Life Of Dea

Life Of Dea
#100


__ADS_3

Martin akhirnya sampai di Los Angeles, tapi sebelum ia tiba Siska sudah diculik oleh seseorang bersama temannya ketika jam istirahat sekolah. Siska yang tidak sadarkan diri dibawa keruangan kosong dengan tangannya diikat dan mulutnya diperban. Yuni sudah berkali-kali pingsan karena kehilangan putri semata wayangnya.


Kabar ini sudah sampai ke Martin dan Dea, penjagaan dimansion Dea diperketat dan si kembar maupun anak dan istri Mike sedang dimansion Dea. Mereka tidak boleh kemana-mana dan anak-anak tidak ada masuk sekolah. Karena Martin kuatir jika anak-anak mereka sekolah dan diculik sementara dirinya sedang di Los Angeles bersama Mike untuk mencari Siska cucu kesayangan Martin dan Dea. "Hallo sayang, tenangkan dirimu. Semua pasti baik-baik saja" ujar Dea yang saat ini sedang berbicara dengan Yuni.


"Aku tidak bisa hidup tanpanya Bi" isak Yuni yang terbaring ditempat tidurnya.


"Mom, dont be sad" ucap Gavrael menenangkan


"Yes soon, Mommy sedih karena adikmu belum ditemukan" balas Yuni memeluk Gavrael sementara tangannya masih memegang phonselnya.


Dea yang mendengar percakapan Yuni dan Gavrael akhirnya ia memutuskan panggilannya dan beranjak dari kursi menuju ruang kerjanya.


"Hallo, aku punya tugas untukmu. Cari sampai dapat orang ini dan jangan sampai lecet sedikit pun dan ingat jangan sampai ada yang tahu" ucap Dea pada seseorang. Setelah memutuskan panggilannya Dea akhirnya mengirim photo Siska kepada orang suruhannya yang tanpa diketahui oleh Martin.


Setelah selesai dengan urusannya Dea keluar dari ruang kerjanya menuju kamar anaknya, Dea tersenyum melihat keakraban sikembar dengan sepupu mereka Theo anak dari Liliana dan Mike.


"Apa mereka sudah menemukan Siska,?" tanya Liliana yang sama kuatirnya dengan Dea


"Belum, bahkan Martin belum sampai juga disana" balas Dea sambil memijit pelipis keningnya.


"Semoga Uncle Willi dapat menemukannya"


❣️❣️❣️


Martin sudah tiba dan Helikopter mereka mendarat di atas Rooftop gedung pencakar langit milik Dimitri.

__ADS_1


"Dimana Gerald?" tanya Martin yang sedang menghubungi sekretaris Gerald karena phonsel Gerald tidak aktif.


"Tuan Gerald dari tadi pagi sudah pergi Tuan" balas sekretaris Gerald


"Baiklah, aku akan keruangan ku sekarang" jawab Martin sambil menekan tombol ke lantai bawah tempat ruang kerja Martin dengan tatapan mengerikan. Martin melangkah lebar karena ini sudah menyangkut keluarganya, bagi Martin setelah Nahendra meninggal tanggung jawabnya semakin besar untuk menjaga seluruh keluarganya.


Sesampai dia diruangan kerjanya dulu, dia langsung menghubungi Gerald namun sayang Gerald tak menjawabnya dan hal itu membuat Martin kesal.


Martin akhirnya menghubungi Willi


"Sudah bagaimana?" tanya Martin langsung


"Belum ada kabar Uncle, aku sudah mengerahkan anak buah kita keseluruh kota ini dan bahkan sampai pelosok mencarinya. Namun belum ada ditemukan tanda-tandanya Uncle." jawab Willi


"Cek semua CCTV saat disekolah, CCTV seluruh kota ini cek semua. Gerald juga tidak bisa dihubungi" saat ini." balas Martin frustasi


"Yuni sangat terpukul dengan ini semua Uncle" lirih Willi dari sebrang sana.


"Baiklah, jaga Yuni baik-baik. Biar aku yang turun tangan mengatasi semuanya. Namun coba ingat siapa musuh atau yang tidak menyukai kalian atau lawan bisnismu." ucap Martin sambil mengusap wajahnya dengan kasar


Namun saat Martin kesal phonselnya berdering dari nomor baru. Martin langsung menjawab panggilan tersebut "Kakek, tolong aku" (Logat bahasa Indonesia)


Martin terdiam, tubuhnya tiba-tiba membeku mendengar suara merdu yang cempreng yang biasa didengarnya, ah ia mendengar suara ini dua minggu yang lalu. Suara milik seorang bocah kecil yang saat ini sedang ia cari. Bukan hanya dirinya tapi semua orang sedang mencarinya.


