Life Of Dea

Life Of Dea
#48


__ADS_3

Dea melihat sekelilingnya dan disana, tampak beberapa orang berjaga. Ya itu adalah anakbuah Rico yang membawanya kedalam kapal ini.


"Tunggu dulu, dimana pria yang bertato elang itu?" gumam Dea dalam benaknya


Dea kembali melihat sekitarnya dan berusaha melihat keluar karena pintu kamarnya sedang terbuka, tapi sayang dia tidak bisa melihat karena terhalang oleh badan besar penjaga-nya saat ini.


"Sial, awas kau paman jika ikatan ini lepas kau harus tersiksa ku buat" kata Dea pelan, karena mulutnya terhalang dengan kain yang menutup mulutnya


Diluar sana terdengar suara ombak laut dengan suasana gelap karena saat ini disana sudah malam. Tiba-tiba dari luar terdengar suara sepatu dengan injakan yang berat, Ahh bukan seorang tapi lebih dari satu orang yang datang mendekat kearah kamarnya dan lalu berhenti


"Bagaimana, apa dia sudah bangun?" tanya Rico pada penjaga


"Sudah Tuan, target berada didalam" balas anakbuahnya dan menunduk hormat


Dea menundukkan kepalanya saat pintu mulai terbuka, dia hanya bisa melihat kearah sepatu karena dia malas melihat wajah-wajah bajingan seperti pamannya.


"Jerry buka penutup mulutnya" kata Rico, kepada pria yang bertato yang dicari Dea sedari tadi.


Aku menegakkan daguku, karena melihat pria yang bertato elang ditangan itu datang kearahku dengan menatap mataku dengan manik mata yang tergambar kesedihan disana.


Tangannya mendekat kewajahku dan membuka penutup mulutku. Dan aku refleks melototinya karena dengan santainya dia tersenyum tipis sembari mengkedipkan sebelah matanya kepadaku

__ADS_1


Pandangan ku teralihkan ketika Rico mendekat kearahku, dan duduk tepat dihadapan ku saat ini.


"Katakan!! Dimana berkas itu?? Karena mu semua jadi runyam dan ribet Daa" kata Rico, sembari mengeluarkan pisau kecil dari kantong celananya


CUUUUIHHH


Dea meludahi wajah Rico dengan keras dan tepat mengenai dibawah matanya sebelah kanan.


"Dasar Jalaaang" teriak Rico, menjambak rambut Dea kebelakang. Otomatis wajah Dea terangkat keatas dan Rico meludahi wajah Dea.


"Jangan harap kau menemukannya" Dea menatap tajam kearah pamannya dan matanya sedikit memerah karena menahan amarahnya


Rico menendang tubuh Dea secara brutal, Dea hanya diam saja karena tangan dan kaki nya masih terikat, Rico menendang sampai dia kelelahan.


Tubuh Dea sudah berdarah dan kebiruan akibat pukulan dan tendangan dari pamannya dan wajahnya membengkak campur lebam.


"Kuberi kau waktu satu jam dari sekarang, jika tidak ku pastikan besok kau tidak bisa melihat mentari pagi kembali." kata Rico, tanpa melihat kearah Dea


Dea hanya diam saja tubuhnya sudah babak belur, wajahnya penuh luka. Yang bisa dia lakukan saat ini, hanya menahan perih dan sakit disekujur tubuhnya.


Rico keluar dari ruangan dan tinggal Jerry dan Dea didalam, Jerri melihat situasi dan langsung mendekat pada Dea dan mengalungkan kalung berbentuk bulat dan Jerry mengecek GPS yang dia pasang dijaket Dea masih ada disana.

__ADS_1


Jerry menatap lekat manik mata kecoklatan itu, dan mengusapnya dan lalu memeluknya.


"Maafkan aku, nanti aku akan menembakmu. Jangan pernah palingkan tubuhmu, kau harus selalu menatapku tanpa melihat yang lain. Ingatlah, semua ini untuk keselamatanmu"


Jerry mulai melonggarkan ikatan tali tangan Dea dan melepaskan ikatan kaki Dea. Dan Jerry mengikat kembali tangan Dea tapi bukan kebelakang pinggangnya lagi, melainkan diatas perut Dea


Tiba-tiba pandangannya teralihkan dengan senjata yang ada dipunggung Jerry, Dea merasa serasa pernah melihat benda tersebut tapi entah dimana. Jerry melihat tatapan Dea saat ini dan dia sadar, lalu dia mengeluarkan senjata itu dari punggungnya lalu memberikan kepada Dea.


Di bagian larasnya terukir nama ayah nya, Dea melebarkan matanya dan jantungnya seakan berdetak lebih kencang.


"Si,-Siapa kau?" ucap Dea, penuh penakanan


"Aku asisten ayahmu, yang menyelamatkan ayahmu dari kecelakaan. Aku pergi dari hidup ayahmu untuk mencari dalang kecelakaan itu. Tapi aku tidak menyangka bahwa musuh yang ku cari ternyata pamanmu sendiri." kata Jerry, menerawang keatas langit kapal


"Aku terlambat mengetahui kematian ayahmu, dan aku juga terlambat menolong Virez karena situasiku jauh dari kota. Maafkan aku" kata Jerry kembali, dan menunduk.


"Apa aku bisa mempercayaimu?" ketus Dea


"Percayalah, kita sudah ditakdirkan. Mungkin dulu aku tidak bisa melindungi ayahmu. Tapi ku pastikan, kau harus selamat malam ini juga.


Jerry memegang knopi pintu ruangan Dea, "Berhati-hatilah, aku ingin kita selamat" ucap Dea melihat punggung Jerry menghilang dari pintu.

__ADS_1


__ADS_2