Life Of Dea

Life Of Dea
#96


__ADS_3

Sudah seminggu keadaan Nahendra tak kunjung membaik bahkan makin memburuk. Hari ini firasat Martin tak enak, bahkan Gavrael menangis sedari tadi dan tidak mau diam.


"Cup Cup, cucu Grandpa kenapa nangis?" tanya Martin yang saat ini sedang di kamar Gavrael karena tidak ada yang bisa memberhentikan tangisannya. "Ayo Grandpa gendong" kata Martin lalu mengangkat tubuh Gavrael keatas pundaknya dan mereka keruangan Nahendra.


"Grandpa, kenapa Grandpa besar tidak bangun? tanya Gavrael dengan wajah imutnya.


"Granpa besar sakit, jika Gavrael sudah besar nanti akan mengerti" jawab Martin yang bingung menjelaskannya.


"Grandpa aku mau memeluk Grandpa besar" ucap Gavrael.


Lalu Martin meletakkan Gavrael tepat disamping Nahendra dan langsung memeluk dan mencium wajah Grandpanya


"Grandpa besar, wake up!!" ucap Gavrael sambil menggoyangkan tubuh Nahendra dengan kencang.


Namun tiba-tiba air mata Nahendra keluar dari sudut matanya. Martin melihat Kakak Iparnya menangis, iya langsung memeluknya. "Kakak kau merespon cucumu, aku tidak kau repson sama sekali. Kau tidak sayang sama ku Kak" isak Martin.


Tapi tiba-tiba Monitor ICU berbunyi tanda vital Nahendra menurun drastis dan menunjukkan garis lurus.


Tit.........


Martin semakin menangis dan berteriak, Gavrael yang melihat Martin menangis, dia ikut menangis. Karena pintu tidak tertutup suara Martin terderang sampai keluar, Yuni yang saat ini sedang mengobrol dengan dokter yang menangani Papanya mendengar suara itu dan langsung berlari kencang. Yuni langsung memeluk Papanya dan Dokter langsung melakukan pemeriksaan detak jantung dan tekanan darah Nahendra. Dan Dokter melakukan pacu jantung dengan alat pemacu jantung selang sekitar lima menit Nahendra tidak bisa tertolong dan dinyatakan meninggal Dunia hari ini Selasa pagi sekitar pukul sembilan lewat.

__ADS_1


Semua yang ada disana menangis karena kepergian Nahendra, dan jangan tanyakan Martin, Yuni bagaimana, mereka menangis sejadi-jadinya tanpa memperdulikan keluarga mereka lainnya. Beda hal dengan Mike terdiam terpaku karena ia baru saja tiba karena perasaannya dari semalam tidak enak. Mike yang diam saja dan langsung dipeluk oleh istrinya yang sudah menangis sedari tadi.


Akhirnya tubuh Nahendra, dimandikan dan dibaluti pakaian yang biasa dipakainya saat masih bekerja dulunya. Martin yang sedang menangis didalam pelukan istrinya, Dea hanya bisa menemani dan memberinya semangat karena semuanya sedang dalam berduka.


❣️❣️❣️❣️


Sebulan telah berlalu setelah kepergian Nahendra, Dea dan Martin akan pulang ke London. Meski berat meninggalkan keponakannya satu-satunya, yang belum puas merasakan kasih sayang seorang ayah.


"Aku dan Bibi mu akan datang sekali sebulan," ucap Martin membuka pembicaraan karena mereka sedang sarapan. Sebagian keluarga sudah pulang, Yuni tak menanggapi ucapan pamannya itu.


"Jangan larut dalam kesedihan, pikirkan kehamilanmu nanti Papa mu akan bersedih diatas sana jika ia melihat putri satu-satunya tenggelam dalam kesedihan dan lihat putra mu Gavrael. Sudah sebulan kau abaikan." tegas Martin mengingatkan keponakannya.


Bagimana pun Martin harus mengingatkan Yuni agar jangan larut dalam sedih dan itu tidak baik buat kesehatannya karena ia sedang hamil. Dea yang duduk disebelah Yuni hanya mengelus punggungnya, tanpa berkata apa-apa termasuk Willi bungkam tanpa menyela perkataan Uncle-nya itu.


"Tuan, ini surat dari Tuan Besar untuk Nyonya Dea." ucap Gerald menyerahkan amplok yang berisi surat dari Nahendra dan dari orangtua Dea.


Martin langsung melebarkan matanya, ternyata aset peninggalan orangtua Dea sangat banyak melebihi dari Nahendra dan semua tersimpan di kuburan istrinya, Martin akan menyerahkan itu nanti ketika dia pulang kepada istrinya.


"Dan ini untuk Willi dan Yuni dan Tuan sendiri" ucap Gerald lagi.


Mereka diam membaca setiap bait yang tertulis disana, Martin bahkan sampai meneteskan air matanya begitu juga dengan Willi. Dia tidak menginginkan semuanya hanya jika itu sudah wasiat yang ditulis mertuanya dia tidak bisa menolak.

__ADS_1


"Apakah Mike mendapatkannya?" ucap Willi dan Martin baru teringat pada keponakannya yang satu lagi dan ia langsung menatap kearah Gerald.


"Untuk Tuan Mike sudah saya kasih tadi pagi Tuan sebelum berangkat bekerja" balas Gerald.


"Apa untuk mu ada??" tanya Martin yang tahu jika Gerald anak sekretaris Nahendra yang paling dipercayai oleh Nahendra.


"Ada Tuan, ini suratnya." ucap Gerald merogoh kantong jasnya dan menyerahkan surat yang berisi tulisan tangan Nahendra. Martin sangat mengenal suratan tangan Kakak iparnya jika pun seandainya Gerald ingin menipu, Martin akan tidak akan melawan tapi ia akan membuat itu semua sebagai kado yang terakhir yang diberi Nahendra padanya, akan tetapi Gerald ternyata sama seperti almarhum papanya tidak pernah berhianat pada orang yang telah banyak membantu mereka.


Selesai membaca semua surat dari Nahendra, Martin menyerahkan surat itu lagi. "Pergunakanlah secara baik-baik apa yang sudah mewasiatkan pada kalian berdua. Kalau bisa semakin besar itu jauh lebih baik dan Dia pun yang diatas sana akan senang dan bangga melihat kita semuanya. "ucap Martin dengan serius.


Seharian ini mereka sibuk, memeriksa semua dokumen laporan masuk dan keluar dari pusat bahkan cabang perusahaan. Lain lagi Martin harus mengurus perusahaan Dea, jadi dia harus ekstra kuat dan siap segala hal.


Jangan lupa dukungannya, dan trimakasih buat semuanya para pembacaku dan jangan lupa baca kisahnya anak perempuan Willi dan Yuni


Fransiska Fay Maxiwilliam



Dan Kisah Anak Tertua Willi dan Yuni


Gavrael Maxiwilliam tapi tayang bulan depan

__ADS_1



__ADS_2