Life Of Dea

Life Of Dea
#72


__ADS_3

Selesai mandi Dea mengambil paperbag yang diberikan keponakan suaminya, yang sekarang sudah menjadi keponakannya juga.


Dea melihat lingerie, Dea memampangkan keatas wajahnya dan Martin speechless melihat apa yang dipegang istrinya. "Honey, dari mana kau miliki ini? Apa kau sudah mempersiapkannya sebelum hari malam pertama kita?" kata Martin yang sudah merangkul Dea dari belakang.


"Ini dari Yuni sayang, apa dia kekurangan uang makanya bisa beli seperti ini untuk ku?" tanya Dea yang membalikkan tubuhnya yang masih mengenakan kimono menghadap Martin.


Martin mengelus wajah Dea yang kebingungan dengan lembut dan mengecupnya. "Dia tidak kekurangan apa pun, Honey. Dia ingin kau terlihat menggoda didepan ku seperti kucing liar" Martin menciumi tekuk leher putih dan wangi itu.


Wajah Dea langsung memerah, dan sekujur tubuhnya mulai meremang karena ciuman dari Martin.


"Honey, aku mau pakai baju." rengek Dea melepaskan tangan kekar Martin yang melekat dipinggang Dea.


"Baiklah, tapi pakai ini nanti malam." ucap Martin melepaskan pelukannya dan menuju koper dan mengambil pakaian dirinya dan Dea.


"No!!" bentak Dea secara reflek


"Why" tanya Martin dengan bingungny

__ADS_1


"Aku mau berbulan madu selama satu bulan" ucap Dea. Martin terdiam sesaat lalu tersenyum sembari menghampiri Dea dan memeluknya. "Apa pun akan ku lakukan untuk mu sayang. Kamu tinggal bilang saja kita kemana dan berapa lama." jawab Martin masih memeluk Dea.


Hemm..


Setengah jam kemudian mereka menuju restoran bawah yang ada dilobi hotel. Dea melihat keluarga besar Dimitri, Niels dan Maxiwilliam menantu Nahendra.


"Maaf lama" ucap Dea merasa tidak enak karena semua sudah menunggu mereka. Kelihatan semua yang tersedia diatas meja bahkan belum tersentuh sedikit pun.


"No Problem bibi, kami sangat, sangat mengerti" balas Willi mengkedipkan matanya pada mertuanya dan disambut dengan kekehan kecil Nahendra.


Dea langsung duduk begitu Martin menarik kursinya sembari memandang semua orang yang ada disana semuanya.


"Grandpa, apa jadi kita hari ini bercocok tanam?" tanya Gavrael dengan polosnya


Dea yang sedang ingin menyendokkan nasi ke piring suaminya langsung terkejut dan membuat sendok yang ditangannya terjatuh kelantai menimbulkan bunyi yang nyaring.


Semua yang ada disana menoleh kearah Gavrael, mereka kurang paham dengan ucapan ambigu dari Gavrael.

__ADS_1


"Hemm, kita akan bercocok tanam. Tapi kita akan menanam Kakekmu" jawab Martin dengan kesalnya. Namun tiba-tiba Martin sedikit menjerit dan meringis, Dea melihat suaminya meringis bingung.


"Sayang, kamu kenapa??" ucap Dea kebingungan dan malu karena ucapa Gavrael tadi.


"Yuni, kenapa kau mencubit paman" pekik Martin kesal karena ia tidak ingin dan tidak suka dicubit.


"Makanlah paman, tapi jangan tanam Dady ku. Akan ku hajar kau nanti PAMAN!" tegas Yuni menatap tajam kearah pamannya itu.


Martin tergelak dengan ucapan Yuni yang memarahinya. Namun beda bagi Nahendra yang tertawa terbahak-bahak karena merasa lucu melihat wajah ekspresi Martin dengan mulut yang terbuka lebar dan mata sedikit melebar.


"This is my princes, Boy" ucap Nahendra masih tertawa kencang.


"Stop, saatnya makan" ucap Liliana sepupu Willi yang datang menghadiri pernikahan Paman istri sepupunya karena dia sedang berlibur ke Los Angeles.


Mike melihat kearah Liliana dan seketika mata mereka bertubrukan namun Liliana langsung mengalihkannya.


Mike tersenyum kecil melihat sifat cuek saudara dari sepupunya itu lalu ia melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya selalu ❣️❣️😍


__ADS_2