Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Menyimpan dendam


__ADS_3

"Awalnya juga mau beli rumah buat ditinggali, tapi setelah berfikir ulang bagusnya dibuat usaha dulu, nanti kalau udah terkumpul lagi baru beli buat ibu,"sahut Nabila menatap lurus kearah rumahnya.


"MasyaAllah, Mbak. Saya salut sama kamu, Mbak,"puji Clara.


"Ini juga berkat dukungan kalian, lagipula saya sekarang belum jadi apa-apa. Sebelum itu saya ingin mewujudkan mimpi Kaisar yang ingin memberangkatkan haji ibu tahun ini,"ucap Nabila.


"Kenapa nggak umrah aja dulu, Mbak? Sambil menunggu nomor kursi naik. Kan kalau daftar nggak bisa langsung berangkat,"usul Clara.


"Mbak mau haji plush buat ibu, saya dengar fasilitasnya lebih spesial dari yang biasa,"ucap Nabila tersenyum, "Udah akh, kita masuk. Saya mau siapin makanannya,"ucap Nabila menghentikan obrolan mereka.


"Ayo, Mbak. Raksa sama pak Wahyu udah didalam dari tadi,"sahut Clara cengengesan.


"Assalamualaikum..."salam Nabila disusul oleh Clara.


"Waalaikumssala. Ngapain aja diluar, Mbak? Kok lama banget,"tanya Kaisar.


"Nggak ada, tadi keasyikan ngobrol sampai lupa waktu,"jawab Nabila seraya mencari-cari piring ditumpukan barang, setelah dapat dia meletakkan diatas meja.


"Ini makan malamnya, Sar. Kalau waktunya makan, kerjanya dihentikan dulu,"ujar Nabila.


"Siap, Mbak. Habis ini saya sama pak Ahmad mau istirahat dan bersih-bersih dulu, selesai shalat isya baru dilanjut,"sahut Kaisar seraya mengoleskan cat ketembok dengan roll cat yang pegangannya lumayan panjang.


"Yasudah... Ini catnya masih didouble lagi Pak Ahmad?"


"Tidak, Bu. Catnya bagus, jadi cukup dua lapis aja udah kelihatan hasilnya,"jawab Ahmad menghentikan gerakan tangannya mengisi cat kedalam mesin semprot cat.


"Syukurlah..."sahut Nabila.


"Pilihan warna catnya bagus, Mbak. Sangat enak dipandang mata. Iya kan, Pak Wahyu?"sahut Clara.


"Yang dikatakan Clara memang betul, dengan warna cat ini hasil foto barang nanti akan bagus,"sahut Wahyu mangguk-mangguk.


"Jelas bagus dong. Kaisar yang milih warna,"puji Kaisar pada dirinya.


"Iyaiya, pilihan kamu memang yang terbaik, Sar,"sahut Nabila.


"Makasih atas pujiannya, Mbak,"sahut Kaisar narsis.


"Sudahlah, makin dipuji makin besar kepalamu, Sar. Mbak mau pulang dulu akh, udah petang ini. Mbak nggak mau kejadian lalu terulang lagi,"ucap Nabila.


"Mbak tenang aja, InsyAllah kejadian sebelumnya tidak akan terjadi lagi. Kaisar sama Pak Ahmad rutin ngaji saat istirahat,"ujar Kaisar menenangkan kakaknya.


Mendengar percakapan kakak beradik ituembuat kening Wahyu mengkerut heran, "Memangnya kejadian apa?"tanya Wahyu penasaran.


Nabila menoleh pada Wahyu, "Anu, Pak. Itu..."


"Raksa pernah kesur*p4n, Pak,"timpal Clara cepat.

__ADS_1


"Apa? Bagaimana bisa?"tanya Wahyu memekik kaget.


"Santai, Pak. Kejadiannya begitu cepat, kita aja sampai bingung saat kejadian, intinya saat itu Raksa tertawa sendirian di kamar depan dirumah ini, Kaisar baca ayat suci Al-qur'an Raksa tiba-tiba k3jang-k3jang,"ucap Clara sedikit menjelaskan.


"Astagfirullah... Tapi Raksa baik-baik aja kan?"tanya Wahyu panik.


"Alhamdulillah, baik-baik aja, Pak. Noh buktinya Raksa sudah sehat tertawa dan lari-lari sama Pak Wahyu,"sahut Clara terkekeh.


Wahyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Iya juga ya... Syukurlah, tidak terjadi apa-apa pada Raksa,"gumam Wahyu.


"Ciecie... Pak Wahyu khawatir sama calon anak tirinya,"goda Clara membuat Wahyu dan Nabila menjadi salah tingkah.


"Hussh... Kamu apa-apaan sih, Clara? Udah Mbak sering bilang jangan sembarang kalau berucap,"tegur Nabila cepat.


"Nggak sembarang kok, Mbak,"bantah Clara teguh.


"Tck... Dibilangin nggak pernah nurut,"ucap Nabila kesal.


"Sudah, sudah. Sebaiknya Mbak bawa pulang Raksa, kasian kalau kemalaman. Ibu juga sendiri dirumah,"ucap Kaisar ketika melihat Clara akan membalas ucapan Nabila.


"Iyaiya, mbak pulang sekarang. Itu makanan dan cemilan buatan ibu dihabisin, airnya masih ada kan?"


