
Pagi harinya Dea sedang fokus dengan ponselnya dan tidak mendengar sedari tadi Gerald mengetuk pintu kamarnya. Gerald mencoba membuka pintu kamar Dea dengan hati-hati dengan degup jantung yang berdedar lebih kencang dari biasanya. Dia melihat Dea fokus melihat ponselnya disofa kamar Dea, Gerald menjadi kesal ternyata Dea mempunyai ponsel tapi dia tidak punya nomornya.
"Untuk apa aku mencarinya capek-capek tapi dia punya ponsel, menghubunginya saja masalah sudah clear" gumam Gerald pelan. Ia berjalan mendekat kearah Dea, dan memperhatikannya tapi Dea tak menyadari ada Gerald berada dikamarnya tepatnya dihadapannya.
"Apa Nona kenyang dengan menatap ponsel saja." ucap Gerald dengan tenang.
"Ssuuuttt, kamu diam dulu ini lebih penting" balas Dea masih setia menatap ponselnya.
Gerald beranjak dari kamar Dea karena perutnya sudah lapar, Gerald mempunyai penyakit maag karena itu dia tidak bisa menahan laparnya.
"Jika ini bukan perintah Tuan Nahendra aku tidak akan berakhir makan mie instan ini." decak Gerald kesal karena dia tidak bisa makan makanan enak lagi karena tidak bisa keluar apartemen dengan bebas takut musuhnya mengetahui keberadaan mereka.
Selama setengah jam Dea sudah siap mandi dan bergegas ingin keluar karena target rencana keluar pukul 10 pagi ke pelabuhan.
"Gerald!" teriak Dea keras
"Iya Nona" jawab Geral kesal mencak mencak tidak jelas dan menghampiri Dea.
"Bereskan perlengkapanmu kita berangkat sekarang, cepat" bentak Dea.
"Baiklah" lirih Gerald yang lemas karena perutnya masih lapar.
"Ck, kita bisa makan diluar cepatlah" kata Dea yang tahu asisten Martin sedang kelaparan.
"Siap Bos" ucap Gerald dengan wajah yang berbinar.
Mereka saat ini mengikuti mobil Rico yang berjarak 10 meter dari mereka. Kali ini Dea membawa mobilnya dengan memakai stelan hitam dan jaket hitam dan kacamata hitam.
"Nona kita kemana" Gerald memastikan apa yang dipikirkannya saat ini.
Dea tidak menjawab pertanyaannya, tapi ia menambah laju mobilnya dengan kecepatan lebih kencang. Gerald langsung berpegangan pada pintu mobil yang disampingnya dengan menatap tajam kearah Dea.
Dea hanya fokus membawa mobilnya karena dia tidak ingin kehilangan targetnya kali ini.
Dering ponsel Gerald berbunyi dan Gerald menjawabnya dengan nafas yang sudah tak beraturan.
"Hallo Tuan"
"Kalian dimana, Hiro memberitahukan ku bahwa kalian tidak ada di apartemen" kata Martin yang menghubungi Gerald.
"Kami dijalan Tuan, sedang berjalan-jalan" jawab Gerald santai. Namun beda dengan Dea yang menatap tajam kearahnya karena Dea tidak suka dengan jawaban Gerald kali ini.
"Apa, jalan-jalan?" bentak Martin yang tidak terima akan jawaban asisten Kakak Iparnya itu. Sementara Nahendra langsung tertawa mendengar jawaban asistennya.
"Jangan macam-macam kau Gerald, kau mau ku kirim keliang lahat mu? Kalian sedang dimana" teriak Martin geram.
Dea langsung menyambar ponsel Gerald. Dan mengaktifkan speaker ponsel Gerald.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kau sudah sembuh, makanya hobby berteriak?" tanya Dea sambil menyetir.
Martin terdiam sesaat dan merubah nada suaranya. Ponsel Martin saat ini dengan mode speaker juga jadi, membuat Nahendra mengetahui apa yang mereka bicarakan dan membuatnya tersenyum.
