
Makan siang pertama lengkap dengan orang tuan yang lengkap. Meski bukan ibu kandung, namun tetap bagi Galaksi sangat berkesan.
Ia yang selama ini merindukan moment dimana ia akan makan siang dengan mama dan papa serta adiknya kini menjadi kenyataan.
"Kamu kenapa, Nak?"tanya Nabila.
Meski merasa agak canggung memanggil anak pada anak tirinya yang hanya berbeda beberapa tahun dengannya, ia tetap melakukannya selain untuk menghargai suaminya, ia juga harus menerima kehadiran anak tirinya itu.
"Nggak pa-pa, Bu,"ucap Galaksi lirih.
Nabila tersenyum. "Kalau gitu dilanjutin makannya, atau kamu nggak suka sama makanannya? Mau ibu pesanin yang lain?"
"Tidak, Bu. Makanannya enak kok. Tapi, boleh nggak kalau Ibu suap aku sama kayak Raksa?"ucap Galaksi ragu.
Nabila bergantian memandang anak tiri dan suaminya, ia bertanya pada suaminya melalui sorot mata.
Galaksi menjadi salah tingkah melihat respon ibu tirinya. "Kalau Ibu nggak mau, nggak usah, Bu,"ucap Galaksi cepat.
"Eits... Tunggu dulu, jangan asal menyimpulkan aja kamu,"sahut Nabila mencegah tangan Galaksi yang memegang sendok.
"Jadi Ibu mau?"tanya Galaksi berbinar.
"Tantu mau dong, kamu kan juga anak ibu. Jadi, apa salahnya kalau aku suapin kamu, iya nggak, Pa?"
"Iya dong, Bu,"sahut Wahyu terkekeh.
Nabila bergantian menyuapi anak sulung dan anak bungsunya, ia tidak keberatan jika makan siangnya sedikit tertunda karna menyiapi anak-anaknya.
"Buka mulut kamu,"titah Wahyu mencondongkan sendok kedepan mulut istrinya.
Sedikit ragu Nabila membuka mulutnya. "Nanti aku makan sendiri, Pa. Malu sama anak-anak,"bisik Nabila.
"Nggak usah malu, mereka aja kamu yang suapin nggak malu tuh,"sahut Wahyu santai.
"Mereka beda cerita, Mas. Mereka anak-anakku,"sahut Nabila.
Rasa bahagia menyelusup masuk ke sanubari Galaksi, ia begitu terharu mendengar Nabila sudah menganggapnya anak.
"Ayo, kalian cepetan makan. Ibu sebentar mau lanjut kerja,"titah Nabila.
-Dret dret-
"Ada panggilan masuk di handphone, Ibu,"ucap Galaksi menyerahkan ponsel Nabila.
Nabila mengulurkan tangan menerima ponselnya. "Kamu lanjut makan sendiri dulu nggak apa-apakan, Nak?"
"Nggak pa-pa, Bu,"jawab Galaksi mengerti.
Nabila tersenyum. "Mas, aku jawab panggilan dulu ya? Ini dari tempat produksi, nggak biasanya mereka nelfon di jam kantor seperti ini,"ucap Nabila meminta izin pada sang suami.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Tapi, jangan lama-lama, keburu lewat jam makan siang."
"Iya, Mas."
Nabila beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah jendela tepat dibelakang meja kerja suaminya.
^^^{Hallo, assalamualaikum...}salam Nabila begitu panggilan terhubung.^^^
{Waalaikumssalam, mbak. Syukurlah mbak cepat menjawab,}balas dari seberang telfon yang suaranya terdengar panik.
^^^{Ada apa, Bu? Kenapa suara ibu Salma seperti orang panik?}tanya Nabila panik.^^^
{Anu, mbak... Itu, ada orang yang protes dengan pakaian yang kita produksi, katanya kita menciplak karya mereka.}
^^^{Apa? Siapa yang mengatakan hal itu? Semua model pakaian yang kita buat sangat jelas tangan saya sendiri mendesainnya di waktu senggang,}pekik Nabila tak terima.^^^
{Tapi mereka marah-marah, mbak. Bahkan mereka membawa beberapa pemilik toko tempat kita mnyuplai barang.}
Nabila menghela nafas dengan kas4r.
^^^{Baiklah, ibu Salma tahan mereka. Saya akan segera kesana. Enak saja mengatai kita menciplak desain mereka,}titah Nabila diakhiri dengan menggerutu.^^^
{Iya, mbak. Mereka masih ada didepan sedang ngobrol dengan ibu Samsiah dan ibu Tuti, mbak. Saya akan mencoba menahan mereka.}
^^^{Pokoknya jangan sampai mereka pergi, karna saya akan segera kesana.}^^^
{Iya, mbak. Barusan juga saya dengar mereka akan memperkarakan ini dengn pihak yang berwajib,}ucap Salma gugup.
