Life Of Dea

Life Of Dea
#61


__ADS_3

Saat ini Dea dan Kinan sedang makan siang di restoran yang ada didekat kantor mereka.


Karena selesai itu, mereka harus menjumpai klien mereka diperusahaan kliennya tersebut.


Dea telah mengabari bahwa dirinya sedang makan siang bersama kinan dan akan langsung keperusahaan klien mereka.


Memberi kabar sudah menjadi kewajiban antara Dea dan Martin karena Dea tahu bahwa Martin melakukan itu karena dia tidak ingin kecolongan yang buruk terjadi pada Dea.


"Kak, bagaimana hubunganmu dengab hiro?" tanya Dea sembari memakan spaggeti sebagai menu makan siangnya.


"I dont know, kami tidak ada komunikasi lagi semenjak aku menolaknya" ucap Kinan lesu dan menghembuskan nafas kasarnya.


"Sewaktu di acara pertunangan ku, dia sering melihatmu dari jauh" ucap Dea


"Mungkin dia hanya melihat saja sama halnya dengan yang lain" balas Kinan yang sedang meneguk Ice Lemonnya.


"Sorry, apa Kakak mencintainya?" tanya Dea lagi


"Kakak gak tahu Dea, cuma setelah kami tidak ada komunikasi Kakak selalu merindukannya dan bahkan sering nangis. Kakak begini karena Kakak ngerasa gak pantas saja. Dia tahu keluarganya sementara aku, tidak tahu siapa keluarga ku bahkan ayah ibu ku saja aku tidak tahu" ucap Kinan sedih


"Fix. Kakak cinta banget sama Hiro" tegas Kinan


"Maybe" balas Kinan santai


"Hubungi gih, tanya kabar" ucap Dea kembali


" Aku malu Dea" balas Kinan.


Diam-diam Dea menghubungi Hiro, dan mengecilkan suara phonselnya agar tidak terdengar oleh Kinan.


Dea langsung meletakkan Phonselnya diatas mejanya sampai Hiro mengangkat telpon dari dirinya.


"Jadi Kakak cinta sama Hiro? tanya Dea agak meninggikan volume suaranya agar terdengar oleh hiro


"Hallo Dea, ada apa menghubungi ku?" tanya Hiro tapi, dia mendengar dengan jelas pertanyaan Dea yang tidak tahu sedang berbicara dengan siapa.


"Hemm, aku sangat mencintainya" jawab Kinan

__ADS_1


Deg


Hiro tahu itu suara siapa, dia hanya diam saja. Hiro tidak tahu apa maksud Dea yang menghubunginya, disaat Kinan dan Dea sedang mengobrol bersama.


"Jika Kakak cinta sama Hiro, kenapa Kakak menolak lamarannya?" tanya Dea lagi


Kinan membuang wajahnya menatap kearah yang lain.


"Aku malu pada diriku sendiri, karena aku tidak mempunyai siapa pun didunia ini Dea. Kau lihatlah Hiro, dia masih tahu siapa orangtuanya dan aku malu pada diriku sendiri." lirih Kinan


Dea langsung meraih dan menggemgam tangan Kinan.


"Jangan pernah bilang Kakak hanya sendiri. Kau Kakak ku, jadi kau masih punya keluarga yaitu aku dan abang Jerry. Aku sedih karena ucapan mu Kak" jawab Dea berpura-pura sedih.


"Dea, maafin Kakak. Bukan maksud Kakak seperti itu. Kakak sangat menyayangimu, hanya kadang Kakak rindu sosok orangtua kandung Kakak seperti apa" ucap Kinan terisak karena baru kali ini Kinan mengutarakan isi hatinya kepada Dea.


"Kakak sabar ya, nanti kita cari siapa orangtua Kakak" jawab Dea tersenyum


"Tidak perlu Dea, aku memiliki mu saja sudah cukup" balas Kinan menyakini Dea.


Hiro senang karena dia tahu perasaan Kinan sebenarnya, dan dia sedih karena wanitanya menangis disaat dia jauh dan telah mengabaikannya beberapa hari yang lalu.


"Sorry" lirih Hiro pelan dan memutuskan panggilan telponnya.


"Sudah-sudah, ayo kita berangkat sekarang. Masih ada setengah jam lagi, sebelum kita telat." ujar Dea bangkit berdiri dari tempat duduknya.


Kinan mengambil tas selempangnya dan menghirup sisa ingusnya yang keluar diakibatkan karena dia sempat menangis dan membuat ingusnya jadi meleleh. 😁


Lain halnya dengan Hiro setelah mendengar pembicaraan Dea dan Kinan, dia tidak fokus bekerja sampai Martin bingung melihatnya.


Sudah ada sepuluh kali Martin menggedor pintu ruangannya tapi Hiro masih tidak bergeming. Tatapannya yang kosong, dengan posisi duduk tegak di kursi wakil CEO diperusahaan Dimitri Crop.


Martin berjalan dan menendang kaki meja yang ada diruangan itu, dan menimbulkan suara yang keras dan membuat Hiro terperanjat.


"Uncle, kau kenapa?" tanya Hiro langsung berdiri dan menghampiri pamannya itu yang sedang berdiri dan berkacak pinggang


Huuuff

__ADS_1


Martin menghembuskan nafasnya dan mengusap wajahnya pelan.


"Kau yang kenapa? siang-siang begini malah bengong. Awas kesambet Hantu nyiblorong baru tahu rasa" ucap Martin


Hiro bingung, dengan perkataan pamannya itu.


"Hantu Nyaibolorong" eja Hiro yang masih gagal paham


"Bukan Nyaibolorong tapi Nyibllorong" ucap Martin yang langsung duduk disofa dan melipat tangannya didada bidangnya itu.


"Emang ada Hantu Nyi,- Nyiblorong" tanya Hiro yang penasaran


"Kenapa kita jadi bahas Hantu??" bentak Martin


"Uncle sendiri yang bahas, bukan aku. Aku hanya memastikannya saja" celah Hiro yang kesal.


"Hantu Nyiblorong cuma ada di Indonesia tidak ada di Los Angeles" kekeh Martin yang melihat wajah polos keponakannya.


"Sialan!" maki Hiro geram merasa dikerjai oleh pamannya yang sok cool itu.


"Kamu kenapa? mikiri Kinan??" tanya Martin


Hiro langsung menghamburkan dirinya disamping pamannya dengan wajah polosnya.


"Uncle, aku boleh izin? Aku ingin menjumpai Kinan. Aku merindukannya" ucap Hiro serius


"Tapi dia sudah menolakmu?' ucap Martin santai


"Tapi aku yakin Uncle, bahwa dia sangat mencintaiku" balas Hiro dengan kepercayaan yang tinggi


"Minggu depan. Hanya satu minggu saja" balas Martin bangkit berdiri dan meninggalkan Hiro yang masih terbengong dengan jawaban yang diberikan Martin kepadanya.


"Uncle, kau kah itu?? Emang cinta bisa merubah segalanya. " gumam Hiro masih memandang kearah pintu ruanganya.


"Kinan sayang, abang Hiro datang" ucap Hiro beridiri dan melompat kecil kegirangan sembari merentangkan kedua tangannya


Jangan Lupa Like Komen Vote dan Favorit

__ADS_1


__ADS_2