"Hanya kaki ku saja yang belum sembuh yang lain sudah. Kamu sudah makan?" tanya Martin dengan suara yang lembut membahas hal yang tidak penting. Dan Nada suaranya berubah 360° ketika berbicara dengan asistennya atau yang lainnya. Gerald mendengar suara lembut Martin ingin memuntah, sementara Dea melihat tingkah Gerald menahan tawanya.
"Sudah, kamu fokus saja penyembuhanmu. Jika sudah sembuh cepat lamar aku, jika tidak aku takut, hati ku jatuh pada asisten tampanmu ini" jawab Dea santai dan memancing Martin marah.
Gerald langsung menelan salivanya karena dia tahu pasti Tuannya disana pasti akan murka mendengar omongan Dea kali ini.
Sementara Martin sempat terdiam karena merasa mimpi bahwa Dea menyuruhnya melamarnya cepat. Degup jantung Martin berdegup kencang, dia memegang jantungnya sebentar dan berusaha bersikap biasanya tapi tetap tidak bisa karena dia merasa bahagia karena Dea menyuruhnya, untuk melamar Dea.
"Kau ngomong apa? Katakan sekali lagi" ucap Martin yang masih belum percaya.
"Cepat lamar aku sayang, aku sudah tidak tahan sendiri terus. Hidup ku selalu hampa dan kosong" jawab Dea jujur sembari fokus pada pandangan yang ads dihadapannya.
Martin terdiam beberapa detik dan sadar akan diamnya dia langsung tersenyum sambil melihat kearah Nahendra yang sedang tersenyum kepadanya dang menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan melamarmu. Cepatlah pulang dan jangan terluka. Aku mohon padamu" kata Martin dengan lembut.
Dea diam saja, apa yang diucapkannya kali ini murni dari hatinya, setelah kejadian Martin menyelamatkan dirinya, ada rasa bersalah dan perasaan yang tidak bisa diutarakannya. Sebelum dia membalaskan dendamnya hari ini, dia ingin mengungkapkan isi hatinya kepada Martin karena.
Dea sangat yakin hal buruk akan menimpanya. Dea langsung mematikan panggilannya secara sepihak karena dia tidak tahu harus ngomong apa lagi kali ini.
"Anda yakin Nona?"
"Menikah dengan Tuan ku" ucap Gerald yang tidak yakin akan ucapan wanita yang ada dihadapannya.
"Yang ku ucapkan itu benar tapi, realitanya aku belum tahu pasti. Kepastiannya setelah misi ini selesai. Apakah aku jadi menikah dengan Tuan mu si Martin itu" balas Dea yang tiba-tiba mengrem secara mendadak.
"Menunduk!" bentak Dea langsung menundukkan kepala dibawah stir mobilnya
"What Happend??" kata Gerald pelan yang sudah berada dibawah dasboard mobil dan menatap Dea dengan kebingungannya.
Dea mengintip, target turun dan berjalan memasuki arah pelabuhan, Dea langsung duduk kembali dan mengambil tasnya dan tas Gerald yang berada dibelakang tempat duduknya.
"Ayo kita keluar, Rico sudah menuju kapal" ucap Dea membuka pintu mobilnya.
Gerald langsung mengirim pesan kepada Tuan-nya bahwa mereka sudah dipelabuhan dan target juga ada disana, dan hari ini akan melakukan penangkapan untuk Rico.
"Tuan, kami dipelabuhan.Target berada disini menuju kapal yang berhenti disini. Misi jalan hari ini sepertinya." pesan Gerald
"Shiiit, Kakak....!!" teriak Martin, Martin tergesa-gesa mendorong kursi rodanya menuju tangga dan seorang pelayan datang.
"Panggil Kakakku" bentak Martin
"Baik Tuan"
__ADS_1
Martin langsung menyuruh Hiro kelokasi mereka yang dikirim Gerald dan menyuruh anakbuahnya yang lainnya menuju kesana.
