
Sinar mentari pagi memasuki kamar hotel yang ditempati Martin dan Dea. Gorden yang sedikit terbuka membuat cahaya matahari langsung masuk keruangan dan menerpa wajah tampan Martin. Martin terbangun karena hal itu, Martin melihat disampingnya, terdapat pandangan indah dan sangat indah. Martin menggerakkan tangannya yang sudah kebar karena menjadi bantal untuk Dea. Karena pergerakkan tangan Martin membuat Dea terbangun.
"Morning" ucap Martin pada Dea yang baru saja membuka matanya dan melihat kearah Martin lalu Dea langsung menutup matanya.
"Hei, kenapa ditutup?" ujar Martin membuka kedua tangan Dea yang menempel diwajahnya.
Dea berusaha menahan tangannya agar tak terbuka. Karena dia sangat malu, Martin melihat wajahnya yang baru bangun tidur.
"Sayang, look at me" kata Martin yang semakin mendekatkan wajahnya.
Dengan pasrah Dea membuka wajanya, dan melihat kearah Martin lalu tersenyum malu.
Cup cup cup
Martin mengecup semua bagian wajah Dea
"Aku mencintaimu, tidak melihat fisik sayang. Jadi jangan pernah malu, aku tidak suka kamu seperti ini" ucap Martin
Dea menatap Martin dengan lekat dan Dea langsung melumaat bibir Martin dengan lembut. Martin mendapat ciuaman dadakan, membuatnya diam sejenak. Lalu Dea melepaskan ciumannya, "Bukan maksudku seperti itu, aku hanya malu saja. Karena belum pernah ada yang melihat ku baru bangun tidur dengan iler dimana-mana" jelas Dea jujur.
Martin terkekeh mendengar kejujuran Dea, ia langsung memeluknya dengan erat.
"Baby, litle king ku ingin mengunjungimu." ucap Martin random , membuat Dea kebingungan.
Melihat kebingungan istrinya Martin tersenyum lebar. Ia tidak menyangka bahwa wanita yang dikenal sikap dinginnya dan jutek ternyata sangat polos dibidang kemesuman meskipun ciuman Dea sangat membuat Martin bergaairah.
"Baby!" lirih Martin sembari menciumin leher jenjang Dea yang putih dan wangi. Martin menciumi bibir, setiap inci wajah Dea dan leher serta pundak Dea secara bergantian dan hal itu sudah pasti membuat Dea terangsang.
Honey... Ah Ah
Hemm,.
Badan Dea menggeliat dan melengkung ketika sentuhan tangan kekar Martin menuju dua benda kenyal yang berwarna merah muda. Tidak kecil dan tidak besar, pas untuk ukuran genggaman tangan kekar milik Martin.
Bibir Martin turun kebawah dan mengecup secara bergantian, serta memilin lalu menggigit kecil benda kenyal yang sangat nikmat itu.
Dea yang sudah kewalahan menahan gairaahnya, "Baby, please..!" rengek Dea dengan mata yang sayu sambil meremas rambut Martin dengan lembut.
Martin mendongkakkan wajahnya, memandang lembut wajah istrinya yang polos tanpa makeup, namun kecantikannya tetap terlihat.
Kecantikan Dea sangat alami, hidung mancung, bibir mungil dan babyface membuatnya imut dan cute. Banyak pria yang ingin memilikinya, namun sayang Dea tidak pernah menanggapinya dengan serius dan saat ini hanya seorang Martin yang mampu mengambil hatinya.
__ADS_1
"Memohonlah, dengan gaya nakalmu honey" kata Martin yang tersenyum nakal.
Jemari Martin mulai berkelana digoa yang masih sempit meski sudah di omrak-amrik tetap rasanya masih sempit karena ini yang kedua kali mereka akan melakukannya.
"Shiit!! Baby, please!" rengek Dea yang mulai frustasi karena dibawah sana sudah mulai berkedut kedut
Tapi Martin mengabaikan Dea, Martin semakin gencar dan mempercepat dan semakin menekan buah Apple super mini dibawah sana.
**Ah Ah Ah
"Baby**" Desaaah Dea menekan lebih dalam tangan Martin.
Martin melihat Dea sudah meninggi, Martin menyibak selimut yang mereka pakai lalu menindih Dea dari atas dan memandangnya dengan hangat. "I love you" Martin langsung mengecup bibir ranum Dea setelah mengungkapkan kata cintanya pada istrinya Dea.
