
Menjelang subuh, Nabila belum bisa memejamkan matanya. Membolak-balikkan badannya ke kiri dan kanan tetap saja tidak bisa.
"Tidur, Mbak,"gumam Clara.
"Susah, Ra. Dari tadi aku berusaha memejamkan mata, tapi tetap nggak bisa,"balas Nabila.
"Hmm... Coba minum susu, Mbak,"gumam Clara.
"Ide yang bagus, kamu ada stoknya kan?"tanya Nabila.
"Hmm... Ada dikulkas, Mbak,"jawab Clara.
"Oke."
Nabila berlalu keluar kamar menuju dapur dirumah Clara.
"Ya ampun, Ra... Kenapa dapurnya berantakan begini?"gumam Nabila ketika melihat tumpukan piring bekas makan diatas washtafel dan tempat samp4h yang penuh bahkan ada yang berjatuhan dilantai.
"Ini berapa hari nggak dibersihkan sih? Perasaan Clara beberapa hari ini makan di rumah deh,"gumam Nabila mulai membersihkan kekac4uan yang dibuat Clara.
Setelah beberapa menit berlalu Nabila selesai membersihkan dapur yang berantakan.
"Nggak usah minum susu kalau udah ngantuk gini, mending langsung ke kamar aja,"gumam Nabila seraya menguap.
Nabila kembali ke kamar dan segera merebahkan badannya disamping Clara. Belum lama Nabila memejamkan mata, adzan subuh dimesjid sudah berkumandang membuatnya bangun dan menjawab panggilan Allah.
Setelah shalat subuh Nabila kembali ke rumahnya dan membantu ibunya menyiapkan sarapan.
"Kaisar belum bangun, Bu?"tanya Nabila seraya memot0ng-mot0ng sayuran.
"Tadi bangun shalat subuh, tapi sepertinya lanjut tidur lagi,"jawab ibu Ros yang sedang mencuci beras.
"Kaisar pasti capek karna kemarin sampai malam kerjanya."
"Iya bisa jadi, Nak. Nama juga kerja pasti capek,"sahut ibu Ros terkekeh, "Ibu perhatikan mata kamu agak bengkak, kamu begadang semalaman?"
"Sebenarnya nggak begadang, Bu. Tapi mata aku aja yang nggak bisa diajak kompromi, sekitar jam 3 baru Nabila bisa memejamkan matanya."
"Kamu lagi mikirin apa sampai begadang?"
"Nggak ada, Bu. Cuma nggak bisa tidur aja, setelah capek habis bersih-bersih baru bisa tidur."
"Kamu bersih-bersih apa dirumah Clara?"
"Dapurnya, Bu. Piring menumpuk dan samp4h berserakan dilantai karna tempatnya penuh."
"Bisa menumpuk gitu piringnya? Perasaan setiap hari Clara makan disini."
"Nggak tahu juga aku, Bu. Mungkin bekas makan kalau tengah malam lapar."
"Kenapa sampai ditumpuk-tumpuk, padahal Clara tinggal sendiri."
"Justru karna tinggal sendiri itu, Bu. Clara merasa nggak akan ada yang risih atau marah,"sahut Nabila terkekeh.
"Yasudahlah, mungkin juga karna capek kerja jadi dibiarkan menumpuk aja dulu."
"Sayurnya udah matang, Bu. Nabila mau ke kamar dulu, mau siap-siap."
"Iya, Nak. Ini juga tinggal ikan yang belum digoreng."
"Kalau gitu, Nabila tinggal ya, Bu."
"Iya."
Nabila menyiapkan tasnya yang akan di pakai ke kantor, tas yang bisa memuat tab, dompet, lipstik dan bedak, charger, handphone, dan lain-lain.
"Flashdisck hampir aja aku lupa bawa,"gumam Nabila mengambil benda kecil diatas nakas.
"Saatnya setrika baju."
__ADS_1
Nabila membuka lemari dan memilih pakaian yang akan dipakai, dia menyetrika bajunya sendiri tanpa menyusahkan ibunya.
***
"Pagi..."sapa Nabila pada semua orang yang sudah berkumpul di meja makan.
"Selamat pagi, Mbak,"balas Clara.
"Pagi, Mbak,"balas Kaisar.
Nabila menatap anaknya yang tengah disuapi oleh Wahyu tanpa melirik ke arahnya.
"Raksa?"panggil Nabila.
"Aksa makan disuap papa, Bu,"ujar Raksa bahagia.
Nabila mengusap lembut kepala anaknya, "Selamat makan, Nak. Senang banget ya disuap Papa?"tanya Nabila membuat Raksa mengangguk cepat.
"Makan, Nak,"ucap ibu Ros.
"Iya, Bu."
Hanya suara celoteh Raksa yang terdengar diruang makan, sesekali Wahyu menyahut celotehan Raksa.
"Papa sayang Aksa?"
"Sayang dong,"jawab Wahyu tersenyum.
"Holee... Aksa disayang Papa. Aksa sekalang punya Papa,"pekik Raksa riang.
