Life Of Dea

Life Of Dea
#57


__ADS_3

Martin dan Dea masih berciuman dengan liar.


Bahkan tangan Martin sudah berkelana diatas perut Dea, membuat Dea semakin berhasrat.


"Kau milikku, mari kita menikah saja." ucap Martin disela ciuman mereka.


Tampak, raut wajah Dea merona merah karena bahagianya.


"Kau tidak bisa Mesra, lamar aku dengan cara yang berbeda dari yang biasa orang perbuat kepada pasangannya" kata Dea, dan memberhentikan ciumannya.


Martin memandang Dea dengan sayu, hasratnya sudah menggebu-gebu. Tapi dia tidak ingin menjadikan dirinya lelaki bajingan.


Baginya menjaga kehormatan wanita itu penting meskipun mereka akan menikah.


Martin didik Nahendra dengan aturan dan tidak boleh menyakiti wanita dan dilarang berhubungan badan sebelum menikah.


Jika dinegara mereka, itu semua sudah lumrah beda dengan Nahendra. Dia ingin keluarganya tidak boleh berbuat seperti itu.


Mereka melanjutkan ciumannya kembali, bahkan mereka memainkan lidahnya. Melepas rindu dengan cara berciuman itu sudah biasa bagi Dea. Tetapi berbeda dengan Martin yang tidak pernah merasakan lamanya berciuman dan ini perdana baginya.


"Bolehkah aku melihat dan menyentuhnya" bisik Martin dengan suara seraknya.


Dea hanya menganggukkan kepalanya. Karena Dea juga saat ini menginginkan untuk lebih dari berciuman.


"Katakan jika ingin berhenti, aku sangat menghargai wanita apalagi dia kekasihku" kata Martin langsung menaikkan dress Dea yang saat ini tidak memakai bra dan hanya ****** ***** saja.


Dea langsung menutup matanya karena malu diperhatikan Martin.


Martin membuka tangan Dea dengan lembut.


"Jangan ditutup, karena ini akan jadi milikku semuanya" Martin langsung mencium pundak Dea dengan lembut dan mencium jenjang leher Dea membuatnya mendesah.


"Ahhhhk" desah Dea


Tangan Martin menyentuh aset kembar Dea dengan lembut, mengelus dengan pelan dan memainkan ujung asetnya dan bibirnya mecium ujung asetnya sebelahnya lagi.


Dea tidak tahan dengan semua ini, ada sesuatu dibawah sana sudah mengalir basah dan berdenyut minta ingin disentuh dan cium.


"Sayaang, Aah" parau Dea sambil menjambak rambut lebat Martin

__ADS_1


Martin mengisap pinggir aset Dea dan meninggalkan banyak bekas warna merah disana. Martin tersenyum melihat bekas tersebut dan bibir Martin mencium perut Dea dengan lembut.


Dea langsung melengkungkan badannya, karna rasa nikmat geli bercampur menjadi satu.


"Honey, I want you" desah Dea yang sudah frustasi dengan ciuman forplay dari Martin


Martin memberhentikan ciumannya, dan langsung memakainkan dress Dea kembali.


"Kenapa?" tanya Dea kebingungan.


"Kita lanjutkan ini nanti saja setelah kita menikah" ucap Martin mengelus pipi Dea yang sudah seperti kepiting rebus.


"Kau tidak menginginkan ku??" tanya Dea selidiki.


"Aku menginginkan mu, bahkan sangat ingin. Tapi aku tidak mau karna aku menghargai mu sebagai wanita ku." ucap Martin dengan lembut


"Aku ingin kita melakukannya setelah menikah dan memberikan moment yang indah untuk hidup kita sampai menua nantinya" ucap Martin kembali


Dea mendengar itu semua merasa sangat bahagia, Tuhan memberikan luka dan dibalik luka Tuhan menyediakan penyembuh luka yang sempurna dan sangat sempurna.


"Thank you, aku mencintaimu. Aku tidak salah memilihmu sayang" ucap Dea langsung memeluk Martin dengan erat.


"Aku akan datang dua minggu lagi kemari bersama Kakak iparku dan keluarga ku lainnya" ucap Martin


"Oh ya, aku senang sekali bisa bertemu dengan Uncle" jawab Dea penuh dengan ceria.


