Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Cari kerja


__ADS_3

Nabila dan Wahyu keluar dengan perasaan lega, karna laporannya yang diterima. Sedangkan Kusi keluar dengan rasa kesal sekaligus takut akan tinggal di balik j3ruj1 besi.


"Ayo kita pergi dari sini, Sayang. Mas kangen sama Raksa. Atau kamu mau mampir disuatu tempat?"


"Kita langsung pulang aja, Mas. Aku capek banget,"jawab Nabila.


Kusi mengepalkan tangannya melihat keromantisan Wahyu dan Nabila.


"Kita lihat aja setelah ini, saya akan pastikan hari ini hari terakhir kamu tersenyum, Nabila. Kamu sudah mengambil semua perhatian pembeli, sekarang kamu juga mengambil mas Wahyu dari saya, maka semua akan saya ambil kembali,"gumam Kusi.


Kusi sejenak melupakan laporan yang telah dibuat oleh Nabila dan Wahyu. Ia melupakan fakta bahwa sebentar lagi akan dipanggil oleh pihak yang berwajib.


Mobil Wahyu melaju melewati Kusi yang masih berdiri di depan pintu kantor. Wahyu dan Nabila masa bod0h dengan kehadiran Kusi.


"Alhamdulillah, kita datang tepat waktu, Mas. Nggak tahu gimana kalau duluan laporan Kusi yang masuk, pasti aku akan ditahan,"ucap Nabila menghela nafas lega.


"Itu tidak akan terjadi, Sayang. Meskipun laporan Kusi lebih dulu masuk, dan kamu di bawa ke kantor. Kamu tidak akan ditahan, karna kita punya bukti kuat, sementara Kusi tidak punya."


"Tapi, bagaimana dengan tindakan Galaksi yang menc3kik leher Kusi, Mas?"


"Tidak apa-apa, itu sebagai bentuk pembelaan. Toh, Kusi tidak memegang bukti, mau v1sum juga sudah terlambat. Bekasnya sudah tidak ada tertinggal."


"Lalu bagaimana jika ibu-ibu yang ikut kemarin menjadi saksinyw Kusi?"


"Mereka tidak akan berani, Sayang. Setelah ini hentikan kerjasama dengan mereka yang datang protes, diluaran sana masih banyak butik yang mau menerima barang dari tempat kamu, Sayang."


"Iya, Mas. Itu juga sudah aku pikirkan, aku nggak mau lagi menjadi pemasok barang untuk mereka yang mudah terh4sut."


Wahyu tersenyum. "Mas yakin setelah ini akan makin banyak yang tertarik dengan pakaian yang kamu desain, Sayang."


"Aamiin... Aku juga berharap begitu, Mas. Dengan begitu aku bisa membuka lowongan kerja untuk orang yang lagi memang butuh kerjaan."


Karna terus mengobrol, perjalanan yang lumayan macet tidak begitu terasa. Bahkan mobil sudah memasuki komplek perumahan.


"Raksa udah nungguin kita, Sayang,"ucap Wahtu tersenyum melihat Raksa duduk di atas kursi di teras rumah.


Nabila terkekeh melihat tingkah anaknya yang melompat-lompat begitu mobil memasuki pekarangan rumah.


***


Di Pontianak, setelah membersihkan seluruh rumah, Samudra dan keluarganya beristirahat di ruang tengah.


"Hidup kok gini amat ya?"keluh Sari.


"Hidup jangan kebanyakan ngeluh, Ma,"tegur Cici.

__ADS_1


"Nanti kita tidur dimana? Masa' ia kitw tidur di atas lantai lagi sih?"keluh Caca.


"Setelah ini, kita semua harus bergotong-royong mencari pekerjaan. Kita tidak bisa jika cuma mengandalkan satu orang saja,"ucap Samudra.


"Aku mau kerja apa dengan ijazah SMA, Kak?"tanya Caca.


"Kerja apa ajalah, yang penting halal dan bisa menutupi kebutuhan sehari-hari kita semua,"sahut Samudra.


"Besok Cici akan coba melamar kerja di butik atau toko, Kak. Semoga aja ada butuh karyawan dengan ijazah SMA,"sahut Cici.


Ketimbang saudara kembarnya yang belum juga sadar, syukurnya Cici dengan cepat menyadari kekeliruannya selama ini.


"Makasih ya, Dek. Ini hanya untuk sementara, kakak janji akan lebih giat lagi bekerja mengumpulkan uang untuk kalian melanjutkan kuliah yang sempat tertunda,"ucap Samudra memberi janji pada kedua adiknya.


"Lalu kamu mau kerja apa, Pa?"tanya Sari pada suaminya.


"Kerja apa ajalah, Ma. Serabutan juga nggak apa-apa, ada yang mau gaji udah syukur,"ucap Samad.


