
Jam 10 malam pekerjaan rampung, Kaisar dan yang lainnya membereskan peralatan yang dipakai bert3mpur. Mereka mencuci alat-alat yang sekiranya masih bagus jika digunakan lagi. Ahmad me-lap badan mesin yang terkena cat.
"Mas Kaisar, ini mesinnya saya taruh di dekat pintu ya? Besok pagi saya ambil sekalian mau dikembalikan ke pemiliknya."
"Boleh, Pak. Besok pagi-pagi saya juga sudah kesini lagi,"jawab Kaisar.
"Kaisar?"panggil Wahyu.
"Iya, Mas. Kenapa?"
"Sisini nggak dipasang ac?"
"Pasang, Mas. Cuma dapur aja yang nggak dipasang."
"Kapan pemasangannya?"tanya Wahyu sambil melirik kiri kanan tembok rumah.
"Setelah pemasangan kedap suara rampung, baru saya hubungi untuk pasang ac."
Wahyu menggangguk-anggukkan kepalanya, "Yasudah, sebaiknya kita pulang sekarang ini sudah menjelang tengah malam,"ajak Wahyu.
"Kalau begitu saya pulang duluan, Pak, Mas,"pamit Ahmad.
"Iya, Pak. Bapak hati-hati ya,"jawab Kaisar.
"Iya, Mas. Assalamualaikum,"salam Ahmad.
"Waalaikumssalam,"jawab Kaisar dan Wahyu.
"Ayo kiya pulang juga, Mas,"ajak Kaisar.
"Ayo!"
"Tapi, kita jalan kaki. Nggak apa-apa kan, Mas?"
"Nggak apa-apa, Sar."
"Kenapa nggak minta sama mbakmu buat dibelikan motor?"tanya Wahyu memecah keheningan perjalanan mereka.
"Nggak, Mas. Saya nggak mau menyusahkan mbak Nabila. Kasihan mba kerja sendiri menghidupi kami sekeluarga."
"Kamu nggak ada niat buat cari kerja?"
"Ada, Mas. Tapi saya harus memastikan dulu usaha yang akan dibangun mbak Nabila rampung dan mulai berjalan. Setelahnya saya akan mencari kerja."
"Kamu rencana akan melamar pekerjaan dimana?"
"Saya masih belum tahu, nanti saya akan coba cari-cari di sosial media."
"Kamu datang lah ke kantor Pramudya, kamu bisa bekerja disana. Katakan padanya kamu diutus oleh saya."
"Tidak, Mas. Saya tidak bisa masuk ke sana karna bantuan orang dalam."
"Pemuda yang hebat, diusianya yang masih sangat muda mampu berfikir sejauh ini. Jika orang lain yang saya tawari seperti tadi, pasti akan dengan senang hati menerimanya,"ucap batin Wahyu.
"Baiklah, jika suatu saat kamu kesulitan menemukan pekerjaan, datang lah padaku,"ucap Wahyu menepuk pundak Kaisar.
Sementara itu, Nabila kebingungan menenangkan Raksa yang terus merengek mencari papa Wahyu.
"Nak, tenang dulu. Papa sebentar lagi pulang,"bujuk Nabila.
"Raksa, sini main sama nenek. Kita tunggu papa sambil main,"bujuk ibu Ros.
__ADS_1
"No... Aksa mau papa,"teriak Raksa.
"Sudah, Nak. Kita telfon papa ya?"bujuk Nabila.
"No, Aksa mau ketemu papa..."teriak Raksa menangis seraya memuk*l-muk*l ibunya.
"Raksa, diam!"bentak Nabila.
Bentakan ibunya membuat Raksa terkejut dan merengek masuk ke dalam pelukan neneknya. Karna sedari pulang dari rumah baru, Raksa terus merengek. Bahkan Raksa menangis tantrum saat dibujuk-bujuk oleh nenek dan ibunya.
"Sabar, Nak. Jangan bentak anak kamu seperti itu,"tegur ibu Ros merangkul cucunya.
"Lepasin Raksa, Bu. Ini anak makin hari makin ngelunjak. Sini kamu,"ucap Nabila menatap tajam Raksa.
"Nek, Aksa tatut, Ibu..."ucap Raksa pelan.
"Istigfar, Nabila. Kamu sudah membuat anakmu takut,"ucap ibu Ros tegas.
Nabila mengh3mpaskan badannya di sofa, dia memijit pelipisnya dan menunduk, "Maaf, tiba-tiba aku tidak bisa mengontrol emosi,"ucap Nabila lirih.
"Mbak Nabila sebaiknya ke kamar aja, biar Clara yang membantu Ibu menenangkan Raksa."
"Tidak, Ra. Biar saya yang bujuk Raksa,"ucap Nabila kemudian berdiri mendekat pada anaknya.
Nabila mensejajarkan tinggi badannya dengan sang anak, "Nak, maafkan Ibu. Ibu salah sudah bentak Raksa,"ucap Nabila lembut pada anaknya.
Raksa bersembunyi dipunggung neneknya, "Tidak mau, Aksa tatut, Ibu..."sahut Raksa lirih.