"Iya, Nak. Sekarang Raksa makan yang banyak ya?"
"Ciap, Ibu,"jawab Raksa memberi hormat pada ibunya.
***
"Sar, kerjaan yang kemarin udah kan?"
"Yasudah. Kamu chat mbak berapa orang yang kerja, mbak mau pesanin makanan dan minuman, cemilannya kamu beli sendiri aja ya?"
"Iya, Mbak. Biar Kaisar yang siapin Cemilan dan kopinya."
"Oke, kalau gitu mbak berangkat dulu."
"Iya, Mbak. Hati-hati, Mbak udah pamit sama ibu?"
"Udah tadi, Sar."
Nabila masuk ke dalam mobil Clara yang sudah menunggunya sedari tadi. Sementara itu, Wahyu masih betah berada dirumah Nabila.
"Sar, kamu sibuk nggak hari ini?"tanya Wahyu dibelakang Kaisar.
Kaisar menoleh, "Eh Mas Wahyu. Nggak terlalu sibuk sih, Mas. Kenapa?"
"Kamu bisa ikut saya sebentar aja?"
"Emang Mas Wahyu mau kemana?"
"Nanti juga kamu akan tahu. Sekarang kamu siap-siap, sebentar lagi mobil jemputan tiba,"pinta Wahyu.
"Tapi saya tidak bisa sekarang, Mas. Saya mau kerumah dulu mau buka pintu dan nyiapin cemilan dan kopi buat yang kerja."
"Sebelum berangkat, kita mampir kerumah sana dulu dan nyiapin semuanya."
"Baiklah, Mas. Kalau gitu Isar ke kamar dulu."
"Iya."
Wahyu ikut melangkahkan kakinya menuju ruang tv tempat Raksa bermain bersama neneknya.
__ADS_1
"Bu, Wahyu dan Kaisar mau kleuar sebentar. Ibu mau ikut?"
"Tidak, Nak. Ibu dirumah aja jagain Raksa,"tolak ibu Ros lembut.
"Baiklah, Bu. Ibu jangan terlalu capek, cukup temani Raksa main aja, Bu."
"Iya, Nak. Ibu tidak akan memaksakan diri, lagian dirumah nggak ada yang bisa dikerjakan."
"Ayo, Mas. Saya sudah siap,"ajak Kaisar yang muncul dari arah kamarnya.
"Kamu sudah siap?"
"Iya, Mas,"jawab Kaisar, "Bu, Isar pamit ya? Mungkin setelah urusan dengan Mas Wahyu selesai, Kaisar langsung kerumah mbak Nabila."
"Iya, Nak. Kalian hati-hati, jangan lupa jaga tetap jaga kesehatan."
"Siap Ibu ratu,"balas Kaisar terkekeh.
"Ada-ada aja kamu, Sar."
"Kami pamit, Bu. Assalamualaikum,"ucap Wahyu dan Kaisar.
"Waalaikumssalam."
Setelah membuka pintu dan menyiapkan kebutuhan untuk pekerja.
"Sudah?"
"Iya, Mas."
Wahyu mengangguk, "Kita berangkat sekarang, Pak!"titah Wahyu pada supirnya.
"Sebenarnya kita mau kemana, Mas?"tanya Kaisar dengan rasa penasaran yang tinggi.
Wahyu tersenyum, "Sebentar lagi kamu akan tahu, tapi saya harap kamu tidak akan menolaknya."
Kening Kaisar mengkerut, penasaran dengan perkataan Wahyu, "Menolak? Memangnya kenapa, Mas?"
"Kita sudah sampai, Tuan,"ucap supirnya.
"Iya! Ayo kita turun, Sar!"
Kaisar celingukan, terperangah melihat toko yang ada didepannya, "Mas Wahyu mau beli sepeda listrik?"
"Iya! Ayo temani saya memilih yang cocok dipakai untuk membonceng anak-anak."
Kaisar tergagap, "I-iya, Pak."
Kaisar melangkah di belakang Wahyu, "Jalan disamping saya, Sar!"pintanya.
"Iya, Mas."
"Selamat datang di toko kami. Bapak dan Masnya mau cari sepeda model seperti apa?"tanya Karyawan toko.
"Kaisar? Kamu aja yang milih!"pinta Wahyu.
"Sa-saya, Mas?"
"Apa ini yang dimaksud mas Wahyu saya tidak boleh menolak? Mas Wahyu mau beli sepeda listrik untuk saya?"tanya Kaisar salm hati.
"Iya kamu,"jawab Wahyu, "Mbak, tolong dibantu adik saya, dia yang akan memakai sepeda."
"Mari Mas. Mas mau yang seperti apa?"
"Saya mau sepeda yang seperti dipakai keluarga artis AHHA itu, Mbak,"jawab Kaisar setelah berfikir beberapa saat.
"Ooh yang itu, Mas. Kebetulan stoknya masih ada, tapi sisa satu, Mas."
"Saya mau liat, Mbak."
__ADS_1
"Mari ikut saya, Mas."