
"Tuan, target sudah dimarkas" ucap anakbuah Nahendra.
"Hemm, pastikan dia agar tidak mati dengan mudah." balas Nahendra sambil memangut-mangut.
"Akseno, aku pastikan dia akan mendapat ganjaran yang setimpal dengan apa yang sudah diperbuat mereka terhadap putrimu" gumam Nahendra dalam hati.
Martin dan Kinan saat ini harus menghadiri rapat yang tidak bisa, diundur dikantor Dea untuk menggantikan Dea.
Jadi saat ini hanya perawat, yang menjaga Dea dan bodyguard suruhan Martin.
Dea masih koma, ini sudah hari ketiganya di ruangan tersebut.
Saat ini perawat sedang membersihkan tubuh Dea, dan membersihkan tubuhnya dengan kain basah secara pelan dan lembut serta menggantikan impus yang terpasang ditangan Dea. Sampai jemari tangan Dea bergerak, namun perawat tidak melihatnya.
Setelah selesai, perawat tersebut meninggalkan ruangan Dea, yang dimana hanya ada satu pasien saja yaitu Dea seorang.
Martin mengerjakan, semua pekerjaan Dea yang tertunda, sebagai tunangan Dea. Dia hanya menanyakan kabar Dea melalui Kinan. Dan Kinan selalu mendapat kabar serta vidio Dea setiap satu jam sekali.
Saat ini Martin masih menjumpai klien-nya sekaligus makan malam bersama. Tak terasa saat ini sudah pukul 11 malam, Martin yang baru pulang dari salah satu Restoran ternama di london.
Martin langsung menuju kerumah sakit dan Kinan pulang ke Apartemen karena Martin melarang Kinan kerumah sakit karena Kinan sudah kelelahan dan mesti istirahat.
__ADS_1
Martin langsung menuju keruangan Dea, begitu tiba dirumah sakit.
"Hallo Honey, bagaimana hari ini? Apakah nyaman sayang?! Kau tahu, aku seharian bersama Kinan menyelesaikan pekerjaan mu dan menunda acara pernikahan kita sayang" ucap Martin menggemgam dan mengecup punggung tangan Dea dengan lembut.
"Sayang, kamu tidak merindukan ku?! Kamu tidak mau melihat wajah ku?" bisik Martin ketelinga Dea dan mengecup pipinya.
Tanpa disadari Martin jika jari Dea bergerak dan memberi respon dari setiap ucapan yang dibisikkan oleh Martin ketelinganya.
Martin tertidur disamping Dea sambil menggemgam tangan kekasihnya dengan erat, seperti takut ditinggalkan.
Sementara di Los Angeles Miko yang baru saja bangun dari pingsannya. Pasrah dengan apa yang akan terjadi nantinya dihidupnya, Nahendra tidak pernah melihatnya ke markas.
Cukup hanya sebatas membantu, selebihnya biarkan Dea yang memutuskannya.
Nahendra sedang berada diruang kerjanya, setelah menerima laporan dari anak buahnya tentang keadaan Miko saat ini.
Yang dimana Miko masih syok, dan hanya diam saja setelah melihat keadaannya yang sekarang.
❣️❣️❣️
Dea mulai mengkedipkan matanya dengan perlahan-lahan, dan begitu juga jemari Dea mulai diangkatnya.
__ADS_1
Yah Dea sudah sadar dari komanya, Dea memandang langit kamar tempatnya berada.
Dan pandangannya menyusuri, keseluruh ruangannya dan manik matanya berhenti kearah dekat kakinya.
Dea mulai meraba rambut hitam milik Martin, Dea tahu itu adalah kekasihnya. Martin yang merasakan ada yang menyentuhnya, dengan spontan dia bangkit berdiri dan melihat kekanan kekiri tapi dia tidak menemukan siapa pun didalam ruangan itu.
Martin mengacak rambutnya dan mengusap wajahnya lalu dia menoleh kearah Dea, Dea tersenyum kecil melihat tingkah kekasihnya yang kebingungan.
Martin syok bahkan tidak bergerak sama sekali melihat Dea beberapa kali mengkedipkan matanya serta memanggilnya.
"Honey" lirih Dea sangat pelan hampir tidak terdengar.
Martin menundukkan wajahnya dan membuka oksigen yang terpasang dihidungnya Dea, Martin memandang lekat wajah Dea yang pucat yang sedang tersenyum kearah Martin.
"Saa-, Sayang"lirih Martin menangkup kedua pipi Dea dan melihat senyuman kekasihnya itu dengan jarak sangat Dekat.
"Hemm" balas Dea sembari menganggukkan kepalanya dan Martin langsung mencium bibir ranum Dea yang pucat itu dengan lembut.
Martin melepaskan ciumannya, dan mengecup seluruh wajah Dea dengan sangat bahagia.
"Thank you honey, sudah mau bertahan dan bangun" kata Martin memeluk Dea dengan erat dan mengelus pundak kekasihnya.
__ADS_1