
Sementar di Kota Paris seorang wanita cantik mulai bisa mengangkat tangannya sendiri, dan belajar menggunakan pena. Dea yang rutin memeriksa tangannya, dan disana hanya ditemani pelayan yang sudah disiapkan pamannya. Dea tidak bisa keluar, memakai hp, karena pamannya beralasan supaya tangan Dea cepat pulih dan pamannya meminta agar dia tidak memikirkan hal yang lainnya. Saat ini pamannya menjalankan perusahaan Dea, dan menghusir Kinan dari Apartemen Dea dan dari perusahaan.
Dea tidak tahu akan hal itu, karena alat komunikasi semua disita oleh pamannya, dan dea tidak menaruh curiga sama sekali karena itu semua dilakukan fokus pada kesehatan.
Saat ini Dea sedang berada di jalan ingin kembali ke Apartemennya bersama supir yang disediakan pamannya. Dia melihat ada toko kue yang menggiurkan lidahnya, dan akhirnya dia menyuruh supir untuk berhenti.
"Pak kita berhenti didepan, saya mau dibelikan cake strawbery itu ya" pinta Dea
"Baik Nona, tunggu disini saya akan membelinya" jawab Supir.
Dea menunggu sambil memandang jalan raya, dia rindu kakaknya kinan. Sudah empat bulan mereka tidak berkomunikasi.
"Kakak apa kamu sudah makan, kamu merindukan ku? Tunggu sebentar lagi, ini akan sembuh dan aku akan pulang" lirih Dea sendu
Supir Dea sudah membawa satu kota cake rasa strawberry sesuai permintaan Dea dan mereka melanjutkan perjalanan.
Sampai di apartemen dia meminta pelayan yang ada di apartemennya mengambil laptopnya dikamar karena dia ingin belajar menggerakkan otot pergelangan tangannya pelan-pelan.
"Thank you bibi, ini cake tadi aku membelinya, bisa bibi buatkan ke piring dan buatin jus jeruk untuk ku. Oh iya, Cakenya sama ku lima potong saja selebihnya sama bibi ya." ucap Dea sambil tersenyum dan membuka laptopnya dengan tangan kirinya.
Setelah pelayannya pergi dea membuka email perusahaannya tapi paswordnya salah. Dan sampai ada lima kali dia mencoba tetap tidak bisa. "Apa paswordnya diganti,? Tapi kenapa!? gumam Dea.
Dan akhirnya Dea membuka email pribadinya dan begitu terbuka dia melihat ada email dari Kinan ada tiga pesan dari Kinan. Spontan Dea langsung melebarkan matanya seketika bahwa dia tak yakin apa yang sudah Kinan baca dan herannya Dea kenapa berkas saham kedua orangtuanya dititipkan Kinan ke Bank karena setau Dea itu berada di brankas ruangan Dea yang ada dikantornya.
Dea akhirnya membalas email Kinan dan menanyakan kabar dan posisi Kinan saat ini, dan sudah dua jam Dea menunggu tapi tak kunjung ada balasan membuat Dea emosi dan marah.
Paman yang dibanggakannya dan menolongnya, tega mengusir Kinan dari sana, sementara orangtua kinan yang sudah membesarkannya dari bayi.
"Uncle kau salah orang, aku tak selemah yang kau pikirkan. Tunggu saatnya aku akan menghajarmu jika kau sampai menyentuh kakakku" teriak Dea penuh dengan emosi.
Dia harus sabar untuk saat ini karena situasi keadaan tangannya masih dalam pemulihan. Dia memikirkan cara bagaimana caranya dia bisa menghubungi Kinan mau pun sekretarisnya.
Malam harinya Dea sedang makan dan disuapi oleh bibi yang biasanya merawatnya.
"Bibi apa kau bisa melihat bahwa hidupku ini seperti di sangkar burung?"
"Kenapa Nona bicaranya seperti itu?"
"Karena aku tidak pernah keluar, aku bosan bi dan aku ingin jalan-jalan." jawab Dea sendu.
