
Didalam ruangan yang sunyi seorang pria yang tidak pernah menunggu karena dia seorang pemimpin perusahaan dan seorang mafia yang tidak pernah melakukan hal seperti itu, tetapi kali ini dia harus menunggu lama.
Selesai makan siang dari restoran hotel tempatnya menginap dia kembali lagi keperusahaan dea untuk menjumpai dea maupun kinan. Dari pukul dua siang sampai jam lima sore tanda-tanda kedatangan dea maupun kinan tidak ada muncul membuat Martin kesal tapi dia harus menahan emosinya untuk sebuah kata maaf dan sebuah hubungan serius yang akan dijalani kedepan hari ini.
Martin berada diruangan Kinan, memandangi setiap sudut ruangan dan dia melihat poto kinan dan dea diatas meja kerja kinan dan poto kedua orangtua, begitu dia lama memandangi poto kedua orangtua kinan dia menyadari satu hal bahwa dia sering bersama berjumpa dengan orangtuanya. "Uncle Axton" gumam Martin
Apa ini orangtua Kinan??? atau Dea??? dia masih mencoba mengingat dan tak kunjung berhasil. Akhirnya dia menghubungi kakak iparnya.
"Kakak apa kau ingat sama uncle axton??"
"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Nahendra
"Nama putrinya siapa Kak?" tanya Martin lagi
"Hei kecebong, kau menghubungiku menanyakan hal itu, dan kau sudah d mengganggu permainanku dengan cucu ku" geram Nahendra
"Aku serius kakak, dia punya dua putri??"
"Whattttttt!!! Tidak, dia mempunya satu orang anak yaitu putri tunggalnya Caitlin Deanada Axton yang sudah kau kasari dan kau buat tangannya cedera. Ingat Martin jika tangannya tidak sembuh maka aku akan mengamputasi tanganmu" teriak Nahendra dan langsung mematikan panggilannya begitu saja.
"Ck, sudah tua belagu sok kejam. Dea... Ternyata kau Gadis Kecil ku" gumam Martin dan melengkungkan sudut bibirnya terbentuk sebuah senyuman kecil.
"Aku tidak salah lagi, dia selalu ku gendong dan memanggil ku Jack karena aku mirip Michael Jackson. Entah dari sudut mana aku mirip dengan artis itu padahal wajah ku alami sementara dia entahlah, hanya Tuhan yang tahu." gumam Martin sambil meletakkan bingkai poto diatas meja itu kembali.
Martin melirik jam tangan limited editionnya menunjukkan pukul enam sore, dia memutuskan keluar ruangan tersebut menjumpai sekretaris Kinan.
"Sudah dimana bos mu?" tanya Martin lagi
"It....Ituu Pak, sudah dijalan" jawabnya terbata-bata
"Jalan apa?? Jalan lurus, tikungan atau belokkan??"
"Sudah berapa kali kau katakan bahwa bos mu sudah mau sampai, apa perlu duluan dirimu ku buat sampai ke SURGA ATAU KENERAKA" tegas Martin menekankan ucapannya.
"Maaf Pak" lirih Hera sudah mulai gemetar
Martin melihat tubuh sekretaris tersebut mulai gemetar dia menaikkan alis matanya, dia mulai keisengannya saja karena dia sudah mulai bosan menunggu sedari tadi.
"Buatkan aku Kopi" pinta Martin
"Baik Pak" jawab Hera langsung pergi begitu saja tanpa menanyakan kopi apa yang akan dibuat dan takaran gulanya juga dia tidak tahu.
"Ini Pak kopinya" sodor Hera
Martin melihat kopi yang dihidangkan tersebut dan memandang lekat ke wajah Sekretaris Kinan.
"Saya tidak minum kopi hitam, ganti?"
"Baik Pak" jawab Hera
Hera langsung meninggalkan ruangan tersebut sambil menggrutu, hidupnya tersial hari ini. Dia harus jalan melewati berberapa ruangan untuk ke pantry membuat kopi.
