
Disebuah pesisir pantai, letaknya di IJmuiden Cottage, Dea terdampar dan didapat oleh seorang pria tua yang bertugas menjaga cottage dipantai itu.
Dea dibawa kedalam rumah penjaga pantai dan penjaga tersebut langsung memberikan pertolongan pertama kepada Dea melihat tubuh Dea yang pucat bibirnya yang biru serta denyur nadi yang lemah.
Saat ini Dea berada dikamar ruang tamu milik penjaga pantai yang terletak di pinggir pantai itu. Dea di impus, dan peluru dikakinya dikeluarkan oleh penjaga tersebut.
Dia memilih tidak memanggilkan dokter dan melapor kepolisi karena, jika dilihat dari keadaan Dea saat ini bisa disimpulkan bahwa dia baru saja mengalami seperti pembunuhan berencana.
Setelah Dea diobati dan dipasang impus ketangannya penjaga tersebut, memilih untuk memasak sup.
Bila Dea terbangun agar dapat langsung memakan sup buatannya itu.
Selesai memasak, penjaga pantai memeriksa keadaan Dea dan melihat kalung yang dipakainya.
Dia melihat gambar burung elang yang tertembak dan pelurunya masih melakat dimainan kalungnya dan ia membalikkan kalung yang dimana kalung itu dengan mainannya yang berupa logam dan disana terukir nama J.Watson.
"J.Watson! Sepertiny aku pernah mendengar nama ini. Watson, Siapa kau anak gadis?" lirih Penjaga pantai, memandang lekat wajah Dea yang penuh luka lebam
"Hanya orang-orang tertentu yang mempunya kalung simbolis ini" gumam Penjaga pantai lagi.
Sementara di Martin baru sampai di Negara Belanda beserta anakbuahnya dan para sniper yang suruhan Nahendra berada di Apartemen yang disewa Martin.
"Kenapa sampai sekarang belum ditemukan!? Kalian bisa kerja apa tidak???" bentak Martin, tangannya mengepal kuat dan nafasnya tidak beraturan.
"Kami belum menemukannya Tuan, termasuk Jerry" ucap Salah seorang sniper.
Martin mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap lekat semua para anggotanya satu persatu.
"Cepat, cari dia sampai ketemu" ucap Martin
"Baik Tuan, kami akan mencarinya kembali" Sniper dan anakbuah lainnya meninggalkan ruangan apartemen yang disewa Martin.
"Apa aku bisa berharap, bahwa aku masih hidup Dea??" ucap Martin penuh kesedihan
Di Hotel Kinan dan Hiro sedang bertengkar dan Kinan hanya menangis sambil memukul Hiro dengan kuat.
"Bajingaan kau, karena kau Dea kenapa-kenapa. Katakan pada ku bahwa Dea pasti selamat dan semua ucapanmu yang kau ucapkan tadi hanya bohongkan?? bentak Kinan, yang matanya mulai membengkak. Kinan menangis hampir 4 jam lamanya.
Hiro memeluk Kinan dengan erat dan kuat, mencoba menghibur wanita yang menangis dengan cara memelukknya dan ikhlas mendengar makian dari Kinan.
__ADS_1
❣️❣️❣️
Dua minggu lamanya Dea masih di cottage tempat paman penjaga pantai yang menyelamatkannya. Dea tidak ingin pulang, karena hatinya terlalu hancur meski pun dia sudah mendengar kabar kematian pamannya itu.
"Nak, apa kau memang tidak mau pulang?" tanya uncle Prom
"Uncle mengusirku?" Dea bertanya balik
Prom hanya tertawa, semenjak Dea tinggal bersamanya kesibukkanya berkurang.
Dea mengerjakan semua pekerjaan rumah, dan membantu prom membersihkan setiap cottage.
Dea bahagia dan senang disini, meskinpun kadang kesedihan dan kerinduannya pada Kinan ada termasuk Martin dan Uncle Nahendra yang sudah menyelamatkannya.
Saat ini banyak pengunjung yang datang dan memakai Cottage mereka, Dea antusias sekali dalam hal ini.
Dimana dia merasa senang, bila banyak pengunjung yang bermalam diCottage itu. Bahkan dia ingin membeli semua Cottage yang dikerjakan oleh Uncle Prom, agar pria tua itu tidak capek lagi dan hanya mengawasi penjaga yang akan menjadi penggantinya.
Yah mungkin dia harus pulang kali ini, atau menghubungi Kinan.
Martin yang saat ini sedang menjumpai kliennya direstoran yang ada di Los Angeles.
Selama membahas bisnis, mereka serius sekali dan tidak main-main.
"Semoga lancar" balas Martin dan berjabat tangan
"Mari kita makan malam dulu"
"Baiklah, suatu kehormatan bagi saya bisa makan siang dengan orang sukses seperti anda Tuan" ucap Martin sembari tersenyum.
Disela makan phonsel kliennya berdering, sampai lima kali. Dan akhirnya mau tidak mau assistennya menyerahkan phonsel milik Tuannya.
"Maafkan saya, saya harus mengangkat Vidio Call dari putri saya, jika tidak dia tidak akan berhenti"
"Dady, what are you doing?" ucap anaknya disebrang sana
"Dady sedang makan malam sama klien, kamu ini dimana??"
"Aku dipantai Holand, Look at that" sambil menunjukkan arah pantai dan barisan Cottage yang dibangun dipinggir pantai.
__ADS_1
"Ya, pantainya yang indah"
"Dady, klien Dady wanita atau pria?"
"Pria, kenapa? Dady lagi makan malam nanti saja ya dady hubungimu balik"
"No, aku mau lihat pria itu" teriak putri klien tersebut dan Martin menganggukan tandanya setuju.
Akhirnya phonsel kliennya sudah berada ditangannya.
"Oh my, your Handsome" ucapnya terkagum-kagum
"Thank you litle girl" kekeh Martin sambil tersenyum
"Uncle, disini sangat indah lihatlah pantai itu, sangat indah bukan??" tanya anak kliennya dan mengalihakan kamera depan menjadi kamera belakang.
Seketika itu, Martin langsung berdiri dengan tangan gemetar, dia melihat Dea melihat kearahnya sambil tersenyum dengan pakaian yang lusuh dan kulitnya sedikit kecoklatan karena terkena panas matahari.
"Maaf Nona, bisakah minggir sebentar. Aku ingin menunjukan ombak itu pada Uncle baru ku" ucapnya kepada Dea.
"Sorry," ucap Dea sembari tersenyum
"Kamu dimana?" tanya Martin
"Aku ada dipantai Uncle"
"Pantai mana"bentak Martin, dan seketika itu juga dia sadar telah membentak anak kliennya.
"Sorry, wanita tadi dia sedang apa?"
"Heemmm,-" mengalihkan pandangannya dan melihatnya.
"Dia penjaga pantai, karena dia yang membersihkan Cottage kami" jawab anak kliennya
"What"pekik Martin
"Berikan alamat lengkap pantainya, sekarang" tegas Martin.
"Ada apa ini Tuan dimitri???" tanya kliennya yang kebingungan.
__ADS_1
"Aku harus kesana sekarang juga, karena wanita yang ku cari selama ini ada disana. Putrimu tidak sengaja memvidiokan arah ombak tepat wanita ku berdiri disana." kata Martin panjang lebar.
Jangan Lupa like , komen dan Vote