Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Tolong


__ADS_3

"Aku terharu liat drama didepan mata aku, Sar,"jawab Clara sesegukan.


Kaisar mengkerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan maksud perkataan Clara. Ia malah lebih kepo dengan benda yang dipegang oleh sang kakak.


"Itu apa, Mbak?"tanya Kaisar.


"Mbak juga nggak tahu, Sar. Mbak belum liat isinya."


"Tapi kalau diliat-liat itu kayaknya surat atau apa gitu..."


Nabila membolak balik map yang dipegangnya. "Astaga, aku baru sadar. Ini apa, Nak?"


Galaksi terkekeh. "Ibu buka aja dan lihat isinya."


"Ayo buka, Mbak. Saya juga penasaran nih,"sahut Clara.


"Aku buka ya?" Kemudian semua orang mengangguk.


Betapa terkejutnya Nabila ketika membaca isi map yang diberikan oleh anak tirinya.


"Ini maksudnya apa, Nak?"


"Itu menjadi milik Ibu seutuhnya."


"Apanya yang jadi milik Mbak Nabila?"tanya Clara kepo, ia dengan tidak sabar mengambil map yang ditangan Nabila.


"Isinya apa sih?"tanya Kaisar penasaran.


"Astaga... Jadi sekarang rumah ini udah jadi milih Mbak Nabila?"pekik Clara.


"Hadiahnya terlalu berat, Nak. Mas, gimana ini?"


"Nggak apa-apa, terima aja pemberian Galaksi,"sahut Wahyu.


"Rumahnya tidak akan dipindahkan, Bu. Jadi, nggak akan berat. Lagian tinggal ganti nama kepemilikan, udah beres."


"Astaga... Bos perusahaan enteng bener deh ngomongnya,"sahut Clara kagum.


"Kenapa harus rumah ini sih, Nak? Ini kan rumah kantor. Kan sayang kalau kami tempati selamanya."


"Ini bukan milik kantor, Bu."


Nabila terkejut. "Loh? Bukannya kata Clara ini rumah fasilitas dari kantor ya?"


"Hehehe... Maaf, Mbak. Tapi itu perintah pak Bos. Tapi, sejak Clara kerja di kantor memang beberapa rumah disini dijadikan rumah kantor kok. Iya kan, Pak Bos?"


Galaksi tertawa. "Iya betul, Bu. Beberapa rumah disini milik saya pribadi. Tapi saya alokasikan untuk kantor aja. Itu juga dapat biaya sewa dari kantor jika ada yang menempati."


"Dasarnya pebisnis, apa aja pasti dijadikan ladang uang,"ledek Kaisar.


"Hahaha kalau ada yang akan menguntungkan kenapa tidak. Saya beli rumah juga untuk investasi Uncle,"sahut Galaksi.


"Iyadeh si paling investasi,"ejek Clara.


"Iyalah. Tapi kalau rumah ini udah cerita lagi. Ini memang sudah saya hadiahkan khusus untuk Ibu, jadi rumah ini tidak ada lagi didaftar rumah fasilitas kantor."


"Kenapa nggak sekalian aja Pak Bos buat rumah gitu terus dijual, kan lumayan juga tuh,"usul Clara.


Galaksi mengangguk-anggukan kepalanya. "Nanti masukkan saja dalam perencanaan kerja selanjutnya."

__ADS_1


"Oke! Siap, Pak Bos."


"Berkat Ibu, perusahaan jadi ada proyek selanjutnya nih,"ucap Galaksi dengan nda bercanda.


"Alhamdulillah kalau gitu, Nak. Itu artinya Ibu sebagai anugrah terbaik dihidup keluarga kita,"sahut Wahyu.


"Papa bener banget. Maka dari itu Galaksi ingatkan pada Papa untuk tidak pernah mengecewakan Ibu."


"Siap, Nak. Papa akan selalu ingat pesan kamu."


"Sudah hentikan pembicaraan kalian ini. Waktunya makan malam,"tegur ibu Ros.


"Hehehe... Iya, Nek. Kebetulan perut saya juga meminta makan."


"Ayo, silahkan ambil makan sendiri. Kita duduk lesehan dikarpet nggak apa-apa kan?"


"Nggak apa-apa, Bu. Malah lebih nikmat kalau makan lesehan,"sahut Wahyu.


"Syukurlah kalau kamu tidaj keberatan, Nak."


Semua bergiliran mengambil lauk pauk untuk disantap.


"Mas Wahyu mau makan sama apa?"tanya Nabila.


"Apa aja. Yang penting kamu yang ambilin, pasti mas akan makan,"jawab Wahyu pelan membuat Nabila tersipu malu.


