
Martin telah sampai ke Auckland dan saat ini sedang menuju apartemen Dea, sementara Dea dari semalam tidak kunjung keluar kamar, padahal Kinan sudah membujuknya dan begitu juga Nahendra yang cemas memikirkan Dea yang tak kunjung keluar.
"Dea, kamu dari semalam tidak makan. Keluarlah, apa perlu Uncle dobrak pintu ini?" tanya Nahendra cemas.
Nahendra melihat kearah belakangnya, Hiro hanya mengangkat bahunya bahwa dia tidak mengerti mau buat apa lagi. Mobil Martin telah sampai didepan Apartemen Dea, dia langsung menuju kamar Dea dan berketepan Rossi keluar dari Apartemennya dan bertemu dengan Martin.
Martin menatap menghunus tajam kearah manik mata Rossi. Rossi menjadi takut dengan tatapan Martin yang seakan ingin menelannya bulat-bulat. Ia merasa tidak bersalah karena sedari awal dia tidak mengenal siapa istri Martin.
Martin mendekat kearah Rossi dan mencekram rahang Rossi dengan kuat "Jika sampai terjadi sesuatu padanya kau tidak bisa kabur dari genggamanku Rossi" ucap Martin.
"Apa salah ku, aku saja tidak mengenalnya dan aku tidak pernah berbuat yang buruk padanya Martin" bentak Rossi yang tidak terima atas perkataan Mantan suaminya itu.
Martin tidak peduli, dan mendorong tubuh Rossi dengan kuat membuat Rossi terbentur didinding "Ini sakit Martin!!" geram Rossi mengelus rahangnya yang merah akibat cengkraman tangan Martin yang kuat.
Martin tidak menggubrisnya dan lalu meninggalkan Rossi yang sedang menyumpahinya. Martin menekan bell apartemen Dea, lalu dia melihat Kinan yang membuka pintu dan Martin langsung menerobos tanpa memperdulikan Kinan yang masih berdiri.
"Kau,,..!!" ucap Nahendra sedikit terkejut dengan kedatangan Adik Iparnya.
"Kakak kenapa kau selalu seperti ini, mana Dea?" kata Martin yang tidak melihat keberadaan Dea.
"Aku seperti ini, agar Dea tidak kenapa-kenapa. Aku tidak ingin dia terluka, sementara kau selalu menundanya tanpa memperdulikan dirinya. Kau harus ingat Martin jika dia itu istrimu, istri sah mu. Kau paham!!" kata Nahendra menggelegar diruang tengah Apartemen.
Kinan bergedik ngeri melihat Uncle Nahendra yang marah dan begitu juga Martin yang dimana mereka sedang saling menatap tajam seakan saling membunuh dengan tatapan tajam mereka.
"Honey, apa mereka akan begini terus?" tanya Kinan sambil memeluk lengan Hiro.
"Mereka memang seperti ini, jangan takut. Itu hanya bentuk kasih sayang mereka." balas Hiro mengelus tangan Kinan.
"I know, im sorry" lirih Martin
"See..."ucap Hiro pada Kinan, Kinan hanya diam saja dan pandangannya tak lepas dari kedua orang yang sedang bertengkar dihadapannya saat ini.
Rossi sedari tadi berdiri didepan pintu apartemen, dia ragu ingin masuk. Niatnya ingin meluruskan semuanya pada Dea dan membujuknya agar Dea dan Martin berbaikan.
Martin melangkah kearah pintu kamar Dea, dan mengetuk pintu kamarnya.
Tok Tok Tok
"Honey, buka pintunya sayang. Aku datang ingin minta maaf pada mu. Aku tidak bisa berlama-lama berjauhan sayang, please kita bicarakan ini baik-baik" ucap Martin
Dea yang saat ini sedang pusing, tubuhnya sedikit oyong dan perutnya kram. Berjalan saja dia tak mampu. Namun ia tak bisa pungkiri jika dirinya merindukan sosok suaminya dan ingin bermanja-manja dengannya. Dengan segala kekuatan yang tersisa Dea berjalan kearah pintu dan membukanya.
Ceklekk..
Ia melihat sosok orang yang ia sangat cintai ada dihadapannya. Ia ingin menghamburkan dirinya dalam dekapan suaminya yang jahat itu. "Huuuff" Dea menghembuskan nafasnya mengurangi rasa sakit diperutnya namun matanya mulai buram.
"Mau apa kau kemari?" kata Dea ingin membuat drama merajuk karena ia malu langsung memaafkan suaminya. Dan ia sangat malu jika Martin mengetahui jika dirinya sangat mencintai suaminya itu.
