Life Of Dea

Life Of Dea
#75


__ADS_3

Saat ini Martin dan Dea pulang ke Apartemen Martin, karena ia memilih ke Apartemen dulu sebelum mereka berangkat ke New Zealand untuk berbulan madu. Namun sesampai di lobi Apartemen phonsel Martin berdering, nama Gerald muncul dilayar benda pipihnya itu. Martin menoleh kearah istrinya, dan memeluk pundak Dea "Kamu duluan ya, aku angkat telfon dari Gerald dulu sebentar. Nanti aku nyusul kedalam" ucap Martin mengecup bibir Dea yang manis itu. Dea hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya lalu mereka berdua beranjak keluar dari mobil dan Dea langsung masuk kedalam lift.


Martin melihat punggung Dea yang sudah menghilang baru dia menghubungi kembali sekretarisnya itu. "Ada apa, kenapa kau meneleponku berkali-kali" tanya Martin yang menerka-nerka bahwa akan ada masalah baru jika sekretarisnya sampai menghubunginya berkali-kali karena itu adalah kode jika mereka dalam masalah.


"Maaf Tuan, apakah Tuan bersama Nonaaa, uops sorry maksudnya Nyonya Dea?" ucap Gerald kecoplosan dan langsung menutup mulutnya.


"Ya, dia bersama ku dan dia ada didalam apartemen" jawab Martin


"Berarti Nyonya tidak lagi bersama dengan Tuan kan??" tanya Gerald kembali dan tentu saja hal itu membuat Martin berang dan kesal


"To the point saja Gerald!! What Happend?" bentak Martin kesal dan geram


"Dia kembali dan mencari anda" jawab Gerald gugup

__ADS_1


"Siapa??! Aku tidak suka menebak-menebak Gerald!!'?" ucap Martin mengacak-acak rambutnya


"Mantan Istri Anda Tuan" jawab Gerald tegas dengan suara beratnya.


"What??? She is back?? Cihhh.. Apa dia sudah dibuang kekasihnya karena itu dia datang dan mencariku?" decak Martin sambil memukul kap depan mobilnya dengan keras menimbulkan suara yang sedikit keras dan orang yang ada disekitarnya melihat kearahnya. Martin baru menyadari jika dia sedang berada diluar, tapi tanpa dia sadari dari atas sana Dea sedang memperhatikannya dengan lekat, "Apa yang kau sembunyikan dari ku, Honey?" gumam Dea pelan yang tidak melepaskan pandangannya menatap Martin yang sedang mengacak-acak rambutnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


Sekitar lima menit Dea berdiri memandang kebawah, Martin yang sedari tadi berbicara di phonselnya tanpa dia ingat bahwa dia telah mengabaikan istrinya sendiri di apartemen.


Dea beranjak dari tempatnya memilih berendam untuk menenangkan pikirannya dan setengah jam dia selesai berendam, ia keluar mengchek suaminya ternyata tidak ada didalam apartemen dan semua kamar sudah diperiksa tidak ada tanda-tanda suaminya datang. Lalu Dea beranjak menuju jendela dan melihat kebawah mobil Martin tidak ada disana lagi.


"Mungkin urusan kantor, bukan yang lain" ucap Dea yang menyakinkan firasatnya bahwa suaminya tidak akan mengecewakannya.


Dea menuju kekamar dan mengambil baju ganti didalam koper dan memakainya lalu ia beranjak ke dapur memasak makan malam mereka.

__ADS_1


❣️❣️


Saat ini sudah pukul Tujuh malam, Dea yang sudah rapi dan duduk diruang makan sembari menunggu kedatangan suaminya yang sedari tadi tidak membalas smsnya bahkan panggilannya tidak dijawabnya. Dea semakin cemas lalu menghubungi Hiro suami Kakaknya Kinan.


"Hiro, kau dimana?"


"Aku di Apartemen, mau bicara dengan Kinan?" kata Hiro melihat kearah Kinan yang sedang membuka kemeja Hiro karena ia baru saja pulang dari kantor.


"Tidak, aku hanya ingin tanya keberadaan Uncle mu Martin. Apa dia masih dikantor saat ini?" tanya Dea yang memasang kupingnya dan hatinya menunggu jawaban dari Hiro.


"Maaf Dea, tapi Uncle tidak ada datang kekantor satu hari ini" balas Hiro sambil berfikir keras kemana pamannya itu.


"Baiklah, karena tadi dia pergi ketika aku tertidur dan aku pikir dia kekantor. Siapa tahu dia membeli makan malam untuk kami kali ya. Makasih ya Hiro, maaf mengganggu waktu kalian" ucap Dea sungguh-sungguh tidak enak kepada Hiro.

__ADS_1


"Martin dimana dirimu, kenapa aku merasakan ada kejanggalan, kecemasan dari wajahmu tadi" kata Dea meremas phonselnya dan mengetatkan rahangnya dan matanya mulai berkabut namun ditahannya agar tidak tumpah.


Jangan lupa dukungannya


__ADS_2