"Me too, Faster sayang" rengek Dea mengalungkan kedua tangannya dan menarik tekuk leher Martin dengan kuat sehingga tidak ada jarak diantara mereka. Lalu bibir Dea menempel dibibir Martin, dan mengecup serta melumaat dengan buas dan lidah mereka saling menyesap dan bertukar saliva.
Martin yang sudah bergairaah akibat tangan nakal Dea yang bertengger di litle kingnya.
"Baby...!" pekik Martin menerobos goa yang masih sempit itu.
Ah Ah
Martin melakukannya dengan tempo yang sedang dan menghentakkan lebih dalam kegoa yang sudah menjadi miliknya seumur hidupnya.
"Honey" ucap Dea yang sudah mencapai kenikmatannya. Namun Martin masih memberi foreplay yang lebih lama dan sentuhan yang membuat Dea bergairaah kembali.
Martin menambah ritemnya menjadi lebih kencang karena dia ingin mencapai puncaknya. Martin langsung membalikkan tubuh polos Dea dengan membelakanginya dan Martin langsung menghentakkan sembari mengecup punggung dan memukul pelan bokong Dea.
**Ah Ah
Baby**...!!
"Aku ingin keluaar" ******* dan teriakan keluar dari bibir mereka berdua bersamaan. Namun tiba-tiba konsentrasi mereka sedikit terganggu
Tok Tok Tok
Kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu mengabaikan ketukan pintu, namun kali ini mereka tidak bisa mengabaikannya karena bukan ketukan lagi melainkan gedoran yang banyak di pintu kamar hotel Martin dan Dea berada.
Dengan nafas tersenggal-senggal Martin memeluk Dea dari atas dan menormalkan deguban jantung serta nafas mereka karena Martin sedikit lelah habis bercocok tanam.
Martin mengangkat Dea kekamar mandi dan membaringkannya ke bathtub, "Aku akan buka pintu dulu" kata Martin mengecup kening Dea
__ADS_1
Dea hanya tersenyum dan mengelus pipi Martin yang sudah kesal karena terganggu kegiatan bercocok tanam.
Ceklek
Martin membuka pintu tapi sebelumnya ia sudah memakai celana boxernya.a
"Grandpa" teriak Gavrael bersama Nahendra Kakak Iparnya.
Martin sesaat memandang tajam kearah Nahendra meminta penjelasan, Martin lalu mengalihkan pandangannya kearah Gavrael dan tersenyum.
"Ada apa boy?" kata Martin yang sudah berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Gavrael.
"Grandpa besar bilang, Grandpa litle lagi bercocok tanam, bolehkah aku ikut?" tanya Gavrael
Dan sontak saja Martin langsung menoleh kearah Kakak Iparnya dan menatap tajam namun Nahendra langsung mengalihkan pandangannya kearah yang lain. Martin langsung menggendong Gavrael, "Cucu Granpa ingin ikut," ucap Martin
"Yes, Grandpa" jawab Gavrael semangat.
"Baiklah, satu jam lagi kita akan bercocok tanam. Kakak Ipar siapkan tanamannya dan lokasinya karena aku akan bercocok tanam dengan tanaman yang sudah TUA DAN PENYOT" tegas Martin penuh penekanan. Martin heran melihat tingkah Kakaknya itu., yang tidak pernah bosan mengganggu dan mengerjainya.
"Baiklah, kami kembali dulu Grandpa karena kami akan sarapan dibawah. Aku menunggu Grandpa" ucap Gavrael dengan gaya bahasa anak seumuran dia.
"Oke, bye " ucap Martin mencium puncak kepala Gavrael.
"Kakak, awas kau nanti!!" ucap Martin sembari melihat punggung Gavrael dan Nahendra masuk ke dalam kamar mereka yang berketepatan didepan kamar Martin.
nge
Martin menutup pintunya dan menyusul Dea, Dea menoleh melihat wajah Martin yang sedang kesal.
"Siapa, dan ada apa sayang. ?" tanya Dea yang sedang merendam
"Gavrael ingin bercocok tanam dengan kita" balas Martin masuk kedalam bathtub.
"Maksudnya? Aku tidak mengerti!" ucap Dea
Martin menghembuskan nafasnya, kenapa istrinya polos kali pikir Martin.
"Kita mandi saja ya" ujar Martin langsung menggosok tubuh Dea dengan lembut.
Jangan lupa dukungannya
__ADS_1