagi ngibahin kamu, Mbak,"celetuk Kaisar.


"Yee sembarang banget Uncle ini, mana ada kita gibahin Mama,"sewot Galakso tak terima.


"Waduh, gawat... Backingan Mbak Nabila bertambah satu, semakin susah untuk di usili ini mah,"ucap Kaisar bercanda.


"Hahaha, rasain Kamu, Sar,"ledek Clara.


"Jadi kapan nih kita ke rumah orang tua Mbak Clara?"goda Galaksi.


Blush


Wajah Clara menjadi merona mendapat godaan seperti itu dari Galaksi.


Kaisar diam, ia bergantian menatap Nabila dan Wahyu.


"Astaga... Untung kamu ingatkan, Nak. Kan rencananya jumat sore kita semua berangkat ke kota kelahiran Clara,"ucap Wahyu.


"Nggak apa-apa, Mas. Kan acara lamarannya hari sabtu, iya kan, Ra?"


"Iya, Mbak,"jawab Clara.


"Nah, sehabis acara lamaran itu kira langsung pulang ke Jakarta. Jadi kita punya waktu untuk mempersiapkan syukuran rumah,"ucap Nabila memberikan solusi.


"Iya sebaiknya memang begitu, kita juga pakai jasa katring aja untuk makanan tamu nanti,"ucap Wahyu setuju dengan ide istrinya.


"Kamu sudah memberi kabar orang tuamu, Nak?"tanya ibu Ros.


Clara mengangguk pelan. "Udah, Bu,"jawab Clara.


"Nah, karena Clara juga sudah menghubungi keluarganya, maka waktunya tidak bisa diundur lagi,"ucap Wahyu.


"Nanti aku boleh ikut kan?"tanya Galaksi.


"Iya, Nak. Semua orang akan pergi,"jawab Nabila.


Sejak memutuskan berhenti dari pekerjaannya, Galaksi melupakan statusnya yang pernah menjadi CEO diperusahaan besar. Ia menjadi lebih manja pada mamanya, sosok yang selama ini dirindukan kehadirannya.


"Yaudah, karena hari semakin sore, ibu mau pamit pulang dulu, Nak,"pamit ibu Ros.


"Loh, Ibu nggak mau nginap disini?"tanya Nabila.


"Lain kali ibu nginap, untuk saat ini jangan dulu. Ibu juga mau siapin seserahan yang akan dibawa ke orang tua Clara."


"Untuk itu serahin aja sama Nabila, Bu,"ucap Nabila.


"Tidak, Nak. Karena ini pernikahan anak laki-laki ibu satu-satunya, maka ibu yang akan menyiapkan semuanya sendiri,"tolak ibu Ros.

__ADS_1


"Sudah, Sayang. Ibu ingin turun tangan sendiri, tapi jika memang Ibu tidak sanggup menangani sendiri nanti kita bantu,"sahut Wahyu memberi pengertian pada istrinya.


Nabila menghela nafas panjang. "Baiklah, Bu. Jika butuh bantuan, langsung hubungi Nabila,"ucap Nabila.


__ADS_2