"Nanti biar bibi yang bilang sama Pak Rico ya non biar diizinin keluar lihat pantai" jawab bibi tersenyum
"Sekarang saja bibi hubungi paman, supaya besok pagi kita ke pantai" jawab Dea tersenyum licik.
Dea harus bisa keluar dari sini, itu lah yang ada dipikirannya saat ini.
"Tunggu Non, bibi ambilkan Hp-nya." ucap bibi kepada Dea sambil meninggalkan Dea sendiri dimeja makan.
"Ini Non hp-nya" ucap Bibi
Dea langsung menghubungi pamannya, dan masih ditemani oleh pemilik hp tersebut.
"Hallo Uncle,"
__ADS_1
"Dea, ada apa Nak?"
"Cih, pintar sekali kau berbohong uncle" gumam Dea dalam hati
"Uncle aku ingin ke pantai, aku ingin pergi bersama bibi besok pagi jalan-jalan ke pantai. Aku bosan paman dirumah terus." rengek Dea
"Tapi tangan mu masih terluka sayang, nanti malah bikin parah bukannya sembuh" ucap Rico Paman Dea
"Paman aku akan hati-hati, ini hanya menghirup udara angin pantai Paman. Please!!" mohon Dea
"Hemm, baiklah tapi ditemani Bibi Brandon ya" jawab Rico
"Thank you Uncle, Kamu yang terbaik" balas Dea dengan senyuman palsunya dan mematikan hp-nya.
"Bibi bisakah kau belikan aku pembalut? Pembalutku habis karena tadi pagi aku datang bulan" ucap Dea
"Iya Non, bibi beli di supermarket yang dibawah ya" jawab Bibi Brandon.
Bibi Brandon pergi keluar dan dia melupakan Hp miliknya. Dea tersenyum sinis melihat cara mereka memperlakukannya ternyata semua hanya kebohongan.
Dea langsung menuju taman belakang menghubungi nomor kakaknya tapi tidak aktif. Dan akhirnya Dea menghubungi Hera sekretarisnya. Pada panggilan ke enam baru diangkat sang sekretaris.
"Hallo" ucap Hera
"Kau mau gaji mu ku potong, kenapa lama sekali angkat telfonnya" ucap Dea kesal
"Non,-Nona kau kah itu??" tanya Hera dengan suara seraknya
"Hp Nona Kinan dihancurkan oleh Pak Rico, ini saya di kamar mandi menjawab telfon dari Nona, saya pikir ini telfon dari Nona Kinan karena Nona Kinan berpesan jika Anda menghubungi saya Anda harus memberikan alamat lengkap anda Nona" ungkap Hera.
"Ya sudah, katakan pada Kinan jangan hubungi nomor ini tapi saya akan sms kamu alamat saya. Saya tutup dulu nanti ketahuan dan jangan hubungi kenomor ini dan satu lagi kirim kan Senjata ku yang ada di bawah tempat tidurku, disitu ada berupa bentuk laci kecil dan didalamnya ada senjata, bagaimana caranya agar sampai ketanganku. Kau mengerti Hera??!" jawab Dea
"Baik Nona" jawab Hera
Dea langsung meletakkan hp pelayannya diatas meja makan dan dia langsung menuju kamar untuk berpura-pura tidur. Dia tidak tahu apa yang direncanakan oleh pamannya, dan apa yang diperbuat pamannya terhadap kakaknya Kinan.
Tapi saat ini dia harus berhati-hati dengan keadaan dia disini. setidaknya berpura-pura tidak tahu adalah jalan amannya sambil merencanakan apa yanh harus dilakukan esok harinya. gumam Dea dalam hati.
#Hanya Author yang tahu apa yang terjadi hihihihi 😁😜😂
❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Martin saat ini sedang menatap wanita yang berpenampilan acak-acakan dan disampingnya ada keponakannya Hiro.
"Uncle, dia ingin di culik pamannya dan berhasil kabur bersama ku karena kami sudah janjian akan bertemu semalam" ucap Hiro dan wanita yang disampingnya adalah Kinan.