"Ada apa" tanya Nahendra dengan suara beratnya, mungkin tadi Nahendra sudah tertidur tapi karena Martin yang memanggil terpaksa dia bangun. Kamar Nahendra yang berada dilantai dua dan dia sedang berdiri menatap kearah Martin yang berada dibawah.
"Mereka sudah bergerak Kak, tolong bantu dia kak" mohon Martin kepada Kakak Iparnya.
"Baiklah, keruang kerjaku sekarang" ucap Nahendra.
Willi kebetulan pulang dari kantor karena tiba-tiba perasaanya tidak enak.
"Kenapa kau sudah pulang" tanya Martin melihat Willi yang baru saja tiba.
"Perasaanku sedang tidak enak Uncle, Aku tidak tahu kenapa" jawab Willi sambil mengelus dadanya yang seakan perih.
Martin hanya diam dan dia menuju lift dan menekan lantai dua bersama Willi.
Sesampai dikamar Martin dan Willi mendengar pembicaraan Nahendra dengan seorang wanita.
"Aku ingin kau pulang dengan selamat Darling, biarkan anakbuahku yang menangkapnya. Aku yakin ini jebakannya untukmu. Percayalah" ucap Nahendra membelakangi Martin dan Willi yang masih diam menatap punggung Nahendra yang sedikit membungkuk.
"Baiklah aku mendoakan mu dari sini dan memberikan lokasi musuhmu dan ingat dibelakang mu sudah ada orangku membantumu" ucap Nahendra dan memutuskan panggilannya.
"Siapa dia Dad" tanya Willi yang penasaran
"Caitlyn, dia melihat Rico sedang berbicara dengan seseorang didalam kapal, dan lokasi itu sedikit sunyi dan ternyata dia pergi kesana sendirian. Itu membuktikan bahwa dia sudah tahu keberadaan Dea, dan itu adalah perangkapnya sendiri untuk menangkap Dea.
"What, Apa!!!!" teriak Willi dan Martin
Nahendra menghubungi orang kepercayaannya dan anggota mafia yang merupakan sahabatnya agar membagi personil agar jangan semua yang maju didepan karena itu sebuah perangkap yang sudah disusun Rico kali ini.
Nahendra kuatir akan keselamatan Dea saat ini, dia berjalan dan duduk disofa dan memejamkan matanya. Willi langsung mendekat dan mengurut pelan pelipis mertuanya itu.
"Shiiit" maki Dea yang baru sadar jika dia masuk keperangkap pamannya sendiri.
"Gerald pergi belikan aku mineral, aku haus" pinta Dea bohong, dia tidak ingin Gerald terluka karenanya.
"Baik Nona, tapi apa tidak apa-apa nona sendirian disini." tanya Gerald kuatir.
"Hem, aku menunggumu disini. Berhati-hatilah" ucap Dea dan Gerald hanya menganggukkan kepalanya dan memutar tubuhnya dan melangkah menuju mobil mereka.
Gerald sedang akhirnya ketemu minimarket dan ia membeli minuman meneral dua dan roti. Dia mekan roti itu karena dia lapar.
"Setidaknya perut berisi dan otak pun encer" gumam Gerald terkekeh pelan.
Setelah keluar dari minimarket sebuah senjata menodong kearah kepalanya. Dan dia berhenti, dan orang itu menyuruh dia berjalan kearah mobilnya. Baru sampai ke pintu mobil Gerald yang mempunyai beladiri langsung menangkap pistol tersebut dan ingin mematahkan tangan musuhnya kali ini tapi sayang peluru dalam pistol tersebut tapi suaranya terdengar oleh Dea.
"Oh Shiiit" maki Dea, jika bahaya sudah ada dihadapannya dan musuhnya sudah bergerak duluan. Yang dipikirannya saat ini keadaan Gerald yang entah bagiamana saat ini.
__ADS_1
Jangan Lupa like Komen Vote dan Favorit ❣️