Akhirnya Hera membuat Capcucino dan mengantarnya keruangan tempat Martin berada tapi sayang ditolak Martin karena terlalu manis.
Hera yang sudah mulai emosi dan membuatnya kembali dengan takkaran yang sudah dikurangi tanpa bertanya dulunya. Hal itu membuat Martin gelo sendiri, sekretaris kinan sedikit ceroboh itulah penilaian Martin terhadap Hera.
__ADS_1
Hera datang dengan membawa nampan diatasnya sudah ada kopi pesanan Martin dan lagi lagi dia salah, Martin tidak pernah memintannya menambahkan gula kedalam kopinya tapi kali ini dia meminta menambahkan susu sebanyak satu sendok makan saja.
Hera menghentakkan sepatunya dengan keras karena kesalnya sudah dikerjai oleh Calon Suami Presiden mereka sendiri.
"Ini Pak Kopinya ku harap ini sudah yang terakhir" ucap Hera sambil menatap tajam kearah Martin.
"Kemarilah, duduk" perintah Martin
Hera bagaikan kerbau dicucuk hidungnya mengikuti semua ucapan Martin.
"Kamu tahu kesalahanmu??" tanya Martin
"Tidak ada" tegas Hera
"Kamu sudah membuatku menunggu lama tanpa kepastian yang ada, seperti hubungan yang tidak ada kejelasannya, dan paling bodoh dan ceroboh mu adalah membuat segala sesuatu tanpa bertanya dulu. Apa kau pikir aku mengerjaimu??? Jawabannya TIDAK" ucap Martin
Hera menelan Slavinanya, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar karena dia salah total.
"Kamu tahu, Aku dan dea lagi bertengkar karena itu aku datang menjumpainya tapi dia tidak ada dan aku juga ingin menjumpai kinan menanyakan hal dea tapi kau sudah menipu ku dan membuat aku menunggu lama disini" ungkap Martin dengan wajah dinginnya
"Maaf Pak, saya seperti itu karena saya tidak mengenal anda dan nomor hp beliau keduanya tidak aktif jadi saya tidak tahu apakah dia kembali lagi kemari atau tidak" jawab Hera lemas
"Baiklah, aku akan memaafkan mu tapi dengan syarat berikan alamat dea mau pun kinan" ucap Martin menatap tajam Hera dan Hera pun memberikannya.
Martin langsung menuju alamat yang diberikan Hera dengan menggunakan taksi, dia tidak mau masalah pribadinya diketahui oleh oranglain dan tidak ada yang tahu selain Hiro bahwa dia ke London saat ini.
Taksi yang ditumpanginya sudah berada di depan Apartemen milik dea. Martin menanyakan Dea dan Kinan ternyata hanya Kinan yang ada. Kinan bingung karena pembantunya mengatakan bahwa Calon Suami Dea ada didepan dan menunggunya. Kinan langsung turun kebawah dan melihat Mr.Dimitri ada dibawah badannya mendadak tegang dan lidahnya kelu.
"Hallo Mrs.Kinan, dimana Dea?" ucap Martin to the point
"Untuk apa kau mencarinya, apa belum puas kau buat dia terpuruk?" teriak Kinan
"Hahh....., apa aku tidak salah dengar MELAMAR???!" tanya Kinan heran
"Yes, i'm Seriuos" balas Martin
"Dea tak ada" jawab Kinan sedih
"Apa, kemana dia?"
"Aku tidak tau, karena dia tidak bilang apa pun padaku. Dia pergi bersama unclenya aku takut dia kenapa-kenapa, tolong carikan dia untuk ku" mohon Kinan.
"Pembantu disini hanya tahu dea pergi dengan satu koper dan tas ransel dan dijemput oleh pamannya dan dea tak mengatakan dia akan kemana tapi dia hanya mengatakan ingin sendiri dulu sampai dia sembuh" jawab Kinan yang pipinya sudah basah karena air matanya.