__ADS_1
"Baby, wajah mu pucat, kau sakit??" tanya Martin mendekat kearah Dea namun Dea menahan agar tidak mendekat kearahnya.
Stop
"Jangan mendekat, aku membencimu" kata Dea
"Tapi aku merindukanmu sayang" gumam Dea dalam hatinya
"Maafkan sayang, aku salah. Tapi aku tidak ada disaat kau diapartemen, aku salah tidak memberitahukanmu, aku salah telah mengabaikanmu..Maafkan kebodohan ku ini, kita pulang ya, aku sangat merindukanmu" bujuk Martin
Rossi yang melihat Martin seperti itu, ia yakin jika dirinya tidak ada lagi dihati Martin. "Kau sangat mencintai" ucap Rossi sangat pelan sampai tak ada yang mendengar gumamannya.
Dea menangis karna merindukan suaminya, Dea menangis karena membenci suaminya, Dea menangis karena terlalu mencintai suaminya. Dea yang menangis kencang membuat Martin kebingungan lalu ia memeluk erat Dea dan mengecup seluruh wajah Dea.
"I'm sorry, i'm so sorry Baby" bisik Martin memeluk Dea dengan erat lalu Martin melepaskan pelukannya dan menghapus air mata Dea.
"Dea belum makan dari semalam" kata Kinan
"Oh God, kenapa kau tak makan. Ku mohon apa pun masalah kita jangan sampai sakiti dirimu sayang. Kenapa-kenapa dengan mu aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri" kata Martin mengelus pucuk rambut Dea.
"Aku lapar, aku ingin makan pizza buatanmu" jawab Dea dengan tatapan sendunya.
"Baiklah, aku akan memasak." Martin membawa Dea menuju dapur dan mulai meracik bumbu dan bahan-bahan lainnya untuk membuat pizza ala Martin.
Dea yang sedang duduk sendiri dimeja makan dengan tatapan buramnya, kepalanya makin sakit dan perutnya semakin kram dan nyeri.
Dea berusaha bangkit ingin mengambil air minum, namun baru satu langkah Dea terjatuh dilantai dan pingsan.
Martin yang mendengar suara terjatuh begitu keras langsung berbalik, ia tidak menemukan Dea, Martin mematikan api kompor dan ia membuka appronnya dan melangkah mendekati meja.
"Honey," kata Martin sembari berjalan
"Oh my God, Honey!!" teriak Martin langsung memeluk erat Dea.
"Hiroo" teriak Martin panik
Hiro melihat Martin memopong Dea langsung keluar dan mengambil jaket dan kunci mobil lalu dilobi apartemen ia langsung membuka pintu belakang dan Kinan tidak ikut dengannya karena dia bersama Nahendra. Mereka akan menyusul ke rumah sakit begitu dapat kabar dari Hiro.
Didalam mobil Martin panik dan air matanya jatuh. Rasa bersalahnya semakin besar, ia tidak menyangka jika istrinya akan tertekan seperti ini. Dia tidak akan memaafkan dirinya jika Dea kenapa-kenapa.
"Honey, wake up! Oh no, Baby,.. please open you'r eye's!! teriak Martin langsung memopong tubuh kecil Dea yang terkulai dilantai apartemen Dea.
"Bergegas Hiro, Cepaatt!!!" Bentak Martin karena syok melihat darah yang mengalir
Martin memegang tangan pucat Dea dan sesekali ia mengecup kening Dea dengan lembut dan mengucapkan kata maaf ke telinga Dea.
Martin memandang seluruh tubuh Dea yang menurutnya semakin kurus dan ringan padahal baru satu bulan kurang lebih mereka berpisah.
__ADS_1
"Kenapa tubuh mu semakin ringan Baby, sebegitunya kau tertekan karena ku. Apa kau sakit, Honey!" lirih Martin yang duduk dikursi belakang mobilnya.
"Sayang, bertahanlah aku mohon"isak Martin yang tak kuat karena darah yang keluar semakin lama semakin deras membasahi celana Martin karena Martin saat ini memangku Dea dan memeluknya dengan erat.
Jangan lupa dukungannya.. 😘❣️
Note: Hallo readers semuanya
Jangan lupa baca Novel aku di Apk Ini
Story Menteng VII Medan
tentang William & Yuni Niels
( Putri Nahendra )
Life Of Dea
Tentang Martin & Dea
( Adik Ipar Nahendra )
Bukan Sekretaris Biasa
Tentang Putri Willi dan Yuni
( Fransiska & Jhon) F**Z0
Nanti aku akan buat cerita tentang keluarga Maxiwilliam F***Z0 ya sayang aku. Dan yang lainnya itu disini.
Thank You
__ADS_1
Like Komen Vote dan Favorit