
Keesokkan harinya Dea mengepaki pakaiannya dengan bantuan pembantunya, dia hanya membawa satu koper saja dan tas ranselnya untuk tempat laptopnya. Dea berencana bekerja dari Paris sampai tangannya sembuh, karena jika ada yang tahu tangannya terluka akan menjadi dampak negatif bagi perusahaanya dan hal yang menguntungkan bagi pesaing perusahaannya.
Karena itu pamannya menyetujui Dea pergi ke Paris beberapa bulan saja. Kinan yang belum tahu keberangkatan Dea besok hari, karena Kinan saat ini masih diperusahaan mengurus proyek yang ditangani oleh Dea.
"Bibi masukkan gaunku satu ya sama heel ku satu saja." ucap Dea
"Baik Non" balas Bibi pembantu mereka.
Sementara di Los Angeles Martin sedang sibuk sampai tidak kenal malam sampai makan pun terlupakannya. Karena Martin berniat ingin menjumpai Dea secara langsung memohon maaf, jadi Martin harus menyelesaikan kerjaannya sebelum diserahkan kepada Hiro.
"Hallo Hiro apa semua sudah beres?"
"Sudah Uncle"
"Baiklah nanti siang jumpai saya" jawab Martin
"Siap Uncle" balas Hiro
"Dea, aku harap kau mau memaafkan ku dan aku akan merawatmu" lirih Martin pelan
❣️❣️❣️❣️
Nahendra saat ini sedang termenung dan akhirnya dia mengambil hp nya untuk menghubungi putri dari sahabat lamanya itu. Nahendra tidak enak hati karena perbuatan adik iparnya membuat putri sematawayang sahabatnya terluka.
"Hallo"
"Caitlin how are you?" tanya Nahendra
"Siapa" tanya Dea yang masih belum tahu siapa
yang menghubunginya.
__ADS_1
"Aku Nahendra Niels, Aku sahabat Alm.ayah mu.
jawab Nahendra lembut.
"Apa kamu ingat, dulu sewaktu ayahmu masih hidup kamu sering dibawa ayahmu kekantor dan kamu sangat dekat dengan jack adik paman kamu ingat" tanya Nahendra lagi.
Dea berusaha mengingat siapa yang dimaksud teman ayahnya itu tapi tak kunjung dapat karna mereka hanya beberapa kali saja jumpa sebelum ayah Dea sakit.
"Maaf Uncle aku tidak ingat" balas Dea
"Baiklah, tidak apa-apa pelan-pelan kamu akan mengingatnya" balas Nahendra.
"Kamu lagi dimana nak, apa kita bisa berjumpa?"
"Maaf Uncle mungkin aku tidak bisa menjumpaimu dalam waktu lama." jawab Dea
"Kenapa, kamu mau kemana?"
"Aku mau ke paris uncle"
"No Uncle"
"Baiklah, Lekas sembuh Princes" balas Nahendra dan langsung memutuskannya tanpa permisi.
"Siapa ya??, dia panggil aku princes, dan dia tahu aku sakit" gumam Dea
"Ah, nanti aku tanya sama paman saja" lanjut Dea kembali.
❣️❣️❣️❣️
Braaaakkk....
__ADS_1
Praaaaaaang,........
Kinan sedikit terkejut tiba-tiba, Paman Dea menggebrakan meja sofa dan melempar Vas Bunga kearah hampir mengenai kepala Kinan.
"Bagaimana bisa kesalahpahaman Kinan!!!" teriak Paman Dea.
"Itu hanya Dea yang tahu Uncle" balas Kinan yang masih duduk tegap memandang lurus kehadapan Uncle-nya.
"Apa gunanya dirimu???!!, Kau dibesarkan Axton tapi kau membiarkan putrinya terluka dan hanya diam saja!!!! Haaaaaah....!!!" teriak Paman Dea yang sudah emosi besar.
Sekretaris Dea hanya bisa menguping pembicaraan mereka, berketepatan pintu ruangan Kinan tidak sepenuhnya tertutup.
"Apa kau berencana ingin menggantikan Dea??" ucap Paman Dea
Kinan langsung memicingkan tatapannya, dan mengkepal tangannya dengan kuat.
"Jika aku berniat seperti itu kenapa, tidak dari kecil saja Uncle, kenapa harus sekarang" kesal Kinan
"Tutup mulutmu Kinan"
"Jadi siapa yang sudah membuat Dea jatuh"
"Maaf Paman, bukan dia membuat jatuh tapi Dea terjatuh sendiri." tegas Kinan yang tidak mau memperpanjang masalah karena itu permintaan oleh Dea sendiri.
"Kau masih membelanya Kinan???" teriak Paman Dea dengan suara yang menggelegar.
Paman Dea bangkit berdiri dari tempat duduknya, tanpa mengalihkan tatapan tajamnya ke manik mata Kinan.
"Ingat Kinan, aku selalu mengawasimu" tegas Paman Dea sembari meninggalkan ruangan itu.
Kepergian Paman Dea, Kinan langsung terduduk lemas, dia memegang dadanya merasakan sakit atas ucapan pamannya kepadanya. Dia tahu diri karena ditubuhnya tidak mengalir darah Axton dan dia memaklumi kekuatiran pamannya tersebut.
__ADS_1
**Jangan Lupa Like Komen dan Vote ya
Jangan pernah bosan, dan jangan Lupa kasih dukungan ke Story Menteng VII Medan ya sayang. thank you 😍😘**