
Dua bulan kemudian perushaan Dea saat ini sedang mengadakan meeting dengan para pemegang saham. Dan Dea yang memimpin rapat kali ini karena biasanya suaminya Martin tapi kali ini suaminya ada di Canada, melihat perkembangan perusahaanya sekaligus menjumpai putranya Aron.
Namun di tengah rapat tiba - tiba sekretaris Dea menghampiri dan menyerahkan kertas kecil kepada Dea yang merupakan pemilik perusahaannya.
"Ada Nonya Yuni Niel, menunggu di Ruangan Anda Nyonya kata beliau ini sangat penting"
Begitulah kira - kira isi surat singkat yang Dea baca saat ini, Dea langsung berdiri dan melihat para pemegang saham yang ada di ruangan tersebut.
"Maaf, rapat kita tunda dulu, dan di lanjutkan oleh sekretaris saya sendiri" ucap Dea tegas dan langsung meninggalkan ruang rapat.
Dea terfokus kata penting dari isi pesan Yuni, putri uncle nya itu. Dan Yuni juga sekarang sudah menjadi keponakannya sendiri karena dia menikah dengan Paman Yuni sendiri.
__ADS_1
Sesampai di depan pintu ruangannya Dea langsung menerobos masuk dan melihat Yuni sedang bertopang dagu dengan raut wajah yang penuh kuatir.
"Yuni..." panggil Dea dan menghampirinya.
Yuni mendengar namanya disebut langsung menoleh dan ia langsung bangkit dari duduknya karena melihat sang bibinya sudah berada di hadapannya. Yuni langsung memeluk Dea dengan erat, dan menangis.
"Hi,, don't cry. What Happend, Hemm.." bisik Dea sambil mengelus punggung keponakannya.
Yuni masih tenggelam dalam isak tangisnya dan Dea tidak punya pilihan selain membiarkan Yuni menangis dengan sendirinya, mungkin dengan hal itu bisa mengurangi beban pikirannya.
Kristian menatap Siska yang saat ini sedang melukis di salah satu pameran yang ada di London. Kristian selalu mengikuti kemana Siska beranjak, dan dirinya tidak pernah putus asa dan Dea tahu akan itu tapi Dea memilih diam dan mengawasi dari kejauhan.
__ADS_1
Yuni yang telah bercerita tentang Siska putrinya yang di mana Suaminya meminta Siska untuk belajar kerja secara mandiri di Negara New Zealand tepat nya di Auckland dengan alasan Jhon teman kecil Siska bekerja disana. Dea mengerti akan situasi ini dan dirinya pun tidak melarang Willi untuk mendekatkan mereka kembali karena ia yakin jika princes kecilnya yaitu Fransiska tersebut bisa mengatasi masalahnya meski pun dirinya nanti akan jauh dari kedua keluarganya.
"Kamu semangat dong, bukannya Jhon anak yang baik Yuni?" kata Dea yang saat ini mereka sedang berada di restoran karena mereka makan siang bersama di restoran yang tidak jauh dari kantor Dea.
Yuni yang tadinya menunduk dan mengaduk - aduk makanan yang ada di hadapannya itu memilih menoleh pada bibi nya itu.
"Yah itu dulu sewaktu mereka masih kecil, namun sekarang aku tidak tahu bibi. Dia kerja apa dan apa Jhon sudah menikah atau belum dan apakah dia tetap lembut seperti suami kita bibi? " sahut Yuni sambil merentangkan kedua tangannya karena rasa cemasnya pada putri mereka satu - satunya.
Dea tersenyum dan mengkedipkan sebelah matanya ke arah Yuni dan Yuni hanya mengerutkan keningnya karena ia tidak mengerti kenapa Bibinya bermain mata, atau jangan - jangan mata Bibinya sedang sakit pikir Yuni dalam hati.
Dea yang tahu jika Yuni yang masih kebingungan akhirnya ia mau menjelaskan.
__ADS_1
"Serahkan pada ku Yuni, semua akan baik - baik saja"
Yuni tersenyum dan menganggukkan kepalanya saja