"Lama-lama kok aku kesal ya sama, Papa,"timpal Caca sewot.


"Kamu emang selalu gitu, sama persis kamu ini sama Mama, Ca. Nggak pernah ngehargai usaha Papa,"ucap Cici.


"Kakak, mau kemana?"tanya Caca pada Samudra yang bangkit dari duduknya, dan mengabaikan ucapan Cici.


"Aku ikut sama, Kakak. Jika cuma Kakak yang kerja, aku yakin uangnya nggak cukup untuk kita makan sampai malam,"ucap Cici.


"Tapi, kakak juga belum tahu mau kerja apa, Ci."


"Nggak apa-apa, Kak. Cici ikut sampai didepan aja, Cici mau coba kerja bersih-bersih di rumah orang,"jawab Cici tersenyum.


Samudra bangga pada adiknya, Messki selama ini selalu di manja, namun disaat sulit Cici mampu mengimbangi kehidupan barunya.


"Yaudah, ayo! Kita berangkat sekarang!"


Setelah pamitan, mereka berdua keluar rumah. Dan berpisah diperempatan tidak jauh dari rumah.


"Kita pisah disini aja, Kak. Aku mau coba peruntungan di rumah yang besar itu, siapa tau kan pemiliknya butuh tenaga kerja tambahan,"ucap Cici terkekeh.


"Iya, Dek. Kamu hati-hati ya! Kerja dengan jujur,"ucap Samudra memberi wejangan pada adiknya.


"Siap, Kak. Semoga Kakak dapat kerja,"ucap Cici mendoakan kakaknya.


"Aamiin... Kakak pergi dulu, assalamualaikum."


"Waalaikumssalam, Kak."

__ADS_1


Matahari sangat terik, menyengat kulit siapa saja yang terkena sinarnya. Tapi, itu semua tidak menyurutkan semangat Cici untuk ikut kerja bersama kakaknya.


Cici melemar pekerjaan sebagai art dari satu rumah ke rumah lainnya. Dan untungnya perjuangannya membuahkan hasilnya. Cici diterima bekerja setengah hari dan mendapat upah lumayan untuk membeli makan sekeluarga.


Sementara itu, Caca dengan santai dan tanpa beban rebahan di atas karpet diruang tengah. Sari pun seperti itu, sedang Samad juga keluar mencari kerja untuk membantu anak-anaknya mencari uang untuk makan.


"Ma, nanti kalau Mama dapat uang dari kakak, Cici atau papa, ditabung aja ya, Ma?"


"Ditabung buat apa, Ca?"


"Buat ongkos kita ke Jakarta, Ma. Kita kan mau ngelabr4k mantan istri kakak."


"Iyaiya untung Kamu ingatkan, Ca. Kita harus ke Jakarta! Tapi, jangan bilang-bilang ke yang lain dulu. Jika mereka tahu pasti akan menahan kepergian kita,"ucap Sari menyusun rencana, yang entah kapan akan terealisasikan.


"Iya, Ma. Jangan sampai yang lain mencegah kita untuk pergi. Aku sudah sangat lama menantikan keberangkatan kita ke Jakarta dan menghasilkan uang yang banyak dari mantan istri kakak."


"Kita harus menyusun rencana agar wanita itu mau memberikan kita uang yang banyak tanpa melibatkan lagi pihak yang berwajib, Ca."


"Caca pikirkan dulu, Ma. Tapi, jangan sekarang ya! Caca nggak bisa mikir kalau lagi laper, Ma,"ucap Caca.


"Kamu ini makan aja yang ada dipikiran kamu,"ucap Sari.


"Jelas dong, Ma. Kalau nggak makan, m4ti dong kita,"sahut Caca.


Sari mencebik. "Mama bisa g1la kalau lama-lama kayak gini. Mama mau shoping, Ca. Tangan mama gat4l pengen megang barang baru,"gerutu Sari sembari mengac4k-ac4k rambutnya.


"Sama, Ma. Rasanya udah setahun kita nggak shoping,"sahut Caca.


"Gimana kalau kamu juga ikut kerja, Ca?"


"Kerja apaan, Ma? Aku nggak mau kalau kerja cuma jadi karyawan biasa."


"Kamu punya pacar kan?"


"Ya ada, Ma. Tapi, hubungannya punya pacar dengan kerja apa, Ma?"


Sari tersenyum. "Kamu pasti sudah melakukan hubungan suami istri kan?"tebak Sari membuat Caca menjadi salah tingkah.


"Ma-maksud Mama apaan sih!"


"Alah... Nggak usah ngelak deh. Mama tahu kamu pasti sudah tidak suci lagi,"cibir Sari.


"Kalau Caca jujur, Mama nggak akan marah kan?"tanya Caca pelan.


"Tergantung sih!"jawab Sari sengaja tidak memperjelas.

__ADS_1


__ADS_2