
"Aku pasti merindukan kalian" ucap Dea memeluk Kinan dan Janie secara bergantian. "Kami juga akan merindukan mu" balas Janie mengusap perut buncit Dea.
"Kakak sering-sering main kemari" ucap Dea pada Janie dan Janie hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
Mobil Jerry langsung meninggalkan mansion Dea, mereka pulang karena Jerry mendapat rapat yang harus ia hadari. Dan begitu juga Kinan dan Dea yang harus berangkat ke Los Angeles karena keadaan Nahendra sudah mulai memburuk karena penyakit dan usianya yang sudah senja.
"Honey, kapan kau menyusul ku disana"
Martin saat ini sedang mengepaki pakaian istrinya kedalam koper kecil. "Tunggu ku bereskan yang disana sayang, biar sisanya Jerry yang nangani" jawab Martin yang baru selesai merapikan pakaian istrinya. Lalu Martin menarik koper Dea mereka akan memakai pesawat pribadi keluarga Dea menuju Los Angeles pagi ini.
Sesampai dibandara Martin mencium bibir Dea dengan sangat lama "Aku akan datang paling lama dua hari lagi, jaga baik-baik calon anak kita dan jangan bikin ulah, Baby" ujar Martin mengelus pipi istrinya dan mencium kening Dea.
"Aku tidak bisa berjauhan dari mu, cepatlah datang. Mungkin Uncle Nahen menunggumu Honey" ucapnya lagi
"Aku akan segera kesana, percayalah Kakak ipar akan baik-baik saja dan dia akan menunggu ku datang" kata Martin dengan senyuman terpaksa tapi dalam hatinya ingin sekali ia pergi langsung memeluk Kakak iparnya itu.
Setelah pesawat Dea berangkat, Martin langsung melajukan mobilnya langsung ke kantor dan mengadakan rapat bersama para karyawannya karena ia akan ke Los Angeles dalam waktu yang tidak dapat ditentukan.
__ADS_1
"Kakak apa kau tidak gelisah?" tanya Dea pada Kinan
"Enggak, apa perasaanmu tidak enak. Biar istirahat di kamar saja"
"Bukan, bukan aku kak. Tapi perasaan ku pada Uncle" kata Dea
"Tenang saja, Uncle akan baik-baik saja" ucap Hiro menimpali
Dea hanya terdiam dan pemikirannya bercampur aduk. Ia takut suaminya tidak sempat melihat Kakak iparnya itu.
Sementara di Los Angeles Gerald mondar mandir perusahaan dan kemansion karena ia kepercayaan Nahendra jadi semua aset Gerald masih menyimpannya dan saat ini Gerald sedang mempersiapkan semuanya dan begitu juga surat warisan darinya kepada Putri dan anak Adiknya yaitu Mike. Bagaimana pun Mike tetap keluarganya dan ia sudah mempersiapkan semuanya agar kedepan harinya tidak ada perkelahian seperti sebelumnya.
Nahendra hanya menganggukkan kepalanya, Lalu ia memanggil Gerald agar mendekat dengan suara yang sangat pelan.
"Kemarilah" lirih Nahendra sangat pelan hampir tak terdengar
Gerald mendekatkan duduknya lalu ia mendekatkan telinganya "Yuni Martin, panggil dia" bisik Nahendra dengan suara lemahnya
__ADS_1
Tubuh Gerald langsung gemetar karena perasaanya mengatakan jika unclenya ini sudah tidak bisa berlama lagi. "Mereka sudah dijalan Uncle" isak Gerald
Ceklek
Pintu kamar ruangan Nahendra terbuka dan terlihat Willi yang menghampiri mertuanya
"Good Morning mertua ku sayang" ucapnya lalu memeluk dan mencium pipinya.
"Panggil semuanya" lirih Nahendra pada menantunya dengan sekuat tenaga yang tersisa.
Willi langsung menghubungi Pamannya Martin dan panggilan ketiga baru diangkat Martin karena ia sedang rapat. "Ada apa" ucap Martin dengan suara meninggi
"Dady menyuruh mu cepat datang paman" ujar Willi . Martin langsung mematikan telponnya dan mengakhiri rapatnya.
"Hallo, Jerr handle yang disini. Aku harus segera ke Los Angeles"
"Ya cepatlah, Aku akan menanganinya" balas Jerry
__ADS_1
Martin berlari kencang dari ruang rapat menuju keatas gedung perusahaan Dea, Martin pulang memakai Helikopter perusahaan Dea agar ia cepat sampai. Tanpa disadarinya ia mengeluarkan air matanya, ia masuk ke ruangannya dan menangis pilu. Ia harus mempersiapkan hati dan raganya jika memang Kakak iparnya itu harus dipanggil Tuhan.
"Kakak kau akan menungguku, jangan pergi sebelum aku datang" ucap Martin pelan sambil menyeka air matanya.