Life Of Dea

Life Of Dea
#108


__ADS_3

Sekilas Tentang Kinan Hiro


Kinan masih uring-uringan di ruangannya. Dia juga tidak fokus bekerja selama Dea belum ditemukan. Kinan menghembuskan nafasnya dan menatap langit ruangan kerjanya. Ada rasa sesal di hatinya karena tidak bisa menjaga Dea, padahal Kinan sudah bersumpah akan menjaga Dea selama hidupnya. Kinan saat ini sangat pusing lain lagi masalah kerjaannya yang mendadak ada.


Tok Tok


"Masuk" ucap Kinan


"Maaf Nona, di luar ada Tuan Rico ingin bertemu" ucap sekretaris Kinan


"APA..!! Buat apa dia kemari" ucap Kinan geram dan tiba-tiba ruangannya terbuka dan muncul orang yang paling dia benci seumur hidupnya..


"Hallo Kinan" sapa Rico dengan senyum menyeringai


"Uncle ada apa kemari?" tanya Kinan menatap tajam manik mata Rico


"Turunkan pandanganmu itu. Jangan bersikap seperti pemilik perusahaan ini, kau perlu ku ingatkan sekali lagi jika kau adalah hanya anak angkat Akseno saja. Kau paham??!" ucap Rico


Kinan mengertakkam rahangnya dan mengepalkan tangannya sampai memutih. Emosi dan kesalnya di tahannya hanya untuk Dea, Kinan memandangi Rico tanpa memutuskan tatapannya.


Rico duduk di sofa dan melipat tangannya di atas dadanya, dan menatap tajam ke arah Kinan.


"Katakan di mana surat-surat itu semuanya?" ucap Rico


"Sorry Uncle, aku tidak tahu masalah itu. Kenapa tidak Uncle tanyakan saja sama Dea" sahut Kinan menatap penuh selidik dari mimik wajah Unclenya itu.


"Dimana Dea?!" ucap Rico


"Paman yakin tidak tahu Dea dimana?" tanya Kinan lagi dan menunggu reaksi Rico.


"Jika aku tahu, aku tidak akan menanyakan itu padamu" sahut Rico berdiri dari dudukannya dan berjalan diruangan Kinan.

__ADS_1


"Ruangan ini, penuh kenangan" ucap Rico sambil memandangi setiap sudut ruangan itu.


Kinan hanya diam saja dan tangannya bergerak cepat, untuk memberitahu kepada Hiro.


"Uncle Rico tidak tahu Dea di mana, aku mengandalkan dirimu Hiro" pesan Kinan pada Hiro.


Hiro membaca pesan dari Kinan dan ia langsung mengabari hal tersebut kepada Uncle Martin. Dan Hiro saat ini sedang memeriksa CCTV dengan menggunakan Hacker kepercayaannya yang dapat menembus CCTV dan satelit.


Namun sayang mereka gagal, Hiro memaki keadaannya sekarang tanpa dia sadari jika Nahendra mantan Hacker terkenal pada zamannya.


Hiro pulang ke mansion malam harinya tepatnya pukul dua belas lewat malam hari dan ia langsung tertidur di ruang tengah tanpa membuka apa pun yang melekat di tubuhnya. Nahendra yang mendengar suara pintu utama terbuka, dia terbangun dan melihat CCTV yang terpasang di kamarnya.


"Anal nakal itu, masih minum - minum saja kerjaannya." kesal Nahendra yang langsung keluar dari kamarnya dan turun kebawah menaiki lift.


Nahendra memukul bokong Hiro dan Hiro langsung berdiri dengan mata beratnya yang menahan rasa kantuknya.


"Dady, kenapa memukulku. Aku lelas Dad" ucap Hiro


"Gerald yang mengatakannya? Asistenmu sangat tidak ada kerjaannya selain memantau kami berdua" kesal Hiro yang ingin merebahkan tubuhnya di sofa namun dihalang oleh tongkat Nahendra.


"Jawab aku, dari mana kau dari siang sampai malam begini?"


"Aku mencari Dea, Dea menghilang" ucap Hiro menutup wajahnya dengan jasnya.