"Siska, What do you say? Where are Darling?" tanya Martin dengan cemasnya.

__ADS_1


"Kakek, saya pakai bahasa Mommy. Tolong aku Kakek, seseorang menyuruh aku dan teman ku lari katanya aku harus menghubungi Kakek dan lacak phonsel ini Kek" ucap Siska bersama temannya yang sedang berada dibawah saluran pembuangan limbah rumah tangga.


"Oke Darling, pastikan Phonselmu hidup jangan sampai mati. Kakek akan menjemput kamu dan temanmu" kata Martin sambil berlari keluar menuruni anak tangga karena cemasnya Martin lupa menggunakan lift mau pun helikopter.


Sesampai dilobi Martin mengatur nafasnya, "Siska, Kakek yakin kamu anak pintar. Carilah tempat aman jangan sampai terluka dan terpisah. Mengerti, selalu gunakan bahasa ibu mu. Dan ubah mode phonselmu sayang, dan simpan kedalam baju mu" ujar Martin mengajari cucu kesayangannya itu.


"Kakek, cepat datang teman ku kakinya berdarah" lirih Siska menahan suara tangisannya karena mereka takut terdengar oranglain tempat persembunyiannya.


Sementara Dea sedari tadi menunggu kabar dari suruhannya belum ada juga, namun selang berapa menit masuk notif jika phonsel yang biasa ia gunakan dulu ada sinyalnya. Berarti phonsel tersebut sudah ditangan cucu kesayangannya. Tanpa menunda waktu ia langsung melacak gps phonsel siska, berketepatan sinyalnya masih kuat dan saat itu juga Siska yang sedang menghubungi Martin.


Dea tidak pernah menceritakan dirinya dulu seperti apa, Dea dan Virez pernah bergabung di club Max Black merupakan perkumpulan mafia dan perdagangan illegal. Disini Dea bisa menjaga diri dan mereka semua yang bergabung di Max Black yang terkenal berbahaya itu sangat akrab dengan Dea dan Martin tidak tahu akan itu sampai saat ini.


Dea menyuruh seorang yang terkenal hacker mencari dan menjebol cctv yang ada di kota tempat Siska dan Willi berada dan dari sana mereka bisa melacak dimana Siska dibawa dan siapa dalang dari semuanya ini.


Hanya orang yang menculik Siska suruhan seseorang bahkan orang yang menculik siska bunuh diri karena sudah ketahuan oleh anggota Max Black. Mereka bingung dan ketakutan begitu mengetahui jika salah satu anggota Max Black turun tangan dan mereka kecewa pada orang yang menyuruh mereka. Jika mereka tahu berhadapan dengan siapa saat ini, mereka tidak akan menerima tawaran ini sama sekali. Namun sayang Dea tidak bisa mendapat siapa yang menyuruh mereka, anggota Max Black terkejut melihat tawanan mereka yang bunuh diri didepan mereka sendiri.


"Cait aku akan mencari Siska" ucap suruhannya kepada Dea.


"Cari sampai dapat, bawa ketempat aman dan perhatikan sekitarmu. Sampai Martin menjemput mereka" jawab Dea


Dea memutuskan panggilannya, dan termenung. Ia memikirkan siapa kali ini yang mencoba mengganggu keluarga suaminya. Banyak yang tidak menyangka jika melihat Dea yang begitu polos ternyata sifat kejamnya melebihi suaminya. Dan hanya Virez yang tahu kenapa Dea ikut bergabung dengan club Max Black yang merupakan kumpulan Mafia kelas kakap.


Dea terpaksa meminta bantuan satu kumpulan mereka karena sudah menyangkut keluarganya.


"Brengsekk" teriak seseorang yang sudah acak-acakan karena emosinya. Dia tidak menyangka jika Anggota Max Black turun tangan menyelamatkan penculikan siska. Dan terpaksa orang yang menculik Siska melarikan diri dan bersembunyi dengan aman

__ADS_1


"Awaass kau Yuni, kali ini kau berhasil lolos tapi lain kali tidak akan. Harta mu paling berharga yang akan membuatmu hancur sehancurnya seperti aku sekarang ini. Aku tidak takut jika Dimitri turun tangan untuk menangkap ku" ucap seseorang penuh penekanan dan sorot mata yang merah dan penuh dendam dan kebencian. Ia sangat membenci keluarga Niels dan Dimitri.


__ADS_2