"Kakak Iparku sangat setuju jika kita menikah. Dia sudah ku anggap sebagai Dady, Momy ku dan abang ku sendiri" ucap Martin


"Karena dia yang telah membesarkanku dan mendidikku sehingga aku bisa seperti ini" ucap Martin lagi sambil memainkan anak rambut Dea.


"Uncle sangat baik" kata Dea


"Sangat, dan sangat baik" balas Martin dan tersenyum


"Sudah cukup lama dia menderita karena ditinggal Kakakku, dan Putrinya. Putrinya baru ku temukan beberapa Tahun lalu ketika kita pertama bertemu" ungkap Martin panjang lebar


"Oh iya, emang putrinya kemana selama ini?" tanya Dea penuh antusias


"Ketika Kakak ku ditembak dibandara, Kakak iparku menjalani proyeknya diluar negeri. Dan putrinya Yuni berusia 2 bulan dan dibawa oleh pengasuhnya ke indonesia agar tidak dibunuh oleh adiknya Kakak iparku sendiri. Sementara aku disembunyikan oleh Orangtua Gerald di pembelian tiket karena itu aku selamat" Martin memandang lurus dab mengingat kejadian itu ketika dia berumur sekitar 7 tahun.

__ADS_1


"Dan aku bertemu dengan Kakak Iparku sebulan kemudian, dan membawa ku ketempat yang jauh. Dia selalu berkata kepadaku, untuk tetap tenang dan ikhlas apa yang telah terjadi. Aku selalu disayanginya seperti anaknya sendiri. Dan aku tahu, bahwa dia sangat terpukul kepergian Kakakku dengan Putrinya dulunya. Sampai aku nekat mencari putrinya dan membongkar kisah lama yang pahit agar mendapat petunjuk dimana putri Kakak Iparku." ungkap Martin panjang lebar menjelaskan apa yang pernah dia alami begitu juga Kakak Iparnya.


"Sekarang, dia bahagi dan sangat bahagia. Aku menemukan putrinya sewaktu dia masih hidup. Dulu aku pernah berfikir bahwa sakit Kakak Iparku ini akan membuatnya cepat pergi meninggalkan aku, karena itu aku bergerak cepat menemukan putrinya seperti sekarang ini" ucap Martin lagi


"Kau sangat hebat sayang" puji Dea mengelus pipi Martin


"Aku mau kedepan harinya tidak ada kejadian seperti ini lagi terhadap anak-anak kita nantinya. Itulah doa ku selama ini sayang"


"Itu tidak akan terjadi lagi, Tuhan sudah menyiapkan pelangi untuk mu yaitu aku dan Tuhan akan menyediakan Bintang untuk kita berdua setelah kita menikah nanti" ucap Dea.


Martin melihat lekat kemanik mata Dea, dan mendekatkan wajahnya.


Dea yang merasa ingin dicium, langsung menutup kedua matanya.


Tapi sayang semua itu hanya angan saja, karena sudah datang pengganggu mereka. Siapa lagi jika bukan Jerry yang usil dengan adiknya.


"Dea, cepat turun kita makan siang" teriak Jerry menggedor pintu Dea dengan kuat.


Kinan melihat dari samping, hanya tertawa dan menghampiri abangnya yang selalu usil.


"Hati-hati si Tom akan mengamuk dengan si Jerry" bisik Kinan sambil berlari menuruni anak tangga.


Jerry mengerutkan keningnya, sampai saat ini dia masih bingung dengan perkataan Kinan. Kinan selalu menyebut Tom and Jerry seperti Kartun anak-anak yang biasanya.


"Deaaa, cepatan atau abang buka pintunya" teriak Jerry dengan kuat.


Dea menekuk wajahnya cemberut dan melirik kearah Martin.


"Sayang, kamu mandi dulu ya. Aku akan meminjam baju abang Jerry" ucap Dea


"Aku membawa pakaianku, ada di mobil. Bisa kau mengambilkannya?" tanya Martin


"Hemm, pergilah mandi aku akan membuka pintunya" ucap Dea lagi dab ingin beranjak tapi sudah ditahan Martin kembali.


"Ganti baju dulu, aku tidak mau ada yang melihat mu seperti ini sayang. Buang nanti bajunya oke" kata Martin membujuk


"Baiklah sayang" ucap Dea tersenyum dan mengecup bibir Martin.


Jangan Lupa Like Komen Vote dan Favorit ya

__ADS_1


__ADS_2