
Selesai makan siang mereka langsung menuju mansion Nahendra. Saat ini Nahendra sedang merajuk, karena adik iparnya akan menikah dan meninggalkannya sebentar lagi.
Nahendra yang sudah dibujuk makan sedari tadi pagi dia menolak. Alasan karena Martin tidak ada bersamanya, Martin tahu jika Kakak Iparnya itu hanya berasalan saja. Dia sangat yakin jika Nahendra hanya ingin mengganggu kesenangan adik iparnya saja.
"Aku sudah katakan aku tidak mau makan, sudah berapa kali aku bilang yang aku mau Martin bukan makanan" bentak Nahendra.
Willi dan Yuni yang baru pulang dari kantornya karena, mendapat kabar jika mertuanya mengamuk tidak mau makan alias mogok makan. 😁
"Dady, why" ucap Yuni memeluk bahu papanya.
Gavrael melihat kakeknya mendiami mommy, langsung berjalan menghadap kearah Kakeknya.
"Grandpa, don't hurt my mom. I will punish you grandpa!" decak Gavrael sambil melipat tangannya didada dan menatap tajam kearah kakeknya.
Nahendra yang mendengar dan melihat tingkah cucunya, dia langsung menepuk jidatnya. Seakan tidak percaya, anak usia tiga tahun bisa memarahinya.
"Hi boy, don't be angry to me. Grandpa tidak pernah menyakiti Mommy mu. Because your mommy is my love, boy" balas Nahendrae mengacak rambut Gavrael.
"Stop! jangan membuat rambut ku rusak Grandpa. Nanti aku jadi jelek, Grandma Dea mau datang melihat Gavrael." kata Gavrael dengan wajah gemesnya.
Nahendra yang sedari tadi murung langsung tertawa kencang karena tingkah lucu cucunya yang sangat menggemaskan itu.
"Cucuku yang ganteng, peluk Grandpa" pinta Nahendra merentangkan kedua tangannya
__ADS_1
"Grandpa harus janji, jangan mengacak rambutku lagi" ucap Gavrael dengan wajah datarnya
"Yes, i'm promise boy" balas Nahendra membujuk Gavrael agar memeluknya.
Gavrael langsung memeluk kakeknya dan duduk diatas pangkuannya.
"Wow, berat badanmu bertambah" ujar Nahendra memeluk erat cucunya dan mencium pipi gavrael.
Yuni dan Willi melihat suasana itu merasa bahagia. Setidaknya papanya tidak kesepian.
"Sebaiknya kita tinggal disini sayang, Dady kesepian selama ini" ucap Willi merangkul bahu Dea dengan tangan kirinya.
"Hemm, mungkin itu akan lebih baik" balas Yuni dengan mengecup pipi kanan suaminya.
Willi dan Yuni memilih tinggal dimansion mereka, agar tidak terlalu jauh dari tempat Yuni bekerja dan saat ini mereka akan pindah lagi kerumah Papanya. Papanya sudah semakin tua dan rentan jatuh sakit, jadi Yuni memutuskan untuk tidak bekerja dan fokus pada keluarganya terlebih dahulu dan Willi sangat senang dengan keputusan Yuni saat ini.
Dengan memprioritaskan keluarga dari pada karier dan pekerjaannya.
Selang beberapa jam Martin sudah tiba dimansion bersama Dea.
Martin langsung menuju kamar Kakak Iparnya, sementara Dea langsung menuju dapur karna Yuni ads disana.
"Hallo, Brother. How are you?" tanya Martin sambil memeluk erak Nahendra
__ADS_1
Nahendra hanya menatap lekat manik mata Martin, sorot matanya menunjukkan kesedihan dan kebahagian. Nahendra langsung memeluknya tanpa mengucapkan sepata kata, dari kecil Martin sudah dirawat oleh Nahendra seperti anaknya sendiri.
Martin tahu kegalauan yang dirasakan Nahendra saat ini, puluhan tahun bersama jadi dia mengerti apa yang dirasakan Nahendra.
"Aku akan disini bersama mu, aku akan mengajak Dea tinggal disini selama Kakak Ipar membutuhkan ku. Ku harap jangan sedih, bukannya kau harusnya bahagia?? Aku ingin menikah, Hemm!" kata Martin yang masih mengelus punggung Nahendra.
"Aku hanya kesepian, hidupku selalu bersama mu. Jadi ketika aku mau menikah, aku merasakan bahagia sekaligus merasakan kehilangan" ucap Nahendra dengan suara seraknya.
Martin tersenyum mendengar keluhan, Nahendra. "Menangislah, aku tahu kau sangat cengeng jika orang yang kau sayangi pergi. Tapi perlu Kakak ingat, aku bukan pergi selamanya. Aku hanya akan membangun rumah tangga seperti mu dulu sewaktu bersama Kakakku" ujar Martin menguatkan Nahendra.
"Ck, Lebay!!" ucap Gavrael yang sedari tadi berdiri didepan pintu kamar Nahendra melihat tingkah kedua orangtua dewasa itu.
Martin, Nahendra langsung menoleh kearah Gavrael. "Hallo my boy, come here" ajak Martin merentangkan kedua tangannya.
Gavrael berlari langsung menerobos dengan kencang dan naik kepangkuan Martin.
"Why, why did you forget me.?" (kenapa kau melupakan aku) ucap Gavrael dengan wajah imute dan pipi tembemnya.
"I didn't dorget you, boy. I miss you" kecup Martin dikening Gavrael.
"I'm really,.really miss you Grandpa" ucap Gavrael berpindah posisi dan duduk disamping Nahendra.
"Grandpa big, mari kita makan siang. Grandma Dea sudah datang. Come on Grandpa, Wake Up!! Nanti Grandma marah" kata Gavrael dengan membujuk dan menarik tangan Nahendra.
__ADS_1
"Oke, ok..! Lets go, boy!" ucap Nahendra sambil tertawa pelan dan menciumi pipi Gavrael dengan gemesnya.