"Jangan takut sama ibu, Nak. Maaf ya, Raksa mau ketemu papa kan? Ayo kita temui papa sekarang?"
Raksa perlahan mendekat ke arah ibunya dan segera memeluknhmya, "Ayo, Nak. Kita pergi sekarang."
Nabila berdiri dengan Raksa yang ada dalam gendongannya, dan berjalan menuju pintu utama.
Nabila menghentikan langkah kakinya, saat melihat Kaisar dan Wahyu masuk.
"Waalaikumssalam,"jawab ibu Ros dan Clara.
"Mbak mau kemana?"tanya Kaisar.
"Raksa kenapa, Nabila?"tanya Wahyu khawatir.
Raksa menoleh mendengar suara Wahyu, "Papa..."panggilnya.
"Iya, Nak. Ini papa,"jawab Wahyu mengambil Raksa dari gendongan ibunya.
"Raksa kenapa, Mbak?"
"Raksa mencari Nak Wahyu. Sepulang dari sana, Dia terus merengek dan menangis mau ketemu papa Wahyu nya."
"Astaga, selama itu Raksa menangis? Tadi Mbak nelfon aku, kenapa nggak bilang aja?"
"Mbak nggak enak nelfon hanya karna kemauan Raksa. Raksa terlalu dimanja makanya begini,"sahut Nabila.
"Wajar anak seusia Raksa begini, Nabila. Diumur segini memang kadang anak lebih sering tantrum, sebagai orang tua kita harus pintar-pintar menenangkannya,"sahut Wahyu lembut.
"Kaisar, ajak Nak Wahyu ke kamar kamu. Kalian pasti lelah,"pinta ibu Ros.
"Ayo, Mas. Saya antar ke kamar."
"Tunggu sebentar, Sar. Tunggu sampai Raksa tidur nyenyak."
__ADS_1
"Sepertinya Raksa sudah nyenyak tidurnya, Pak. Sini biar saya pindahkan ke kamar,"ucap Nabila ketika melihat matanya anaknya sudah terpejam.
"Tidak! Malam ini Raksa tidur dengan saya, sesuai janji saya tadi,"tolak Wahyu.
Nabila menghela nafas panjang, dengan berat hati dia menyetujuinya, "Baiklah, Pak Wahyu boleh ikut ke kamar Kaisar."
"Kalian sudah makan?"tanya ibu Ros.
"Sudah, Bu."jawab Kaisar.
"Yasudah, kalian ke kamar lah. Istirahat, ini sudah tengah malam."
"Iya, Bu." Kaisar melangkah menuju ke kamarnya di ikuti oleh Wahyu yang menggendong Raksa.
"Kalian juga tidur lah,"pinta ibu Ros pada Nabila dan Clara.
"Nabila tidur dirumah Clara malam ini, Bu,"ucap Nabila.
"Iya, kalian pergilah. Ibu akan mengunci pintu."
"Iya, Bu."
Nabila mengambil ponselnya yang ditaruh di atas meja ruang tv.
"Assalamualaikum,"salam Nabila dan Clara.
"Waalaikumssalam,"jawab ibu Ros.
***
"Mbak, udah ngantuk?"
"Belum, Ra. Saya nggak bisa tidur,"jawab Nabila pelan.
"Gimana kalau kita nonton drakor? Udah lama kita nggak nonton bareng,"usul Clara.
"Ide bagus, Ra. Kamu ada rekomendasi judul nggak?"
"Ada, Mbak. Saya jamin Mbak nggak akan nyesal nonton pilihan saya,"ucap Clara percaya diri.
"Oke oke... Saya percaya kamu jagonya dalam memilih judul drakor,"puji Nabila terkekeh.
"Clara gitu loh,"sahut Clara.
Clara mengambil laptop dan proyektor dan meletakkannya di atas sofa depan ranjangnya, dia mengarahkan proyektor ke arah tembok putih polos.
"Astaga... Clara? Kamu paling terniat dalam hal menonton drakor, sampai proyektor begini aja kamu siapkan,"ucap Nabila tak percaya.
"Hehehe... Sebenarnya nggak ada niat sama sekali, Mbak. Tapi ini dikasi sama pak bos, jadi aku manfaatin aja buat nonton drakor. Lebih seru nonton begini, berasa kayak di biosk0p nontonya,"ucap Clara terkekeh.
"Tinggal popcorn dan minuman aja ini, Ra."
"Bentar, Mbak,"sahut Clara lalu berjalan kepojok kamar dan membuka plastik kemasan popcorn, dan memasukkannya ke dalam mesin pembuat popcorn.
Nabila terkagum-kagum melihat isi kamar Clara yang ternyata lumayan lengkap, sampai mwain popcorn aja ada.
"Itu kamu beli juga, Ra?"
"Nggak, Mbak. Ini doorprize,"jawab Clara terkikik.
"Beruntung banget kamu dapat doorprize begitu, kalau diliat-liat dari merk nya pasgi mahal deh."
__ADS_1
"Bener banget, Mbak. Kalau mau beli sendiri mah, saya nggak sanggup, Mbak."