"Hilang?? Kapan, kenapa baru sekarang kau mengabarinya pada ku?" cerca Nahendra


"Aku sudah bilang pada Dady, kenapa masih marah ?? Sementara aku juga baru tahu tadi pagi dari Kinan Dad" kesal Hiro yang di ganggu jam istirahatnya.


"Ayo kemari lah, tuntun aku ke kamar ku dan kau tidur di kamar ku saja" ucap Nahendra sambil berjalan mendahului Hiro. Hiro hanya mengikuti Nahendra, karena percuma juga melawan karena dia tidak akan menang sama sekali..


Sesampai di kamar Nahendra menyuruh menghidupkan perlengkapannya yang ada dibalik lemari buku yang ada di kamarnya. Dan Hiro terkejut melihat dan dalam benaknya jangan katakan jika Dady-nya seorang Hacker.

__ADS_1


"Dady, apakah ini benar?" ucap Hiro merasa tidak percaya.


"Hemm, Mari kita lihat di mana dia berada" ucap Nahendra sibuk mengotak atik keyboard komputernya. Dan Hiro hanya diam saja sambil memperhatikan layar monitor di depannya dan muncul kota London dan sekitar satu menit nampak Dea masih di mansionnya saat sedang di luar dan menaiki taksi.


Hiro menyaksikan kehebatan Dady-nya yang ia sama sekali tidak tahu sama sekali jika Nahendra bisa menghacker cctv bahkan satelit sekali pun dengan alat canggihnya.


"Dad, jadi Dea memakai kapal pelabuhan bukan bandara." lirih Hiro masih memandang layar monitor yang ada di hadapannya.


"Hemm, hubungi Gerald biar dia menyusul Dea sekarang juga" ujar Nahendra dan Hiro langsung menghubungi Gerald dini hari dan mau tidak mau Gerald terpaksa pergi menyusul Dea. Rasa kantuknya di lawannya hanya demi mengikuti perintah dari Nahendra.


Gerald mengepak pakaiannya di dalam ransel kulitnya sambil memaki Hiro karena waktu tidurnya terganggu.


"Hiro, awas kau jika bonus ku tidak kau cairkan" geram Gerald, lalu mengambil kunci mobil dan melaju ke pelabuhannya dan mengambil tiket antrian pagi hari menuju ke tempat yang sama dengan tujuan Dea.


Kinan tertidur setelah lelah mencari dan menangisi kepergian Dea yang tidak ia tahu kemana perginya. Dalam tidurnya pun Kinan mengigau nama Dea, dan keningnya keluar keringat dan tubuhnya sedikit hangat karena dirinya kelelahan sampai melewatkan makan siang dan makan malamnya.


Hiro tertidur di tempat tidur Nahendra, Yuni yang baru tiba ke kamar Nahendra papanya ke bingungan kenapa ada Hiro di kamar Papanya.


"Dad, kenapa Hiro di sini?" tanya Yuni yang belum sadar jika di hadapannya layar monitor menyala menampilkan aktivitas Dea.


"Dia hanya kelelahan" ujar Nahendra mendekat ke arah Yuni dan duduk di kuris sofanya karena saat ini dirinya harus makan, dan minum obatnya.


"Dad, aku berangkat kerja dulu.-" ujar Willi terputus karena manik matanya tertuju ke layar monitor yang ada di kamar mertuanya.


"Dad, ini apa?" tanya Willi dan Yuni langsung menoleh ke arah yanh di tujukan oleh suaminya itu.


"Oh God, ini Dea?" tanya Yuni mendekat ke arah monitor dan menatap segala aktivitas Dea.


"Dea hilang, dan ternyata dia sendiri ingin menenangkan dirinya sendiri tanpa memberi tahu pada siapa pun dan hal itu membuat Kinan terkejut dan sibuk mencari keberadaannya


"Jadi Hiro meminta pada Dady untuk mencari tahu akan hal ini?" ucap Yuni memandang ke arah Dady-nya dan bergantian ke arah Hiro yang sedang mendengkur halus karena sankin lelahnya sampai dirinya tidak mendengar percakapan Yuni, Nahendra dan Willi.

__ADS_1


Narendra hanya menggeleng kepalanya, dan ia tetap menatap ke arah monitor sesekali ia menyuapi ke mulutnya sarapan pagi yang dibawa putrinya, yaitu bubur ayam yang di sediakan putrinya.


__ADS_2