
"Bagaimana ini, jika Dea kenapa-kenapa? Apa aku harus mencarinya sendiri?!" gumam Kinan, yang sedang mondar mandir memikirkan keberadaan Dea adik satu-satunya itu.
Kinan yang saat ini sedang sibuk di ruang kerjanya, memeriksa semua laporan dan berkas dan begitu juga proyek baru yang Dea pimpin. Kinan memijit pelipis keningnya, begitu banyak masalah yang di hadapinya sampai membuat dirinya down, Kinan mengusap wajahnya dan memandang berkas yang berserakan di atas meja kerjanya. Lalu Kinan teringat tentang seseorang yang pernah di jumpai Dea dan sangat dekat dengan Dea. Kinan langsung melangkah keluar dari ruang kerjanya menuju mansion karena dia sangat yakin jika ada petunjuk di sana.
Namun sampai di parkiran Kinan berpapasan dengan Virez, "Kamu...-" lirih Kinan memandang Virez. Namun Virez mau melewati Virez tapi Kinan langsung menahan tangannya.
"Kamu teman Dea, betulkan? Yah..Aku tidak salah lagi, kita pernah bertemu" ucap Kinan sambil memandangi Virez yang tampil cool.
"Hemm, Caitlyn mana" kata Virez dengan tatapan dinginnya.
"Itu yang ingin aku tanyakan pada mu, kemana Dea pergi, apa dia ada menghubungi mu??" tanya Kinan. "What?! Caitlyn pergi! " kata Virez dengan notasi yang agak tinggi, Virez panik dan mondar mandir di hadapan Kinan sambil mengelus dagunya yang di tumbuhi bulu-bulu halus jambangnya.
Kinan memandang lekat Virez, dia seperti ingat sesuatu, "Kamu teman kuliahnya Dea kan?" tanya Kinan tiba-tiba membuat Virez berhenti melangkah dan memandang ke arah Kinan.
"Apa ada yang di tinggalkan Dea pada mu" ucap Virez mengalihkan ucapan Kinan tadi.
__ADS_1
Kinan hanya diam dan menatap lekat manik mata Virez, lalu ia melipat ke dua tangannya di dadanya, 'Jangan alihkan perkataan ku" tegas Kinan. Virez memaki dalam hati, lalu ia mendekat ke arah Kinan dan memegang ke dua pundak Kinan. "Aku Virez, hanya aku yang bisa menyelamatkannya saat ini. Jadi berhentilah untuk menjadi bagian sensus penduduk karena itu tidak penting, sekarang yang terpenting adalah ke selamatan Dea." tegas Virez pada Kinan dan Kinan bisa merasakan aura yang begitu tegang, hingga membuat bulu kuduknya meremang.
"Dia membawa senjatanya dan aku tidak tahu kemana. Namun dia berkata Virez harus ke apartemennya, dan aku pikir kau lebih tahu tujuannya apa" ucap Kinan tanpa memutuskan tatapannya.
Virez langsung bergerak cepat dan naik ke atas motornya yang tidak jauh terparkir karena memang mereka masih di parkiran bawah.
"Rez, aku ikut,!!" teriak Kinan dan Virez hanya menganggukkan kepalanya.
Kinan langsung menyalakan mobilnya dan menuju Apartemen Dea dan ingin tahu apa yang di tinggalkan Dea saat ini.
Kinan dan Virez yang baru sampai di apartemen Dea dan membaca surat yang ia letakan di atas tempat tidur, Kinan hanya menangis dan di isi surat itu mengatakan jika Dea ingin istirahat dan mempulihkan tangannya yang terluka.
"Apa maksudnya ini Virez??" kata Kinan sambil membaca surat Dea.
Virez mengusap wajahnya dan menatap Kinan mungkin ini sudah waktunya dia mengatakan sejujurnya kepada Kinan.
__ADS_1
"Kau duduklah di atas tempat tidur dan aku akan duduk di sofa itu" Virez sembari berjalan ke sofa.
Virez berfikir di mulai dari mana ceritanya, agar Kinan akan lebih mengerti.
"Paman mu mengincar Caitlyn? Maksud ku Rico, dia ingin Caitlyn Mati" kata Virez
Kinan mendengar itu syok berat bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi kali ini. Jadi Dea ke sana untuk bersembunyi atau menjumpai pikir Kinan dalam hati.
"Dia menjumpai Rico tanpa melibatkan siapa pun" ucap Virez kembali yang mengerti isi otak Kinan kali ini.
Kinan hanya diam tanpa mengatakan apa pun begitu juga Virez yang sedang berfikir bagaimana melawan dan menemukan mereka. Dan Virez juga harus mempersiapkan anak buahnya.
"Mari kita jemput Dea, Virez" ucap Kinan tiba-tiba.
"Baiklah, tapi kau duluan berangkat naik pesawat, untuk mengelabui musuh kita dan nanti ada seseorang yang ku tugaskan menemanimu selama di Francis sahut Virez
__ADS_1
Kinan hanya mengangguk dan langsung pergi meninggalkan apartemen Dea ke arah bandara dan di tengah jalan Kinan membeli dua pasang pakaian yang dia beli di butik, karena dia ingin menyamar ketika sampai di bandara France.