"Tolong aku, temukan dea please" Kinan memohon pada Martin
Martin akhirnya menghubungi Gilbert untuk melacak CCTV dan mencari tujuan paman dea dan dea tadi pagi dibandara.
Tapi sayang anak buah Martin hanya menemukan terakhir kali dea dan pamannya dibandara dan tujuan mereka tidak ada sama sekali yang mengetahuinya.
❣️❣️❣️❣️❣️
Sudah dua bulan Martin mencari dea di London dan dia harus kembali karena perusahaannya membutuhkannya. Martin akhirnya memilih kembali pulang ke Los Angeles dengan wajah yang sendu dia sampai ke mansion Kakak Iparnya, Nahendra melihat adiknya itu heran, sudah lama tak pulang kali ini pulang dengan wajah yang tak terurus seperti brandalan yang baru keluar dari penjara.
"Apa kau tidak punya lagi" tanya Nahendra membuat Willi dan Yuni melihat kearah tatapan ayahnya menuju kearah pamannya.
__ADS_1
"Lihatlah dirimu, sudah seperti brandalan yang baru keluar dari penjara" ungkap Nahendra kesal.
"Kakak aku patah hati" lirih Martin
Tanpa sengaja Yuni menyemburkan air minumnya tepat ke wajah Willi.
"Sorry Honey, aku kelepasan"ucap Yuni sambil membersihkan air diwajah Willi.
"Tak apa sayang" jawab Willi tersenyum.
"Patah hati dengan siapa?" ucap Nahendra yang kini berada disamping Martin, Martin menoleh kearah Kakak Iparnya dan langsung memeluknya.
"Hei ini tak lucu, kau bagaikan anak kecil yang tak kebagian permen" cerca Nahendra kesal
"Hanya kau yang punya Kakak, help me" ucap Martin sambil memejamkan matanya
"Siapa??? Caitlyn Axton???"
"Ya," lirih Martin pelan
"Sudah dua bulan aku mencarinya tapi gak ketemu bahkan aku dua bulan di London untuk mencarinya tetap tak kunjung dapat" jawab Martin
"What, Two Month???!!"
"Kenapa tidak kau tanyakan padaku?" tanya Nahendra geram melihat adik iparnya yang sudah bucin terhadap Putri sabahat lamanya.
"Emang Kakak tau dia dimana??"
"Ya, aku tau sebelum dia berangkat dia mengatakannya kepadaku"
"Apa, Kakak ditelfonnya tapi telfonkun tak diangkatnya" jawab Martin lesu.
"Aku yang menghubunginya, karena aku ingin memastikan keadaannya.
"Teruss,... dia dimana kakak?" tanya Martin dengan wajah yang lebih bersemangat.
"Ada syaratnya" ucap Nahendra sambil tersenyum menyeringai
"Licik" celah Martin
"Ya sudah kalau tidak mau" jawab Nahendra sambil bangkit berdiri.
"Yaya, apa syaratnya?" teriak Martin kesal
"Bersihkan Mansion ini selama sebulan, dan kasih uang kepadaku selama 30 hari. 2000/dolar setiap harinya selama 30 hari, anggap kau memberikan uang jajan terhadap ku karena aku akan memberikannya kepada cucuku. jawab Nahendra sambil tertawa kencang
"Masalah uang, ambil saja 20% saham ku, dan masalah mansion aku akan menggaji Hiro membersihkannya" balas Martin
"Tidak bisa!!"
"Bersihkan sendiri tidak boleh meminta bantuan" ungkal Nahendra kesal.
"Sial... Sial.... Kakak Ipar awas kau" teriak Martin geram dan kesal.
Willi dan Yuni hanya diam saja sambil menggelengkan kepalanya karena bagi mereka Uncle dan Dady nya ribut sudah biasa karena itu hampir tiap hari mereka lakukan.
__ADS_1
**Jangan Lupa Boom Like dan Koment yah
Vote sebanyak-banyaknya dan Klik Favorit agar Notif dari aku muncul di hp kamu**.