Kuambil Kembali Milikku

Kuambil Kembali Milikku
Kronologi


__ADS_3

Nabila sudah dipindahkan ke ruang perawatan vvip. Pak Wahyu yang memilih ruangan itu.


"Terimakasih Pak Wahyu atas semua bantuannya," ucap Clara sopan saat sudah berada dalam ruang perawatan Nabila.


"Ini sudah menjadi kewajiban saya Clara, karna Nabila bekerja diperusahaan saya dan juga saya yang membawanya kemari. Jadi, saya harus memastikan kenyaman pasien dan yang menjaganya selama dirawat," ucap pak Wahyu bijak.


"Sekali lagi terimakasih, Pak."


"Tidak perlu sungkan, saya akan tetap disini sampai Nabila sadar," ucap pak Wahyu dan menuju sofa diikuti oleh Galaksi.


Clara mendekat kearah Nabila yang masih memejamkan matanya. Dia dapat melihat dalam tidurnya Nabila menangis.


"Kenapa Mbak Nabila menangis? Apa yang membuatnya jadi seperti ini?" gumam Clara.


Diam, hanya itu yang mereka lakukan selama menunggu Nabila bangun dari tidurnya. Beberapa jam mereka menunggu sampai tiba-tiba.


Mata Nabila menatap tajam kearah langit-langit yang berwarna putih dan mulai menangis.


"Anakkuuu... Hiks... Hiks."


Tangisan Nabila membuat 3 orang menungguinya terkejut dan segera mendekat.


"Mba Nabila? tenang, Mbak!" ucap Clara.


"Kembalikan anakku... Hikss.. Hikss." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Nabila karna dia kembali mengalami sesak nafas.


"Dokter, suster..." teriak Clara panik.


"Gala cepat panggil dokter" titah pak Wahyu.


Dokter dan suster datang dengan terburu-buru.


"Permisi, beri ruang untuk pasien agar tidak merasa semakin sesak," ucap dokte yang menangani Nabila.


Clara, pak Wahyu dan Galaksi mundur sesuai arah dokter, dan membiarkan dokter menangani Nabila.


"Apa terjadi sesuatu dengan anak Ibu Nabila?" tanya Galaksi yang mulai penasaran.


Mendengar pertanyaan itu Clara terdiam seperti sedang mengingat sesuatu.


"Mba Nabila sering bercerita tentang anaknya dan sejauh yang mba Nabila ceritakan anaknya baik-baik saja karna diasuh oleh nenek dan omnya. Tapi tadi saat mba Nabila keluar dari ruangannya sedang telfonan dengan suamimya tapi sampai disitu semua baik-baik saja," ucap Clara seraya kembali mengingat kejadian dari mulai dikantor sampai tiba dirumah.


"Lalu saat kalian tiba dirumah?" tanya pak Wahyu.


"Saya kurang tau pak, tapi memang saya sempat melihat mba Nabila membaca sesuatu diponselnya dan. Tidak lama setelahnya mba Nabila mulai sesak nafas," ucap Clara saat berhasil memngingat semua.


"Bisa saya liat hp ibu Nabila?" tanya Galaksi.


"Boleh, Pak. Sebenarnya saya tidak enak membuka barang pribadi Mba Nabila, tapi ini demi kebaikannya juga," ucap Clara seraya menyerahkan hp Nabila pada Galaksi.


"Hpnya terkunci, apa kamu tau passwordnya?" tanya Galaksi.


"Saya nggak tahu, Pak!" ucap Clara lirih.


"Yasudah, kita tunggu kondisi Nabila membaik baru kita cari tau," usul pak Wahyu disetujui Clara dan Galaksi.

__ADS_1


Nabila sudah mulai tenang setelah mendapat penanganan. Dokter dan suster meninggalkan ruangan.


Clara mendekat "Mba?" panggilnya pelan.


Nabila dengan lelehan airmata menatap Clara "Clara... Anakku..."


"Ada apa dengan Raksa, Mbak?" tanya Clara pelan, lalu menatap kearah dua pria didepannya yang menunggu dengan rasa penasaran.


"Saya mau pulang mencari anak saya Clara... Hiks...hiksss."


Mereka yang mendengarkan perkataan Nabila terkejut.


"Apa yang terjadi, Mbak?" tanya Clara.


"Raksa diculik...hiks hiks." sekuat dan setegar apapun seorang ibu jika menyangkut anak pasti tetap akan rapuh seperti yang dirasakan Nabila saat ini.


"Kamu tau darimana kalau anakmu diculik?" tanya pak Wahyu.


"Ada yang mengirim video rekaman saat mereka menerobos kedalam rumah yang hanya anak dan suami saya didalamnya, sedangkan dalam video itu penculik itu jumlahnya ada 4 orang." Nabila menjelaskan semua yang terjadi dalam rekaman video yang dilihatnya.


"Penculikan anak ya? Memang akhir-akhir ini saya mendengar maraknya penculikan anak," gumam Galaksi tapi masih bisa didengar oleh Nabila.


Nabila bangun dan mencoba melepas semua selang yang menempel dibadannya.


"Pak Galaksi! Saya izin cuti beberapa hari, saya ingin pulang ke pontianak dan mencari anak saya," ucap Nabila mulai turun dari brangkar.


Saat tiba didepan pintu, ada seseorang yang menahan tangan Nabila.


