Life Of Dea

Life Of Dea
#44


__ADS_3

Di Kota Los Angeles tepatnya disebuah ruangan terdapat tiga pria yang masih setia, mengawasi sepuluh monitor komputer yang tertempel didinding ruangan itu.


Martin Nahendra dan Willi saling menatap satu sama lain, begitu mendapat kabar bahwa ruangan gudang tempat Dea dan Rico terdengar suara tembakan bertubi-tubi. Wajah Martin langsung memerah memendam amarah dan emosinya, ia merasakan sakit seperti ditusuk belati dan dadanya terasa sesak didada. Beribu perntanyaan membanjari diotaknya dan membuat detak jantungnya tak beraturan dan kencang. Seketika ruangan itu menjadi hening tapi manik mata mereka tidak lepas dari dari layar monitor tersebut untuk mengawasi musuh agar anakbuahnya tidak banyak jatuh menjadi korban.


Nahendra berhasil menghacker satelit, dan menampilkan area lokasi Dea saat ini, hal itu tidak mudah dilakukannya, agar tidak dapat terlacak hampir dua jam dia berkutat di komputernya akhirnya dia dapat area lokasi Dea dan seluruh anakbuah Rico dan anakbuahnya.


Namun sayang Dea tidak memakai ponselnya karena ditahan oleh anakbuah Rico, jadi mereka tidak dapat berkomunikasi. Nahendra menyakini dirinya bahwa anak sahabatnya itu pasti selamat. Karena hampir semua karakter almarhum sahabatnya itu menurun ke putri tunggalnya.


"Bagaimana" tanya Nahendra saat ini berkomunikasi dengan Hiro yang berada agak jauh dari tempat Dea saat ini. Mereka membagi anakbuahnya karena mereka tahu bahwa Rico membuat pengamanan berlapis karena itu, mereka juga membuat seperti itu.


"Aku belum bisa bergerak Dad, karena sudah banyak yang mati anakbuah kita dan anakbuah mereka. Sepertinya mereka membuat pengamanan berlapis Dad" kata Hiro dengan nasaf ngos-ngosan dan manik mata yang tajam mengintari sekitarnya.


"Arah timur ada lima orang, selatan dua orang dan didepanmu ada tiga orang. Hati-hati, jaga dirimu. Mengerti!!" ucap Nahendra penuh dengan kekuatiran.


"Ilove you dad" balas Hiro

__ADS_1


"Jangan ucapkan itu, aku ingin kau pulang dengan selamat anak nakal" bentak Nahendra yang tidak terima akan ucapan Hiro seperti ucapan kat terakhir dari Hiro kepadanya.


"Baiklah Dady ku sayang" Hiro langsung mematikan earphonen bluetoothnya.


"Kakak,-" ucap Martin terputus


"Kenapa, ada apa" tanya Nahendra mengalihkan pandangannya kearah Martin yang sedang menatap kearah monitor yang ada dihadapannya dengan tatapan kosongnya.


"Kakak ipar, apa dia baik-baik saja" kata Martin lirih dengan lemas, dan tatapan sendunya


"Semua akan baik-baik saja"


"Uncle, percayalah bibi akan baik-baik saja" Willi menimpali.


"Bajingaan kau!!" teriak Rico, menarik tangannya yang dicekal oleh Dea, "Uncle kali ini ku pastikan kau akan mati ditangan ku" kata Dea penuh dengan penekanan dengan mata yang sudah memerah karena amarahnya sudah berubun-ubun.

__ADS_1


Braakkk,...


Pintu gudang didobrak oleh anakbuah Rico, Dea langsung memberi peringatan agar anakbuah pamannya itu mundur dari hadapannya.


"Berhenti!. Aku akan membunuhnya jika kalian maju selangkah saja" bentak Dea menatap tajam kearah anakbuah Rico dengan pistolnya mengarah kepelipis kanan Rico.


"Mundur!! Katakan pada mereka Uncle" ucap Dea yang berada dibelakang pamannya, makin mengencangkan tangannya, yang mencekik leher pamannya itu dan pistol dikepalanya.


"Cepattttt!!!" teriak Rico marah kepada anakbuahnya.


Dea melangkah secara perlahan-lahan menuju pintu gudang, anakbuah Rico sudah mengancang-ancang sesuai perintah bos mereka.


Disaat mereka satu langkah diluar gudang, seseorang dari belakang menendang kaki Dea dan Rico langsung menunduk. Peluru Dea keluar menimbulkan suara yang sanga keras.


Sementara anakbuah Dea dan Hiro beserta sekutu lainnya masih menembaki anakbuah Rico dari kejauhan, untuk mengalahkan pertahanan Rico.

__ADS_1


__ADS_2