Kinan dan Hiro akhirnya menjalin hubungan jarak jauh tapi ketika mereka jadian ingin merayakan hari jadinya disaat itu juga pamannya menyuruh seseorang untuk menculik Kinan dan menyembunyikannya. Tapi pelayan pribadi Dea yang mendengar Uncle Dea menghubungi seseorang untuk mencelakai Kinan akhirnya memberitahukan kepada supir pribadi Kinan dan langsung melaporkannya kepada Kinan.
Kinan terkejut dan sempat tidak percaya, dan akhirnya Kinan diperjalanan menuju bandara kerjar-kejaran dengan mobil suruhan paman Kinan dan mobil didalam mobil itu juga orang yang ingin menangkap Kinan. Kinan menghubungi sekretarisnya Hera pakai nomor Supir Kinan ikut dengan Kinan karena Kinan tahu jika dia pulang hanya mengantar nyawanya saja.
"Hera, ini Kinan"
"Nona dimana?" tanya Hera
__ADS_1
"Jangan bilang pada uncle apa pun, dea dalam bahaya. Pak Rico ingin mencelakai ku dan aku berhasil kabur. Jika Dea ada menghubungimu, minta alamatnya oke" ucap Kinan pada Hera
"Oke Nona" jawab Hera
Dan saat itu dibandara Kinan menunggu Hiro dan Hp Kinan di buangnya dijalan agar tidak dapat dilacak keberadaannya.
Itulah sebabnya Kinan dan Hiro datang bersamaan menjumpai Martin. Mendengar bahwa Kinan mau diculik akhirnya Martin menghubungi Kakak Iparnya, walau pun masa hukumanannya tinggal seminggu lagi tapi dia tidak peduli karena, yang dia tahu bahwa nyawa dea sedang terancam.
"Kakak dimana Caitlyn Putri Axton berada" ucap Martin dengan suara beratnya
"Apa masalahnya sudah darurat?" tanya Nahendra dengan santai.
"Iya Kak, Nyawanya disana pasti terancam dan disini Kinan Kakak dea ada dikantor saat ini"
"Hhaa,.. Kok bisa?!" teriak Nahendra bingung
"Karena Kinan mau diculik oleh pamannya" balas Martin menahan kesalnya karena sedari tadi pertanyaanya tidak terjawab.
"Kakak Ipar, dimana DEA...!!" geram Martin
"Martin kemarilah, aku menunggumu" jawab Nahendra dan langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
"Arrrgh dia selalu seperti ini, Huuuffff,... Sangat menyebalkan!!" ucap Martin
"Bagaimana Paman?" tanya Hiro
"Kita ke Mansion, pria tua itu merindukannya" jawab Martin tanpa memandang kearah Kinan.
Akhirnya martin melajukan mobilnya membelah padatnya jalan kota los angeles dengan kecepatan sedang.
"Hemm, Hiro bisa aku pinjam Hp mu karena aku ingin menghubungi Sekretarisku Hera" ucap Kinan
"Boleh, ini ambillah" jawab Hiro lembut
"Heraa,,,.." ucap Kinan
"Nona Kinan, Nona saya sudah menemukan alamat Nona Dea" ucap Hera
"Apa dia sehat??" tanya Kinan sambil menangis, dan membuat kedua pria yang dimobil tersebut terdiam dan meminggirkan mobilnya.
"Dea" lirih Kinan menangis kencang
Martin melihat Kinan memanggil nama Dea dengan sambil menangis, membuat perasaannya tidak enak
"Ada apa dengan Dea??" tanya Martin bertatapan dingin dengan Kinan
Kinan memberikan Hp milik Hiro tersebut kepada Martin, Martin bingung apa yang mau dilihat di Hp Hiro dan hanya sebuah sms yang isinya alamat Apartemen.
"Itu alamat dea, dia menghubungi Hera pakai hp milik pelayan disana" ucap Kinan menangis.
"Kita ke Mansion sekarang" ucap Martin
Jangan Lupa dukungannya Like, Komen, Vote dan Favorit
__ADS_1