"Jangan pulang sendiri dalam kondisi seperti ini, saya akan pergi bersamamu," ucap pak Wahyu.


"Pergilah, Mbak. Pak Wahyu orang baik pergilah bersamanya," jawab Clara lalu menyerahkan tas Nabila.


"Ayo kita berangkat sekarang, biar Gala dan Clara yang menyelesaikan urusan disini," ajak pak Wahyu seraya menarik lembut tangan Nabila.


***


Nabila tiba di pontianak dan sedang duduk dalam taksi menuju rumahnya. 30 menit perjalanan taksi yang ditumpangi Nabila dan pak Wahyu berhenti tepat depan rumah Nabila.


Nabila berdiri menatap rumahnya yang dari posisinya saat ini bisa melihat kekacuan yang terjadi dirumahnya karna pintu utama terbuka lebar dan kaca jendelanya juga pecah.


{Hallo.. Hiks...hiks... Isar mba pulang,} ucap Nabila saat panggilan tersambung.


Kaisar yang belum mengetahui kabar tentang penculikan Raksa panik saat mendengar suara kakaknya yang seperti sedang menangis.


{Mba, mba kenapa? Siapa yang menyakiti mba?} tanya Kaisar kalang kabut.


{Kaisar... Huuuu...huuu tolong mba.} pecah tangis Nabila saat mengingat anaknya.


{Mba? apa yang terjadi?} tanya Kaisar berlari keluar mencari ibu.


"Bu, ibu??" teriak Kaisar memanggil ibunya. Kaisar sangat panik saat mendengar suara tangisan kakaknya.


Nabila sudah tidak mampu untuk menjelaskan keadaan yang terjadi.


{Hallo, maaf mengganggu,} sapa pak Wahyu.

__ADS_1


Kaisar yang sangat panik terdiam saat mendengar suara pria asing yang mengambil alih hp kakaknya.


{Anda siapa?}


{Tidak penting siapa saya, yang penting saat ini Nabila sedang tidak baik-baik saja.}


{Apa yang kamu lakukan dengan kakak saya?} tanya Kaisar geram.


{Nabila sekarang berada dirumahnya yang di Pontianak, kemarilah secepatnya,} ucap pak Wahyu.


Sambungan telfon terputus bertepatan dengan ibu Ros keluar dari kamarnya dengan panik karna mendengar suara Kaisar berteriak memanggilnya.


"Kamu kenapa teriak-teriak Kasiar?" tanya ibu Ros.


"Bu sekarang pake jilbab ibu, kita kerumah mba Nabila."


"Apa yang terjadi dengan Raksa?" tebak ibu Ros mulai panik.


"Isar belum tahu, Bu. Tapi mba Nabila ada disana dan sedang menangis."


"Nabila? Nabila pulang?"


"Ibu ayo cepetan, kita nggak punya banyak waktu," ucap Kaisar mulai gemes dengan ibunya yang banyak tanya diwaktu yang kurang tepat.


"Tunggu ibu, kamu siapin motornya ibu akan segera menyusul."


Dari jauh terlihat Nabila menangis diteras rumahnya dengan seorang pria disampingnya yang sedang berusaha menenangkan Nabila.


"Nak, Nabila kamu kenapa nak?" tanya ibu berlari memeluk anaknya.


"Ibuuu.... Huuu...huuu Raksa bu, Raksa diculik," ucap Nabila.


"Apa?" pekik Ibu dan Kaisar kaget.


"Raksa diculik? Siapa yang menculiknya? Dimana Samudra? Dia berjanji akan menjaga Raksa dengan baik selama bersamanya." Berbagai pertanyaan yang dilontarkan Kaisar.


Ibu menenangkan Nabila. Tetangga mulai mendekat saat mendengar suara tangisan Nabila.


"Ibu Nabila yang sabar ya.. Kami doakan semoga Raksa cepat ditemukan," ucap salah satu tetangga Nabila.


"Ibu-ibu apa yang melihat kejadian saat penculikan terjadi? Kenapa tidak ada yang melapor polisi?" tanya pak Wahyu.


"Saya hanya melihat pak Sam masuk menggendong Raksa yang sudah tidur, terus sekitar 1 jam kemudian tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti didepan rumah ibu Nabila dan keluarlah 4 orang berbadan besar dan memakai topeng. Tidak lama setelah itu terjadi keributan dari dalam rumah, mungkin pak Sam mencoba bertahan tapi saat kami ingin menolong ternyata penculik memiliki senj4t4 t4j4m jadi kami tidak berani mendekat, sedangkan pas Sam sendiri sudah tidak sadar dengan kondisi luka disekujur tubuhnya." salah satu tetangga Nabila yang menjadi saksi menjelaskan kronologi kejadian.


"Maaf saya juga yang meminta istri saya mengirim video rekaman yang saya ambil ke ibu Nabila," lanjutnya.


"Lalu dimana sekarang mas Sam?" tanya Kaisar.


"Pak Sam juga dibawa oleh mereka, Mas."


"Ya Allah, anak dan suamiku sedang teranc4m ny4w4nya. Apa yang harus saya lakukan," ucap Nabila disela tangisannya.


"Kalau begitu kami permisi pak, jika ingin melapor polisi saya siap jadi saksi dan memberikan buktinya," ucap tetangga Nabila.


"Baiklah terimakasih, Pak. Informasi dari Bapak sangat berarti bagi kami," ucap Kaisar.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2