Sebenarnya semua orang mendengar gombalan receh Wahyu pada Nabila. Tapi, mereka memilih tidak menggoda karna nanti dapat teguran lagi dari ibu Ros.


"Porsinya dibanyakin, mas mau makan sama Raksa,"tambah Wahyu.


"Raksa biar makan sama aku aja, Mas."


"Yasudah, ini piringnya tolong dipegangin, saya mau ambil lauknya."


Karna mereka merasa sangat lelah, setelah makan malam mereka memutuskan untuk istirahat di kamar masing-masing. Clara sendiri pulang ke rumahnya.


"Apa nggak masalah Raksa tidur bareng Galaksi, Mas?"tanya Nabila seraya berjalan pelan menuju ranjang.


"Nggak apa-apa. Galaksi suka anak-anak seusia Raksa."


"Saya cuma takut Raksa menganggu tidur Galaksi, Mas."


"Kamu duduk didekat mas,"pinta Wahyu sambil menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya.


Dengan ragu, Nabila mendaratkan bok0ngnya disamping sang suami meski ada sedikit jarak, tapi itu tetap membuat Nabila gugup.


"Pertama mas ingin protes."


"Protes kenapa, Mas?"


"Kenapa kamu masih bilang saya? Seharusnya kata saya diganti dengan kata aku,"protes Wahyu.


Nabila mengedip-ngedipkan matanya menatap Wahyu.


"Dimana letak salahnya, Mas?"


"Salah, karna kata saya terlalu formal bagi mas"


"Tapi sebelumnya Mas Wahyu juga menyebut kata saya loh."

__ADS_1


"Kapan?"


"Tadi sebelum kebawa makan malam."


"Emang mas bilang gitu?"


"Iya, Mas."


"Yaudah, kalau gitu mulai sekarang kita ubah kata saya menjadi aku. Setuju?"


"Oke, aku setuju!"


"Oke deal ya... Yang kedua saya ingin katakan satu hal lagi."


"Apa lagi, Mas?"


"Mulai sekarang jangan pernah merasa sungkan pada mas dan Galaksi. Karna mas suami kamu, sedangkan Galaksi juga sudah jadi anak kamu kan?"


"Iya, Mas. Semenjak Mas Wahyu mengucap ijab kabul tadi, maka aku sudah menerima semua yang ada dalam diri Mas Wahyu termasuk anak."


"Kalau begitu jangan pernah lagi merasa sungkan pada Galaksi. Jika dia memberikan sesuatu, maka terimalah. Itu bentuk sayang dia sama kamu."


"Aku cuma nggak mau Galaksi memberikan sesuatu yang mahal, Mas."


"Nggak apa-apa. Selama ini Galaksi memang menabung untuk memberikan hadiah yang besar untuk calon ibunya."


"Pasti Galaksi sangan merindukan sosok ibu ya, Mas?"


"Sangat! Dulu waktu masih sd dia selalu menangis ketika pulang sekolah. Dia selalu diejek teman-temannya karna tidak punya ibu."


"Kasihan sekali Galaksi, lalu kenapa dulu Mas nggak pernah cari sosok ibu untuknya?"


"Itu karna Galaksi tidak pernah merasa cocok dengan perempuan manapun yang mas kenalkan. Tapi meskipun begitu, sebenarnya mas juga tidak cocok sama setiap wanita yang mas kenalkan pada Galaksi,"ucap Wahyi terkekeh.


"Lalu kenapa Mas dan Galaksi mau nerima aku?"


"Nggak ada alasan tertentu. Mas merasa nyaman sama kamu, kalau Galaksi Mas nggak tahu alasannya."


Nabila menganggukkan kepalanya.


"Nanti aku tanyakan langsung sama Galaksi, sekarang aku mau tidur."


"Iya, Mas juga ngantuk. Selamat malam."


"Malam, Mas."


Nabila membaringkan badannya dan memunggungi Wahyu karna merasa gugup dan jantungnya berdetak begitu cepat.


Tangan Wahyu bergerak memeluk tubuh Nabila, ia merapatkan badannya. Badan Nabila menjadi kaku ketika merasakan tangan sang suami memeluk dirinya.


"Relaks... Mas tidak akan macam-macam,"bisik Wahyi ditelinga Nabila.


"I-iya, Mas."


"Tidurlah, mas cuma ingin memeluk kamu saat tidur,"bisi Wahyu.


Nabila tidak lagi membalas perkataan Wahyu, ia berusaha untuk memejamkan matanya.


"Ibu... Tolong, jantung Nabila sudah tidak sehat lagi,"ucap Nabila dalam hati.

__ADS_1


Wahyu tersenyum dibelakang istrinya. Ia bisa merasakan detak jantung sang istri berdetak tidak normal.


__ADS_2