"Oke, Mbak. Air masih ada tuh 2 kardus botol kemasan ukuran sedang belum habis,"jawab Kaisar seraya menunjuk kardus diatas kursi makan.


"Oke, kalau habis langsung beli aja,"pinta Nabila, "Ayo kita pulang, Ra, Pak Wahyu,"ajak Nabila.


"Jangan, Pak. Pak Wahyu pasti tidak terbiasa kerja seperti ini,"tolak Nabila.


Wahyu terkekeh, "Pekerjaan seperti ini sudah biasa saya lakukan sejak dulu sebelum jadi seperti yang sekarang kamu lihat, Nabila,"jawabnya.


"Seriusan, Pak? Saya kira Pak Wahyu sudah kaya dari lahir,"timpal Clara spontan.


"Tidak, Clara. Saya dulu orang yang tidak berpunya, keluarga saja tidak mau mengakui saya sebagai keluarga mereka karna saking miskinnya,"jawab Wahyu terkekeh.


Nabila menghela nafas panjang, "Baiklah, terserah Pak Wahyi saja. Tapi gimana kalau pak Galaksi tahu Papanya membantu dirumah karyawannya?"


"Kamu tidak perlu khawatir, Galaksi tidak akan marah atau apapun itu. Gala bukan tipe anak yang suka mencampuri urusan orangtuanya,"sahut Wahyu santai.


Wahyu tidak tahu saja bagaimana usaha anaknya agar bisa mendekatkan dirinya dengan Nabila. Saat Nabila sesak nafas, mobil Galaksi bukan kebetulan lewat tapi memang disengaja dengan alasan akan berkunjung kerumah teman yang satu kompleks dengan Nabila.


Tapi mungkin karna Allah mendukung rencana Galaksi, sehingga membuat mereka terlibat dalam membantu Nabila saat sedang sakit.


Clara tersenyum mendengar ucapan pala dari bosnya, "Pak Wahyu tidak tahu aja apa yang dilakukan anaknya selama ini," ucap batin Clara terkekeh.


"Yasudah, kalau begitu kami pulang duluan. Makan malamnya kebetulan cukup 3 porsi, jadi Pak Wahyu bisa ikut makan malam disini. Tapi maaf, makan seadanya, Pak,"ujar Nabila.


"Tidak apa-apa, saya lebih suka makan seperti ini. Kalian pulang lah."

__ADS_1


Nabila menggandeng tangan Raksa keluar setelah diberi pengertian oleh Wahyu, Clara menyusul dibelakang mereka.


***


Sementara itu dibalik j3ruj1 b3si, Samudra lebih banyak diam setelah resmi bercerai dengan Nabila.


"Sam? Jangan melamun terus,"tegur papa Samudra.


Samudra bergeming, tidak peduli dengan sekitarnya. Bahkan samudra sering kali bermimpi sedang bermain dengan anak sematawayangnya.


"Kak Sam?"bentak Caca.


"Jangan teriak-teriak, Ca,"sahut Samudra cuek.


"Lagian Kak Sam dipanggil dari tadi nggak ada respon,"sahut Caca kesal.


"Ada apa?"tanya Sam cuek.


"Setelah kita bebas dari sini, kita akan tinggal dimana? Kita sudah tidak punya rumah lagi,"tanya Sari.


"Sam tidak tahu, Ma. Jangan tanya Sam, Papa masih ada disini,"jawab Samudra cuek.


"Apa maksudmu, Sam?"tanya papanya.


"Papa bisa mengartikan sendiri maksud Sam,"jawab Samudra memejamkan matanya.


Papa Samudra mencebik kesal, "Kamu saja yang punya kerjaan tidak tahu akan tinggal dimana setelah ini, apalagi papa yang pengangguran ini,"ucapnya.


"Tck... Ini lah Papa, nggak mau kerja dari dulu. Sedangkan Mama gaya selangit, nggak mikirim darimana datangnya uang yang Sam hasilkan,"ucap Samudra kesal.


"Kenapa kamu bawa-bawa nama Mama, Sam? Mau durhaka, Kamu?"timpal Sari.


"Itu ancaman yang selalu Mama ucapkan saat Sam menolak keinginan Mama,"jawab Sam tersenyum sin1s.


"Astaga... Apa yang terjadi denganmu, Sam? Kamu menyakiti mama,"ucap Sari berakting sedih.


"Sudahlah, Ma. Jangan pura-pura bersedih. Mau mama menangis seperti apapun, itu tidak akan mengubah nasib kita yang berada dalam j3ruj1 b3s1 ini,"sahut Samudra cuek.


"Sudah, diam kalian. Disini kita harus saling support, bukan malah berd3bat seperti ini,"ucap Cici.


"Setelah bebas kita harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin, kita akan susun mantan istri Kak Sam,"ucap Caca menggebu-gebu.


"Apa maksudmu, Ca?"tanya Sari.


"Kita harus membalas wanita itu, Ma. Dia yang membuat kuta mend3rita,"jawab Caca g3ram.


"Tck... Apa yang ingin kau lakukan dengam dendam tak beralasan ini, Ci? Kita semua tahu kita yang men1punya, kita yang j4h4t sama dia. Jadi d3ndam apa yang kau maksud?" Cici mencoba membuka hati keluarganya. Seperti hanya Cici yang benar-benar menyesali perbuatannya itu.

__ADS_1


__ADS_2