^^^{Mereka ingin main-main dengan saya ternyata. Baiklah, bu Salma jangan gugup semua akan baik-baik saja.}^^^
{Baik, mbak. Mbak cepetan kesini ya?}
^^^{Iya, bu. Saya mau izin sama suami dulu.}^^^
{Kalau begitu saya tutup dulu, mbak. Assalamualaikum.}
^^^{Waalaikumssalam.}^^^
Wajah Nabila tampak mengetak menahan amarah, ia benar-bemar tidak terima usahanya diganggu oleh orang-orang yang tidak ingin tersaingi.
"Ada apa, Sayang?"tanya Wahyu.
"Apa yang terjadi, Bu?"tanya Galaksi.
Hanya Raksa yang belum paham situasi yang terjadi, dan apa yang sedang dialami ibunya itu.
Nabila menghemp4skan bok0ngnya agak kas4r di atas sofa.
"Ada yang datang ke tempat produksi dan mengatakan jika semua model pakaian yang dibuat dari Nabila's Collection Fashion itu menciplak produk mereka,"jawab Nabila.
__ADS_1
"Siapa yang berani melakukan itu, Sayang?"tanya Wahyu geram.
"Aku juga belum tahu, Mas. Selama Nabila's Collection dibuat belum pernah ada kejadian seperti ini, jika memang saya meniru produk mereka, kenapa tidak dari awal mereka protes? Kenapa baru sekarang disaat barang yang kami produksi laku keras?"
"Mereka masih ada disana, Bu?"
Nabila mengangguk lemah. "Iya, Nak. Ini ibu mau izin masuk kerja setengah hari aja. Ibu mau urus masalah ini dulu,"ucap Nabila.
"Kalau begitu tunggu apalagi? Ayo kita pergi sekarang? Masalah seperti ini jangan biarkan berlarut-larut, nanti mereka malah merasa diatas angin,"ucap Wahyu.
"Yaudah ayo, Bu,"sahut Galaksi beranjak dari duduknya.
"Kalian kebawa duluan, aku mau keruangan ambil tas."
Tanpa ada penolakan, Wahyu dan Galaksi lebih dulu ke bawa dengan membawa Raksa bersama mereka. Meski dalam keadaan terkena masalah, Nabila masih memikirkan omongan orang-orang dikantor jika ia berjalan bersama bos perusahaan.
Nabila memasukkan kembali barang-barangnya yang tadi dikeluarkan dari tasnya. Ia melangkah sedikit tergesa-gesa keluar dari ruangannya menuju butik.
Tiba dilantai dasar, Nabila tidak memperhatikan sekitar yang ternyata ada yang memeperhatikannya dengan tatapan heran dan penasaran.
"Itu mbak Nabila mau kemana buru-buru begitu?"tanya Clara.
Yaa Clara dan Kaisar yang memperhatikan Nabila mulai dari keluar lift.
"Mungkin mbak Nabila ada rapat diluar, Ra,"jawab Kaisar yang sebenarnya juga sangat penasaran.
"Tapi kalau meeting kok cuma sendiri? Pak Bos nggak ikut?"
"Mana kutahu, Ra. Aku dari tadi disini sama kamu,"jawab Kaisar kesal.
Clara mendelik. "Santai aja dong, nggak usah emosi gitu,"ucap Clara kesal.
Kaisar terperangah dengan ucapan Clara. "Lah? Siapa juga yang emosi? Aku cuma kesal, bedakan kesal dan emosi dong, Ra,"sahut Kaisar tak terima.
"Akh... Udahlah, itu sama aja menurut aku,"jawab Clara.
Kaisar mendengus. "Emang cewek nggak pernah salah,"gumam Kaisar.
Sementara itu, rombongan Nabila dalam perjalanan menuju rumah produksi Nabila's Collection.
Karna jam belum jam pulang kantor, sehingga jalanan sedikit lenggang dan tidak butuh waktu lama untuk sampai ditempat tujuan.
Nabila menggendong Raksa, ia langsung masuk dan membawa anaknya ke ruang bermain.
"Siapa wanita itu? Kenapa main masuk begitu saja?"tanya seorang wanita yang duduk dengan angkuh didepan para pekerja Nabila.
"Dasar wanita tidak punya etika, ada orang duduk disini malah nyelonong begitu saja,"gerutu salah sati diantara mereka.
"Kenapa kalian yang sewot? Yang penting rumah ini bukan punya kalian,"sahut Salma.
__ADS_1
"Kurang aj4r kamu ya? Kamu ini tidak punya etika, bicara seperti itu pada tamu."
"Maaf, kita juga harus melihat tamu yang seperi apa dulu yang akan kita jamu, jika tamunya sopan maka tuan rumah juga akan jauh lebih sopan,"ucap Nabila yang berdiri dibelakang para pekerjanya.